REIN: Pertemuan Tragis
Rein membuka kelopak matanya dengan sangat lambat. Rasa pening menyerang kepalanya. Napasnya memendek, terasa sesak di dalam dada. Dirinya terkapar tanpa sehelai benang pun di atas semen lantai sel yang lembap. Luka bekas injakan tumit sepatu hak tinggi di punggungnya mengeluarkan cairan bercampur nanah yang menimbulkan aroma busuk menyengat. Tubuh kekarnya menggigil kedinginan, kian melemah tanpa daya di dalam kegelapan.
Suara derit pintu baja memecah kesunyian yang mencekam. Lylia melangkahkan kakinya masuk ke dalam sel. Bocah pimpinan mafia itu berjalan mendekati Rein yang sudah terkapar di lantai semen. Tangannya bergerak ke atas kepala, mengambil sebuah jarum panjang beracun yang menjadi tusuk konde rambutnya. Rambut hitamnya seketika terurai di bahu.
Lylia berlutut di samping tubuh Rein. Tangan mungilnya mencengkeram dagu pria itu dengan sangat kasar, memaksanya untuk mendongak dan menatap sepasang matanya yang dingin.
"Ternyata bajingan ini masih hidup," desis Lylia dengan suara kekanakan yang imut menggemaskan.
Rein tidak mampu menjawab. Dirinya hanya menatap wajah di depannya dengan sisa kilat kemarahan di matanya yang cekung.
Tanpa peringatan, Lylia menusukkan jarum panjang beracun itu tepat di atas luka terbuka yang sudah mulai membusuk di bagian bahu.
"Arghhh! Bangsat!" Rein menjerit, tubuhnya seketika tersentak di atas lantai semen.
Cairan racun dari ujung jarum langsung membakar sistem saraf di bawah kulit, mengalirkan sensasi panas mendidih yang sangat menyiksa. Siksaan itu membuat Rein mengerang hebat di sisa kekuatan yang ada. Dirinya mengatupkan rahangnya rapat-rapat hingga mengeluarkan darah segar dari sela-sela giginya.
Lylia mengabaikan erangan kesakitan tersebut. Wajah manisnya memperlihatkan binar kepuasan yang gila.
"Menjeritlah lebih keras! Aku suka mendengar suaramu yang sekarat!" seru Lylia sambil tertawa renyah.
Lylia melepaskan gaun mewah keemasan yang sedang dipakainya, membiarkan kain sutra itu merosot jatuh di atas lantai semen yang kotor. Tubuh mungilnya kini terekspos sepenuhnya telanjang bulat tanpa sehelai benang pun. Vaginanya yang kemerahan dan basah terlihat jelas di bawah temaram obor.
Lylia mengambil sebuah tabung suntik baru dari balik wadah kayu di sudut sel, lalu menyuntikkan obat perangsang berdosis tinggi itu langsung ke pangkal paha Rein. Dosis ekstrem yang ada di dalam cairan itu memaksa penis besar pria itu seketika menegang keras, berdiri tegak kencang, berdentum beringas di tengah kondisi tubuhnya yang sekarat.
Lylia memposisikan dirinya di atas tubuh Rein, membuka lebar kedua paha mulusnya. Tangan mungilnya menggenggam batang penis yang tebal berurat, mengarahkannya tepat di depan lubang vagina miliknya yang sudah banjir cairan pelumas.
"Ahhh, kontolmu selalu membuat memekku basah. Rasakan jepitan rahimku sekarang!" desah Lylia dengan napas yang memburu penuh gairah.
Tepat ketika Lylia hendak mendorong pinggulnya ke bawah untuk memasukkan penis besar itu ke lubang kemaluannya, sebuah kilatan menyeruak dari sudut gelap ruangan sel yang pengap. Sebuah percikan cahaya putih mendadak muncul bersamaan dengan semerbak aroma bunga melati yang sangat segar. Kehadiran aroma wangi yang pekat dan cahaya terang itu langsung menyapu bersih bau busuk nanah serta anyir darah di dalam ruangan.
