REIN: Penculikan
Berita hancurnya reputasi Rein menyebar cepat ke seluruh dunia. Rekaman video berdurasi lima menit yang menampilkan perbuatan gila Rein terhadap tubuh mati Zata di perbukitan sepi telah ditonton puluhan juta orang di internet. Tekanan besar dari pemegang saham, kemarahan publik, serta pergerakan cepat aparat hukum membuat posisi Rein resmi ditetapkan sebagai buronan internasional dalam semalam. Surat perintah penangkapan dikeluarkan dengan status prioritas, memburu sang mantan miliarder ke mana pun ia melangkah.
Pagi itu, langit kota tampak mendung. Rein keluar dari pintu belakang gedung rahasianya di batas kota. Demi menyamarkan diri dari endusan polisi yang sudah mengepung seluruh distrik, ia menutupi wajah tampannya dengan masker hitam serta topi bisbol yang ditarik rendah ke bawah. Sebuah jaket parka longgar berwarna gelap sengaja ia kenakan di luar setelan jas sutra hitam miliknya, menyembunyikan bidang dada serta lekuk otot lengan kekarnya agar tidak memancing perhatian publik di jalanan.
Rein bergerak senyap, menyelinap di antara bayang-bayang pertokoan sebelum akhirnya melompat masuk ke dalam sebuah kompleks terowongan bawah tanah tua yang sudah puluhan tahun mati. Lorong beton tersebut meliuk jauh di bawah tanah, menghubungkan distrik industri langsung menuju sebuah dermaga peti kemas terbengkalai. Sebuah kapal cepat dengan mesin turbin ganda telah dipersiapkan oleh unit keamanan kepercayaannya untuk membawa Rein menyeberang ke perbatasan laut internasional.
Begitu berada di dalam kegelapan lorong yang aman dari pandangan luar, Rein melepas topi dan maskernya. Langkah kakinya yang berbalut sepatu kulit mahal kembali bergaung nyaring, memecah keheningan dinding beton terowongan yang lembap dan berbau tanah. Senter portabel di tangan kirinya memotong kegelapan lorong, sementara tangan kanannya tetap siaga di dekat saku dalam jas, memegang sebilah pistol semiotomatis berpeluru kaliber sembilan milimeter. Rein berjalan dengan penuh perhitungan, meyakini bahwa pelariannya ini aman karena tidak ada satu orang pun tahu keberadaan jalur bawah tanah ini selain dirinya dan Kara.
Langkah kaki Rein baru saja menapak beberapa puluh meter menembus kedalaman terowongan ketika kesunyian lorong beton itu mendadak pecah. Suara desis gesekan sol sepatu karet dengan lantai semen yang berdebu terdengar dari arah kegelapan di depannya.
"Siapa di sana? Tunjukkan diri kalian!" teriak Rein dengan suara beratnya yang menggelegar tenang di tengah kegelapan lorong.
Belum sempat Rein mendapat jawaban, tiga buah bola besi kecil menggelinding cepat dari balik tikungan pilar beton, berhenti tepat lima langkah di hadapan posisinya berdiri.
Pfffssshhh!
Bola-bola besi itu meledak bersamaan, memuntahkan kabut tebal berwarna hijau pekat yang menyembur dengan tekanan tinggi, memenuhi seluruh rongga terowongan dalam sekejap mata. Semburan tersebut merupakan gas bius berkadar militer tingkat tinggi jenis aerosol sintetis yang dirancang khusus untuk melumpuhkan target berukuran besar dalam waktu singkat.
Rein yang memiliki refleks terlatih segera menahan napas dan melompat mundur untuk menghindari kepulan kabut. Dari arah belakangnya, sebuah barikade portabel dijatuhkan dari langit-langit terowongan oleh sekelompok orang berpakaian taktis serba hitam dengan masker respirator militer yang menutup rapat seluruh wajah mereka. Jumlah mereka tiga puluh orang, merangsek maju secara rahasia bagai kawanan serigala yang mengepung mangsa.
"Keparat! Siapa yang memberi kalian perintah?!" umpat Rein dengan amarah yang mematikan.
Seorang pria bertubuh tegap di baringan depan penyerang memberikan tanda isyarat tangan kepada anak buahnya. Tatapan matanya berkilat penuh kebencian yang mendalam dari balik kaca masker pelindungnya.
