Puisi: Angan
Dalam kesunyian yang kian menepi,
aku mengeja malam yang sepi,
memungut remah kenangan yang kian membayang samar.
Diri...
kini tersesat dalam pekat yang menjerat,
diiringi elegi yang menyayat isi hati,
laksana kunang-kunang yang kehilangan pijar.
Sebuah tanya merayap pelan,
tentang kemampuan diri untuk melepaskan,
dari setiap kekang lara sang durja,
yang terus membayangi,
yang kian menghantui,
setiap langkahku dalam mencari arti.
Sebuah tanya tentang dunia yang berbeda,
tentang bentang hari yang penuh warna,
tanpa sayatan luka,
tanpa isak tangis,
yang meremukkan jiwa hingga raga.
Sebuah tanya tentang cara mematahkan belenggu,
yang memasung diri dalam gelap yang kaku,
tanpa cahaya,
tanpa kawan bicara,
hanya sunyi yang menemani sisa usia.
Meski langit membisu membeku,
jiwa ini takkan pernah layu,
ia akan terus mencari,
mendaki tebing waktu yang tinggi,
tuk mengejar arti kehidupan yang tak pernah pasti.
Dan...
di bawah pekatnya selimut malam,
bersama angan yang tenggelam,
kan kuhadapi aral rintang yang kelam,
hingga tiba saatnya nanti,
aku pulang kembali,
ke dalam pelukan Ilahi.
Surabaya,
28 Agustus 2018.
~ Ojam
Post a Comment