Surabaya, Februari 2019
Suasana laboratorium komputer sore itu terasa gerah akibat salah satu pendingin ruangan mati. Erick duduk di depan komputer server, jari-jemarinya menari di atas papan ketik. Di sampingnya, ada Yydett yang sibuk mencoba memperbaiki baris kode yang terus memunculkan warna merah, tanda adanya kesalahan di barisnya. Erick sesekali melirik Yydett dari sudut matanya.
"Rick, ini kenapa masih merah terus?" keluh Yydett sambil menghentakkan kakinya ke lantai.
Erick menghela napas, mencoba mengatur jarak agar bahunya tidak bersentuhan dengan bahu Yydett. "Coba periksa tanda titik koma di baris sepuluh. Kamu selalu teledor di bagian itu."
Yydett mendekatkan wajahnya ke layar, membuat helai rambutnya hampir mengenai lengan Erick. Erick refleks menarik tangannya, disambut dengan detak jantungnya yang berdegup kencang. Meski sudah puluhan kali bertemu dengan beberapa lawan jenis saat jadwal asistensi, ternyata ketakutan tetap saja menghantuinya. Yydett yang menyadari reaksi itu, langsung menoleh sambil menyunggingkan senyum jail. Ia sengaja tidak segera memperbaiki kodenya agar bisa terus menerus memperhatikan wajah panik Erick yang mulai memerah.
___
Kunming, Desember 2025
Erick berdiri di balkon asramanya, menatap lampu-lampu kota yang mulai tertutup salju tipis, sambil memegang sepucuk surat undangan pernikahan yang dikirimkan oleh dosennya di Indonesia. Sedari tadi, tatapan Erick itu untuk menimbang-nimbang keputusan pulang. Selama bertahun-tahun, ia selalu beralasan sibuk dengan risetnya untuk menghindari kepulangan ke tanah air.
Erick melangkahkan kaki masuk ke dalam kamarnya menuju meja panjang yang biasa ia gunakan untuk belajar. Sesampainya di meja itu, Erick membuka laci mejanya, mengambil sebuah flashdisk tua. Saat ia membuka isi flashdisk itu di laptopnya, ada satu folder bernama "Yydett Davina". Tanpa sadar, simpul senyum itu keluar dari sudut bibirnya, disertai dengan rona muka memerah.
___
Jakarta, Mei 2026
"Eh, bisa ngenalin gue lu?" Yydett menjawab dengan nada ketus sambil mengepalkan kedua tangannya di balik gaun yang ia kenakan untuk menutupi perasaan campur aduk yang menyergap dirinya.
"Ya- ya, bisa," jawab Erick pelan dengan tubuh yang sedikit bergetar. "Eh, ngomong-ngomong, aku minta maaf ya! Nggak ngasih kabar langsung ke kamu waktu berangkat," imbuhnya dengan suara yang lebih sedikit tenang, tapi raut mukanya berkata lain.
Yydett terdiam sejenak. Ia perlahan melepaskan kepalan tangannya yang tadi tersembunyi di balik gaun. Rasa kesal yang tadi sempat muncul perlahan luruh saat melihat raut muka Erick yang terlihat seperti orang tersiksa itu.
"Santai aja kali," ucap Yydett pelan. "Gue cuma mau bilang makasih. Catatan yang lu kasih lewat Allio itu... jujur, ngebantu banget. Tanpa itu, mungkin gue bakalan ngulang terus."
Erick sedikit terkejut mendengar pengakuan jujur dari Yydett. Erick merasa lega karena Yydett tidak marah dan membahas kepergiaannya yang tiba-tiba itu.
"Aku cuma mau mastiin kamu nggak perlu ngulang mata kuliah itu lagi. Aku tahu kalau sebenernya kamu itu pinter, cuma kurang fokus saja," ucap Erick, disertai dengan merekahnya senyum dari bibirnya.
Senyum itu pun disambut Yydett dengan menampakkan senyum yang sama.
