Akhir Kisah: Emosi yang Memuncak

Keheningan yang tercipta di antara mereka bertiga jauh lebih bising daripada kerumunan orang di sekitar. Nando merasa oksigen di paru-parunya menguap, meninggalkannya dalam sesak yang menghimpit. 

Kevin melangkah maju, napasnya memburu. Matanya yang biasa penuh binar nakal kini berubah menjadi bara api. "Jadi ini alasan kamu jarang bisa malam Jumat? Ini sepupu yang kamu bilang manja itu?" 

Adrian melepaskan genggaman tangannya dari Nando secara perlahan, seolah tangan Nando tiba-tiba berubah menjadi bara panas. Wajahnya yang biasanya tenang kini nampak sepucat pualam. "Sepupu? Nando, apa yang dia bicarakan? Kamu bilang padaku kalau kamu sudah lama sendiri sejak putus dari mantanmu yang dulu." 

Nando berdiri di tengah, tubuhnya bergetar hebat. "Kevin... Adrian... tolong, jangan di sini. Kita bisa bicara di tempat lain," bisiknya lirih, air mata mulai mengalir melewati pipinya. 

"Bicara apa lagi?!" teriak Kevin, mengundang perhatian orang-orang di lobi. "Aku mencintai kamu, Nan! Aku kasih kamu kebebasan karena aku percaya! Ternyata aku kamu jadiin cadangannya?" 

"Jaga mulutmu!" potong Adrian, suaranya rendah tapi tajam. Ia menatap Nando dengan kekecewaan yang begitu dalam hingga Nando lebih memilih dipukul daripada ditatap seperti itu. "Nando, aku tidak menyangka kamu serendah ini. Kamu menghancurkanku dengan perselingkuhan yang kamu lakukan." 

Kevin, yang dikuasai emosi, merangsek maju dan menarik kerah kemeja Nando. "Bilang sama aku, Nan! Siapa yang lebih kamu pilih? Aku yang tahu setiap inci tubuh kamu, atau dia yang cuma kamu kasih sisi manis kamu?" 

"Lepasin, Kevin!" Nando meronta, tapi Kevin justru mendorongnya hingga membentur pilar marmer. 

Adrian terdiam, mengamati kekacauan itu dengan mata yang perlahan mulai berkaca-kaca. Alih-alih marah meledak-ledak seperti Kevin, Adrian justru terlihat... hancur. Ia memegang dadanya sejenak, wajahnya meringis menahan sakit yang sepertinya bukan sekadar sakit hati. 

"Cukup," suara Adrian terdengar parau. "Kalian berdua... selesaikan ini. Aku tidak punya waktu untuk drama seperti ini." 

Adrian berbalik, langkahnya terlihat goyah. Nando, melihat Adrian pergi, mencoba mengejarnya. "Adrian! Tunggu! Aku sayang kamu, Ian! Aku benar-benar sayang kamu!" 

Tapi langkah Nando dihentikan oleh Kevin yang mencengkeram lengannya dengan kuat. "Jangan berani-berani kamu kejar dia di depan mukaku!" 

Di tengah kericuhan itu, Nando melihat Adrian jatuh bertumpu pada satu lutut di dekat pintu keluar. Adrian terbatuk hebat, dan saat ia menjauhkan tangan dari mulutnya, Nando melihat bercak merah di telapak tangan Adrian. 

Namun, sebelum Nando bisa berteriak memanggil nama Adrian, Kevin menariknya paksa menuju parkiran. "Kita pulang, Nando. Kita selesaikan ini sekarang juga!"

Di apartemen Nando, badai yang sesungguhnya pecah. Kevin melemparkan barang-barang di meja tamu ke lantai. Semua kemarahan yang selama ini ia pendam—kecurigaan-kecurigaan kecil yang selalu ia abaikan demi cinta—kini meledak tanpa sisa. 

"Aku pikir aku yang paling mengerti kamu, Nan. Aku pikir dengan nggak banyak nanya, aku bikin kamu nyaman," Kevin tertawa getir di sela isak tangisnya. "Ternyata aku cuma bodoh." 

"Aku cinta kalian berdua, Kev... aku nggak tahu kenapa aku begini," rintih Nando di sudut ruangan, meringkuk seperti anak kecil yang ketakutan. 

"Kamu nggak cinta siapa-siapa, Nando! Kamu cuma takut kesepian! Kamu egois!" Kevin menyambar kunci mobilnya. "Jangan pernah hubungi aku lagi. Kita selesai. Cari saja kepuasanmu di aplikasi itu sampai kamu mati membusuk sendirian." 

Pintu apartemen itu tertutup dengan bantingan yang sama persis seperti saat Daniel pergi. Nando terduduk di lantai yang dingin, dikelilingi oleh barang-barang yang sudah pecah luluh lantah. Ia sudah kehilangan Kevin. Namun, pikirannya justru tertuju pada Adrian—pada noda darah di tangan dan wajah yang pucat pasi di galeri tadi. 

Dengan tangan gemetar, Nando mencoba menelepon Adrian. Sekali, dua kali, sepuluh kali. Tidak ada jawaban.
BACA JUGA