REIN: Siksa Keji
Rein terbangun di dalam sel bawah tanah dengan pencahayaan obor temaram yang terpasang di dinding batu yang lembap. Udara di dalam ruangan itu terasa sangat pengap dan dingin. Kedua pergelangan tangannya kini terikat rantai besi tebal yang menjuntai dari langit-langit yang tinggi, memaksa tubuh kekarnya tergantung dalam posisi berdiri yang tidak nyaman.
Tubuhnya yang masih memperlihatkan bekas luka cambuk gosong dan memar biru itu pun hanya dibaluti oleh sisa celana pendek yang sudah robek-robek.
Clang! Clang!
Rein terbangun dengan sentakan hebat, langsung berusaha sekuat tenaga menyentak lengan dan tubuhnya, mencoba melepaskan rantai besi yang membelenggunya. Otot-otot lengannya yang kekar menegang keras hingga urat-uratnya menonjol, namun usahanya sia-sia. Rantai itu terlalu kuat untuk dipatahkan, bahkan bagi dirinya yang terbilang memiliki kekuatan fisik di atas rata-rata manusia biasa.
"Sialan! Lepaskan aku, bajingan!" teriak Rein, suaranya menggema beringas memenuhi ruangan sel yang sepi.
Tiba-tiba, pintu baja sel yang tebal itu terbuka dengan suara derit yang tajam. Lylia berjalan masuk ke dalam sel dengan langkah kaki yang enteng dan anggun.
Namun, penampilan bocah itu kini berubah total. Di bawah temaram cahaya api obor, ia mengenakan selembar gaun sutra yang transparan tanpa mengenakan pakaian dalam apa pun di baliknya. Gaun sutra tipis itu memperlihatkan seluruh lekuk tubuh mungilnya dengan sangat jelas, kontras dengan ekspresi wajahnya yang masih terlihat polos seperti anak belia.
Rein langsung meludahi lantai di depan kaki Lylia begitu bocah itu mendekat. "Mau apa lagi kau, bocah sialan? Bunuh saja aku kalau kau punya nyali!" tantang Rein dengan tatapan mata yang berkilat penuh amarah dan kebencian.
Lylia tidak membalas makian itu dengan kemarahan. Ia justru berjalan menuju wadah air yang terletak di ujung ruang sel. Bukannya mengambil gayung, ia justru meminum air itu langsung dengan mulut kecilnya hingga pipinya menggembung lucu. Ia lalu mendekat ke arah Rein yang sedang terengah-engah menahan rasa haus, lapar, serta perih akibat luka-luka di tubuhnya.
Tepat di depan muka pria itu, tangan mungil Lylia mendadak mencengkeram kuat rahang Rein, memaksanya membuka mulut. Lylia langsung menyemprotkan air dari mulutnya ke dalam mulut Rein, memaksanya untuk menelan habis seluruh cairan tersebut.
"Uhuk! Uhuk!" Rein tersedak parah, menggelengkan kepalanya dengan beringas untuk melepaskan cengkeraman tangan Lylia. "Uhuk... keparat kau..." umpat Rein di sela batuknya yang menyakitkan.
Lylia kembali berbalik, mengambil air lagi dengan mulutnya. Kali ini, ia tidak menyemprotkan air itu ke mulut Rein, melainkan menyemburkannya tepat ke arah luka cambuk yang masih menganga lebar di dada pria itu. Kandungan garam dan mineral di dalam air seketika membakar daging terbuka tersebut.
"Arghhh!" Rein berteriak lantang. Sensasi perih yang menusuk tulang langsung merambat ke seluruh tubuhnya, membuat tubuh kekarnya bergetar hebat di bawah kekangan rantai baja. Ia mengatupkan giginya rapat-rapat hingga berdarah, menolak untuk memberikan kepuasan lebih lama bagi bocah di depannya.
Lylia tersenyum manis melihat reaksi menyedihkan itu. Ia melangkah maju, merapatkan tubuh mungilnya ke dada kekar Rein.
