Cerpen Cak Kirun: Penonton Parkir

Cak Kirun baru saja selesai makan soto di pinggir jalan. Siang itu panas sekali. Ia berjalan menuju motornya yang terparkir di bawah pohon asem. Kondisi di sekitar pohon itu sepi, hanya ada beberapa motor lain yang juga terparkir tanpa penjagaan.

Begitu Cak Kirun duduk di jok dan memutar kunci kontak, tiba-tiba seorang pria memakai rompi oranye muncul dari balik batang pohon. Pria itu langsung meniup peluit dengan kencang sambil memberi aba-aba tangan, padahal posisi motor Cak Kirun sudah menghadap ke jalan raya dan tidak ada kendaraan lain yang menghalangi.

"Terus, Mas. Yak, lurus saja," kata tukang parkir itu sambil memegang besi belakang motor.

Cak Kirun mematikan mesin motornya. Ia menatap pria itu dengan heran. "Sampeyan ini munculnya cepat benar. Tadi saya datang, sampeyan tidak ada. Saya makan soto juga motor ini sendirian. Kok pas saya mau pergi malah muncul?"

Tukang parkir itu hanya nyengir sambil menengadahkan tangan. "Tadi saya ke belakang sebentar, Cak. Parkirnya dua ribu."

Cak Kirun turun dari motor dan melipat tangan di dada. Ia menunjuk papan kecil yang dipaku di pohon asem. Di sana tertulis kalau kehilangan bukan tanggung jawab pengelola.

"Itu tulisan di pohon maksudnya apa, Mas?" tanya Cak Kirun.

"Ya aturannya begitu, Cak. Kalau ada barang hilang, ya saya tidak ikut urusan," jawab tukang parkir itu santai.

Cak Kirun mengangguk-angguk. "Oalah. Jadi sampeyan ini sebenarnya cuma penonton parkir ya? Tugasnya cuma melihat motor orang, tapi kalau motornya hilang, sampeyan cuma jadi saksi mata saja?"

Tukang parkir itu mulai terlihat sewot. "Cuma dua ribu saja kok jadi panjang bicara, Cak. Ini buat retribusi."

"Retribusi itu kalau jasanya jelas, Mas," balas Cak Kirun. "Kalau sampeyan tidak mau tanggung jawab kalau ada yang hilang, terus saya bayar buat apa? Buat dengar suara peluit sampeyan yang cempreng itu? Atau bayar biaya sulap karena sampeyan bisa muncul tiba-tiba?"

Tukang parkir itu diam saja sambil tetap menunggu uang diberikan. Cak Kirun akhirnya mengambil uang dua ribu dari sakunya, lalu menaruh uang itu di aspal tepat di bawah kaki pria itu.

"Lho, kok ditaruh di situ, Cak?" tanya si tukang parkir kesal.

Cak Kirun menyalakan mesin motornya. "Iya, uangnya parkir di situ dulu, Mas. Tapi kalau tiba-tiba ditiup angin atau diambil orang sebelum sampeyan ambil, itu bukan tanggung jawab saya. Sampeyan kan ahlinya soal tidak mau tanggung jawab, jadi pasti paham kan maksud saya?"

Cak Kirun langsung tancap gas meninggalkan tempat itu. Dari kaca spion, ia melihat si tukang parkir baru membungkuk untuk memungut uang di aspal. Cak Kirun hanya geleng-geleng kepala. Ternyata tanggung jawab di tempat parkir memang seringnya hilang sebelum motornya benar-benar keluar dari garis parkiran.
Memuat daftar chapter...
[X]