REIN: Pesta
Rein sudah tidak bisa lagi menghitung sudah berapa hari, minggu, atau bahkan bulan dirinya mendekam di dalam ruang gelap ini. Ketiadaan jendela membuat pria itu kehilangan arah waktu, tidak tahu kapan siang berganti malam. Ingatannya dipenuhi oleh siksaan yang datang bertubi-tubi tanpa jeda. Lylia sudah berulang kali masuk ke dalam sel, menyuntikkan obat perangsang, dan memeras habis seluruh kejantanan Rein hingga tubuh kekar itu mati rasa.
Di dalam keheningan yang mencekam setelah sesi siksaan kesekian kalinya, Rein masih merasakan sisa rasa asin dari spermanya sendiri yang membekas pekat di dalam rongga mulutnya. Pria itu mencoba mengatur napasnya pelan-pelan. Ia berjuang meredam perihnya luka cambuk gosong yang berdenyut hebat di sekujur tubuh tegapnya. Denyut nadinya kian melemah karena energinya telah habis dikuras selama ini untuk menjadi budak pemuas nafsu.
Tidak lama kemudian, pintu besi sel kembali terbuka dengan derit keras. Lylia melangkah masuk ke dalam ruangan. Kali ini dia datang bersama dua orang pengawal bertubuh besar.
Penampilan Lylia sudah berubah. Tubuh mulusnya dibalut gaun mewah berwarna keemasan. Tangan kanan gadis itu memegang sebuah cambuk listrik yang siap menyengat kapan saja. Salah satu pengawalnya membawa sebuah kalung besi tebal yang tersambung dengan seutas rantai panjang.
Lylia menghentikan langkahnya tepat di depan Rein. Ia memberikan isyarat pendek dengan dagunya kepada kedua pengawal.
"Lepaskan dia," perintah Lylia.
Kedua pengawal bergerak cepat membuka kunci belenggu yang menahan kedua pergelangan tangan Rein di langit-langit. Begitu kuncian terlepas, tubuh kekar Rein yang sudah tidak memiliki daya seketika ambruk, jatuh tersungkur di atas lantai semen yang dingin.
Lylia berjalan mendekat lalu berjongkok di samping kepala pria itu. Tanpa ada rasa kasihan, ia langsung melingkarkan kalung besi tebal itu ke leher Rein hingga mengunci rapat.
Klik!
Begitu kalung besi terpasang, Lylia berdiri dan menarik tali rantainya dengan sangat kasar. Suara dentang logamnya menggema nyaring di dalam ruangan sel yang sempit. Tarikan brutal yang mendadak itu memaksa leher Rein tertarik kencang, membuat tubuh tegapnya harus bergerak merangkak di lantai semen tepat di samping kaki Lylia bagai seekor binatang peliharaan.
"Jalan, Njing. Waktunya menunjukkan dirimu di depan teman-temanku," ucap Lylia sambil terus menyentak rantai tersebut tanpa belas kasihan.
Lylia melangkah keluar dari area lorong sel dengan ketukan sepatu hak tingginya yang berirama konstan. Tangan mungilnya menggenggam erat ujung rantai besi, menyeret Rein yang terpaksa merangkak dengan bertumpu pada lutut dan kedua tangannya yang gemetar. Kulit lutut Rein yang telanjang bergesekan langsung dengan lantai batu yang kasar, meninggalkan jejak merah berdarah di sepanjang jalan menuju aula utama istana bawah tanah.
Pintu aula terbuka lebar. Ruangan besar itu dipenuhi kepulan asap cerutu yang pekat dan bau alkohol mahal. Puluhan hingga ratusan petinggi jaringan bawah tanah, bos gangster, hingga para kolektor senjata ilegal duduk melingkar, mengitari sebuah panggung kecil berpencahayaan terang di tengah ruangan.
Begitu Lylia melangkah masuk sambil menyeret Rein yang merangkak bagai anjing di samping kakinya, gemuruh tepuk tangan dan tawa riuh langsung meledak memenuhi aula.
