Puisi: Candu
Dinginnya malam perlahan mendekap diri,
dalam kesunyian yang sepi.
Bisikan sang imaji datang silih berganti,
membius diri dalam hangatnya nikmat yang tak tersirat.
Tanpa sadar,
jari jemari mulai menari,
mengikuti alunan sang imaji,
yang melela di setiap desah suara.
Saat sudah di ujung batas,
diri tak kuasa membalas,
sang peluh pun memberi tanda,
dari hela napas yang terbata.
Inikah sebuah pertanda,
diri ini sudah terjerat,
oleh sihir mata sang imaji yang begitu kuat.
Inikah sebuah pertanda
diri ini sudah terkekang,
dalam jerat candu yang membangkang.
Namun...
bayang semu itu begitu nyata,
hingga raga mampu membias dalam jiwa,
dalam hasrat yang membara.
Jakarta,
19 Mei 2023
~ Ojam
BACA JUGA
Post a Comment