Puisi: Salahkah Aku di Sini?

Bagaimana aku harus menetap di duniamu? 
Aku tak tahu. 
Terlalu banyak bising yang menjelma pertanyaan, 
terlalu banyak hal membingungkan yang tak kunjung menjadi kepastian.

Bahkan untuk sekadar melangkah melewati hari, 
kakiku terasa berat, 
terbelenggu payah tanpa ada kata harap. 

Tapi... 
aku bisa apa? 
Aku tak punya jemari untuk menggenggam kuasa, 
apalagi untuk merombak takdir yang telah ada. 

Salahkah aku berada di sini? 
Terlahir di semesta yang bahasanya tak pernah kumengerti. 
Dunia ini menuntut jawaban pada setiap tanya, 
seolah ketidaktahuan adalah sebuah dosa. 

Bagaimana aku harus menjawab masa depan?
Sedang hari ini saja aku karam dalam ketidakpastian. 

Mungkinkah... 
ada bahagia yang tersisa,
jika aku bertahan lebih lama

Ataukah... 
hanya siksa yang kian terpatri, 
merajut pilu hingga ke relung jiwaku yang sunyi.

Waktu terus berderu, 
tanpa tahu kapan ia kan membatu.
Sampai kapan aku harus menunggu di ruang yang kelabu?
Jika pada akhirnya,
tak ada bahagia yang datang mengetuk pintu. 

Bahkan jika aku lenyap tanpa kabar dari bising duniamu, 
segala tanya tanpa jawaban pasti akan terus memburu. 

Mungkinkah... 
Mungkinkah... 
Mungkinkah kematian adalah satu-satunya bentuk bahagia,
yang membebaskanku dari tanya yang menyiksa?

Aku ingin bercerita, 
tentang luka dan sisa-sisa suka. 
Tapi di dunia ini yang penuh tipu daya, 
kepada siapa aku harus menitipkan percaya?
Aku berdiri sendiri,
memendam rasa yang kian membukit tinggi. 

Di duniamu yang kejam,
tanpa ruang bagi ampunan.
Asa untuk berubah itu memang ada,
namun aku kehilangan arah,
tak tahu harus mulai dari mana.

Gresik,
3 Februari 2022

~ Ojam.

BACA JUGA
Memuat daftar chapter...
[X]