The Timeline - Babak Pertama
Kunming, Maret 2026
Di ruang perpustakaan Yunnan University, seorang pria yang duduk di depan laptopnya dan sedang memperhatikan ke arah luar melalui jendela kaca di sampingnya. Ia memperhatikan butiran kristal salju yang turun secara perlahan, sesekali menggosokkan kedua telapak tangannya akibat hawa dingin yang menusuk tulang. Pria itu bernama Rushl Erickson, mahasiswa doktoral dengan fokus riset di bidang AI, yang selalu dipanggil Erick oleh teman-temannya.
Erick duduk di ujung ruang perpustakaan, tempat favoritnya untuk belajar, atau hanya sekadar untuk membaca cerita fiksi yang ia sukai. Namun, kali ini, ia lebih memilih untuk fokus mengerjakan risetnya akibat deadline pengiriman jurnal internasional yang hanya menunggu hari. Erick tidak ingin melewatkan sedetik waktunya untuk hal yang tidak mempunyai dampak positif bagi dirinya. Ia ingin sesegera mungkin lulus dari kampus ini, dan kembali ke Indonesia untuk menjadi bagian dari tim riset ahli.
Saking fokusnya dengan riset yang ia kerjakan, suara perut Erick mulai mengisi ruangan yang hening itu akibat melewatkan jam makan malam. Ia pun segera membereskan semua yang ada di atas meja di depannya, dan kembali menuju ke asrama.
___
Surabaya, Juli 2018
Awal perkuliahan semester ganjil baru saja dimulai. Gedung Fakultas Teknik, Universitas Surabaya terlihat ramai lalu lalang para mahasiswa hingga dosen. Erick yang baru saja memasuki semester tiga terlihat berjalan menyusuri koridor gedung itu dengan tas ransel yang menggantung di punggungnya. Ia menuju ruang kelas untuk mengikuti perkuliahan riset operasi.
Sesampainya di ruang kelas, Erick mengambil tempat duduk tepat di depan meja dosen, tempat duduk yang selalu dihindari teman sekelasnya. Ia dikenal kutu buku yang aneh oleh teman-teman seangkatannya. Anggapan mereka bukan tanpa alasan, Erick hampir tidak mempunyai interaksi dengan temannya, selain untuk keperluan tugas. Bahkan, ada momen di mana Erick terlihat gemetar hebat saat ada temannya cewek yang duduk di sebelahnya saat pengelompokan tugas berdua.
___
Surabaya, Desember 2018
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, suasana lab komputer terasa sangat sunyi. Di sepanjang koridor Gedung Laboratorium, hanya lab komputer yang masih menyala. Di dalamnya, ada Erick yang sedang menyelesaikan rekapitulasi nilai tugas praktikum.
Tiba-tiba, tangan Erick berhenti mengarahkan mousenya saat melihat satu baris nama. Yydett Davina. Mahasiswi yang mempunyai catatan kehadiran sangat buruk, dan semua nilai praktikumnya hancur total.
___
Surabaya, Oktober 2018
Di sebuah mini market, tampak seorang gadis duduk dengan kepala tertunduk. Di sampingnya, di atas meja bundar, tergeletak tiga putung rokok yang baru saja gadis itu hisap sampai habis, dan sebuah botol wisky yang isinya tinggal setengah.
Seorang pria, tampak seumuran dengan gadis itu, membuka pintu mini market keluar ke luar, sambil membawa beberapa snack dan botol air putih. Ia berjalan pelan menuju tempat duduk gadis itu.
"Nih! Minum air putih, jangan mabok mulu, lu!" ucap pria itu, sambil menyodorkan botol minum kepada gadis itu.
Gadis itu pun mengambil dengan muka tertekuk seraya mengucap, "Thanks, ya!"
"Udah, nggak usah dipikirin lagi," sahut pria itu, diikuti dengan senyum manis yang merekah dari sudut bibirnya.
