Cerpen Cak Kirun: Pemuja Mega-Oppa

Warung kopi Mak Inun siang itu terasa mendung karena wajah Rina dan kawan-kawannya yang ditekuk habis-habisan. Rina terus menatap layar ponselnya sambil jempolnya lincah membalas komentar orang di internet. Kabar mengenai Mega-Oppa, idola asal Korea, yang ketahuan makan seblak bareng aktris cantik jadi pemicu keributan di grup chat dan media sosial mereka.

"Nggak nyangka ya, kita sudah dukung dari nol, eh dia malah asyik makan seblak berdua. Pokoknya aku nggak terima!" seru Rina sambil menyeka air mata dengan kasar. "Rasanya seperti dikhianati mentah-mentah!"

Cak Kirun yang sedang menyeruput kopi hitamnya sambil memakai sarung lusuh hanya mendengarkan dari meja sebelah. Ia melihat sebuah asbak semen di depannya, lalu ia mulai mengelus-elus asbak itu dengan sangat lembut, seolah-olah asbak itu barang pecah belah yang sangat mahal.

"Aduh Asbak sayang, kamu jangan sedih ya kalau aku jarang pakai kamu hari ini," gumam Cak Kirun dengan nada yang dibuat-buat sedih.

Rina menoleh dengan dahi berkerut, mengalihkan pandangan sebentar dari ponselnya yang terus berbunyi notifikasi. "Cak Kirun kenapa sih? Ngomong sama asbak semen kok sampai segitunya?"

Cak Kirun menatap Rina dengan wajah serius. "Kamu jangan sembarangan, Rin. Asbak ini idola saya. Saya sudah lap setiap pagi, saya jaga supaya nggak ada debu, masa kamu bilang cuma asbak? Saya sedih kalau dia nanti tiba-tiba dipakai orang lain buat buang puntung rokok!"

"Cak, sampeyan sehat kan?" tanya Rina sambil menahan tawa. "Asbak itu benda mati. Dia nggak tahu kalau sampeyan rawat. Dia juga nggak bakal peduli sampeyan nangis atau ketawa. Sampeyan bela-belain sampai stres pun, asbak itu tetap asbak yang nggak punya perasaan."

Cak Kirun langsung meletakkan asbak itu kembali ke meja, lalu tersenyum lebar. "Nah! Akhirnya kamu sadar kalau mencintai sesuatu yang nggak bisa balas itu rasanya cuma capek di hati saja."

Rina terdiam sebentar, menyadari sindiran halus itu. Cak Kirun melanjutkan bicaranya sambil mengambil pisang goreng. "Kamu menangis histeris, maki-maki dia cuma karena idola kamu makan seblak sama pacarnya. Memangnya kalau kamu jatuh sakit karena terlalu sedih, idola itu bakal datang ke rumahmu buat bawain obat?"

"Tapi kan kita fans setia, Cak. Kita merasa punya ikatan!" bela salah satu teman Rina.

"Kesetiaan itu buat orang tua yang sudah menyuapi kamu sejak kecil, Rin. Kesetiaan itu buat Tuhan yang kasih kamu napas tanpa harus bayar," sahut Cak Kirun tenang. "Idola itu beli apartemen mewah pakai uang hasil kalian beli tiket konser dan produknya. Sedangkan kalian, mau beli kuota buat idolain dia saja masih minta uang saku ke orang tua."

Cak Kirun menunjuk ke arah asbak tadi. "Asbak ini lebih jujur. Mau saya maki, mau saya buang, dia nggak pernah menjanjikan kebahagiaan palsu. Idola itu jadikan inspirasi saja, jangan dijadikan pusat dunia kalian. Dia punya hidup sendiri, dia punya rasa sendiri, dan dia berhak bahagia tanpa harus minta izin sama kalian."

Cak Kirun berdiri, membayar kopinya, lalu bersiap pergi. "Ingat ya, jangan sampai saking sibuknya menjaga hati orang jauh yang nggak kenal kalian, kalian nggak sadar kalau orang tua di rumah lagi nunggu diajak ngobrol sebentar."

Rina dan teman-temannya hanya bisa saling pandang. Mereka melihat ponsel yang masih menyala dengan ratusan komentar pedas, lalu perlahan Rina memasukkannya ke dalam saku.
BACA JUGA