Latest Posts

Paranoia: Balasan Dendam Sang Calon Bayi

Aris berdiri di bawah pancuran air panas. Uap putih memenuhi ruangan sempit itu sampai cermin di at…

Cerpen Cak Kirun: Penunggu Pohon Asem

Siang itu, Cak Kirun baru saja selesai makan soto di pinggir jalan. Cuaca sedang panas-panasnya, se…

Paranoia: Misteri Bakso Beranak

Aroma uap kaldu itu terasa berbeda, tidak seperti biasanya yang mampu mengundang lapar. Aromanya am…

Cerpen Cak Kirun: Maqom Tertinggi Ilmu Nyawit

Di pinggir hutan lindung Desa, sebuah tenda mewah berdiri. Di dalamnya, Pak Pejabat dan rombongan p…

Paranoia: Malam Pembalasan

Bau amis pasar pagi itu menusuk hidung. Kali ini baunya bukan berasal dari ikan-ikan mati, melainka…

Cerpen Cak Kirun: Alat Pemantau Sunyi

Bulan Desember tiba, dan Kantor Urusan Pembangunan Desa (KUPD) mendadak seperti pasar malam. Truk-t…

Perayaan Kebodohan

Singapura menjadi titik awal pertama dalam menjelajah panggung dunia. Niat hati menghadiri konferen…

Paranoia: Sate Pocong

Lelaki itu menyebut dirinya Abah; penjual sate di sebuah gudang tua bekas pabrik pengolahan es yang…

Cerpen Cak Kirun: Wisata Keliling Museum Inovasi

Cak Kirun berdiri di depan sebuah gudang raksasa yang pintunya sudah penuh karat. Di atasnya terter…

Cerpen Cak Kirun: Saudara Kembar Beda Nasib

Siang itu, udara di Balai Desa terasa lebih panas dari biasanya, bukan karena matahari, tapi karena…

Cerpen Cak Kirun: Tarian Jempol Bayaran

Di sudut warung internet "Cyber Mak Nyak" yang remang-remang, Dedi "Viral" seda…

Cerpen Cak Kirun: Kuota Kata Mulut

Pagi itu, suasana di kantor redaksi "Warta Desa" yang biasanya riuh oleh suara mesin keti…