REIN: Sosok yang Berbeda
Gerbang besar Kota Athanor berdiri kokoh menyambut langkah Xiao Lin. Sinar matahari pagi memantul pada pakaian kulitnya. Setiap otot tubuhnya menonjol jelas saat ia berjalan melewati kerumunan orang di pasar. Para wanita yang sedang berbelanja mendadak berhenti bernapas sejenak saat melihat sosok asing yang tampan dan gagah dengan rahang tajam serta tatapan mata dingin.
Xiao Lin berjalan menuju toko obat terbesar di pusat kota untuk menjual hasil buruannya. Pemilik toko obat, pria tua bernama Wang Ge, awalnya memandang sebelah mata akar yang disodorkan oleh Xiao Lin karena mengira itu hanya tanaman liar biasa.
"Apa yang kau bawa ini, anak muda? Di wilayah utara, semak seperti ini tidak ada harganya," ujar Wang Ge sangsi.
Xiao Lin menyeringai dingin mendengarnya. Tepat saat itu, perhatian Xiao Lin teralih oleh suara rintihan dari sudut ruangan. Seorang pekerja toko yang masih muda sedang duduk bersandar di dekat tumpukan karung sambil memegangi pergelangan tangannya. Pria muda itu mengerang kesakitan akibat luka memar parah yang membiru dan membengkak besar.
Xiao Lin melangkah menghampiri pekerja yang kesakitan itu. Ia berjongkok di hadapan sang pekerja lalu meraih pergelangan tangannya yang cedera.
"Sejak kapan tanganmu seperti ini?" tanya Xiao Lin dengan nada suara yang tenang namun penuh penekanan.
"Baru saja... tadi pagi saya tertimpa balok kayu besar saat memindahkan barang," jawab pekerja itu sambil meringis menahan sakit.
Xiao Lin menoleh ke arah Wang Ge yang sedang memperhatikan dari balik meja kasir. "Perhatikan baik-baik," ucapnya. Lalu ia meminta mangkuk berisi air panas kepada pekerja lain. Xiao Lin memotong seiris kecil ujung akar ginseng tersebut dan mencelupkannya ke dalam mangkuk. Seketika, air bening itu berubah warna menjadi kuning keemasan yang berkilau, menyebarkan aroma harum menenangkan yang memenuhi seluruh ruangan toko.
Xiao Lin kemudian mengambil sejumput air obat itu lalu mengoleskan serta meneteskan sisa cairan hangatnya langsung ke atas permukaan kulit yang memar. Hanya dalam beberapa detik, keajaiban terjadi. Bengkak di tangan pekerja itu mengempis secara perlahan, warna biru keunguan di kulitnya memudar kembali normal, dan rasa sakitnya hilang sepenuhnya. Pekerja itu terbelalak lalu menggerak-gerakkan jarinya dengan gembira karena tangannya bisa berfungsi kembali.
Wang Ge yang menyaksikan kejadian itu langsung berdiri dari kursinya dengan mata terbelalak. Rasa sangsi di wajah orang tua itu runtuh seketika. Wang Ge sadar kalau tanaman di tangan Xiao Lin bisa menyembuhkan penyakit berat para bangsawan dan memiliki nilai yang sangat tinggi.
Wang Ge bergegas keluar dari balik meja kasir, melangkah setengah berlari mendekati Xiao Lin. Kedua tangan pria tua itu gemetar hebat, matanya menatap lekat pada sisa akar ginseng yang dipegang Xiao Lin dengan pandangan penuh ketakutan sekaligus keserakahan.
"Tuan muda! Tolong, demi dewa obat, jual tanaman itu kepada saya!" seru Wang Ge dengan suara serak, hampir bersujud di depan kaki Xiao Lin. Ia mencengkeram ujung jubah kulit Xiao Lin dengan erat, memohon penuh harap. "Jangan bawa barang berharga ini ke toko lain. Toko obat saingan saya di seberang jalan pasti akan hancur jika saya yang memilikinya. Saya mohon, sebutkan berapa saja harganya, saya akan membayarnya!"
Xiao Lin menarik jubahnya perlahan, membiarkan Wang Ge semakin memelas di lantai toko. Senyum dingin terukir di wajah tampannya saat melihat pria tua yang tadinya meremehkan dirinya, kini mengemis seperti anjing kelaparan.
"Lima kantong koin emas murni," ucap Xiao Lin dingin, menetapkan harga yang sangat tinggi. "Jika kau ragu, toko di seberang jalan pasti tidak akan keberatan membelinya lebih mahal."
