REIN: Perubahan Diri

Kehampaan dan kedinginan yang sebelumnya Rein rasakan, seketika berubah menjadi panas yang menyengat ubun-ubun kepalanya. Bau busuk bangkai ikan bercampur kotoran kuda menyerbu indra penciuman Rein secara brutal. Ia terbatuk-batuk, mencoba meraup oksigen untuk paru-parunya, tetapi rongga dadanya terasa sangat berat. 

Saat kelopak matanya dipaksa terbuka, Rein menyadari wajahnya sedang menempel di atas tanah becek yang dipenuhi lumpur hitam berbau limbah. Rasa bingung bercampur ngeri melanda benaknya. Bukannya aku baru saja mati di dalam kabit jet pribadi? Tempat menjijikkan apa ini? 

"Bangun kau, babi pemalas! Jangan mati di depan kedai kami!" teriak sebuah suara pria parau yang menggelegar dari atas kepalanya. 

Dug! 

Sebuah tendangan sepatu laras kasar mendarat telak tepat di pinggang Rein. Rasa sakitnya menjalar hebat, membuat Rein mengerang kesakitan. Insting bertarungnya bergejolak. Sebagai seorang pria bugar yang terbiasa berlatih fisik di pusat kebugaran mewah, Rein berniat melakukan gerakan memutar tangkas untuk bangkit dan menghajar pria yang baru saja menendangnya. 

Sial, tubuhnya menolak patuh. Rein merasa jiwanya seperti terperangkap di dalam tumpukan gumpalan daging yang sangat tebal, berat, dan lembek. Butuh usaha luar biasa hanya untuk sekadar membalikkan badan ke posisi terlentang. 

Begitu berhasil berguling, Rein terperanjat setengah mati saat melihat kedua tangannya sendiri. Jari-jari tangan itu pendek, bengkak, dengan sela-sela kuku yang pecah dan dipenuhi daki hitam yang tebal. Ini bukan tangannya yang kekar dan bersih. 

Rein memaksakan pandangannya turun ke arah bawah dada. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat tumpukan lemak raksasa menyembul liar dari balik kain kusam yang sudah robek-robek. Gelambir perut itu menggantung parah, menutupi pangkal paha yang dipenuhi oleh koreng basah yang mengeluarkan rembesan nanah kuning berbau amis. 

Rein terengah-engah, batinnya menjerit menolak kenyataan. Sosok menjijikkan yang kini ia tempati adalah Xiao Lin, pria yang selama ini menjadi bahan tertawaan dan keset kaki di seluruh wilayah Istana Utara. Kenyataan pahit ini seketika membakar habis seluruh harga diri Rein yang selama ini selalu hidup bergelimang kekuasaan dan kemewahan. 

"Lihatlah makhluk ini, Wei Lan. Bagaimana bisa ada manusia yang bentuknya lebih buruk dari seekor babi hutan?" 

Sebuah suara wanita yang melengking tinggi terdengar memecah suasana, memancing kerumunan orang pasar untuk mulai berkumpul dan membentuk lingkaran. Mereka semua menonton sambil menunjuk-nunjuk tubuh tambun di atas tanah. 

Wei Lan, pelayan kedai berwajah cantik namun bermulut tajam, berdiri di barisan paling depan sambil memegang sebuah ember kayu kosong. Di sebelahnya, Ning Xi—pelayan kedai lainnya—tertawa geli seraya mencibir ke arah lipatan lemak di leher Xiao Lin yang basah oleh keringat berbau asam. 

Wei Lan melangkah maju dengan angkuh. Ia menggunakan ujung sepatunya yang kotor oleh tanah pasar untuk menekan dada Xiao Lin. Tanpa rasa iba, wanita itu menginjak dan menekan bagian puting Xiao Lin di balik kain tipis itu secara kasar menggunakan kakinya.

 "Ughh..." Xiao Lin merintih, menahan perih yang menusuk. Ia mencoba mengerahkan seluruh tenaga untuk berdiri, tetapi napasnya mendadak tersengal-sengal. Berat badannya sendiri menjadi beban yang teramat menyiksa. Keringat bercampur daki mengalir deras dari dahi, masuk ke sela mata dan membuat pandangannya terasa sangat perih. 

Wei Lan yang melihat ekspresi menderita di wajah bulat dan tembam pria itu justru tertawa semakin puas. Sorak-sorai dari para pedagang sayur dan tukang jagal di sekitar mereka semakin riuh, menikmati penghinaan terhadap pria malang ini. 

"Dagingmu yang melimpah ini bahkan bisa memberi makan seluruh anjing liar di desa ini selama sebulan penuh, Xiao Lin! Cepat pergi dari hadapanku sebelum aku menyiram seluruh tubuh busukmu dengan air mendidih!" bentak Wei Lan dengan mata mendelik galak. 