Suara dengungan energi bergetar rendah mengiringi percikan cahaya yang kian melebar di dinding batu, membentuk sebuah robekan dimensi yang memancarkan kilauan spiritual benderang ke seluruh sudut sel.
Lylia tertegun. Gerakan pinggulnya terhenti seketika sebelum sempat menancap ke batang penis.
"Sialan! Siapa yang berani mengacaukan kesenanganku?!" bentak Lylia dengan wajah manis yang mendadak berubah bengis penuh amarah.
Lylia langsung menarik kembali tubuh telanjangnya, melindungi sepasang matanya yang silau akibat bendaran cahaya yang mendadak meluap. Bocah pimpinan mafia itu melangkah mundur dengan gusar menuju ambang pintu untuk bersiap mengambil jarak aman. Dari balik robekan dimensi yang memancarkan cahaya putih terang dan keharuman melati tersebut, sesosok wanita cantik melangkah keluar dengan anggun. Wanita itu adalah Airi.
Airi melangkah keluar dari dalam celah dimensi gaib dengan rahang yang mengencang rapat. Sepasang mata indahnya berkilat tajam penuh amarah saat menyaksikan pemandangan mengerikan di depan matanya. Air mata amarah seketika mengalir melewati pipinya, melihat tubuh Rein yang hancur, telanjang bulat, dan dipenuhi luka bernanah akibat kekejaman yang biadab.
"Keparat... apa yang telah kau lakukan padanya?!" desis Airi dengan nada suara yang bergetar hebat menahan ledakan emosi.
Lylia yang masih berdiri telanjang bulat langsung mendecih ludah ke lantai semen. Wajah imutnya mengkerut sinis, menatap meremehkan ke arah wanita yang baru datang mengacaukan selnya.
"Oh, jadi kau pelacur yang datang untuk menjemput anjing ini?" ejek Lylia sambil berkacak pinggang dengan angkuh. "Sayang sekali, mainan ini sudah menjadi milikku sepenuhnya. Tubuh dan kontolnya adalah budak pemuas nafsuku!"
Mendengar ucapan menjijikkan dari mulut Lylia, hawa membunuh yang sangat pekat seketika meluap dari tubuh Airi. Energi spiritual putih di sekitar tubuhnya bergolak liar bagai badai, menekan atmosfer di dalam sel bawah tanah hingga terasa sangat berat dan menyesakkan napas.
"Mulut kotormu harus dibungkam, bocah iblis!" teriak Airi murka.
Dengan satu hentakan tangan Airi, sebuah gelombang energi murni melesat cepat menghantam tubuh telanjang Lylia.
Brak!
"Ahkk!" Lylia menjerit kencang saat tubuh mungilnya terpental ke belakang, menghantam dinding batu sel dengan keras sebelum akhirnya tersungkur di lantai semen yang kotor. Belati dan jarum beracun miliknya terlepas dari genggaman, terlempar jauh ke sudut ruangan.
Airi tidak memedulikan Lylia yang sedang meringis kesakitan menahan hantaman energinya. Wanita itu langsung berlari mendekati Rein, lalu berlutut di samping tubuh kekar yang sudah tidak berdaya tersebut. Airi melepas jubah luar putihnya yang panjang, lalu menyelimuti tubuh telanjang Rein dengan lembut untuk menutupi permukaannya yang penuh luka.
Jemari tangan Airi yang gemetar perlahan menyentuh pipi Rein yang dingin dan dipenuhi bekas sayatan darah kering.
"Bertahanlah, demi aku... kumohon bangun..." bisik Airi parau dengan suara yang pecah oleh tangisan. Rein mencoba menggerakkan bibirnya yang pecah-pecah. Kesadarannya yang sempat memutih kini merayap kembali berkat kehangatan energi spiritual yang mengalir masuk ke dalam tubuhnya. Dengan sisa tenaga yang hampir habis, pria itu membuka matanya yang cekung, menatap asing ke arah wanita cantik yang menangis di hadapannya.