"Baik! Baik! Lima kantong koin emas murni! Jangan pergi ke mana-mana, saya ambilkan sekarang!" Wang Ge berseru panik, takut kehilangan kesempatan emas itu. Pria tua itu segera berlari ke ruang penyimpanan belakang dan kembali dengan terengah-engah membawa lima kantong kain berat berisi koin emas murni.
Xiao Lin menerima bayaran tersebut, mengikatkan kantong-kantong emas itu di pinggangnya, lalu melangkah keluar toko tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Setelah itu, Xiao Lin melangkah menuju kedai minuman paling mewah di wilayah itu, tempat hiburan bagi kaum bangsawan dan pedagang kaya. Kedai yang ia kunjungi adalah tempat Wei Lan dan Ning Xi bekerja sebagai pelayan. Saat Xiao Lin melangkahkan kakinya masuk, suasana riuh di dalam kedai mendadak sunyi senyap. Semua mata tertuju pada tubuh Xiao Lin. Otot bisepnya yang besar terlihat liat saat ia menarik kursi dan duduk di pojok ruangan.
"Pelayan, bawakan aku arak terbaik dan daging panggang paling enak di sini," suara Xiao Lin menggema berwibawa.
Wei Lan segera mendekat dengan langkah menggoda, sementara Ning Xi bergegas menyusul dari belakang membawa nampan daging panggang. Mereka berdua tidak mengenali pria tampan di depannya adalah babi lumpur yang pernah mereka hina beberapa bulan yang lalu. Wei Lan membungkuk rendah saat meletakkan gelas yang sudah berisikan arak, sedangkan Ning Xi sengaja mencondongkan tubuhnya ke depan saat menyajikan daging. Mereka berdua pamer belahan dada putih mereka di depan wajah Xiao Lin dengan harapan pria asing ini akan tertarik dan memberi tip berjumlah banyak.
"Siapa namamu, Tuan?" tanya Wei Lan dengan suara mendesah, berharap pria di depannya itu semakin tertarik dengannya. Ning Xi ikut melemparkan pandangan mata yang genit penuh damba.
Xiao Lin menyeringai dingin. Dengan gerakan cepat, ia meraih tangan Wei Lan dan menariknya kasar sampai wanita itu jatuh terduduk di paha kanannya. Tidak berhenti di situ, tangan kiri Xiao Lin menyambar pinggang Ning Xi, menyentak tubuh ramping itu hingga ikut jatuh terduduk di paha kirinya. Kedua wanita itu memekik kaget, tapi mereka justru merasa sangat bergairah saat merasakan panas otot paha Xiao Lin yang menghimpit pantat mereka.
Tangan besar Xiao Lin merayap masuk ke balik baju tipis Wei Lan, meremas payudaranya dengan kuat hingga wanita itu merintih. Sementara itu, tangan Xiao Lin yang lain bergerak liar menyelinap ke balik rok Ning Xi, meraba paha mulusnya lalu meremas pantatnya dengan penuh dominasi tanpa memedulikan rasa sakit mereka. Wei Lan dan Ning Xi saling pandang dengan rasa cemburu sekaligus pasrah, berebut untuk mendapatkan cengkeraman yang lebih dalam dari Xiao Lin.
"Kamu tidak perlu tahu namaku," bisik Xiao Lin di telinga Wei Lan.
Xiao Lin merasa puas melihat dua wanita yang dulu merendahkannya, kini mengemis perhatian dan kenikmatan dari dirinya. Ia membiarkan kedua tangannya terus menjelajahi lekuk tubuh Wei Lan dan Ning Xi tanpa peduli dengan orang di sekitarnya. Ia merasakan penisnya mulai menegang keras dari balik celana kulitnya yang ketat. Tonjolan penisnya yang besar dan panjang itu mendesak celananya dengan jelas, menciptakan sebuah pemandangan yang membuat napas para wanita yang melihatnya berantakan, sementara para pria di kedai menatap Xiao Lin dengan pandangan iri penuh kagum.
Sambil meremas dan meraba, Xiao Lin kemudian menyesap araknya sampai habis menggunakan satu tangan yang bebas. Ia lalu melemparkan masing-masing satu koin emas ke dalam belahan dada Wei Lan dan Ning Xi, membuat kedua wanita itu gemetar kegirangan di atas pangkuannya.
Setelah puas, Xiao Lin menurunkan mereka dengan kasar lalu berdiri dari kursinya. Ia melangkah pergi meninggalkan kedai tanpa menoleh, membiarkan Wei Lan dan Ning Xi terpaku menatap punggung tegapnya dengan tatapan penuh gairah yang tidak tuntas.