Gadis itu, Yydett Davina, mahasiswi yang menjadi primadona kampus, kepopulerannya semakin terkenal seiring dengan gaya hidup malamnya yang bebas. Sedang, pria yang baru saja mengobrol dengannya adalah Allio Kiswanto.
Allio duduk di sebelah Yydett, membiarkan suasana bising jalanan Surabaya malam itu mengisi kekosongan di antara mereka. Yydett meneguk air putih pemberian Allio dengan kasar, mencoba menetralkan rasa pahit di pangkal tenggorokannya. Allio, satu-satunya orang yangbisa melihat sisi rapuh Yydett di balik label primadona kampus yang tesemat diri gadis itu.
"Minggu depan ada ujian susulan buat praktikum. Lu beneran mau bolos lagi?" tanya Allio sambil membuka bungkus snack.
Yydett mendengus, menyandarkan punggungnya pada kursi plastik yang keras. Matanya terlihat sayu, sisa-sisa tangis yang ia sembunyikan di balik botol wiski tadi masih berbekas. Hidupnya penuh dengan tuntutan yang membuatnya lebih memilih melarikan diri ke dalam dunia malam yang gelap. Sebuah benyuk pelariannya dari kenyataan rumah yang menyesakkan.
"Gue ngga paham satu pun materi asisten dosen yang kaku itu. Siapa namanya? Rickson? Erick? Ah, bodo amat. Dia pelit banget bagi nilai," keluh Yydett dengan suara serak.
Allio tertawa kecil mendengar keluhan itu. "Dia emang jenius, Det. Lu harusnya deketin dia kalau mau lulus. Kalau nilai praktikum lu hancur, lu bakal ngulang tahun depan. Mau lu satu kelas lagi sama adek tingkat?"
Yydett terdiam. Pikirannya mulai memutar seluruh isi otaknya. Ia harus lulus, bagaimana pun caranya daripada harus pulang kembali ke Pulau Kayong, rumah tempat orang tuanya kembali pulang setelah dipindahtugaskan ke sana.
"Gue harus lulus!" gumam Yydett pelan, matanya menatap kosong ke arah botol wiski yang tinggal setengah tadi.
___
Surabaya, Desember 2018
Erick menghela napas panjang. Nama Yydett Davina seolah menjadi noda merah di antara deretan nilai mahasiswa lainnya yang cukup memuaskan. Sebagai asisten dosen yang bertanggung jawab, Erick merasa terbebani. Ia berkali-kali mencoba mengirimkan email peringatan, tapi tidak pernah ada balasan dari gadis itu.
Suasana laboratorium yang sunyi tiba-tiba pecah oleh suara pintu yang terbuka dengan kasar. Erick tersentak, tangannya tidak sengaja menyenggol keyboard hingga menimbulkan bunyi beep yang nyaring. Ia segera menoleh ke arah sumber suara.
Yydett berdiri di ambang pintu. Rambutnya sedikit acak-acakan karena terpaan angin malam, sementara kemejanya terlihat tidak rapi. Tanpa memedulikan aturan keselamatan laboratorium yang mewajibkan penggunaan alas kaki khusus, Yydett melangkah masuk begitu saja. Suara hentakan sepatunya menggema keras di dalam ruangan yang sunyi, menciptakan irama yang membuat detak jantung Erick semakin tidak beraturan.
Erick membeku di tempat duduknya. Tangannya yang masih memegang mouse terasa dingin dan berkeringat. Ia ingin berdiri dan meminta Yydett keluar, tapi lidahnya terasa kelu. Yydett berjalan mendekat dengan tatapan mata yang tajam, langsung menuju meja asisten di pojok ruangan. Bau parfum yang sangat menyengat bercampur aroma alkohol mulai memenuhi indra penciuman Erick, membuatnya merasa pusing secara mendadak.
"Tolongin gue, Rick!" ucap Yydett ketus sambil memukul permukaan meja kerja Erick.
