Puisi: Adakah Aku Dilihat?
Diri terjebak,
dalam riuh malam yang memekak.
Tersika dalam diam,
kala kata tajam saling bersahutan,
menikam sabar tak beraturan.
Adakah aku dilihat?
Kenapa tega tuk berbuat?
Di balik pintu,
aku menangis tanpa air mata,
tanpa suara,
hanya sesak yang merajam dada.
Aku menanti sunyi bertamu,
manyapaku di sudut ruang yang semu.
Namun...
riuh semakin lantang,
menghujam diri dengan lara yang panjang.
Air mata kini telah kering,
menyisakan sesak yang kian nyaring,
tak kunjung reda,
tak kunjung hening.
Malam merangkak begitu lamban,
dalam pekat tanpa sandaran,
di kegelapan ruang,
kala suara benderang kian lantang,
mencabut nyawa perlahan dalam diam,
seakan diri hanyalah boneka,
yang tak punya rasa,
tak punya nyawa.
Adakah aku dilihat?
Kenapa tega tuk berbuat?
Di balik pintu,
aku menangis tanpa air mata,
tanpa suara,
hanya sesak yang merajam dada.
Gresik,
18 September 2018
~ Ojam.
Post a Comment