___
Surabaya, Maret 2019
Erick, Allio, dan Yydett sedang berada di kantin fakultas. Mereka baru saja keluar dari kelas statistika lanjutnya Prof. Shiro.
"Lama banget sih, bakso gue datengnya," keluh Allio yang tadi kena tegur Prof. Shiro akibat tidak bisa menjelaskan apa yang dikerjakannya. "Rick, ajarin gue juga dong! Jangan Yydett doang, oke?!"
"Anu..."
Belum sempat Erick melanjutkan balasannya, Yydett langsung memotong, "Udah, Rick, biar dia gue ajarin."
"Eh, ngomong-ngong, lu yakin nggak mau ikut kita ke Bali, Rick?" tanya Allio sambil menyenggol lengan Erick yang ada tepat di sebelahnya.
Erick tersentak, hampir saja menjatuhkan tas ransel yang sedang ia peluk di atas pangkuannya. Ia kemudian menoleh, menatap Allio dengan sorot mata penuh tanda tanya sembari membetulkan letak kacamatanya.
"A-Aku... ada urusan, Al," kilah Erick dengan suaranya yang terbata.
Yydett yang sedang menyandarkan dagu di atas telapak tangannya mendadak menegakkan punggungnya. Ia menatap Erick dengan mata terangkat yang menyebabkan dahinya berkerut. Yydett merasa ada sesuatu yang Erick sembunyikan. Erick segera membuang muka, kembali fokus menatap permukaan meja kantin yang kosong dan sedikit berdebu. Ketakutan Erick pada kedekatan emosional membuat Erick memilih terus menghindar. Erick merasa kehidupannya yang teratur akan kacau jika membiarkan Yydett tahu rencana studinya di luar negeri.
"Lama banget baksonya, gue udah laper banget ini," celetuk Allio sambil menoleh ke arah stan penjual, mencoba memecah kecanggungan yang tiba-tiba muncul.
Yydett hanya diam, jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja secara beraturan. Pandangan Yydett beralih ke arah lapangan kampus yang terik, namun pikirannya tertuju pada sikap Erick barusan. Yydett merasa ada jarak yang sengaja Erick bangun tepat saat mereka mulai terlihat akrab.
____
Surabaya, Mei 2019
Erick melangkah lebar menyisir area gazebo taman baca yang mulai sepi. Matanya terus mencari sosok Yydett di setiap sudut, namun bangku kayu tempat Yydett biasa menunggu terlihat kosong. Erick meremas buku catatan bersampul biru di tangannya dengan perasaan gelisah. Pandangan Erick menyapu kantin hingga area parkir gedung fakultas, tetap saja sosok Yydett tidak terlihat sama sekali.
Erick melirik jam tangannya. Waktu keberangkatan Erick sudah sangat mendesak karena taksi menuju bandara segera tiba. Erick akhirnya memutuskan menuju ruang himpunan mahasiswa. Erick berpapasan dengan Allio yang sedang asyik bermain ponsel di depan pintu. Eric k merasa ini pilihan terakhir agar titipan itu sampai tepat pada waktunya.
"Al, aku cari Yydett nggak ketemu. Titip ini buat dia, ya?" ucap Erick sambil menyodorkan buku itu.
Allio menerima bungkusan plastik bening itu dengan raut wajah bingung. "Lu mau ke mana? Kok bawa koper ke parkiran segala?"
Erick mengangguk pelan tanpa memberikan penjelasan detail. Erick membetulkan letak kacamatanya, mencoba menutupi rasa kecewa karena tidak bisa bertemu Yydett untuk mengucapkan salam perpisahan secara langsung. Erick merasa dadanya sedikit sesak, tapi jadwal penerbangan tidak bisa ditunda. Erick segera melangkah pergi setelah memastikan Allio menyimpan buku itu dengan aman di dalam tas. Allio hanya bisa berdiri mematung melihat punggung Erick yang menjauh, tanpa tahu bahwa sahabatnya itu akan pergi jauh untuk waktu yang lama.