Erick tersentak hingga kursinya sedikit bergeser ke belakang. "I-ini sudah lewat jam asistensi, Yydett. Kamu harusnya datang saat jadwal resmi."
Yydett tidak mendengarkan ucapan itu. Ia langsung bergerak cepat memutari meja dan menarik lengan Erick dengan paksa. Tenaga Yydett yang besar membuat Erick yang bertubuh kurus itu jatuh terjengkang ke lantai laboratorium yang dingin. Kejadian itu berlangsung sangat cepat hingga kacamata Erick hampir terlepas. Belum sempat Erick berusaha bangkit, Yydett sudah lebih dulu bergerak lincah dan langsung duduk tepat di atas pangkuan Erick.
Berat tubuh Yydett yang menekan area penisnya membuat seluruh tubuh Erick mendadak kaku seperti batu. Jantungnya berdegup sangat kencang, seolah ingin meledak dari dalam dadanya. Erick memejamkan matanya rapat-rapat, merasa sangat ketakutan karena belum pernah sekalipun bersentuhan seintim ini dengan wanita. Yydett kemudian menarik kerah kemeja Erick, memaksa pria itu untuk melihat wajahnya yang kini hanya berjarak beberapa senti saja.
Tangan Yydett mulai bergerak ke arah kancing bajunya sendiri. Dia mulai membuka satu per satu kancing kemejanya dengan perlahan, hingga bagian kulit dadanya mulai terlihat dengan jelas di depan mata Erick. Erick merasa dunia di sekelilingnya berputar saat melihat pemandangan yang sangat tabu itu. Rasa malu dan panik yang luar biasa itu bercampur jadi satu menguasai kepalanya.
"Oke! Oke, stop! Aku ajarin kamu! Aku bakal kasih kelas privat!" teriak Erick dengan suara yang pecah karena perasaan takut dan panik yang mendalam.
Mendengar janji itu, Yydett langsung menghentikan gerakannya. Ia tersenyum sangat lebar, lalu bangkit berdiri dari tubuh Erick sambil merapikan kembali pakaiannya yang sempat terbuka. Yydet terlihat sangat kegirangan. Sedang Erick masih terduduk lemas di lantai, mencoba mengatur napasnya yang tersengal-sengal akibat syok dengan kejadian yang baru saja dialaminya.
___
Surabaya, Januari 2019
Suasana Taman Baca Fakultas Teknik sore itu tampak sunyi senyap, tampak hanya ada beberapa orang yang memenuhi Gazebo untuk belajar, atau hanya sekadar duduk menikmati senja yang akan datang. Erick berjalan menuju Gazebo yang ada di dekat air mancur dengan gemericik suara air yang selalu menjadi latar musiknya. Di tempat itu, Yydett sudah menunggu dengan tumpukan buku yang berantakan. Sesuai janji yang tidak sengaja terucap dari mulutnya, atau mungkin karena keterpaksaan, Erick harus memberikan les privat setiap hari, sore hari, setelah semua perkuliahan berakhir.
Sesampainya di Gazebo, tempat Yydet menunggu, Erick langsung meletakkan tasnya di ujung meja kayu yang panjang, memastikan ada celah lebar antara dirinya dan Yydett. Ingatan tentang kejadian di laboratorium masih menghantui pikirannya setiap kali mereka bertemu. Erick berusaha keras menenangkan detak jantungnya yang mendadak kencang saat melihat Yydett menyandar santai sambil memainkan ujung rambut.
"Kita mulai dari pemahaman logika dasar," ucap Erick dengan suara rendah, matanya terpaku pada buku tanpa berani melirik ke arah Yydett.
Yydett hanya tersenyum tipis. Ia lalu menggeser kursinya sedikit lebih dekat dengan sengaja, membuat Erick refleks menarik tubuhnya menjauh hingga hampir terjatuh dari Gazebo. Yydett menyadari ketakutan luar biasa yang dialami pria di depannya itu, seakan sedang melihat acara komedi secara langsung.