"Kau sangat membuatku bergairah, Rein," ucap Lylia dengan suara imutnya sambil meraba-raba permukaan dada Rein yang dipenuhi luka dan darah segar.
"Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu, bocah aneh!" bentak Rein, mencoba mengayunkan tubuhnya ke depan untuk menyeruduk wajah Lylia, namun rantai di tangan menahan pergerakannya dengan sentakan keras.
Lylia lalu mengambil sebilah belati kecil yang ada di kait samping tubuhnya. Dengan gerakan perlahan, ia menggoreskan ujung belati yang tajam itu ke sekitar puting dada Rein. Seketika, aliran darah segar keluar dari goresan baru tersebut. Rein mendesis kencang, menahan napasnya saat merasakan besi dingin itu menyayat kulitnya. Tanpa ada rasa ragu atau jijik, Lylia langsung menjilati noda darah merah itu dengan wajah yang penuh gairah yang menggelora, mengabaikan erangan Rein yang berjuang keras menahan perih luka di dadanya.
Lylia kemudian melepaskan gaun sutra transparannya perlahan, membiarkannya merosot jatuh ke lantai semen hingga membuat seluruh tubuhnya terlihat dengan jelas tanpa adanya sehelai benang pun yang melekat. Ia menjambak rambut tebal Rein dengan kasar menggunakan tangan kirinya, memaksanya untuk menatap lurus ke arah wajahnya yang kini sudah mabuk oleh gairah yang membara.
"Layani aku sekarang," desis Lylia penuh ancaman. Rein menatap wajah imut yang kini terlihat sangat gila itu dengan napas yang memburu.
"Kau... benar-benar monster menjijikkan..." bisik Rein dengan sisa tenaganya, tepat saat tangan kanan Lylia bergerak cepat melepaskan sisa celana pendek milik Rein hingga pria itu kini ikut telanjang bulat.
Lylia mengabaikan makian tersebut, senyumnya justru semakin lebar mendengar sebutan monster dari mulut Rein. Gadis mungil itu berjalan mendekati dinding batu, lalu mengambil sebuah tabung suntik berisi cairan merah pekat yang diletakkan di atas meja kayu. Langkah kaki bocah itu terdengar ringan, berirama santai yang mengerikan di dalam keheningan sel.
Rein langsung memusatkan pandangan matanya yang tajam pada benda di tangan Lylia. "Singkirkan benda itu! Jangan berani-berani kau mendekat!" ancam Rein dengan sisa tenaga yang ia miliki.
Lylia tidak membalas ancaman itu. Ia melompat kecil dengan sangat lincah, menancapkan jarum suntik tepat di otot leher Rein, lalu menekan tuasnya dengan cepat.
"Argh!" Rein menggeram keras saat merasakan sensasi panas membakar mengalir deras dari leher ke seluruh pembuluh darahnya.
Obat perangsang dengan dosis ekstrem tersebut langsung bereaksi. Dalam hitungan detik, jantung Rein berdetak berkali-kali lipat lebih cepat, membuat napasnya menjadi sangat pendek. Seluruh permukaan kulit tubuhnya memerah panas. Pengaruh obat itu memaksa tubuh Rein bereaksi secara biologis di luar kendali pikirannya, meruntuhkan harga diri yang ia pertahankan. Penis pria itu seketika ereksi kencang, menegang dengan ukuran maksimal dan mengacung kaku di depan tubuh telanjangnya.
Lylia tertawa renyah melihat perubahan tersebut. Jemari kecilnya mengelus batang penis yang tebal dan berdenyut kencang itu dengan gemas. "Lihat dirimu, Rein. Mulutmu menolak menyembahku, tetapi penis milikmu justru bangun dengan sangat gagah untukku," ejek Lylia dengan suara kekanakan yang manja.
Rein menggelengkan kepala, mencoba menghalau kabut gairah buatan yang mulai menguasai kesadarannya. Rantai besi di tangannya berdenting hebat saat ia menyentak tubuh ke depan. "Keparat kau, Lylia! Obat apa ini?!" bentak Rein dengan suara serak yang bergetar hebat.
