REIN: Menagih Janji

Di dalam paviliun yang luas dan hanya diterangi oleh cahaya lilin remang, Xiao Lin dibaringkan di atas ranjang sutra yang empuk. Su Hua menyuruh semua pelayan serta pengawal keluar, menyisakan dirinya sendiri di dalam kamar yang sunyi itu. Suasana kamar mendadak terasa sangat intim. 

Su Hua mendekati ranjang dengan membawa sebuah mangkuk perak berisi air hangat dan selembar kain sutra putih. Napas sang putri memburu saat matanya kembali menyapu ke sekujur tubuh telanjang Xiao Lin, terutama pada bagian penis besar yang tergeletak pasrah di sela paha kokoh pria itu. Keinginan terlarang yang bergejolak di dalam dadanya membuat jemari lentiknya bergetar hebat. 

Tepat saat jemari lentik sang putri hendak menyentuh dada bidang Xiao Lin untuk menyeka darah yang mengering, pergelangan tangan wanita itu mendadak disambar dengan cengkeraman yang sangat kuat. 

Xiao Lin yang rupanya telah sadar dari pingsannya langsung membuka mata. Sepasang mata tajamnya menatap lekat pada wajah jelita sang putri. Dengan satu sentakan tangan kekarnya, ia menarik pergelangan tangan Su Hua dengan kasar hingga tubuh ramping wanita itu hilang keseimbangan, jatuh menabrak dada bidang Xiao Lin yang keras dan panas. 

"Aku tidak butuh kain ini," bisik Xiao Lin tepat di depan bibir Su Hua yang mendadak terkunci rapat karena terkejut. "Aku mau permintaan pertamaku dikabulkan sekarang juga." 

Sebelum Su Hua sempat bersuara atau memberikan perlawanan, Xiao Lin langsung melumat bibir merah sang putri dengan rakus. Tangan besarnya yang kasar bergerak cepat menyelinap ke balik pakaian sutra mewah yang dikenakan Su Hua, meraba punggung mulusnya lalu merobek kain tipis itu hingga terlepas sepenuhnya. Tubuh putih Putri Su Hua kini terpampang polos tanpa sehelai benang pun di bawah kungkungan Xiao Lin. 

Xiao Lin menyingkirkan sisa jubah kulitnya yang kotor. Penis besarnya yang tegak keras kini berdenyut hebat, menempel langsung pada perut mulus Su Hua. Sang putri mengerang di sela-sela ciuman mereka, kedua tangan yang gemetar bergerak mencengkeram bahu berotot Xiao Lin, menyerahkan seluruh harga dirinya pada dominasi pria perkasa ini. 

Xiao Lin merobohkan tubuh Su Hua ke atas ranjang sutra yang empuk, menindihnya dengan kehangatan tubuh kekarnya yang besar. Su Hua memejamkan mata, napasnya memburu cepat antara rasa takut dan gairah yang menggelora saat merasakan kulit mereka saling bersentuhan tanpa pembatas. 

Xiao Lin tidak langsung memaksakan penetrasi. Ia mulai menurunkan kepalanya, menjilati dan menciumi leher jenjang Su Hua dengan lidahnya yang hangat. Isapan-isapan lembut itu meninggalkan bekas kemerahan di kulit putih sang putri, membuat Su Hua melenguh manja, "Ahhh... Tuan...". Tangan besar Xiao Lin merayap ke atas, meremas sepasang payudara kenyal Su Hua dengan ritme yang memabukkan, memilin ujungnya yang mengeras hingga sang putri menggeliat gelisah di bawah kungkungannya. 

Xiao Lin kemudian menggeser tubuhnya lebih rendah ke sela paha Su Hua. Ia membuka kedua kaki sang putri secara perlahan, menyingkap keindahan area selangkangan wanita yang belum pernah terjamah itu. Xiao Lin mendekatkan wajahnya, lalu mulai menjilat bibir vagina Su Hua menggunakan ujung lidahnya dengan gerakan memutar yang basah. 

Sentuhan intim itu membuat tubuh Su Hua menegang hebat, panggulnya bergerak naik turun secara tidak sadar mengikuti ritme jilatan Xiao Lin. "Ahhh! Di sana... geli... Tuan... ahh!", jerit Su Hua lirih sambil mencengkeram erat bantal sutra. 