Cuih! 

Wei Lan meludah dengan kasar, tepat sasaran ke arah wajah Xiao Lin. Cairan ludah yang kental itu mendarat di pipi kirinya yang tembam. 

Seorang pedagang daging di seberang jalan yang ikut terhibur melempar sepotong urat sisa yang sudah dihinggapi lalat ke arah dada Xiao Lin. "Ini, ambil makan siangmu, babi hutan!" teriaknya, memicu gelak tawa anak-anak kecil yang mulai melemparinya dengan kerikil. 

Rein yang berada di dalam tubuh tambun itu benar-benar buta arah. Ia tidak tahu siapa dirinya sekarang, di mana dia berada, dan ke mana harus melangkah untuk pulang. Di tengah keputusasaan dan kepungan warga pasar yang terus melemparinya, tiba-tiba sebuah bayangan besar menerobos kerumunan. 

"Minggir kalian semua! Jangan ganggu dia lagi!" teriak sebuah suara lantang yang berat. Seorang pria bermata satu dengan tubuh tegap penuh bilur luka bekas perang maju, menghalau anak-anak kecil dan pedagang yang melempar kerikil. Pria itu bernama Lao Mo, satu-satunya orang di wilayah Istana Utara yang menganggap Xiao Lin sebagai sahabat sekaligus berutang budi pada mendiang orang tua Xiao Lin. 

Lao Mo berlutut di lumpur, merangkul pundak lebar Xiao Lin yang gemetar. "Xiao Lin, kau tidak apa-apa? Ayo bangun, mari kita pulang ke gubukmu," ucap Lao Mo dengan nada khawatir, mengabaikan bau asam yang menyengat dari tubuh gemuk sahabatnya itu. 

Lao Mo memapah tubuh tambun Xiao Lin dengan sabar. Berat tubuh Xiao Lin yang luar biasa membuat Lao Mo harus mengerahkan seluruh tenaga, membiarkan Xiao Lin bersandar pada pundak tegapnya sepanjang jalan melewati pinggiran pasar menuju arah Hutan Terlarang. Tanpa bantuan Lao Mo, Rein pasti sudah mati kelaparan atau dipukuli sampai tewas di tengah pasar karena tidak tahu arah jalan pulang. 

Sesampainya di sebuah gubuk reyot yang nyaris roboh di pinggiran hutan, Lao Mo membantu Xiao Lin duduk di atas bale-bale bambu yang lapuk. Melihat kondisi sahabatnya yang sangat mengenaskan dengan tubuh kotor dan penuh luka, Lao Mo menghela napas panjang penuh rasa iba. 

"Tunggu di sini, jangan bergerak dulu. Aku ambilkan air," kata Lao Mo sembari berjalan ke belakang gubuk. 

Tak lama kemudian, Lao Mo kembali dengan membawa seember air bersih dan mangkuk tanah liat berisi ramuan tumbukan daun sirih serta minyak kelapa tua untuk mengobati luka. Lao Mo mengambil selembar kain usang, mencelupkannya ke dalam air, lalu dengan sabar mulai menyeka daki, lumpur hitam, serta sisa ludah warga pasar yang menempel di wajah tembam dan leher berlapis Xiao Lin. 

Setelah memberikan pembersihan dasar di bagian atas, Lao Mo membantu Xiao Lin menanggalkan pakaian kotornya yang sudah robek-robek hingga pria tambun itu berdiri tanpa busana. Lao Mo menyiramkan air secara perlahan untuk membersihkan tumpukan lemak perut bawah yang menggantung tebal. Saat air mengalir ke selangkangan, Lao Mo meringis melihat koreng basah yang mengeluarkan rembesan nanah kuning berbau amis di sela paha Xiao Lin. 

"Ini akan terasa sangat perih, tahan sedikit," ucap Lao Mo seraya mengambil ramuan daun sirih, lalu melumurkannya dengan hati-hati ke kulit paha Xiao Lin yang lecet parah. 

"Ughhh..." Xiao Lin mengatupkan rahangnya rapat-rapat, membiarkan tubuh tambunnya menegang demi menahan sensasi terbakar yang luar biasa menyengat dari obat herbal tersebut. Ia memilih diam membisu agar Lao Mo tidak mengkhawatirkannya. 

Rein, yang kini berada di dalam raga Xiao Lin, memanfaatkan momen itu untuk menundukkan kepala, menatap pantulan dirinya di dalam ember air yang perlahan tenang. Wajah bulat itu dipenuhi oleh jerawat batu yang meradang kemerahan, dagunya berlapis-lapis penuh gelambir, dan penisnya bahkan hampir tidak terlihat sama sekali karena tertutup sempurna oleh lemak perut. 

