Selebrasi Sunyi Menjelang Pergantian Usia

Entah kenapa, keinginan untuk mati selalu saja melintas di kepala. Kadang saya merasa heran sendiri, bagaimana bisa pikiran sekelam itu muncul begitu saja? Mungkin karena tekanan hidup yang terasa teramat keras, atau mungkin ada alasan lain yang belum terdefinisi. Yang saya tahu, hidup saya terasa sangat tidak menyenangkan, hingga ada saat-saat di mana saya merasa Tuhan sedang pilih kasih. Tapi, kalau dipikir-pikir lagi, sepertinya bukan salah Tuhan; mungkin ini salah saya sendiri. Entahlah, hahaha. 

Bicara soal kematian, menurut saya, melihat mereka yang sudah "pulang" itu terasa ada sisi tenangnya—terlepas dari perdebatan agama mengenai apa yang terjadi setelah nyawa lepas dari raga. Mereka mungkin hanya merasa tersiksa sebentar melalui cara mereka pergi, entah itu karena kecelakaan, sakit, atau jantungnya tiba-tiba berhenti. Namun setelah itu, bukankah mereka tidak perlu berpikir lagi? Oh, jelas tidak bisa berpikir, namanya juga sudah mati. Bodoh kali saya, huft. 

Misalnya saja, kematian melalui jalan bunuh diri. Kira-kira, apakah masalah hidup akan benar-benar menghilang? Akhir-akhir ini, berita tentang itu berseliweran. Motifnya beragam; dari masalah ekonomi, percintaan, hingga hal-hal yang tidak masuk akal demi sebuah konten agar viral. Memang benar, bagi mereka yang pergi, masalahnya mungkin "selesai". Namun, masalah itu sebenarnya tidak hilang, melainkan hanya berpindah ke pundak keluarga yang ditinggalkan. Bebannya menjadi warisan bagi mereka yang masih bernapas. Begitu banyak kasusnya sampai saya tidak sanggup untuk menghitung jumlahnya. Syukurlah, di keluarga saya tidak ada yang seperti itu—semoga tidak akan pernah ada. Kalau ingin tahu rasanya, tanyalah pada mereka yang pernah mengalaminya—tapi jangan tanya pada korban yang sudah mati, ya, nanti kamu malah lari ketakutan, hehehe. 

Sudahlah, saya sudah mulai mengantuk dan rasa malas menulis pun mulai menyerang. Saya ingin meratapi nasib sebentar saja, sekadar memastikan agar "bunuh diri" yang ada di angan ini tidak benar-benar kejadian. Sekalian, saya ingin menitip pesan: jangan pilih jalan bunuh diri. Tidakkah kalian merasa kasihan pada mereka yang masih menyayangi kalian? Walaupun mungkin hanya orang tua yang tersisa, setidaknya masih ada satu alasan untuk bertahan di dunia. Seburuk-buruknya kondisi saat ini, saya tidak akan pernah melakukan hal bodoh itu lagi, karena wajah mereka selalu muncul di pikiran dan hati. Seandainya mereka tidak ada, mungkin saya tidak akan bisa menulis ini. Kalaupun saya masih menulis, mungkin saya sudah jadi setan gentayangan di papan ketik tak bertuan, hehehe. 

Sejam lagi menuju ulang tahun saya. Namun bagi saya, itu hanyalah hari biasa. Tidak ada yang istimewa, jadi tidak perlu ditunggu-tunggu, hehehe.
BACA JUGA