____
Surabaya, Agustus 2024
Pintu kaca kafe di bilangan Surabaya Barat itu berdenting lembut. Yydett duduk di sudut dekat jendela, mengaduk jus jeruknya yang mulai mencair. Di depannya, Allio memandang keluar, memperhatikan rintik hujan yang membasahi aspal. Suasana di antara mereka mendadak berubah canggung setelah Allio meletakkan cangkir kopinya.
"Det," panggil Allio, suaranya lebih rendah dari biasanya. "Gue rasa... gue udah cukup lama ada di samping lu sebagai pelampiasan cerita sedih lu."
Yydett menghentikan sedotannya. Ia menatap Allio, menangkap keseriusan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya dari pria yang biasanya penuh canda itu.
"Gue suka sama lu, Det. Dari dulu, bahkan sebelum lu kenal sama si kutu buku itu," ucap Allio langsung, tanpa keraguan.
Yydett terpaku. Tangannya yang memegang sendok pengaduk mendadak kaku. Pikirannya langsung melayang pada memori lama, bayangan wajah Erick yang panik saat ia goda di lab komputer justru melintas lebih dulu di kepalanya. Yydett menarik napas dalam, menyadari bahwa ruang di hatinya masih terkunci oleh sebuah nama yang hilang tanpa kabar.
"Al, gue..." Yydett menggantung kalimatnya, tidak sanggup melanjutkan karena takut merusak persahabatan yang sudah bertahun-tahun mereka bangun.
___
Kunming, Oktober 2030
Di dalam kamar asramanya yang sepi, Erick terbangun dengan rasa sakit yang luar biasa di bagian belakang kepalanya. Pandangannya mengabur selama beberapa detik, memaksa dirinya untuk berpegangan pada tepi meja belajar agar tidak ambruk. Ini terasa berbeda dari pusing akibat kurang tidur atau kelelahan mengerjakan riset komputer.
Erick berjalan tertatih menuju kamar mandi, menyalakan keran, dan membasuh wajahnya dengan air dingin. Saat mendongak menatap cermin, ada darah segar yang mengalir pelan dari hidungnya. Erick mengambil tisu dengan gemetar, membersihkannya dengan cepat seolah-olah bisa menghapus ketakutan yang mulai muncul.
Di atas meja, sebuah amplop putih dari rumah sakit universitas yang ia bawa siang tadi masih tertutup. Erick mendekat, merobek ujungnya, lalu membaca baris demi baris hasil pemeriksaan menyeluruh miliknya. Lembaran kertas itu menyatakan adanya perkembangan sel tumor ganas di kepala. Vonis dokter tertulis sangat jelas di sana. Erick terduduk di lantai, meremas kertas itu erat-erat dengan perasaan campur aduk. Di saat impian akademisnya hampir tercapai, garis akhir hidupnya justru terasa ditarik lebih cepat.
___
Surabaya, September 2019
Suara deru kipas angin langit-langit berputar berisik, sesekali mengeluarkan bunyi berdecit. Yydett duduk menekuk lutut di atas kursi kayu, menatap tumpukan kertas draf bab empat yang dipenuhi coretan tinta koreksi.
"Ugh..." Yydett mengerang pendek, menjatuhkan dahinya ke atas meja lipat. "Al, kepalaku mau pecah. Ini kode program pelacak galatnya macet terus."
Allio yang baru datang dari arah kantin meletakkan dua kotak susu cair dingin di atas meja, membuat kertas-kertas draf sedikit bergeser. "Makanya, kalau dibilangin asisten dosen dulu itu dicatat. Kamu sih, kerjaannya malah membuat dia panik."
Yydett menegakkan punggungnya, mendesah panjang seraya menusuk kotak susu dengan sedotan. "Aku ingat semua omongan dia. Buku bersampul biru pemberian Erick ini masih sering aku baca kalau malam. Aku cuma... rindu dibentak dia secara langsung. Sejak di bandara sore itu, nomornya langsung mati."
