REIN: Hembusan Nafas Terakhir

Angin kencang menghantam dinding luar badan jet pribadi yang membelah awan hitam di ketinggian ribuan kaki. Guncangan kecil sesekali melanda badan pesawat, membuat lampu hias di langit-langit kabin bergoyang pelan. 

Di balik jendela oval yang dingin, kilat menyambar, menerangi ruangan yang tenang. Rein duduk di kursi utama berbahan kulit domba dengan kedua kaki terentang. Pria itu baru saja menutup map dokumen tebal berisi kesepakatan tender pelabuhan utama yang baru saja dimenangkannya siang tadi. Kemenangan bisnis ini bernilai triliunan rupiah, mengukuhkan posisinya sebagai penguasa industri utama. 

Rein menarik napas panjang, merenggangkan badannya yang penat. Dadanya membusung kuat hingga kancing kemeja sutra hitamnya menegang seolah mau terlepas. Tubuh penuh otot miliknya terbentuk dari latihan beban yang berat setiap pagi sebelum pria itu mulai mengendalikan ribuan karyawan di bawah perintahnya. 

Pintu pembatas kabin depan terbuka perlahan. Alice melangkah masuk dengan langkah kaki yang teratur. Sekretaris pribadi yang telah mendampinginya selama tiga tahun itu mengenakan rok pendek ketat, menonjolkan bentuk pinggulnya yang berisi. 

Alice membawa sebotol wine merah berlabel tahun tua dan dua buah gelas kristal berkilau. Langkah kaki wanita itu berhenti tepat di hadapan kursi Rein. Ia membungkuk, mengulurkan tangan untuk meletakkan botol serta gelas di atas meja kayu jati di samping Rein. Gerakan itu membuat belahan dadanya terpampang jelas di depan mata Rein. Aroma parfum mawar yang manis dari tubuh Alice menyerbu indra penciuman Rein, memicu gairah yang kuat setelah seharian penuh memeras pikiran di meja rapat. 

"Anda butuh sesuatu untuk melepas lelah setelah kemenangan besar ini, Tuan Rein," ucap Alice dengan nada suara rendah mendesah. Jemari lentiknya perlahan membuka sumbat botol wine, menuangkan cairan merah keperakan itu ke dalam gelas kosong hingga menimbulkan suara gemercik yang halus. 

Rein tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Tangan kanannya yang besar bergerak cepat, mencengkeram pergelangan tangan Alice dengan tenaga yang kuat. Dengan satu sentakan, Rein menarik tubuh sekretarisnya itu hingga Alice jatuh terduduk tepat di atas pangkuan kekarnya. Alice memekik pelan karena terkejut, namun segera menguasai diri. Wanita itu tersenyum manis, mengalungkan kedua lengan indahnya ke leher Rein, membiarkan tubuh mereka menempel rapat. 

Rein mencengkeram pinggang Alice dengan erat, merasakan kehangatan kulit wanita itu. Jemari tangannya yang besar mulai menyusup ke balik kain rok sempit Alice yang terangkat. Rein memajukan wajahnya, mencium leher Alice dengan lahap, memberikan isapan-isapan kuat yang meninggalkan bekas kemerahan di kulit halus sekretaris pribadinya. 

Napas Rein berembus berat dan panas di permukaan kulit Alice. Alice mulai merintih pelan, meremas pundak Rein sewaktu merasakan jepitan otot paha pria itu menghimpit pantatnya dengan penuh dominasi. 

Pergumulan mereka di atas kursi kulit semakin panas dan penuh gairah. Rein menggunakan tangan kirinya untuk merobek paksa dua kancing kemeja sutranya sendiri, membiarkan bidang dadanya yang kekar dan mulai berkeringat bergesekan langsung dengan dada Alice. 

Tanpa basa-basi Rein langsung melumat bibir sekretarisnya itu. Pada saat yang sama, tangan Rein yang keras itu pun menjelajahi setiap lekuk sensitif tubuh sekretarisnya, meremasnya tanpa memedulikan guncangan pesawat yang semakin kuat di luar. 

Di tengah ciuman mereka yang intim, Alice mengulurkan tangan kanan ke arah meja. Jemarinya meraih gelas kristal berisi wine yang sudah dituangkan sebelumnya. Alice melepaskan pagutan bibir mereka, lalu menyodorkan gelas itu ke depan mulut Rein dengan tatapan mata yang sayu penuh godaan. 

"Minumlah dulu, Tuan. Ini perayaan untuk kesuksesanmu," bisik Alice lembut di dekat telinga Rein. 

Rein meraih gelas itu, lalu meneguk habis cairan merah di dalamnya dengan cepat hingga kerongkongannya bergerak naik turun. Sebagian kecil cairan wine menetes di sudut bibirnya, mengalir turun ke dagu dan dadanya yang bidang. Rein meletakkan kembali gelas kosong itu ke atas meja dengan kasar. 

