Puisi: Mungkinkah
Ruang kepalaku,
terisi penuh oleh kisah lalu.
Kisah yang selalu hadir,
kala sepi menyapa diri yang kehilangan tafsir.
Dan...
Aku rindu,
rindu pada sosokmu,
yang memberiku bahagia dalam mengukir kisah itu.
Sakit,
sakit yang teramat sakit.
Kala diri membayangmu dalam kesepian,
yang hadirmu hanya ada di angan.
Hmm...
Mungkin benar apa kata orang,
sedihnya ditinggal itu bukan hanya sekadar omongan.
Dan...
Dalam pekatnya malam ini,
ada harapan untuk saling bertatap,
meski dalam wujud yang abstrak,
layaknya rasi bintang berpijar,
yang menjadi peneman diri dalam kegelapan malam.
Aku selalu bertanya,
pada angan yang selalu membayangi diri dalam kesepian.
"Di tempat yang jauh itu,
adakah tempat untukmu yang abadi?"
Jikalau ada,
bisakah kau ceritakan padaku,
tentang tempat itu.
"Di tempat yang jauh itu,
adakah kau temukan bahagia?"
Jikalau ada,
masihkah senyum yang selalu ku rindukan itu utuh,
tersimpan hanya untukku.
"Di tempat yang jauh itu,
adakah kata lara yang kau rasa?"
Jikalau ada,
benarkah semua lara itu hanya ilusi,
yang tidak ada di dunia ini.
Di kejauhan ini,
rindu-rindu kian bertumbuh.
Andai kau ada di sini,
ada banyak hal yang ingin kuceritakan.
Meski ada saat-saat aku merasa kesepian,
aku terus melangkah dengan indahnya kenangan.
Meski waktu terus berjalan tanpa henti,
izinkanlah cintamu selalu hidup dalam ingatan diri.
Mungkinkah di suatu hari nanti,
kita akan menemukan jalan tuk kembali,
kembali menjadi kita,
dan bersama,
selamanya.
Yogyakarta,
14 Februari 2024.
~ Ojam.
Post a Comment