"Mampus kau, Rein! Dasar monster menjijikkan! Berani-beraninya kau menodai mayat Tuan Zata seperti binatang! Hari ini kami akan menyeretmu ke neraka untuk membayar seluruh kehinaan ini! Serang dia sekarang, remukkan tulang-tulangnya!" teriak pemimpin penyergap itu dengan suara bergetar menahan amarah yang meluap-luap.
Menyadari jalur mundurnya telah dikunci oleh barikade besi, Rein mengarahkan pistolnya ke depan. Pria perkasa itu melepaskan dua tembakan beruntun ke arah siluet musuh di balik kabut.
Dor! Dor!
"Ugh! Aku tertembak!" jerit salah satu penyerang saat dua peluru Rein tepat menjebol dada dua orang barisan depan hingga tumbang bersimbah darah di atas lantai semen.
Saat sisa penyerang merangsek mendekat, Rein membuang senjatanya yang mulai tidak efektif di ruang sempit dan memilih mengandalkan kekuatan fisiknya. Ia melayangkan satu pukulan mentah yang sangat keras, menghantam tepat di tengah topeng respirator pengawal terdepan hingga pecah berantakan.
Bugh!
Hantaman bertenaga besar itu meremukkan tulang rahang dan hidung pria bermasker tersebut, membuatnya terlempar ke belakang dengan darah yang menyembur deras. Rein memutar tubuh kekarnya, menggunakan sikunya untuk menghantam pelipis penyerang kedua hingga pingsan seketika di atas lantai semen.
"Keparat gila ini kuat sekali! Dia sudah dikepung masih bisa melawan! Cepat siram lebih banyak gas! Tahan kedua lengannya, jangan sampai dia bergerak!" teriak penyerang lain yang mulai panik dan ketakutan melihat dua rekannya tumbang dengan sangat mudah.
Dalam pergulatan jarak dekat yang intens tersebut, Rein terpaksa mengambil satu tarikan napas pendek akibat pasokan oksigen di dalam dadanya yang semakin menipis. Partikel gas bius hijau yang melayang di udara langsung merangsek masuk ke dalam sistem pernapasan, mengalir deras bersama aliran darah menuju pusat saraf.
Efek obat bius dosis tinggi itu bekerja secara brutal tanpa ampun. Seketika, seluruh otot paha dan lengan Rein yang tadinya menegang keras mendadak kehilangan traksinya, melemas bagai untaian tali yang diputus paksa. Rasa kantuk yang teramat berat menyerang pusat saraf kesadarannya, membuat pandangan mata tajam milik sang miliarder perlahan mengabur.
Tubuh besarnya bergoyang tidak seimbang selama beberapa detik, berjuang melawan cengkeraman zat kimia mematikan itu. Pertahanan tubuhnya runtuh. Rein tersungkur roboh, wajah tampannya menghantam debu lantai terowongan dengan keras.
Sebelum kelopak matanya tertutup sepenuhnya menjadi kegelapan, ia samar-samar mendengar suara tawa ejekan yang penuh rasa puas dan dendam dari para penyerang yang mengepung tubuhnya.
"Kerja bagus! Bajingan ini akhirnya tumbang juga! Ikat tangannya dan cepat seret tubuh lemasnya masuk ke dalam kendaraan sebelum pasukan pribadinya melacak tempat ini. Nona Lylia sudah menunggu di markas untuk mengeksekusi keparat ini!" perintah sang pimpinan penyergap dengan nada puas yang keji.
Sepasang tangan kasar mulai mencengkeram kerah jas hitam milik Rein, menyeret tubuh kekarnya yang sudah tidak berdaya keluar dari terowongan. Kesadarannya runtuh, membawa Rein menuju kegelapan yang panjang.
***
Hantaman hawa panas yang membakar kulit wajah dan tubuhnya sontak membuat Rein tersentak kaget. Sepasang kelopak matanya terbuka paksa dengan sisa rasa pening yang luar biasa akibat efek sisa obat bius.
Hal pertama yang tertangkap oleh pandangan kaburnya adalah hamparan pasir tak berujung di bawah terik matahari gurun yang menyengat parah. Saat ia mencoba menggerakkan kedua lengannya untuk menyeka keringat di dahi, bunyi derik logam yang berat langsung bergaung nyaring. Rein menyadari kedua pergelangan tangannya kini telah terkunci rapat oleh belenggu rantai baja yang tebal dan kokoh.