Beberapa detik setelah cairan wine mengalir melewati tenggorokannya, Rein merasakan ada yang salah. Sensasi dingin yang aneh mendadak berubah menjadi rasa panas yang membakar hebat di dalam perutnya, seolah ada cairan asam yang sedang mengikis lambungnya. Jantung Rein mendadak berdetak sangat kencang dengan ritme yang tidak beraturan, memberikan rasa sakit yang luar biasa di dalam rongga dadanya. 

Rein melepaskan dekapannya pada tubuh Alice. Pria itu mencengkeram lehernya sendiri menggunakan kedua tangan, mencoba meraup udara karena paru-parunya terasa menyempit secara mendadak. 

"Kenapa... dadaku... mendadak sesak sekali..." suara Rein terdengar parau, tersangkut di tenggorokannya yang mulai membengkak hebat. 

Rasa sakit yang teramat parah mencengkeram ulu hatinya, membuat pria berkuasa itu mendadak dilingkupi rasa cemas. Rein yang belum menyadari pengkhianatan ini langsung menatap sekretaris pribadinya dengan pandangan membutuhkan pertolongan. 

"Tolong... panggil... pilot... Alice, cepat... suruh mendarat darurat..." rintih Rein dengan mata membelalak, memegang dadanya yang seolah dihimpit batu besar. 

Mendengar rintihan itu, Alice langsung mengubah ekspresi wajahnya. Wanita itu menunjukkan kepanikan yang luar biasa, menutupi mulutnya dengan kedua tangan seraya memekik histeris dengan air muka yang sangat cemas. 

"Astaga, Tuan Rein! Anda kenapa?! Wajah Anda merah sekali!" seru Alice dengan nada suara yang bergetar penuh sandiwara, berlutut sejenak di samping Rein untuk menunjukkan rasa peduli. 

"Bertahanlah, Tuan! Saya akan panggil bantuan dari depan sekarang juga!" lanjut Alice. 

Alice membalikkan badan dengan tergesa-gesa, berlari kecil menuju pintu kokpit jet pribadi. Namun, begitu memunggungi posisi Rein, senyuman dingin yang penuh kelicikan langsung terkembang di bibir merahnya. Alice membuka pintu kokpit lalu berteriak memanggil bantuan, tetapi pria yang melangkah keluar dari dalam ruangan itu bukanlah sang pilot, melainkan Enzo. 

Rein yang sedang terkapar di lantai menahan sakit luar biasa mencoba mendongak. Sedetik kemudian sepasang matanya mendelik lebar karena terkejut. Pikiran Rein berputar kacau, dipenuhi rasa tidak percaya yang amat sangat sewaktu melihat sosok rival bisnisnya justru berjalan keluar dari arah kokpit bersama Alice yang kini sudah berhenti berpura-pura panik. 

Pria setelan jas yang rapi tanpa cela itu berjalan mendekat dengan langkah santai, lalu berjongkok tepat di samping kepala Rein yang sedang menahan sakit parah. Enzo mengulurkan tangan, menepuk pipi Rein yang mulai mendingin dengan gerakan merendahkan. 

"Kau sangat hebat di atas ranjang dan selalu menang di meja rapat, Rein. Sayangnya, kau terlalu bodoh karena memercayai wanita ini," ucap Enzo disertai tawa kecil yang mengejek. 

Alice melangkah mendekat ke arah Enzo. Wanita itu tanpa ragu menyandarkan tubuh rampingnya di dada Enzo, membiarkan tangan rival bisnis Rein itu merangkul pinggangnya dengan mesra di depan mata Rein. 

Enzo menundukkan kepala, menatap wajah Alice dengan senyuman puas. Di hadapan Rein yang sedang terkapar menahan sakit, Enzo menangkup rahang Alice, lalu melumat bibir sekretaris pengkhianat itu dengan ciuman yang dalam dan panas. Alice membalas pagutan itu dengan penuh gairah, mendesah pelan di sela ciuman mereka sebagai bentuk perayaan. 

Setelah melepaskan tautan bibir mereka, Enzo membuka kancing celananya, lalu mengeluarkan penisnya yang sudah mengeras tegang. Pria itu menyandarkan punggungnya di kursi kulit utama yang tadi diduduki Rein. Alice tersenyum manja, segera berlutut di lantai kabin tepat di antara kedua paha Enzo. Di depan pandangan mata Rein, Alice membuka mulutnya perlahan, lalu mulai mengulum perkasa batang penis Enzo dengan isapan yang dalam dan basah. 

Melihat adegan mesum dan menjijikkan itu dilakukan di dalam jet pribadinya sendiri, darah Rein seolah mendidih. Rasa hina yang luar biasa membakar dadanya. 

"Ba... jingan... Kurang ajar... Berani sekali kalian... main gila di hadapanku!" maki Rein dengan suara parau bercampur kemarahan yang meluap-luap. 

