Sinologi Hati

Ada sebuah kecenderungan dalam diri saya yang sulit dijelaskan secara logika. Sebuah kekaguman yang mendalam pada mereka yang berperawakan oriental, khas dengan mata sipitnya yang menawan. Sebuah preferensi estetika yang entah bagaimana selalu menarik perhatian, mengantarkan saya dalam mengagumi mereka—pemilik garis keturunan Tionghoa. Padahal, saya sendiri adalah laki-laki Jawa, tapi radar hati saya seolah sudah terkunci pada satu arah.

Entah dari mana asal-usul rasa ini. Apakah karena kebiasaan saya menonton dan mempelajari hal-hal yang berbau Cina? Ataukah karena saya mengagumi kedisiplinan yang sering diidentikkan dengan mereka? Yang jelas, sampai saat ini, rasa kagum itu belum berbanding lurus dengan kemampuan bahasa saya. Saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengasah berbagai kemampuan yang menjadi medan magnet diri. Namun untuk urusan bicara bahasa Cina, sungguh begitu susah untuk diasah. 

Ada pepatah klasik yang mengatakan: "Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina." Bagi saya yang saat ini masih sendirian tanpa pasangan, pepatah itu terasa seperti sebuah instruksi ganda. Saya tidak hanya ingin mengejar gelar akademik di sana, tapi saya juga ingin mengusahakan agar jodoh saya nanti berasal dari sana—entah saya menemukannya langsung di daratan Cina atau turunannya di tanah air tercinta. Intinya, saya ingin memperjuangkan preferensi itu. 

Namun, saya sadar bahwa saya hanya manusia yang berencana. Jika kelak Tuhan berkata lain dan menjodohkan saya dengan seseorang yang tidak sesuai dengan preferensi, ya mau bagaimana lagi? Saya tidak bisa protes kepada Sang Pencipta, jika realitanya nanti tidak sesuai dengan yang telah digariskan oleh-Nya. 

Tulisan ini saya buat sebagai catatan jujur saya. Serta, sebuah impian yang akan saya usahakan untuk didapatkan. Jika ilmu saja layak dikejar sampai ke negeri Cina, maka mencari pendamping hidup hingga ke sana pun rasanya adalah sebuah perjuangan yang pantas dilakukan, bukan? 

Dan dalam mencapainya, saya sudah mempunyai peta masa depan. Pemilihan Yunnan University sebagai kampus tempat saya untuk melanjutkan studi. Terletak di Kunming, sebuah kota yang dijuluki sebagai "Kota Musim Semi Abadi". Saya merasa di sanalah tempat ambisi dan kenyamanan itu akan bertemu. Kondisi geografisnya yang bersahabat bagi orang Jawa seperti saya, membuat bayangan tentang merantau di negeri seberang tidak lagi terasa mencekam. 

Lebih dari sekadar iklimnya, ada satu hal yang menarik magnet batin saya lebih kuat untuk pergi ke sana—di peradaban Suku Hui di Cina. Bayangan akan diri yang berjalan dengan penuh percaya diri di antara komunitas mereka, melihat bagaimana iman Islam dan budaya Cina melebur dalam nuansa harmoni. Mengetahui bahwa di sana masih banyak saudara seiman dari etnis yang saya kagumi memberikan rasa tenang tersendiri. Ada harapan kecil yang saya selipkan di sana—bahwa di antara ribuan wajah di sana, salah satunya adalah jawaban dari doa saya. 

Saya sadar, rencana ini adalah sebuah ikhtiar besar. Dari semua gambaran perjalanan itu, saya tetap bersujud pada ketetapan-Nya. Jika nanti langkah kaki saya diarahkan pada takdir yang berbeda, saya akan ikhlas menerimanya. 

Sebab pada akhirnya, perjalanan impian ke Negeri Tirai Bambu ini bukan hanya soal mengejar gelar atau mencari pasangan, melainkan perjalanan untuk menemukan sejauh mana saya bisa berjuang demi sebuah impian. 
BACA JUGA