Jilatan yang intens dan isapan lembut Xiao Lin pada bagian sensitifnya berhasil meruntuhkan seluruh pertahanan dingin sang putri. Cairan pelumas alami yang bening dan hangat mulai keluar dengan deras dari dalam lubang vagina Su Hua, membasahi selangkangannya dan menandakan bahwa tubuhnya kini sudah sepenuhnya siap dan terangsang. 

Melihat mainannya sudah sangat basah, Xiao Lin kembali naik menghimpit tubuh Su Hua. Ia memposisikan ujung penisnya yang tebal berurat tepat di depan lubang vagina Su Hua yang basah namun masih sangat sempit dan rapat. 

Dengan satu dorongan pinggul yang kuat dan mantap, Xiao Lin menghujamkan seluruh batang penis besarnya masuk ke dalam hingga amblas ke pangkal rahim. 

"Ahhh! Sa-sakit... ahhh! le-lepas... ahhh!" jerit Su Hua dengan lengkingan tinggi. Rasa sakit yang tajam tetap melanda selangkangannya saat kesucian yang dijaganya selama dua puluh lima tahun robek seketika oleh ukuran kejantanan Xiao Lin. Darah perawan segar mengalir keluar, bercampur dengan cairan pelumas alami dan membasahi seprai sutra di bawah pantatnya. 

Xiao Lin menahan pinggul Su Hua, memberikan waktu beberapa saat agar vagina sang putri beradaptasi dengan ukuran besarnya. Setelah beberapa detik, ia mulai menggerakkan penisnya naik turun dengan ritme yang cepat dan menghantam dalam. Erangan berat penuh kepuasan keluar dari mulut Xiao Lin saat merasakan jepitan dinding vagina Su Hua yang sangat ketat memeras batang kejantannya. 

Perlahan, rasa sakit yang dirasakan Su Hua mulai melebur menjadi gelombang kenikmatan yang panas berkat persiapan yang matang sebelumnya. Jeritan sakitnya berganti menjadi desahan manja yang liar. "Ah... ah... Tuan... terus... hantam lebih dalam... ah!" seru Su Hua sambil mendongakkan kepalanya, menikmati sensasi hantaman penis besar Xiao Lin yang menyentuh bagian terdalam rahimnya. 

Suara benturan kulit paha mereka beradu memenuhi keheningan paviliun malam itu. Tubuh mereka berpeluh, menjadi licin akibat keringat yang keluar seiring dengan kecepatan sodokan Xiao Lin yang semakin menggila. 

Su Hua mencengkeram punggung Xiao Lin, menancapkan kuku-kukunya pada otot-otot besar pria itu saat merasakan rahimnya dikocok berulang kali oleh kejantanan yang tebal. 

Mendekati puncak pelepasan, Xiao Lin meningkatkan kecepatan sodokannya hingga seluruh tubuh Su Hua bergetar hebat. Gerakan pinggulnya berdentum kasar menuntut penyelesaian. Xiao Lin mengerang panjang, "Argghh!", lalu menyemburkan seluruh cairan sperma kental berwarna putih susu dalam jumlah banyak langsung ke dalam rahim Putri Su Hua. 

"Ahhh!" Su Hua memekik panjang, tubuhnya kejang sesaat menerima semburan cairan hangat yang memenuhi rongga perut bagian bawahnya, memberikan kepuasan yang luar biasa. 

Xiao Lin yang kelelahan setelah meluapkan seluruh energinya langsung ambruk, menjatuhkan tubuh kekarnya di atas dada lembut sang putri. Ia membiarkan penis besarnya yang mulai melemas tetap tertanam erat di dalam kemaluan Putri Su Hua yang berdenyut menjepitnya.

***

Tepat seminggu setelah sayembara perburuan agung di Rimba Kematian berakhir, Xiao Lin melangkah gagah melintasi koridor bawah tanah paviliun pribadinya. Di pinggangnya kini tersampir otoritas penuh yang diberikan oleh raja atas kemenangannya. Namun, malam ini, fokus utamanya adalah menagih utang darah dan harga diri yang telah disepakati di atas ranjang rumah bordil beberapa waktu lalu. 