Enzo mendongak, mendesah kasar menikmati servis dari Alice sambil menatap Rein dengan pandangan mengejek. Sembari menerima pelayanan dari Alice, Enzo membuka tas kerja di sampingnya, mengeluarkan selembar dokumen baru lalu memamerkannya ke arah Rein. 

"Semua dokumen tender pelabuhan yang baru saja kau tanda tangani sudah beralih atas nama perusahaanku, Rein. Alice sudah memindahkan seluruh kuasa aset utamamu sejak satu bulan yang lalu," jelas Enzo dengan suara yang bergetar menahan nikmat akibat isapan mulut Alice. "Racun yang masuk melalui wine yang kau minum tadi adalah jenis pelumpuh saraf buatan khusus. Tidak akan ada jejak yang tertinggal saat pemeriksaan nanti. Kau akan dilaporkan meninggal karena serangan jantung akibat kelelahan bekerja." 

Penuturan dingin terkait dokumen tender dan kehilangan seluruh harta kekuasaannya itu menjadi pematik terakhir. Emosi Rein benar-benar memuncak melewati batas tertinggi. Kehilangan kejayaan bisnis sekaligus dikhianati oleh sekretaris yang kerap ditidurinya memicu lonjakan adrenalin yang dahsyat, mengalahkan rasa sakit racun di tubuhnya untuk sesaat. Harga diri Rein menolak keras untuk mati sebagai pecundang yang pasrah. 

"Keparat... Mati kalian!" geram Rein dari sela giginya yang mulai dipenuhi darah. 

Mengabaikan rasa sakit yang melumpuhkan raga, Rein memaksakan otot lengan kekarnya untuk bergerak. Dengan satu sentakan bertenaga yang tersisa dari sisa hidupnya, ia merayap maju dengan cepat di atas lantai kabin. Gerakan tiba-tiba yang mengerikan itu membuat Alice terkejut dan langsung melepaskan kulumannya dari penis Enzo. 

Rein mencengkeram ujung celana bahan Enzo lalu menariknya ke bawah dengan kasar. Enzo memekik kaget, kehilangan keseimbangan hingga tubuhnya ikut terjatuh dari kursi, tersungkur ke lantai karpet tepat di sebelah Rein dalam kondisi celana yang melorot. 

Rein menggunakan berat tubuh kekarnya untuk menindih dada Enzo, mengunci pergerakan pria itu. Tangan kanan Rein yang gemetar hebat bergerak maju, mencekik leher Enzo dengan sisa kekuatan penuh. Wajah Rein yang memerah padam menatap lurus ke dalam sepasang mata Enzo yang kini dipenuhi kepanikan. Semburan darah kental dari mulut Rein keluar, mengotori wajah jas rapi Enzo saat pria itu terbatuk-batuk kehabisan napas di bawah kungkungannya. 

"Alice! Cepat bantu aku! Pria ini gila!" teriak Enzo dengan suara yang mulai serak, kedua tangannya memukul-mukul lengan Rein yang sekeras besi namun mulai melemah. 

Alice yang mulai ketakutan melihat amukan Rein yang mengerikan langsung bertindak. Wanita itu melepas sepatu hak tingginya, menghantamkan ujung tumit sepatu yang runcing itu berkali-kali ke punggung dan pundak berotot Rein. "Lepaskan dia, Rein! Kau sudah kalah! Mati saja kau!" jerit Alice histeris dengan wajah pucat. 

Hantaman bertubi-tubi itu membuat kulit punggung Rein robek dan berdarah, tetapi ia terus mempererat remasan tangannya di tenggorokan Enzo, bertekad membawa rival bisnisnya itu ikut mati bersamanya ke neraka. 

Namun, racun di dalam darahnya bekerja terlalu kejam. Sistem saraf pusatnya lumpuh total dalam satu hentakan rasa sakit yang luar biasa di hulu hati. Otot-otot lengannya mendadak kehilangan daya secara drastis, membuat cengkeramannya terlepas begitu saja. 

Enzo segera merangkak mundur dengan tergesa-gesa sambil memegangi lehernya yang memar, terbatuk-batuk menghirup udara dengan wajah dipenuhi ketakutan yang nyata seraya menarik kembali celananya. 

Rein terlentang di lantai kabin, dadanya naik turun dengan tidak beraturan karena paru-parunya yang membengkak parah menolak udara masuk. Mulutnya kembali memuntahkan darah segar dalam jumlah banyak, membasahi kemeja sutranya yang sudah robek. Walau tubuhnya sudah tidak bisa digerakkan, sepasang mata tajam Rein tetap mendelik lurus, menatap Enzo dan Alice dengan pandangan penuh dendam yang mengancam sebelum kegelapan total merebut kesadarannya.

Memuat daftar chapter...
[X]