Melihat rupa barunya yang seperti babi, seisi dada Rein bergejolak hebat oleh rasa hina dan dendam yang membara. Di dalam batinnya, Rein bersumpah dengan sangat kejam: Aku akan menghancurkan setiap jengkal lemak menjijikkan ini. 

Lao Mo yang selesai membalut luka paha Xiao Lin menepuk pundak lebar sahabatnya itu dengan hangat. "Istirahatlah dulu. Ini ada sedikit roti kering untukmu mengganjal perut malam ini. Besok pagi aku akan ke sini lagi untuk membawakan makanan yang lebih layak. Jangan ke pasar itu lagi sendirian," kata Lao Mo ramah, lalu melangkah keluar meninggalkan gubuk untuk pulang ke rumahnya. 

Setelah Lao Mo benar-benar pergi dan suasana gubuk menjadi sunyi, Rein menarik napas dalam-dalam. Kebaikan tulus Lao Mo membuatnya tersentuh, tetapi harga diri Rein menolak untuk terus-menerus menjadi beban dan dikasihani sebagai pria cacat yang tidak berdaya. Ia harus bergerak cepat tanpa menunda waktu lagi. 

Xiao Lin mengambil selembar arang kecil dari sisa pembakaran di sudut gubuk, lalu merobek sepotong kain putih dari sisa baju kotornya. Menggunakan sisa pengetahuannya, ia menuliskan sebaris pesan singkat untuk sahabatnya:

Lao Mo, aku pergi mengembara untuk melatih diri dan mengubah nasibku. Jangan mencari atau mengkhawatirkan keadaanku. Aku pasti akan kembali dalam keadaan yang berbeda. Terima kasih atas segalanya. 

Pesan itu ia letakkan tepat di atas mangkuk ramuan obat agar langsung terlihat oleh Lao Mo esok pagi. Batin Rein kembali menegaskan janji pada dirinya sendiri bahwa ia akan menempa tubuh babi ini menjadi sebuah senjata yang paling mematikan. Siapa pun yang hari ini telah meludahinya, menendangnya, dan merendahkan harga dirinya di pasar tadi, harus bersiap menerima pembalasan dendam yang paling kejam. 

Tanpa memedulikan rasa lapar, Xiao Lin langsung mengemas sebuah buntalan kain usang dengan tergesa-gesa. Ia segera menyelinap keluar lewat pintu belakang gubuk, memutuskan untuk melarikan diri jauh ke dalam jantung Hutan Terlarang sendirian. Ia ingin menjauh sepenuhnya dari peradaban manusia agar bisa fokus menyiksa dirinya tanpa ada gangguan dari siapa pun. Rencana pembalasan dendamnya yang besar akan ia susun dari dalam kegelapan belantara tersebut. 

Sinar matahari membakar kulit punggung penuh luka koreng meradang. Keringat asin mengucur deras dari keningnya, merembes masuk ke dalam lipatan lemak di lehernya. Keringat itu terus mengalir ke bawah, membuat kain penutup selangkangannya menjadi basah dan lembap. Kain kasar itu bergesekan langsung dengan kulit paha bagian dalam, hingga membuat kulitnya lecet kembali. 

Setiap langkah membawa rasa perih menusuk, tapi Xiao Lin terus memaksa tubuhnya bergerak merangkak menaiki tebing batu yang curam di dalam hutan. Jari-jarinya mulai mengeluarkan darah segar membekas di permukaan batu kasar. 

"Aku akan membuat kalian tunduk di bawah kakiku," desis Xiao Lin sambil menahan rasa sakit luar biasa di sekujur tubuhnya. 

***

Tahun-tahun berlalu di dalam keheningan belantara, dan waktu tiga tahun sudah lebih dari cukup bagi Xiao Lin untuk meruntuhkan raga lamanya. Melalui siksaan tanpa ampun berupa gerakan squat ratusan kali setiap pagi dengan beban batang pohon basah, serta lari mendaki perbukitan terjal hingga paru-parunya serasa mau meledak, perubahan besar itu akhirnya nyata. Pola makan ketat dengan memanfaatkan segala jenis sumber daya alam yang ada di hutan, mulai dari buah-buahan liar, akar-akaran, hingga daging hewan buruan hasil tangkapannya sendiri, telah mengikis habis seluruh tumpukan lemak di pinggangnya. Kulit yang dulunya putih pucat penuh daki kini telah berganti menjadi cokelat matang yang bersih, membungkus deretan otot padat yang jauh lebih kuat dari siapa pun di pasar dulu. 