Lylia melangkah semakin rapat, menempelkan tubuh telanjangnya yang mungil ke paha Rein. Tangan kecilnya bergerak mencengkeram erat batang penis Rein yang menegang, memberikan tekanan kuat berupa remasan dan urutan lambat yang membuat Rein terpaksa melenguh kencang sambil menggigit bibir bawah demi menahan suara kenikmatan yang memalukan.
"Sekarang, bersihkan tubuhku," perintah Lylia sambil mendongak, mengarahkan jemari kakinya tepat ke lipatan bibir Rein.
"Cuh! Langkah lompati mayatku dulu!" Rein meludahi lantai di sisi lain, menolak mentah-mentah perintah tersebut meskipun gairah akibat obat suntik sudah menyiksa seluruh tubuhnya. Senyuman di wajah imut Lylia tetap bertahan, tetapi tangan kirinya bergerak cepat menyambar cambuk listrik di lantai, lalu melecutkannya tepat ke paha bagian dalam Rein yang sensitif.
Ctar!
Sengatan listrik membuat Rein menjerit kesakitan. Otot perutnya menegang kencang hingga urat-urat di sekujur tubuh tegapnya menonjol keluar. Perpaduan rasa panas obat perangsang dan perihnya aliran listrik menghancurkan pertahanan mental Rein. Batang penisnya semakin menegang ekstrem akibat siksaan rangsangan yang bertubi-tubi.
Memanfaatkan kondisi Rein yang lemas, gemetar, dan terengah-engah, Lylia menjambak rambut tebal pria itu, menarik kepalanya ke bawah dengan paksa dan menjejal jemari kaki ke dalam rongga mulut Rein.
Namun, naluri bertarung Rein tidak padam begitu saja. Begitu merasakan kulit asing masuk ke dalam mulutnya, dengan sisa kesadaran yang tersisa, Rein langsung mengatupkan rahangnya dan menggigit jemari kaki Lylia sekuat tenaga.
"Akh!" Lylia terpekik kaget, senyum imutnya lenyap seketika digantikan ringisan seiring darah segar mulai merembes dari luka gigitan di kakinya.
Kemarahan kilat melintas di wajah bocah itu. Tanpa belas kasihan, Lylia menggunakan gagang besi belatinya untuk menghantam pelipis Rein dengan keras.
Bugh!
Pukulan telak itu membuat kepala Rein terlempar ke samping, pandangannya seketika kabur dan darah hangat mulai mengalir dari pelipisnya. Pusing yang luar biasa berpadu dengan kerja obat perangsang yang semakin membakar kesadaran membuat rahangnya melemas tanpa daya.
Lylia menyeringai puas melihat korbannya limbung, lalu kembali menjejal paksa jemari kakinya yang berdarah ke dalam mulut Rein yang kini sudah terbuka pasrah. Dengan kondisi yang lumpuh oleh hantaman di kepala, obat, dan rasa sakit yang bertubi-tubi, Rein terpaksa mengulum, mengisap, dan menjilati jemari kaki bocah tersebut di sela erangan parrahnya, menelan cairan ludahnya sendiri yang berbaur dengan anyir darah di dalam sana.
Puas karena berhasil memaksakan kehendaknya hingga mulut Rein basah oleh hisapan, Lylia menarik kembali kakinya dengan tawa renyah. Ia langsung memanjat tubuh kekar Rein yang tergantung. Dengan kelincahan fisik yang tinggi, ia melingkarkan kedua kaki pendeknya di pinggang Rein, menjadikan rantai besi di atas kepala pria itu sebagai tumpuan tangan. Udara sel dipenuhi aroma keringat dan gairah yang pekat.
Rein merasakan beban tubuh Lylia menempel sepenuhnya di dada bidangnya yang dipenuhi luka. Ujung dada mereka saling bergesekan, memicu sengatan gairah yang semakin liar. "Turun kau... menjauh dari tubuhku..." bisik Rein parau dengan mata memerah menahan gejolak obat yang berada di puncak.