"Rick, lu kalau ngajar jangan kaku banget dong. Gue nggak bakal gigit lu kok," goda Yydett dengan nada manja yang sengaja dibuat-buat.
Erick tidak menjawab. Ia segera membuka laptop dan mulai menjelaskan barisan perintah komputer dengan sangat cepat. Erick ingin sesi ini segera berakhir agar dia bisa kembali ke zona nyamannya di kamar asrama. Perlahan, suasana mulai berubah serius saat Yydett mulai kesulitan memahami penjelasan Erick. Yydett terpaksa membuang semua candaan itu, dan langsung fokus ke pelajaran yang diberikan Erick.
___
Surabaya, Juni 2019
Hawa panas Surabaya siang itu terasa membakar kulit. Erick berjalan menyusuri lorong kampus yang sepi karena sebagian besar mahasiswa sudah pulang setelah ujian akhir selesai. Ia membawa sebuah amplop cokelat besar berisi berkas-berkas penting yang sudah disiapkan selama berbulan-bulan. Kabar tentang kelulusan transfer studinya ke Tiongkok datang lebih cepat dari perkiraan.
Erick tidak sempat menemui Yydett untuk memberikan ucapan selamat atas nilai praktikumnya yang memuaskan. Sebenarnya, Erick merasa lega karena tidak harus menghadapi situasi canggung lagi. Sehari sebelumnya, Erick sudah menitipkan sebuah buku catatan kecil pada Allio untuk diberikan kepada Yydett. Di dalamnya, Erick menuliskan rangkuman materi semester depan agar Yydett tidak perlu lagi mengulang kesalahan yang sama.
Sore itu juga, Erick berangkat menuju bandara dengan tumpukan koper di bagasi taksi.
___
Surabaya, Juli 2023
Yydett berdiri di depan cermin besar di kamarnya. Ia merapikan kemeja kerjanya yang elegan. Sejak kelulusannya, Yydett kini bekerja sebagai manajer di sebuah perusahaan teknologi ternama. Semenjak itu pula, ia perlahan meninggalkan gaya hidup malamnya yang bebas itu.
Yydett sering teringat pada buku catatan kecil yang dititipkan Erick melalui Allio. Buku itu masih tersimpan rapi di laci mejanya. Yydett merasa berutang budi karena berkat desakan Erick, kehidupannya mulai sedikit membaik, termasuk dalam hal studinya, waktu itu. Ia sudah berusaha mencari jejaknya di media sosial, tapi semuanya buntu, hilang seperti ditelan bumi. Jajak yang ia dapati hanya berbagai paper internasional yang terbit atas namanya.
___
Jakarta, Mei 2026
Suasana Ballroom Hotel Mercure Jakarta dipenuhi tamu undangan yang tampak memakai pakaian formal. Yydett melangkah masuk dengan anggun, menyapa beberapa teman lama yang sudah lama tidak ia temui. Matanya tidak sengaja menangkap sosok pria yang sedang berdiri sendirian di dekat meja prasmanan. Pria itu memakai jas hitam dengan potongan yang sangat rapi. Kacamata yang digunakannya terlihat lebih modern, tapi raut wajahnya tetap sama.
Jantung Yydett berdegup sangat kencang, persis seperti momen di laboratorium tahun 2018 silam. Yydett berjalan mendekati pria itu. Ia ingin memastikan bahwa pria itu benar orang yang ia teka.
"Erick?" panggil Yydett pelan.
Pria itu menoleh. Bola matanya naik turun, mengamati sosok wanita yang ada di depannya. Erick butuh beberapa saat untuk menyadari bahwa wanita anggun ini adalah mahasiswi nakal yang dulu pernah mendudukinya di laboratorium. Erick terdiam, lidahnya mendadak kaku seperti biasanya.
"Yy-- Yydett?" suara Erick terdengar berat dan jauh lebih dewasa.
Post a Comment