Selama masa penempaan raga tersebut, ketajaman berpikir Rein tidak pernah tumpul. Sejak tahun pertama menjejakkan kaki di Hutan Terlarang, ia sudah memetakan setiap jengkal wilayah sekitar dan menemukan harta karun tersembunyi di tebing-tebing tinggi, yaitu koloni akar ginseng langka berumur ratusan tahun. 

Sadar bahwa penduduk wilayah utara masih buta akan ilmu pengobatan herbal modern dan menganggapnya semak liar biasa, Xiao Lin telah memanen akar-akar berharga itu secara berkala sepanjang sisa tahunnya di sana. Ia mengeringkan dan menyimpan timbunan ginseng tersebut dengan sangat rapi di tempat rahasia, di dalam goa batu yang ia jadikan tempat tinggalnya. 

Tanaman yang sejatinya bernilai setara emas murni di kota besar itu kini telah terkumpul dalam jumlah yang melimpah, siap dijadikan modal utama yang sangat besar untuk membangun kembali kehidupannya.

***

Di suatu siang yang terik, Xiao Lin berdiri di bawah kucuran air terjun tersembunyi di dalam gua batu. Ia menanggalkan semua kain kotor penutup tubuhnya sampai ia telanjang bulat. Xiao Lin memperhatikan setiap inci perubahan pada tubuhnya melalui bayangan di permukaan air yang jernih. 

Dadanya yang dulu bergelambir, kini berubah menjadi tumpukan otot padat yang keras. Perut buncitnya pun sudah menyusut total, menampakkan garis-garis otot perutnya yang tajam dan dalam. Bahunya pun ikut melebar secara signifikan, memberikan kesan dominan yang kuat. 

Saat menunduk, Xiao Lin kini dapat melihat penisnya dengan jelas tanpa terhalang apa pun. Organ vitalnya itu kini tidak lagi tenggelam dalam balik tumpukan lemak perut yang memuakkan. Ia pun memegang penisnya yang mulai menegang dan berdenyut kuat karena aliran darah lancar setelah ia memiliki tubuh bugar. Batang penisnya terlihat kokoh, panjang, dengan urat-urat yang menonjol. 

Xiao Lin mulai melingkarkan jemarinya yang kuat pada pangkal kejantanannya. Dengan perlahan, ia mengocok batang penisnya yang keras itu naik dan turun. Gesekan telapak tangannya yang hangat membuat kepala penisnya yang kemerahan semakin tegang dan mengeluarkan sedikit cairan bening di ujungnya. Gairah kejantanannya yang sempat hilang kini bangkit sepenuhnya, berdenyut kencang menuntut pelepasan. 

Napasnya memburu, berat dan panas. Xiao Lin mempercepat gerakan remasan dan ketukan tangannya pada batang penisnya yang semakin menegang tebal. Sensasi nikmat yang panas semakin kuat menjalar ke seluruh selangkangan, membuatnya tidak bisa lagi menahan diri. Ia mulai mengerang pelan, "Ah... ah...," suaranya parau menahan kenikmatan. 

Gerakan tangannya semakin cepat dan kasar, matanya terpejam erat, kepalanya mendongak ke belakang menikmati setiap gesekan. "Sedikit lagi... ah!", serunya, napasnya semakin putus-putus. Pinggulnya mulai bergerak-gerak mengikuti irama tangannya. Hingga akhirnya, tubuhnya menegang hebat, dadanya naik turun dengan cepat.

Crott! Crott!

Cairan sperma kental berwarna putih susu menyembur keluar dengan deras dari ujung penisnya, membasahi tangannya dan bebatuan di sekitarnya. Xiao Lin mengerang panjang, "Argghh!", pelepasan yang begitu nikmat dan memuaskan. Tubuhnya pun perlahan rileks, napasnya berangsur normal kembali. 

Setelah mencapai puncak pelepasan yang maksimal, ia membasuh seluruh tubuhnya di bawah pancuran kesegaran air terjun yang dingin. Aura Xiao Lin kini tampak berbeda. Kegelapan dan keputusasaan yang dulu menyelimuti dirinya kini telah sirna, digantikan dengan semangat dan kekuatan baru.

Setelah selesai membersihkan diri, ia mengenakan pakaian baru hasil jahitannya sendiri dari kulit binatang buruannya. Pakaian itu melekat ketat di tubuhnya. Xiao Lin kini terlihat padat dan penuh otot yang liat. Langkahnya memancarkan aura pria penguasa dingin. Xiao Lin mengumpulkan akar ginseng langka yang telah dicuci bersih, lalu mulai menyusun rencana untuk masuk ke pusat kota dengan identitas baru.

Memuat daftar chapter...
[X]