Allio terdiam sejenak. Ia menarik kursi plastik, duduk tepat di hadapan Yydett dengan pandangan serius. "Kamu masih mengirimkan pesan ke alamat surat elektronik kampusnya?"
"Iya," jawab Yydett lirih. Suaranya terdengar serak di tenggorokan. "Kotak masuknya kosong."
Allio mengusap dahi, mencoba mengalihkan suasana yang mendadak canggung. "Det, kamu sudah berubah banyak sekarang. Kamu sudah jarang keluar malam. Nilai tengah semestermu kemarin juga bagus. Penjaga laboratorium kemarin bilang, kamu mahasiswi paling rajin."
"Aku harus lulus tepat waktu," gumam Yydett, matanya menatap rintik hujan yang mulai membasahi kaca jendela ruang baca.
___
Jakarta, Mei 2026
Yydett dan Erick masih berdiri berdekatan, mengabaikan lalu lalang tamu undangan yang menikmati hidangan prasmanan. Suasana hangat setelah saling melempar senyum tadi perlahan berganti dengan ketegangan emosional yang baru.
"Kamu... sekarang kelihatan jauh lebih sehat, Det. Nggak kayak dulu yang hobi minum malam-malam," ujar Erick, mencoba membuka obrolan santai untuk menutupi rasa gugupnya yang kembali menyerang.
Yydett tertawa kecil, sedikit tersindir namun tahu itu adalah fakta. "Ya, berkat buku catatan biru lu itu juga. Masa manajer perusahaan teknologi masih hobi mabok? Bisa turun jabatan gue."
Erick ikut tersenyum, namun matanya menyimpan kesedihan yang mendalam. Erick sengaja menjaga jarak aman, tidak ingin Yydett melihat tangannya yang sesekali bergetar hebat akibat kelelahan fisik.
"Oh ya, Rick. Lu tahu nggak? Allio dua tahun lalu pernah nembak gue," celetuk Yydett tiba-tiba, ingin melihat bagaimana reaksi pria di depannya.
Erick tertegun. Jantungnya berdesir aneh. "Lalu... kamu menerimanya?"
Yydett menggeleng pelan, matanya menatap tepat ke manik mata Erick. "Gue nolak. Karena gue tahu, ada satu janji privat yang belum selesai di antara kita."
___
Surabaya, April 2019
Suasana kelas asistensi sore itu terasa melelahkan bagi Yydett. Di ruangan lab yang mulai sepi, Erick mengoreksi lembar jawaban milik Yydett dengan coretan pulpen merah yang cukup beruntun.
"Kamu mengulangi kesalahan yang sama di bagian percabangan program, Yydett," kata Erick tegas, berusaha mempertahankan fokusnya meski jarak duduk mereka cukup dekat. "Kalau begini terus, usaha kita tiap sore di gazebo bakal sia-sia."
Yydett yang biasanya suka menggoda, kali ini memilih diam. Ia melihat gurat kelelahan di wajah Erick, namun juga melihat ketulusan yang besar dari asisten dosennya itu untuk membantunya lulus. Ada rasa bersalah yang menyelinap di hati Yydett karena selama ini sering menjadikan sesi belajar mereka sebagai ajang main-main.
"Gue bakal belajar lebih giat lagi, Rick. Janji," ucap Yydett pelan, kali ini tanpa nada manja yang dibuat-buat.
Erick menoleh, menatap Yydett yang tampak bersungguh-sungguh. Keheningan laboratorium malam itu menjadi awal di mana keduanya mulai menurunkan ego masing-masing, sebelum perpisahan bandara memutus komunikasi mereka.
___
Surabaya, Agustus 2024
Hujan deras malam itu menyisakan suara tetesan air yang jatuh dari ujung genting, menghantam ember plastik di sudut teras dengan bunyi yang bising. Allio berjalan dengan langkah gulai, membiarkan ujung kemejanya basah terkena cipratan air.
