REIN: Perubahan Diri
Xiao Lin memaksakan kakinya melangkah menembus semak berduri yang tumbuh rapat di jantung hutan terlarang. Suara napasnya terdengar sangat berat dan tidak beraturan karena beban lemak yang menyelimuti seluruh tubuhnya. Ia berhenti tepat di depan sebuah batu besar setinggi pinggang. Ia mencoba mengangkat batu itu menggunakan seluruh tenaga yang tersisa di lengannya. Otot lengannya yang lembek bergetar hebat saat mencoba menahan beban yang sangat besar itu. Rein memacu pikiran Xiao Lin dengan satu perintah keras. Ia harus membuang semua tumpukan daging yang menjijikkan ini secepat mungkin agar bisa bertahan hidup.
Sinar matahari membakar kulit punggungnya yang penuh dengan luka koreng meradang. Keringat asin mengucur deras dari kening, merembes masuk ke dalam lipatan lemak di leher yang terasa perih. Keringat itu terus mengalir ke bawah, membuat kain yang menutup selangkangannya menjadi basah dan lembap. Kain kasar itu bergesekan langsung dengan kulit paha bagian dalamnya yang sudah lecet parah. Setiap kali ia melangkah, rasa perih yang menusuk membuatnya ingin menyerah, namun Xiao Lin terus memaksa tubuhnya bergerak merangkak menaiki tebing batu yang curam. Jari-jarinya mulai mengeluarkan darah segar yang membekas di permukaan batu yang kasar.
"Aku akan membuat kalian semua berlutut dan menjilat kakiku," desis Xiao Lin sambil menahan rasa sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya.
Berbulan-bulan lamanya, ia menyiksa dirinya sendiri dengan berbagai macam latihan fisik yang sangat ekstrem. Xiao Lin melakukan gerakan squat sebanyak ratusan kali setiap pagi sambil memikul batang pohon yang besar dan basah. Ia berlari mendaki perbukitan terjal tanpa henti sampai dadanya terasa sesak dan mau meledak. Ia hanya memakan akar-akaran pahit dan daging ular hutan mentah yang ia tangkap sendiri. Tumpukan lemak yang dulu menggelambir di pinggangnya kini mulai hilang. Kulitnya yang dulu putih pucat dan kotor sekarang berubah menjadi cokelat matang yang terlihat jauh lebih sehat dan kuat menghadapi cuaca hutan yang ganas.
Sambil melatih fisiknya, Rein menggunakan ketajaman otaknya untuk memetakan wilayah sekitar. Ia berhasil menemukan sekelompok tanaman liar yang tumbuh di tebing yang sangat tinggi. Tanaman itu merupakan akar ginseng langka yang sudah berumur ratusan tahun. Penduduk wilayah utara yang bodoh tidak akan pernah tahu kalau tanaman itu memiliki nilai jual yang setara dengan emas murni di kota besar. Xiao Lin mencabut akar itu dengan sangat hati-hati dan menyimpannya sebagai modal utama untuk membangun kembali kejayaannya yang telah hancur.
Suatu siang yang sangat terik, Xiao Lin berdiri di bawah kucuran air terjun yang tersembunyi di dalam gua batu. Ia menanggalkan semua kain kotor yang menutupi tubuhnya sampai ia telanjang bulat. Ia memperhatikan setiap inci perubahan pada tubuhnya melalui bayangan di permukaan air yang sangat jernih. Dada yang dulu bergelambir kini sudah berubah menjadi tumpukan otot padat yang sangat keras. Perut buncitnya sudah menyusut total, menampakkan garis-garis otot perut yang tajam dan dalam. Bahunya melebar secara signifikan, memberikan kesan dominan yang sangat kuat.
Xiao Lin menunduk untuk melihat penisnya yang sekarang terlihat sangat jelas tanpa terhalang apa pun. Organ vitalnya itu tidak lagi tenggelam di balik tumpukan lemak perut yang memuakkan. Ia memegang penisnya yang mulai menegang dan berdenyut kuat karena aliran darah yang sangat lancar setelah ia memiliki tubuh yang bugar. Batang penisnya terlihat sangat kokoh, panjang, dengan urat-urat yang menonjol secara maskulin. Ia membasuh penisnya menggunakan air terjun yang dingin dan segar. Ada sensasi gairah yang sangat kuat membangkitkan kejantanannya yang sempat hilang. Ukuran dan kekuatannya sekarang berada dalam kondisi yang sangat ideal untuk menaklukkan wanita mana pun yang ia inginkan.
Setelah selesai membersihkan diri, ia mengenakan pakaian baru yang ia jahit sendiri dari kulit binatang buruannya. Pakaian itu melekat sangat ketat di tubuhnya yang sekarang terlihat sekel dan penuh dengan otot liat. Setiap langkah yang ia ambil memancarkan aura pria penguasa yang sangat dingin. Xiao Lin mengumpulkan tumpukan akar ginseng langka yang sudah ia cuci bersih. Ia mulai menyusun rencana strategis untuk masuk ke pusat kota dengan identitas yang sama sekali baru.
Ia merasa sudah sangat siap untuk kembali ke tengah masyarakat. Ia membawa kecerdasan Rein dalam bernegosiasi dan raga Xiao Lin yang sudah bertransformasi menjadi pria tampan yang sangat berbahaya. Langkah kakinya terasa sangat ringan saat ia meninggalkan hutan menuju wilayah utara. Rencana besar untuk merebut kekayaan, membalas dendam, dan memikat banyak wanita cantik sudah tersusun sangat rapi di dalam pikirannya. Ia tidak akan membiarkan siapa pun berani merendahkan dirinya lagi di dunia ini.
BACA JUGA
Post a Comment