Lylia tidak bergeming. Ia menyeringai imut, lalu dengan satu sentakan pinggul yang kuat ke bawah, ia menurunkan tubuhnya, mengarahkan liang vagina miliknya yang sempit langsung menancap dan melumat habis seluruh batang penis besar milik Rein dalam satu gerakan dalam yang brutal.
"Ahhh...!" Lylia melenguh tinggi, desahan imutnya bergema di dalam sel beton yang sunyi saat merasakan kepenuhan yang luar biasa dari ukuran penis besar Rein yang meregang paksa dinding vaginanya.
Rein tersentak hebat, kepalanya mendongak ke langit-langit sel dengan mata terpejam rapat. Penetrasi paksa berpadu efek obat perangsang membuat akal sehatnya runtuh seketika. Meskipun secara mental ia membenci Lylia, insting tubuh kekarnya memberikan balasan secara tidak sadar, menyambut jepitan dinding vagina Lylia yang teramat ketat dan panas. Penis besarnya berdenyut kencang di dalam rahim Lylia.
"Lepaskan... argh..." Rein mengerang di sela napasnya yang memburu, pinggulnya mulai bergerak maju mundur menyodok bagian dalam Lylia secara instingtif, mencoba mengendalikan permainan namun tubuhnya terus terkunci posisi tangan yang terikat.
Lylia mulai menggerakkan pinggulnya naik turun dengan ritme yang cepat, ketat, dan brutal. Bunyi gesekan kulit dan kecipak cairan vagina yang basah bergaung nyaring di dalam sel. Setiap kali tubuh mereka berbenturan dengan keras, luka cambuk di dada Rein kembali tergesek oleh kulit Lylia, mengalirkan darah segar yang melumuri dada mereka berdua, menyatu dengan peluh yang membanjir. Rasa perih yang amat sangat berpadu dengan kenikmatan gairah membuat Rein berulang kali menggeram beringas seperti binatang.
"Kau hebat sekali, Rein! Lebih keras lagi! Hancurkan memekku! Masukin lebih dalam lagi! Ahhh" seru Lylia dengan wajah manisnya yang kini memerah padam akibat kepuasan, suaranya terdengar manja di sela desahannya yang memburu.
Rein yang sudah kehilangan kendali penuh atas dirinya mulai menghentakkan pinggulnya ke atas dengan kasar, menghantam dan menabrak rahim Lylia berkali-kali tanpa ampun, membiarkan penisnya tenggelam sepenuhnya di dalam tubuh bocah tersebut. Derik rantai besi yang menahan tangan Rein berdentang liar memenuhi ruangan, seiring dengan suara hantaman badan mereka yang semakin intens dan cepat di bawah temaram obor dinding sel yang kian memanas.
Hentakan kasar itu semakin menggila saat cairan pekat dan keringat mulai membanjiri paha mereka berdua. Lylia mempercepat gerakan pinggulnya, mengocok naik turun tanpa memberi jeda sedikit pun bagi Rein untuk bernapas. Setiap jepitan dinding memeknya yang panas dan ketat terasa seperti menjepit erat batang penis Rein, mengisapnya dengan paksa hingga ke pangkal.
"Ahhh! Rein... ah! Sedikit lagi! Tembak di dalam!" pekik Lylia, suara manjanya meninggi saat tubuh mungilnya bergetar hebat menahan gelombang kenikmatan yang mulai mencapai puncak rahimnya.
Rein yang sudah berada di bawah kendali penuh obat perangsang tidak mampu lagi menahan bendungan gairah tersebut. Otot-otot tubuhnya menegang kaku, urat di leher dan lengannya menonjol keras seiring dengan sodokan pinggulnya yang semakin cepat, dalam, dan brutal menembus memek Lylia. Pikirannya kosong, sepenuhnya kalah oleh insting biologis yang meledak-ledak.
Slurp... crot!