Rein mencoba mencerna situasi dengan sisa kesadarannya. Mengapa dan bagaimana bisa ia terdampar di tempat jahanam ini?
Di sekeliling tempatnya terduduk di atas pasir panas, tidak ada tanda bangunan atau peradaban. Yang ada hanyalah barikade melingkar dari belasan kendaraan tempur berlapis baja. Di atas kendaraan-kendaraan tersebut, ratusan tentara bersenjata api lengkap berdiri siaga, menatap lurus ke arahnya dengan pandangan mata yang penuh penghinaan.
Tiba-tiba, pintu hidrolik dari salah satu kendaraan taktis utama berdesis, terbuka perlahan. Sosok yang melangkah keluar dari dalam kabin bergerak dengan gaya yang sangat manja.
Rein terbelalak saat mengamati sosok yang berjalan mendekat. Seorang anak kecil yang sangat polos dan menggemaskan berjalan ke arahnya. Bocah mungil dan pendek dengan wajah imut serta ceria itu sekilas tampak tidak berbahaya bagi siapa pun yang melihatnya.
Namun, siapa sangka bahwa anak kecil yang tampak polos ini merupakan pimpinan tertinggi dari sindikat kejahatan bawah tanah internasional. Bocah bernama Lylia, adik kandung mendiang Zata, yang sengaja memilih mengendalikan jaringan mafia daripada hidup bermewah-mewah di kota. Rona menggemaskan yang terpancar di wajahnya justru menjadi topeng paling mengerikan, karena di balik senyuman bocah yang manis itu, ia merupakan seorang pembunuh berdarah dingin yang sangat kejam.
Di tangan kanannya, anak kecil itu memegang sebatang cambuk kulit panjang yang bagian ujungnya telah dimodifikasi dengan aliran kawat listrik berisikan tegangan tinggi. Kekuatan serta kecepatan bertarung yang dimiliki bocah ini berada jauh di atas rata-rata manusia normal, membuat dirinya begitu disegani oleh seluruh pasukan bersenjata di tempat tersebut.
Lylia berjalan mendekat dengan langkah kaki yang enteng dan riang, menghentikan langkah sepatunya tepat di depan Rein yang masih terduduk lemas dengan pakaian yang kotor oleh debu terowongan. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap Rein dengan senyuman polos yang sangat imut, seolah sedang menyapa seorang teman bermain, tanpa ada guratan emosi jahat di wajahnya.
"Inilah balasan setimpal untuk kehinaan yang kau lakukan pada kakakku," ucap Lylia dengan nada suara yang terdengar renyah, manja, dan kekanakan, tetapi kata-katanya mengalirkan ancaman yang sangat dingin.
Ctar!
Tanpa mengubah ekspresi wajahnya yang menggemaskan, Lylia mengayunkan lengannya sekuat tenaga, melecutkan cambuk listrik tersebut tepat ke arah dada Rein. Lecutan itu merobek kain jas sutra dan kemejanya, menyisakan jalur gosong yang melepuh di kulit dada Rein. Arus listrik yang merambat langsung memicu rasa nyeri yang luar biasa, memaksa Rein merintih kesakitan dengan urat leher yang menegang kencang.
Rein menolak untuk menyerah begitu saja. Pria itu menggeram beringas, memaksa tubuh kekarnya untuk bangkit berdiri dan menerjang maju ke arah Lylia meskipun kedua kakinya terasa sangat berat akibat belenggu rantai baja.
Dua orang pengawal berseragam yang mencoba menghadang jalannya langsung dihantam secara brutal. Rein melayangkan sundulan kepala yang mematahkan hidung pengawal pertama, lalu memutar tubuhnya untuk melepaskan hantaman siku yang meremukkan rahang pengawal kedua hingga keduanya tumbang ke atas pasir.
Melihat celah terbuka, Rein langsung mengarahkan pukulannya tepat ke arah wajah imut Lylia. Tepat sebelum tinjunya mendarat, Lylia bergerak dengan kecepatan yang sungguh di luar dugaan. Anak kecil itu merunduk dengan sangat gesit, lalu melepaskan satu pukulan telak yang menghantam ulu hati Rein tanpa ampun.