"Sia... pa... kau...?" erang Rein teramat lemah dengan suara parau yang nyaris tidak terdengar. Tatapan matanya kosong, sama sekali tidak mengenali sosok Airi.
Mendengar pertanyaan lirih dari mulut Rein, dada Airi terasa bagai dihantam gada besi. Rasa perih yang luar biasa menyengat ulu hatinya saat menyadari bahwa paras indahnya saat ini sama sekali tidak membangkitkan kenangan apa pun di kepala pria itu. Rein benar-benar menatap dirinya sebagai sosok wanita tak dikenal yang belum pernah ditemuinya seumur hidup.
"Ini aku... istrimu! Aku datang untuk membawamu keluar dari neraka ini," bisik Airi dengan suara yang bergetar menahan tangis.
Tangan halusnya bergerak cepat mengalirkan sisa energi spiritual murni ke atas dada bidang Rein, berusaha menetralkan sisa racun kimia dan obat perangsang yang terus memaksa jantung pria itu berdetak abnormal.
Di sudut ruangan, Lylia yang terkapar telanjang bulat merangkak bangun dengan bertumpu pada sikunya. Debu sel mengotori kulit mulusnya, dan sudut bibirnya meneteskan darah segar akibat hantaman energi Airi. Bukannya gentar, bocah pimpinan mafia itu justru meludahi lantai semen dan tertawa melengking, geli melihat keputusasaan Airi.
"Hahaha! Percuma kau menangis sampai berdarah, Pelacur!" seru Lylia sambil menyeringai beringas, memamerkan deretan giginya yang rapi. "Anjing itu tidak akan pernah mengenali wajahmu! Dia tidak kenal siapa kau! Dia cuma tahu cara memuaskan lobang memekku sampai mampus! Sini, lihat memekku yang masih basah karena kontolnya!"
"Tutup mulutmu, iblis cilik!" bentak Airi tanpa menoleh, fokusnya tetap tertuju pada denyut nadi Rein yang kian melemah.
Di bawah dekapan jubah putih Airi, suhu tubuh Rein yang semula sedingin es perlahan mulai menghangat. Pengaruh obat bius yang memaksa penis besarnya menegang kencang berangsur-angsur surut, membuat kejantanannya melunak seiring mengalirnya hawa murni penawar racun dari telapak tangan Airi.
Rein melenguh parah, memuntahkan sisa cairan lambung bercampur darah kental dari sela-sela giginya. Matanya yang cekung bergerak goyah, memandang hampa ke arah paras asing Airi yang terus mendekap dirinya.
"Ahhh... ugh..." Rein mengerang rendah saat rasa sakit di sekujur badannya kembali terasa akibat pengaruh obat yang mulai luntur. Pria itu menatap Airi dengan pandangan kabur. "Siapa... pun kau... kumohon bunuh aku sekarang... akhiri ini... tubuhku perih semua..." ratap Rein dengan suara yang terputus-putus. Mentalnya sudah terlalu hancur; kematian menjadi jalan keluar terakhir yang diinginkannya.
"Tidak, kau harus tetap hidup!" tegas Airi, mempertebal dinding pelindung spiritual di sekitar tubuh mereka.
Melihat tawanannya hendak direbut, Lylia langsung merayap cepat mengambil sebuah peluit perak kecil yang tergeletak di dekat tumpukan gaun emasnya. Dirinya meniup peluit itu dengan kencang hingga mengeluarkan suara melengking yang memekakkan telinga, menggema ke seluruh lorong bawah tanah.
"Oline! Pengawal! Seret semua pasukan ke sini! Kepung sel ini dan cincang pelacur penyusup ini sampai menjadi makanan anjing!" teriak Lylia beringas dengan urat leher yang menegang tebal.
Hanya dalam hitungan detik, keheningan malam bawah tanah hancur total. Suara derap langkah kaki dari puluhan sepatu bot berat bergemuruh hebat, bergetar merayap dari ujung lorong batu menuju sel tempat mereka berada.