Pintu besi sebuah kamar khusus dibuka oleh pengawal pribadinya. Di dalam ruangan yang hanya diterangi sebatang lilin remang tersebut, Shi Yu sedang berlutut dengan kedua tangan dirantai ke pilar batu. Mantan menteri muda yang dulunya begitu angkuh dan sombong dengan pakaian sutra mewahnya, kini hanya mengenakan selembar kain usang yang menutupi tubuhnya. Wajahnya pucat pasi, dipenuhi keringat dingin sewaktu mendengar langkah kaki berat yang sangat dikenalnya mendekat. 

Xiao Lin berdiri kokoh di hadapan Shi Yu. Aura dominasinya seketika mencekik seisi ruangan yang sunyi tersebut. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Xiao Lin melepaskan sabuk kulitnya, membiarkan jubahnya tersingkap dan menanggalkan pakaiannya hingga tubuh penuh ototnya terpampang bebas. Penisnya yang berukuran sangat besar, panjang, dan dipenuhi urat-urat menonjol seketika menegang keras, lurus mengarah tepat ke wajah Shi Yu yang berada di bawahnya. 

Melihat ukuran kejantanan raksasa yang pernah membantai macan tutul emas itu kini berada hanya beberapa inci dari wajahnya, bulu kuduk Shi Yu meremang hebat. Rasa ngeri yang luar biasa menyerang batinnya. Harga diri dan kesombongannya runtuh sepenuhnya menjadi kepingan tak berharga. 

"Kau... kau benar-benar ingin melakukan kegilaan ini padaku, Xiao Lin?" bisik Shi Yu dengan suara yang bergetar hebat menahan tangis dan rasa takut. 

Xiao Lin menyeringai dingin, sepasang mata tajamnya menatap merendahkan ke arah pria yang dulu menghinanya. "Taruhan tetaplah taruhan, Shi Yu. Kau kalah, dan malam ini kau adalah budak pemuas nafsuku sepenuhnya. Buka mulutmu sekarang sebelum aku meremukkan rahangmu," perintah Xiao Lin dengan suara berat yang penuh penekanan yang mutlak. 

Shi Yu menelan ludah berkali-kali dengan tubuh gemetar pasrah. Sadar tidak ada jalan keluar dan para pengawal di luar adalah orang-orang Xiao Lin, ia perlahan memajukan wajahnya yang lebam. Dengan perlahan dan ragu-ragu, Shi Yu membuka mulutnya lebar-lebar. 

Xiao Lin tidak memberikan waktu bagi korbannya untuk bersiap. Dengan satu dorongan pinggul yang kuat dan kasar, ia langsung menghujamkan seluruh jengkal batang penis besarnya masuk ke dalam mulut Shi Yu, menembus hingga ke pangkal tenggorokan. 

"Ughh! Uhuk!" Shi Yu memekik tertahan, matanya mendelik lebar seketika saat jalan napasnya tersumbat total oleh ketebalan penis Xiao Lin. 

Air mata Shi Yu mengalir deras membasahi pipinya yang kaku, menahan rasa mual yang luar biasa hebat yang menyerang kerongkongannya. Xiao Lin mencengkeram rambut Shi Yu dengan jemarinya yang kekar, mengunci kepala pria itu agar tidak bisa bergerak mundur, memaksa Shi Yu untuk bergerak maju mundur mengulum dan mengisap batangnya yang tebal hingga air liur Shi Yu melumuri seluruh permukaan penisnya sebagai pelumas alami. 

"Isap lebih dalam, bajingan! Buat ini basah!" geram Xiao Lin sembari memejamkan mata menikmati hisapan ketat dari mulut korbannya. 

Shi Yu, terdorong oleh insting bertahan hidup dan rasa nikmat yang aneh yang mulai menjalar dari tenggorokannya, mulai membalas gerakan pinggul Xiao Lin dengan menjilati ujung penis tersebut secara rakus setiap kali Xiao Lin menariknya keluar setengah jalan. Suara hisapan yang basah memenuhi seluruh ruangan yang remang tersebut. Setelah dirasa penisnya sudah sepenuhnya basah oleh air liur Shi Yu, Xiao Lin menarik keluar kejantatannya dari mulut menteri muda itu dengan sentakan kasar. 

"Sekarang, berbaliklah dan angkat pinggulmu," perintah Xiao Lin dingin. 

Shi Yu yang napasnya sudah terengah-engah dan sudut bibirnya berlumur air liur segera membalikkan tubuhnya yang terikat, memunggungi Xiao Lin dalam posisi menungging pasrah di atas lantai batu yang dingin. Kain usangnya ditarik paksa oleh Xiao Lin, menyingkap bagian belakang tubuhnya tanpa pembatas. 