"Saudara sekalian, perkenalkan anjing penjagaku yang baru, Rein!" seru Lylia dengan suara yang lantang dan penuh kebanggaan ke seluruh penjuru ruangan.
Rein merasakan ratusan pasang mata menatap lurus ke arah tubuhnya yang berotot namun dipenuhi memar biru serta bekas luka cambuk yang gosong. Gelak tawa mengejek dan siulan menghina terdengar bersahut-shautan, menguliti sisa harga diri yang masih tersisa di dalam dada pria itu.
Lylia melangkah naik ke atas panggung kecil, menyentak rantai leher Rein dengan kasar hingga kepala pria itu terhentak mendongak.
"Hei Anjing! Berdiri! Tunjukkan badan kekarmu pada mereka!" perintah Lylia sambil menatap datar ke bawah.
Rein menggertakkan giginya, mencoba menolak dengan tetap diam di lantai panggung. Namun, Lylia tidak memberikan celah sedikit pun. Tangan kirinya bergerak cepat mengayunkan cambuk listrik, melecutkannya tepat ke punggung Rein yang telanjang.
Ctar!
"Arghhh!" Rein berteriak kencang saat sengatan listrik bertegangan tinggi itu menghantam kulitnya, menghancurkan sistem sarafnya secara paksa. Rasa perih yang luar biasa membuat tubuh kekarnya terpaksa bangkit berdiri tegak dengan sisa tenaga yang ada.
"Bagus. Sekarang ganti gaya, biar mereka bisa melihat seluruh ototmu yang penuh luka itu," ucap Lylia dingin.
Setiap kali Rein bergerak terlalu lambat karena tubuhnya yang lemas, Lylia kembali melayangkan cambukan listriknya tanpa ragu, diiringi senyuman tipis di wajah manisnya yang kontras dengan kekejamannya. Para petinggi di bawah panggung bersorak girang, menikmati tontonan penyiksaan tersebut.
Lylia kemudian melangkah mendekat ke belakang tubuh Rein. Dengan satu gerakan cepat dan kasar, jemari mungilnya merobek sisa celana pendek robek yang masih melekat di pinggul Rein. Kain itu robek sepenuhnya, membuat tubuh kekar Rein kini benar-benar telanjang bulat di depan semua orang yang ada di aula. Sorak-sorai dan tawa ejekan dari para penonton semakin riuh bergaung.
Lylia mengambil sebuah tabung suntik baru dari nampan yang dipegang oleh seorang pelayan di tepi panggung. Tanpa membuang waktu, ia menusukkan jarum itu ke paha bagian dalam Rein, menyuntikkan obat perangsang dosis tinggi ke dalam aliran darahnya.
Hanya dalam hitungan detik, obat tersebut membakar sistem saraf Rein. Jantungnya berpacu kencang dan napasnya memburu parah. Di bawah pengaruh obat kimia itu, penis besar Rein seketika langsung menegang keras secara maksimal, berdiri tegak kencang dan mengacung lurus ke depan tubuh telanjangnya.
Aksi Lylia itu membuat Rein langsung menjadi pusat perhatian bagi semua orang yang ada di aula. Mereka bergeser maju, berkumpul melingkar di tepi panggung menyaksikan pemandangan erotis tersebut dengan mata yang lapar.
"Lihatlah atraksi anjingku ini!" teriak Lylia, diikuti senyuman bahagia ke arah semua orang yang melihatnya.
Tiba-tiba, Lylia mengayunkan cambuk listriknya dengan sabetan pendek, mengenai tepat di batang penis Rein yang sedang menegang kencang.
Ctar!
