REIN: Hembusan Nafas Terakhir
Angin kencang menghantam dinding luar badan pesawat jet pribadi yang sedang membelah awan hitam di ketinggian ribuan kaki. Di balik jendela oval yang dingin, kilat sesekali menyambar, menerangi kabin yang sangat sunyi. Rein duduk di kursi utama dengan kaki yang terentang lebar. Pria itu baru saja menutup map dokumen tender pelabuhan yang sangat krusial. Ia menarik napas panjang, membiarkan dadanya yang bidang membusung kuat hingga kancing kemeja sutranya seolah mau terlepas. Tubuhnya yang sekel dan penuh otot merupakan hasil dari latihan fisik yang sangat keras setiap pagi sebelum ia mulai memerintah ribuan karyawannya.
Pintu kabin terbuka secara perlahan. Alice melangkah masuk dengan gaya yang sangat anggun. Sekretaris pribadinya itu mengenakan rok yang sangat pendek dan ketat, menunjukkan lekuk pinggulnya yang sangat berisi. Alice membawa sebotol wine merah dan dua gelas kristal. Ia berhenti tepat di hadapan Rein, lalu membungkuk perlahan untuk meletakkan minuman tersebut. Belahan dadanya yang putih dan besar terpampang jelas di depan mata Rein. Rein menatap tajam ke arah sana, ia merasakan dorongan gairah yang kuat setelah seharian berkutat dengan angka dan strategi bisnis.
"Anda butuh sesuatu untuk melepas lelah, Tuan Rein," ucap Alice dengan nada suara yang sengaja dibuat mendesah.
Rein tidak menjawab dengan kata-kata. Ia langsung menarik tangan Alice dengan tenaga yang sangat besar, membuat wanita itu jatuh tepat di atas pangkuannya yang keras. Alice memekik pelan namun segera mengalungkan lengannya ke leher Rein. Rein mencengkeram pinggang Alice, jemarinya yang panjang masuk ke balik rok sempit itu. Ia mulai menciumi leher Alice dengan sangat rakus, meninggalkan bekas kemerahan di kulit halus wanita itu. Napas Rein menjadi sangat berat dan panas. Alice mulai merintih, ia merasakan kerasnya otot paha Rein yang menghimpit tubuhnya.
Ciuman mereka semakin menjadi-jadi, sangat berpeluh dan penuh gairah yang meledak-ledak. Rein merobek kancing kemejanya sendiri agar ia bisa merasakan gesekan kulit Alice pada dadanya yang berkeringat. Tangan Rein yang kasar mulai menjelajahi setiap jengkal tubuh sekretarisnya, meremas bagian yang paling sensitif dengan penuh dominasi. Di tengah pergumulan panas itu, Alice meraih gelas wine yang sudah dituangkan sebelumnya. Ia memberikannya kepada Rein dengan tatapan mata yang sangat menggoda.
Rein meneguk wine itu dengan cepat, ia membiarkan sebagian cairan merah itu menetes di sudut bibirnya dan membasahi dadanya. Namun, beberapa saat setelah cairan itu melewati kerongkongannya, Rein merasakan ada yang sangat aneh. Rasa panas yang luar biasa tiba-tiba membakar perutnya. Jantungnya berdetak sangat kencang, seolah-olah mau pecah dari dalam rongga dadanya. Ia melepaskan Alice dan mencengkeram lehernya sendiri.
"Alice... apa... yang kau..." suara Rein tersangkut di tenggorokan yang mulai membengkak.
Wajah Rein yang tampan berubah menjadi merah padam dan penuh dengan urat yang menonjol. Ia mencoba berdiri, namun kakinya yang perkasa itu mendadak lumpuh. Ia jatuh tersungkur ke lantai karpet pesawat, tubuhnya yang sekel bergetar hebat karena kejang yang sangat menyiksa. Alice berdiri dengan tenang, ia merapikan rambutnya yang berantakan lalu tersenyum dingin. Dari arah kokpit, Enzo melangkah keluar. Pria itu adalah rival terbesar Rein dalam dunia bisnis yang selalu kalah dalam setiap persaingan.
Enzo mendekati Rein yang sedang sekarat dan berjongkok di samping kepalanya. "Kau sangat hebat di atas ranjang dan di meja rapat, Rein. Tapi sayangnya kau terlalu percaya pada wanita ini," ucap Enzo sambil tertawa kecil. Rein mencoba menggerakkan tangannya untuk mencengkeram Enzo, namun racun itu sudah menghancurkan sistem sarafnya. Ia mengeluarkan darah dari mulutnya, membasahi wajahnya yang mulai pucat.
Pandangan Rein perlahan-lahan mulai kabur dan gelap. Kesadarannya ditarik paksa ke dalam lubang hitam yang tak berujung. Rasa sakit yang tadi sangat hebat mendadak hilang, berganti dengan perasaan hampa yang sangat dingin. Sang CEO yang paling berkuasa itu akhirnya menghembuskan napas terakhirnya di tengah awan yang gelap, meninggalkan seluruh kekayaan dan dendam yang belum tuntas.
BACA JUGA
Post a Comment