"Haaah..." Sebuah hembusan napas panjang yang terasa berat keluar dari mulut Allio. Ia menghempaskan tubuhnya ke atas kursi rotan tua yang langsung berderit nyaring.
Pintu utama rumah kost terbuka, menampilkan Pak Bambang, pemilik kost paruh baya yang sedang memegang sebuah senter ronda. "Lho, Mas Allio? Baru pulang jam segini? Kok mukanya kusut sekali seperti kain belum disetrika?"
Allio mendongak, mencoba memaksakan sebuah senyuman kecil yang tampak hambar. "Iya, Pak Bambang. Ada sedikit urusan pekerjaan di daerah Surabaya Barat tadi."
Pak Bambang berjalan mendekat, mendengus pelan melihat genangan air di dekat sepatu Allio. "Jangan bohong, Mas. Kelihatan dari matamu kalau sedang ada masalah besar. Bertengkar dengan Mbak yang sering mengantarmu pulang itu ya?"
Allio menundukkan kepala, memandang ubin teras yang dingin. "Ugh... begitulah, Pak. Hubungan pertemanan kami sepertinya sudah menemui batas akhir. Aku sudah mengutarakan isi hatiku, tapi dia masih mengharapkan orang lain yang sudah lama hilang."
Pak Bambang menepuk pundak Allio dengan telapak tangannya yang hangat. "Dengarkan ucapan orang tua ini, Mas. Kalau terus bertahan di dekatnya hanya membuat hatimu sakit, menjauh adalah pilihan terbaik. Ambil penugasan luar pulau yang pernah kamu ceritakan waktu itu."
Allio terdiam beberapa saat, meresapi setiap ucapan pemilik kost tersebut. "Sepertinya memang harus begitu, Pak. Besok pagi aku akan menemui pihak manajemen kantor untuk menyetujui surat kepindahan tugas ke Pulau Kalimantan."
___
Surabaya, Juni 2019
Setelah keberangkatan Erick, suasana kamar kos Allio tampak berantakan dengan tumpukan berkas kuliah semester genap. Allio duduk di tepi kasur, memandangi buku catatan bersampul biru titipan Erick yang masih berada di dalam kantung plastik bening. Ponselnya di atas meja terus bergetar, menampilkan nama Yydett pada layar.
Allio menarik napas panjang sebelum menggeser tombol hijau. "Halo, Det?"
"Al, lu tahu Erick ke mana?" suara Yydett di seberang telepon terdengar panik bercampur kesal. "Gue ke lab, ke perpus, bahkan ke ruang asisten dosen, kata mereka Erick sudah keluar. Nomornya juga nggak aktif."
Allio terdiam, memandangi buku di tangannya. Ia tahu Erick sengaja melarikan diri dari interaksi emosional yang bisa mengacaukan fokus studinya. Ada dorongan di hati Allio untuk menyembunyikan buku catatan itu agar Yydett bisa melupakan Erick sepenuhnya, memberi ruang bagi dirinya sendiri untuk mendekati sang primadona kampus. Namun, bayangan wajah lesu Erick saat menyerahkan titipan tersebut di depan ruang himpunan mahasiswa membuat Allio mengurungkan niat buruknya.
"Erick titip sesuatu lewat gue, Det. Kita ketemu di mini market biasa malam ini," ucap Allio pelan, memilih menjadi perantara yang jujur demi kebahagiaan wanita yang ia cintai.
___
Kunming, November 2024
Yydett mengirimkan sebuah email panjang ke alamat surat elektronik akademis Erick yang ia temukan dari salah satu jurnal internasional. Di dalam kamar asramanya yang mulai dingin karena menjelang musim dingin, Erick membaca pesan tersebut dengan saksama. Yydett bercerita tentang perkembangan kariernya, tentang Allio, dan tentang bagaimana dirinya masih menyimpan buku catatan biru pemberian Erick.