Xiao Lin memposisikan ujung penis besarnya yang tebal berurat, yang kini sudah licin oleh air liur Shi Yu, tepat di depan lubang anus Shi Yu yang tegang ketakutan. Dengan satu dorongan pinggul yang sangat kuat dan kasar, Xiao Lin langsung menghujamkan seluruh jengkal batang penis besarnya masuk ke dalam hingga amblas menembus bagian terdalam anus Shi Yu. 

"Arghhh! Sakit! Lepas... ahhh!" Shi Yu menjerit histeris dengan lengkingan tinggi, matanya mendelik lebar seketika saat rongga tubuh bagian belakangnya diregangkan secara paksa oleh ukuran raksasa Xiao Lin. 

Darah segar menetes keluar dari sela-sela lipatan anusnya yang robek, mengalir membasahi paha bagian dalam dan lantai batu di bawahnya. Namun, rasa sakit yang teramat parah itu perlahan mulai bercampur dengan sensasi panas yang membakar saat Xiao Lin menahan pinggulnya dan membiarkan dinding anus Shi Yu menjepit erat batangnya. 

Xiao Lin mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur dengan ritme yang cepat, kasar, dan bertenaga. Setiap hunjaman dalam yang dilayangkannya menimbulkan suara benturan kulit yang keras beradu di dalam ruangan yang sunyi tersebut. Shi Yu, yang awalnya hanya mengerang kesakitan, perlahan mulai mengikuti irama gerakan Xiao Lin. Pinggulnya yang dirantai mulai bergerak mundur secara tidak sadar, menyambut setiap hantaman keras Xiao Lin seolah menyerahkan seluruh tubuhnya untuk dikuasai. 

"Ahhh! Xiao Lin... ter-terlalu dalam... ahh!" jerit Shi Yu sembari mendongakkan kepalanya ke atas, matanya berair memancarkan campuran rasa sakit dan kenikmatan gila yang menghantam sistem sarafnya. 

"Kau menyukainya, bukan? Katakan padaku, bajingan!" geram Xiao Lin dengan napas yang memburu panas, semakin mempercepat sodokannya tanpa ampun. Otot-otot paha dan punggungnya menegang liat seiring dengan kecepatan sodokan yang kian memuncak, mengocok isi perut Shi Yu dari belakang. 

"Ya... ahh! Masuk lebih dalam lagi... hantam aku!" sahut Shi Yu pasrah, tangannya mencengkeram rantai besi erat-erat dengan tubuh yang bergetar hebat melayani setiap debaran gairah Xiao Lin. 

Mendekati puncak pelepasan, Xiao Lin mempererat remasan tangannya di pinggang Shi Yu, menghujamkan penis besarnya sedalam mungkin dengan beberapa hentakan kasar berturut-turut. Tubuh Xiao Lin menegang hebat, dadanya naik turun dengan cepat menahan sensasi nikmat yang meledak di selangkangannya, sementara Shi Yu menjerit tinggi merasakan rahim bagian belakangnya ditekan habis-habisan. 

"Argghh!" Xiao Lin mengerang panjang penuh kepuasan, lalu menyemburkan seluruh cairan sperma kental berwarna putih susu dalam jumlah yang sangat banyak langsung ke dalam lubang anus Shi Yu, memenuhi rongga dalam pantat mantan menteri tersebut dengan cairan hangatnya. 

Xiao Lin menarik keluar kejantatannya yang basah bercampur darah dan cairan tubuh dengan kasar. Shi Yu langsung ambruk tersungkur lemas di lantai batu dengan napas terengah-engah, memegangi selangkangannya yang berdarah dan berlumur sisa cairan putih kental. Ia menatap dinding dengan pandangan kosong yang hancur total, namun tubuhnya masih bergetar sisa pelepasan gila tadi. 

Xiao Lin mengenakan kembali pakaian kulitnya dengan tenang tanpa memedulikan kondisi budaknya yang mengenaskan. 

"Ini baru permulaan, Shi Yu. Setiap minggu, kau akan tetap berada di bawah selangkanganku seperti ini untuk melayani setiap gairahku," ucap Xiao Lin dingin sebelum melangkah pergi meninggalkan kamar bawah tanah tersebut, menutup pintu besi dengan rapat.

Memuat daftar chapter...
[X]