Dengan satu erangan beringas yang panjang dari mulut Rein, penis besarnya berdenyut hebat di dalam cengkeraman memek Lylia, menyemprotkan cairan sperma yang kental, banyak, dan panas langsung ke dalam rahim bocah tersebut. Pada saat yang bersamaan, dinding memek Lylia berkedut-kedut hebat, menjepit penis Rein dengan sangat kuat saat ia juga mencapai klimaks puncaknya.
Lylia terkulai lemas di atas dada bidang Rein yang berselimut peluh dan darah. Napasnya terengah-engah, memburu di ceruk leher pria itu dengan sisa tawa manja yang terdengar puas. Ia membiarkan penis Rein yang perlahan melunak tetap tertanam di dalam memeknya untuk beberapa saat, menikmati sisa-sisa denyutan sperma panas di dalam sana.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan sel yang pengap, hanya menyisakan suara deru napas mereka berdua yang perlahan mulai stabil. Lylia perlahan menurunkan kedua kaki pendeknya dari pinggang Rein, membiarkan tubuhnya merosot turun hingga penis Rein terlepas dari liang memeknya dengan suara kecipak basah yang pekat. Cairan sperma putih kental bercampur sedikit darah dan lendir memek tampak mengalir meleleh di sepanjang paha dalam Lylia, menetes mengotori lantai semen sel.
Lylia memungut kembali gaun sutra transparannya yang tergeletak di lantai, lalu mengenakannya kembali tanpa mempedulikan tubuhnya yang masih basah dan lengket oleh sperma Rein. Ia merapikan rambutnya sebentar, lalu menatap Rein yang kini tergantung lemas dengan kepala tertunduk dan mata terpejam pasrah, sepenuhnya kehabisan daya dengan penis yang menjuntai basah.
"Sesi pertama selesai, Rein. Istirahatlah, karena besok aku akan kembali untuk memeras isi kontolmu itu lagi," ucap Lylia sambil tersenyum manis penuh kemenangan.
Gadis mungil itu berbalik dan melangkah keluar dari sel dengan gaya manjanya yang biasa, membiarkan pintu besi tebal itu tertutup rapat dengan dentuman keras, meninggalkan Rein sendirian di dalam kegelapan yang sunyi.
Dentum keras pintu besi yang menutup menandai kembalinya kesunyian dingin di dalam sel bawah tanah. Rein tergantung tak berdaya pada belenggu rantai yang mengikat kedua pergelangan tangannya. Tubuh kekarnya gemetar hebat, bukan hanya karena hawa dingin semen lembap yang menusuk kulit telanjangnya, melainkan akibat efek sisa obat perangsang yang perlahan mulai menyusut, meninggalkan rasa hampa, lelah, dan nyeri yang luar biasa di sekujur raga.
Cairan sperma pekat bercampur darah dari luka dada yang kembali terbuka perlahan mengering di sela-sela paha dan permukaan kulitnya. Setiap tarikan napas terasa seperti hantaman beban berat di paru-parunya.
"Sialan... sialan..." gumam Rein parau, suaranya nyaris habis, pecah di tenggorokan yang kering kerontang.
Rein mencoba menggerakkan jari-jari tangannya yang mulai mati rasa karena pasokan darah yang terhambat akibat posisi tergantung yang terlalu lama. Harga dirinya hancur berantangan. Seorang pria yang terbiasa memegang kendali atas hidup dan posisinya kini justru dijadikan budak pemuas nafsu oleh seorang pimpinan mafia yang memiliki wujud layaknya anak belia tak berdosa.
Waktu seakan berjalan sangat lambat di dalam ruang pengap tersebut. Hanya suara tetesan air dari sudut langit-langit yang sesekali memecah keheningan, menghitung waktu menuju siksaan berikutnya yang dijanjikan oleh Lylia. Rein memejamkan mata erat-erat, mencoba mengumpulkan sisa kekuatan mentalnya yang tersisa, bersumpah di dalam hati akan membalas setiap jengkel kehinaan ini jika ia berhasil melepaskan diri dari belenggu rantai sialan itu.
Post a Comment