Erick meletakkan cangkir kopinya, jemarinya berada di atas papan ketik, berniat membalas email tersebut. Ia ingin menceritakan bahwa folder bernama "Yydett Davina" di dalam kandar kilasnya masih sering ia buka setiap kali merasa jenuh dengan riset sistem cerdasnya. Namun, ego dan kecemasan masa lalu kembali menahan langkahnya.
Erick takut jika ia membalas pesan itu, Yydett akan menaruh harapan lebih tinggi, sementara dirinya belum siap membagi ruang kehidupannya yang kaku dengan kehadiran orang lain. Erick akhirnya menutup tab peramban tersebut tanpa mengirimkan sepatah kata pun, membiarkan email Yydett tenggelam dalam tumpukan pesan risetnya.
___
Kunming, September 2029
Udara dingin musim gugur mulai terasa menembus sela-sela kaca jendela laboratorium yang besar. Erick berdiri di samping meja kerja Profesor wang, mendengarkan ulasan mengenai draf proposal penelitian doktoralnya yang baru saja selesai diperiksa.
"Struktur penalaran dalam bab tiga ini sudah sangat bagus, Erickson," ucap Profesor Wang seraya menyerahkan kembali berkas draf tersebut. "Namun, kamu terlihat sangat pucat hari ini. Apa kamu beristirahat dengan cukup?"
Erick membetulkan letak kacamatanya dengan gerakan tangan kiri yang tiba-tiba bergetar halus. "Ugh..." Sebuah erangan pelan yang tertahan keluar dari tenggorokan Erick saat sebuah denyutan nyeri yang samar mendadak menyerang bagian pangkal kepalanya.
"Saya hanya sedikit kelelahan karena begadang menyelesaikan simulasi pemrosesan data peladen dua malam ini, Prof," jawab Erick dengan nada suara yang terdengar parau.
Profesor Wang mengerutkan dahinya, menatap mahasiswanya dengan gurat wajah penuh rasa prihatin. "Dengarkan ucapan saya, Erickson. Tubuhmu butuh istirahat. Jangan memaksakan diri bekerja melampaui batas kemampuan badanmu. Jadwal pengiriman jurnal internasional masih beberapa bulan lagi."
Erick memaksakan sebuah senyuman kecil, mencoba menyembunyikan rasa pening yang perlahan membuat pandangannya sedikit kabur. "Baik, Prof. Setelah ini saya akan kembali ke asrama untuk beristirahat."
Erick melangkah keluar dari ruangan dengan perlahan, tangannya bertumpu pada dinding koridor yang dingin demi menjaga keseimbangan langkah kakinya yang terasa goyah. Gejala pusing ini mulai sering datang tanpa diundang, menimbulkan kecemasan baru di dalam benaknya.
___
Surabaya, Agustus 2021
Suara hujan deras di luar meredam bunyi papan tik yang ditekan bertubi-tubi. Yydett duduk bersila di atas karpet, dikelilingi tumpukan draf laporan magang. Rambutnya diikat asal-asalan. Di sudut ruangan, sebuah botol sirup menggantikan botol-botol minuman keras yang biasa menghiasi mejanya.
"Ugh..." Yydett mengerang pendek, menjatuhkan dahinya ke atas meja lipat. "Al, kepala gue mau pecah. Ini tabel relasi datanya macet lagi!"
Allio berjalan dari arah dapur, membawa dua piring mi instan goreng yang asapnya masih mengepul. "Haaah... makanya, kalau dibilangin asisten dosen dulu itu dicatat. Lu sih, kerjaannya malah ngegodain si kutu buku."
Yydett menegakkan punggung, mendesah panjang seraya menerima garpu dari tangan Allio. "Gue inget kok. Buku bersampul biru dari Erick masih sering gue baca kalau malam. Gue cuma... kangen diomelin dia secara langsung. Sejak di bandara itu, dia bener-bener ilang."