Sengatan listrik itu seketika menciptakan luka goresan merah yang berdarah di batang penis Rein. Rasa perih yang luar biasa membuat Rein mendongak dengan mata membelalak dan erangan kencang lolos dari mulutnya. Namun, Lylia langsung maju berlutut di hadapan pria itu. Tanpa pikir panjang, lidah Lylia langsung menjilati noda darah segar yang mengalir di batang penis Rein yang terluka, mengabaikan tubuh pria itu yang bergetar hebat menahan perih bercampur nikmat yang luar biasa hebat.
Lylia melanjutkan aksinya dengan semakin berani. Ia membuka mulut kecilnya, lalu mulai mengulum penis besar Rein secara perlahan. Sesekali ia memperlihatkan gerakan yang menunjukkan dominasinya, memasukkan batang panas itu dalam-dalam hingga mencapai pangkal tenggorokannya.
Kuluman dan hisapan Lylia yang ritmis membuat tubuh Rein bergoyang tidak stabil di atas panggung. Perpaduan rasa sakit dari luka goresan dan kenikmatan seksual dari obat perangsang membuat erangan Rein berkali-kali keluar dari mulutnya, memicu sorak gembira dari seluruh petinggi bawah tanah yang menonton di aula tersebut.
"Lihat bagaimana anjing ini memohon dalam nikmat!" seru salah satu petinggi gangster berkepala botak dari pinggir panggung sambil mengangkat gelas wiskinya tinggi-tinggi. Gelak tawa kasar bergemuruh dari sudut lain, menyemangati aksi Lylia yang semakin gila.
"Nona Lylia, kulum bagian bawahnya juga! Biarkan dia menjerit lebih keras!" teriak seorang kolektor senjata berkumis tebal dengan mata yang melotot kelaparan, menikmati setiap jengkel pemandangan erotis di depan matanya.
Lylia melepaskan kulumannya sejenak, menyisakan benang air liur yang berkilat di ujung penis Rein. Ia mendongak, menatap para tamunya dengan senyuman manis yang mematikan, lalu kembali melirik Rein yang sudah terengah-engah dengan dada naik turun secara liar.
"Kalian menyukainya, Tuan-tuan? Tenang saja, pertunjukan untuk malam ini baru saja dimulai," jawab Lylia dengan nada suara yang manja namun terdengar sangat berkuasa.
Lylia kembali memfokuskan perhatian pada penis besar Rein yang berkedut hebat. Mengabaikan erangan parah dari pria itu, Lylia menggunakan jemari tangannya yang mungil untuk meremas biji kemaluan Rein dengan kuat, menekan bagian bawahnya hingga rasa perih akibat sabetan cambuk berpadu dengan rangsangan hebat yang dipaksakan oleh obat di dalam tubuh Rein.
"Bajingan... lepaskan..." bisik Rein parau, kepalanya terkulai lemas ke belakang dengan pandangan yang kian mengabur.
Lylia justru mempercepat hisapannya, melumat habis kepala penis Rein yang basah berdarah di dalam rongga mulut kecilnya. Suara kecipak cairan yang pekat mengundang sorak-sorai yang semakin riuh dari seluruh petinggi bawah tanah yang mengepung panggung.
Lylia menyudahi kulumannya dengan suara kecipak basah yang nyaring. Gadis kecil itu bangkit berdiri sambil menyeka sisa noda di bibirnya, lalu mengedarkan pandangan ke arah deretan pengawal yang berjaga di tepi panggung. Sepasang matanya berhenti tepat pada sosok pengawal wanita bertubuh sintal yang berdiri siaga.
Lylia melambaikan tangan, memberi perintah agar wanita itu melangkah naik.
"Oline, ke mari," panggil Lylia dengan suara kekanakan yang lantang.
Pengawal wanita bernama Oline itu segera maju, menyeringai lebar menatap lapar ke arah tubuh kekar Rein yang sedang gemetar hebat. "Ya, Nona Lylia? Ada perintah?" tanya Oline sambil membungkuk hormat.
"Kau sudah bekerja dengan sangat baik dan setia selama ini. Ini hadiah untukmu, nikmati tubuh anjingku ini sepuasmu," seru Lylia sambil menyerahkan ujung rantai besi leher Rein.