***
Seminggu setelah peristiwa yang menggemparkan di kedai minuman mewah itu, Xiao Lin memutuskan untuk menyelesaikan satu urusan penting yang paling mengganjal di hatinya. Menggunakan pakaian yang lebih tertutup namun tetap terlihat gagah, ia melangkah menjauh dari hiruk-pikuk pusat kota menuju daerah pinggiran yang sunyi.
Jalur yang ia tempuh adalah jalan tanah yang sama menuju gubuk lamanya di pinggiran hutan terlarang. Namun, Xiao Lin tidak berencana ke gubuknya. Ia menghentikan langkah di depan sebuah gubuk kecil yang sangat sederhana yang terletak di pinggir jalan, beberapa ratus meter sebelum sampai di gubuknya. Gubuk itu adalah kediaman Lao Mo.
Dari luar, mata tajam Xiao Lin melihat pria bermata satu itu sedang duduk di teras gubuknya sambil telaten mengasah kapak tua. Waktu tiga tahun sejak ditinggal pergi oleh Xiao Lin ternyata telah membuat tubuh Lao Mo tampak semakin membungkuk dan dimakan usia.
Xiao Lin melangkah masuk ke halaman gubuk dengan sangat tenang. Ia berjalan mendekat, lalu berhenti tepat di hadapan Lao Mo.
Lao Mo mendongak dengan terkejut saat menyadari ada bayangan tubuh tegap yang tinggi besar menutupi pandangannya. Sepasang matanya menatap asing pada pemuda luar biasa tampan, berwibawa, dan bertubuh kekar yang kini berdiri di depannya. Karena merasa sungkan melihat penampilan mewah pemuda asing tersebut, Lao Mo langsung meletakkan kapaknya dan berdiri.
"Selamat siang, Tuan muda. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Lao Mo dengan suara sopan namun penuh kebingungan. Ia sama sekali tidak mengenali raga baru pemuda di hadapannya.
Xiao Lin maju selangkah mendekat, lalu dengan kedua tangan yang terbuka, ia menyerahkan sebuah kantong kain yang sangat tebal langsung ke hadapan Lao Mo. Ia menarik tangan tua Lao Mo yang kasar itu, lalu meletakkan kantong emas berisi ratusan koin emas murni itu di atas telapak tangannya dengan sangat hormat dan lembut.
"Ini adalah bayaran untuk seember air bersih, ramuan daun sirih, dan kebaikanmu tiga tahun yang lalu sebelum aku pergi ke hutan, Lao Mo," ucap Xiao Lin dengan nada suara yang berat, dalam, namun sarat akan rasa takzim yang tulus. "Gunakan emas ini untuk membeli rumah yang layak di pusat kota dan hiduplah dengan tenang di hari tuamu."
Lao Mo seketika terpaku di tempatnya seolah disambar petir. Kata-kata "seember air bersih dan ramuan daun sirih" langsung memicu ingatan lama di kepalanya. Sepasang matanya bergetar hebat, menatap lekat ke dalam mata dingin Xiao Lin. Air mata pria tua itu langsung merebak saat menyadari bahwa pemuda rupawan di hadapannya adalah Xiao Lin, sahabatnya yang dulu bertubuh tambun dan kabur meninggalkan sebaris pesan arang.
"Kau... Xiao Lin?" bisik Lao Mo dengan suara bergetar tidak percaya, menahan haru yang luar biasa. Ia hendak bangkit berdiri lebih tegak untuk memeluk sahabat mudanya itu. Sebelum Lao Mo sempat bergerak atau menyerukan namanya lebih keras hingga terdengar oleh orang yang mungkin lewat di sekitar jalan tanah itu, Xiao Lin dengan cepat mencondongkan tubuhnya ke depan. Ia memegang pundak Lao Mo dengan lembut namun kokoh untuk menahannya, lalu berbisik tepat di samping telinga pria tua itu dengan nada yang sangat rendah dan penuh penekanan.
"Jaga rahasia ini baik-baik, Lao Mo. Bagi orang-orang di kota ini, Xiao Lin yang lama sudah mati di dalam hutan. Jangan pernah sebutkan nama itu lagi pada siapa pun demi keselamatanku," bisik Xiao Lin.
Lao Mo yang mendengar bisikan serius itu langsung mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Ia mengangguk kuat-kuat, tanda bahwa ia mengerti dan akan menjaga rahasia besar sahabatnya itu seumur hidup. Xiao Lin menegakkan kembali tubuhnya, memberikan satu senyuman tipis yang sangat tulus kepada pria tua yang telah berjasa dalam hidupnya tersebut. Setelah itu, ia membalikkan badan dan melangkah pergi dengan cepat, menghilang di tikungan jalan tanah menuju hutan. Utang budi terbesarnya kini telah terbayar lunas, dan rahasia identitas barunya tetap aman tersimpan.
Post a Comment