Bugh!
Hantaman bertenaga besar dari kepalan tangan kecil Lylia itu seketika menghentikan pasokan udara Rein. Pria perkasa itu langsung tersungkur jatuh berlutut di atas pasir, memegangi perutnya sebelum akhirnya memuntahkan cairan darah segar yang kental dari mulutnya. Tenaganya benar-benar telah terkuras habis oleh sisa obat bius, dan kecepatan gerak bocah mungil itu berada di luar perkiraannya.
Pertarungan hebat berlanjut di tengah gurun yang panasnya membakar kulit. Rein berkali-kali memberikan serangan beruntun di sisa tenaga yang ia punya, mengayunkan kepalan tangannya yang besar ke arah Lylia. Namun, dengan kelincahan seorang anak kecil yang sedang menari, Lylia selalu menangkis dan mengelak dari setiap pukulan kasar Rein. Wajah bocah itu tetap menunjukkan binar ceria, seolah serangan maut Rein hanyalah candaan ringan.
"Kau lambat sekali untuk ukuran pria yang katanya menakutkan," ejek Lylia sambil tertawa renyah, melompat mundur dengan enteng menghindari sapuan kaki Rein.
Rein menggeram rendah, napasnya memburu berat dengan peluh yang mengucur deras. "Jangan banyak bacot, bocah tengik! Maju kau!" bentak Rein, mencoba memacu adrenalinnya untuk melupakan rasa pening akibat sisa obat bius. Pria itu menerjang maju, menggunakan berat tubuhnya untuk mengunci pergerakan Lylia.
Namun, saat Rein lengah karena pasokan oksigen di dadanya menipis, Lylia dengan gerakan kilat berputar ke belakang. Ia langsung menyabetkan cambuk listrik ke arah punggung pria itu.
Ctar!
Sabetan itu membuat Rein berteriak kencang akibat sengatan listrik bertegangan tinggi yang menghancurkan sistem sarafnya secara paksa. Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari punggung hingga ke ujung jari kaki. Rein jatuh tersungkur di atas pasir yang membakar.
"Lepaskan... keparat..." teriak Rein terbata-bata, mencoba menumpu tubuhnya dengan lengan yang gemetar hebat, berusaha keras untuk kembali bangkit berdiri demi menjaga harga dirinya.
Lylia tidak memberikan kesempatan. Ia langsung menendang rusuk Rein dengan sangat keras menggunakan ujung sepatu boot yang keras. Hantaman itu membuat bayangan di mata Rein berkunang-kunang hitam. Rein yang sudah kesulitan untuk melihat dan bergerak itu akhirnya ambruk, hanya bisa pasrah saat kesadarannya perlahan menipis.
Tubuh Rein kemudian diseret paksa di atas pasir panas gurun oleh anak buah Lylia. Gesekan pasir kasar mengelupas sisa kulit jas sutra dan kemejanya. Lylia melangkah dengan riang di samping tubuh Rein yang tak berdaya. Ia lalu menginjak dada Rein menggunakan sepatunya yang keras tepat di luka bahunya yang menganga.
Tekanan tumit sepatu itu membuat Rein mengerang kesakitan dengan sisa suara di tenggorokannya. Sepasang mata Rein terbuka sedikit, menatap tajam ke arah atas. "Kalau aku... keluar dari sini... akan kuhancurkan leher kecilmu itu..." ancam Rein dengan suara serak yang sarat akan dendam.
Lylia justru membungkuk sedikit, mendekatkan wajah imutnya yang tanpa dosa itu tepat di samping telinga Rein.
"Kau akan menjadi budak pemuas nafsuku, Rein. Aku akan memeras seluruh kejantananmu sampai kau memohon untuk dibunuh," desis Lylia dengan suara kekanakan yang manja namun terasa sangat mengerikan.
Lylia berdiri tegak kembali, lalu melambaikan tangan mungilnya memberikan perintah kepada para anak buahnya. "Bawa dia menuju sel paling dalam di istana bawah tanah sekarang!" serunya riang.
Rein dengan bayangan pandangannya yang semakin samar hanya bisa menatap wajah Lylia yang tersenyum sangat puas dan menggemaskan, gembira karena melihat penderitaan hebat yang ia alami, sebelum akhirnya pandangan pria itu gelap sepenuhnya.
Post a Comment