"Terima kasih banyak, Nona! Saya tidak akan menyia-nyiakan hadiah berharga ini," jawab Oline dengan mata yang berkilat penuh gairah.
Tanpa membuang waktu, tangan terampil Oline langsung melucuti seluruh pakaian hitam yang melekat di badannya hingga telanjang bulat. Wanita itu melangkah maju, lalu langsung menindih tubuh Rein yang sudah sangat lemas.
Rein dipaksa untuk menahan beban berat tubuh Oline. Kondisinya yang masih terbelenggu rantai besi di leher membuat pria itu tidak bisa menghindar. Oline menggenggam batang penis Rein yang masih tegak mengeras akibat efek obat suntik, lalu langsung mengarahkan dan memasukkannya ke dalam liang senggama miliknya dalam satu hentakan kuat ke bawah.
Slurp!
"Ahhh! Sialan, ini sangat besar dan panas!" pekik Oline, matanya terpejam sesaat menikmati kepenuhan yang meregang liang kemaluannya.
Oline langsung bergerak, mengocok pinggulnya secara liar dan brutal di atas penis Rein. Hantaman panggul yang cepat dan kasar itu membuat tubuh tegap Rein bergoyang tidak stabil di atas panggung. Rasa perih akibat peluh yang mengalir mengenai luka-luka di tubuhnya berbaur dengan kenikmatan seksual yang dipaksakan. Rein hanya bisa mengerang rendah menahan rasa sakit yang mendera.
Lylia mengambil kembali ujung rantai panjang yang mengunci leher Rein dari tangan Oline. Setiap kali lutut Rein melemas dan tubuhnya mau roboh di tengah permainan, Lylia langsung menarik rantai leher itu dengan sangat keras. Sentakan kuat itu mencekik leher Rein, memaksanya untuk tetap tegak menahan gempuran liar dari Oline.
"Ayo, Oline! Habiskan sisa tenaganya!" seru salah satu petinggi gangster dari bawah panggung, memicu gelak tawa riuh penonton.
"Tentu saja! Anjing ini tidak akan kubiarkan lepas!" balas Oline sambil mempercepat ritme genjotannya secara beringas. Siksaan ganda itu memeras habis sisa tenaga yang dimiliki Rein. Tidak berselang lama, hantaman panggul yang semakin cepat membuat Rein mencapai puncaknya secara paksa. Pandangan matanya mulai kabur dan berkunang-kunang.
"Ah... ugh...!" Rein mengeluarkan erangan lemah saat seluruh cairan spermanya keluar memancar deras di dalam rahim Oline.
Oline menghujamkan penis Rein masuk ke dalam liang senggamanya untuk terakhir kali sebelum akhirnya turun dari panggung dengan napas terengah puas. "Sungguh nikmat, Nona Lylia," bisik Oline sambil memungut pakaiannya.
Lylia kembali mendekati Rein yang terkapar lemas. Dengan tatapan dingin, tangan mungilnya menarik tali rantai leher Rein dengan sangat keras hingga tubuh pria itu tersungkur, terseret kasar di atas lantai kayu panggung. Tanpa belas kasihan, Lylia mengangkat kaki kanannya, lalu langsung menginjak punggung Rein menggunakan tumit sepatu hak tinggi yang keras.
Tumit tajam itu menekan tepat di atas luka bekas cambukan listrik yang masih menganga lebar di punggung tegap Rein. Tekanan kuat itu membuat daging terbuka Rein kembali robek, mengalirkan darah segar baru hingga membuat Rein menjerit kencang secara tertahan. Hantaman rasa sakit yang luar biasa membuat kesadaran Rein hilang sepenuhnya dan pandangannya menjadi gelap gulita.
Lylia memberikan perintah kepada dua orang pengawal pria untuk menyeret kembali tubuh Rein yang pingsan itu menuju sel bawah tanah yang paling dalam dan kotor.
Post a Comment