"Nona Lylia! Kami datang!" terdengar teriakan lantang Oline dari ujung lorong, disusul suara kokangan senjata api yang menggema nyaring. Pasukan bersenjata lengkap milik jaringan bawah tanah Lylia bergerak serentak untuk mengunci seluruh jalan keluar.
Mendengar teriakan lantang Oline yang menggema bersamaan dengan derap langkah puluhan sepatu bot berat, Airi segera membalikkan badannya. Sepasang mata indahnya berkilat tajam, menatap ke arah Lylia yang masih merangkak di dekat tumpukan gaun emasnya setelah meniup peluit perak tersebut.
Airi melangkah maju satu kali, lalu melambaikan tangannya penuh tenaga ke arah Lylia. Gelombang energi spiritual putih yang sangat tebal melesat cepat, membelah udara kosong di dalam ruangan.
Brak!
Seketika, kekuatan energi spiritual Airi membuat tubuh polos pimpinan mafia itu terhempas kencang ke dinding berbatu di belakangnya. Hantaman tersebut begitu telak hingga membuat Lylia tidak mampu mengeluarkan erangan sedikit pun. Lylia, yang sama sekali tidak mempunyai kekuatan spiritual layaknya Airi, langsung pingsan seketika. Raga mungilnya yang polos merosot jatuh, terkapar tidak berdaya di atas lantai semen yang kotor.
Airi mengabaikan Lylia yang sudah tidak sadarkan diri itu. Dirinya bergerak secepat kilat menghampiri tubuh Rein yang tergeletak lemas di dekatnya. Dengan satu hentakan energi murni dari ujung jemarinya, Airi menghancurkan sisa belenggu rantai yang sempat mengikat pria itu hingga hancur berkeping-keping.
Prank!
Tubuh kekar Rein langsung terjatuh sepenuhnya masuk ke dalam pelukan hangat Airi. Namun, saat telapak tangan Airi menyentuh dada pria itu, gerakan jantungnya terasa berhenti berdegup. Tidak ada embusan napas di sela bibirnya yang pecah-pecah. Airi tidak melihat adanya tanda kehidupan yang tersisa dari tubuh suaminya.
"Tidak... tidak! Jangan tinggalkan aku, Xiao Lin!" jerit Airi dengan suara yang pecah oleh tangisan panik.
Airi segera meletakkan telapak tangannya tepat di atas dada Rein disertai dengan rapalan mantra terlarang. Dirinya memejamkan mata, memusatkan seluruh daya batinnya untuk membalikkan takdir kematian yang sudah berada di depan mata.
Cahaya kuning keemasan tiba-tiba keluar dari telapak tangan Airi, memancar terang benderang menerangi seluruh ruangan sel yang pengap, lalu perlahan menghilang diserap oleh tubuh Rein. Mantra kuno yang ia gunakan itu punya risiko kematian bagi penggunanya jika tidak berhasil, sebuah mantra terlarang untuk memanggil kembali jiwa yang baru saja hilang dari raga.
Airi menangis tersedu, memeluk kepala Rein dengan erat di dadanya sembari terus mengalirkan hawa murni. Suara kokangan senjata api dari pasukan Oline di luar lorong semakin memekakkan telinga, menandakan bahwa waktu mereka sudah habis.
Deg!
Tiba-tiba, Airi merasakan getaran kecil di bawah telapak tangannya. Nadi Rein mulai berdenyut kembali secara perlahan, membawa kembali binar hangat di permukaan kulitnya yang semula sedingin es. Jiwa suaminya berhasil ditarik kembali dari kegelapan.
"Di dalam sini! Tembak jalang itu!" teriak Oline yang mendadak muncul di ambang pintu sel bersama belasan pengawal bersenjata lengkap.
Tanpa membuang waktu lebih lama untuk meladeni terjangan peluru mereka, Airi langsung merapalkan mantra perpindahan dimensi untuk menuju Istana Utara. Dalam sekejap, percikan cahaya putih yang benderang membungkus rapat tubuh mereka, menghilangkan Airi dan Rein dari tempat itu secara misterius, meninggalkan Oline dan pasukannya yang berteriak murka menatap sel yang kosong melompong.
Post a Comment