Allio terdiam sejenak. Ia menarik kursi plastik, lalu duduk di hadapan Yydett. "Lu masih nyariin dia lewat email kampus?"
"Iya," jawab Yydett lirih. Suaranya terdengar serak. "Nggak ada balesan. Kosong."
Allio mengunyah minya dengan pelan, pandangannya beralih ke arah draf laporan Yydett yang penuh dengan coretan perbaikan. "Det, lu udah berubah banyak sekarang. Lu udah jarang kelayapan malam. IPK lu semester kemarin juga bagus. Gue yakin, kalau si Erick liat lu sekarang, dia bakal bangga."
"Semoga aja," gumam Yydett, matanya menatap uap mi goreng yang perlahan menghilang di udara.
___
Jakarta, Desember 2026
Yydett harus menghadapi kenyataan pahit dalam pekerjaannya sebagai manajer teknologi. Proyek sistem integrasi yang ia pimpin mengalami kegagalan fungsi skala besar saat peluncuran versi beta. Di dalam ruang kerjanya yang sepi pada pukul sembilan malam, Yydett duduk bersandar sambil memijat pelipisnya yang berdenyut.
Pintu ruangannya diketuk perlahan. Erick masuk membawa dua cup kopi hangat, wajahnya terlihat sedikit pucat namun senyumnya tetap berusaha ia tunjukkan. Semenjak pertemuan di hotel, Erick bekerja sebagai konsultan ahli eksternal di perusahaan yang sama dengan Yydett.
"Aku sudah memeriksa struktur basis datanya, Det. Ada kesalahan penanganan memori di bagian sub-sistem," ucap Erick sambil meletakkan cup kopi di meja Yydett.
Yydett mendongak, menatap Erick dengan mata sayu. "Gue capek, Rick. Kenapa setiap kali gue butuh bantuan dalam hal teknis seperti ini, selalu lu yang muncul?"
Erick tertegun, langkah kakinya mundur satu tapak. "Aku cuma mau membantu memastikan proyekmu berjalan lancar, seperti waktu kuliah dulu."
Yydett bangkit dari kursinya, berjalan mendekati Erick hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa jengkal. Ketegangan emosional kembali menguasai ruangan tersebut. Yydett bisa melihat dengan jelas bahwa tatapan Erick masih menyimpan kecemasan yang sama seperti saat di lab komputer tahun 2018, sebuah tanda bahwa perasaan pria itu belum berubah, meski waktu telah lama berlalu.
___
Kunming, Januari 2031
Kondisi kesehatan Erick menurun secara berkala. Di dalam laboratorium pascasarjana Yunnan University, Erick memaksakan diri untuk menyelesaikan bab terakhir dari draf tesis doktoralnya. Pandangannya mendadak buram, membuat baris perintah di layar monitor terlihat ganda.
Seorang rekan risetnya dari Indonesia yang juga sedang menempuh studi di sana, berjalan mendekati meja Erick membawa beberapa lembar dokumen cetak. "Rick, ini berkas dari kedutaan terkait perpanjangan izin tinggalmu. Kamu beneran nggak mau pulang dulu buat pengobatan?"
Erick menggelengkan kepala dengan perlahan, membetulkan letak kacamatanya yang sedikit miring. "Waktuku tidak banyak. Aku harus menyelesaikan publikasi jurnal ini terlebih dahulu agar beasiswaku tidak dihentikan secara sepihak."
Erick tahu keputusan ini sangat berisiko bagi keselamatan jiwanya. Namun, baginya, menyelesaikan pencapaian akademis adalah satu-satunya hal yang bisa ia buktikan kepada dunia, sekaligus menjadi cara untuk menyembunyikan penderitaannya dari Yydett yang berada jauh di Jakarta. Ia tidak ingin menjadi beban moral bagi wanita yang baru saja menata hidupnya dengan baik.
Post a Comment