REIN: Mengubah Takdir Kematian

Sontak Xiao Lin tersentak bangun dengan napas memburu. Ia meraup udara yang ada di sekitarnya hingga membuat dadanya sakit. Ia meraba permukaan dada yang sebelumnya dibalut jubah dari sutra. Namun, jemarinya hanya merasakan jas halus yang sedikit kasar. Saat ini melihat pantulan dirinya, ia menyadari, bawah dirinya kembali, kembali menjadi Rein. 

Di kabin pesawat jet pribadinya itu, Xiao Lin, bukan, Rein, melihat sekeliling dengan tatapan waspada. Selang beberapa menit, pintu kabin terbuka perlahan. Alice melangkah masuk dengan gayanya yang anggun, membawa sebotol wine merah dan dua gelas kristal. 

Rein seperti de javu, momen yang terjadi ini persis dengan detik-detik sebelum kematiannya. Tiba-tiba, amarah dalam hatinya memuncak mengingat rasa sakit yang luar biasa hebat saat racun menghancurkan sarafnya; mengingat Enzo yang menertawakannya sebelum kematiannya.

Alice mendekat, lalu membungkuk di depan Rein, menonjolkan belahan dadanya yang putih itu dengan jelas. Ia memberikan senyuman yang menggoda itu kepada tuannya seraya menuangkan winenya ke dalam gelas. Namun, Rein yang sudah paham maksudnya menganggap itu hanyalah senyum pengkhianatan.

"Anda terlihat sangat tegang, Tuan Rein. Minumlah, ini akan merilekskan pikiran Anda," ucap Alice dengan nada suara mendesah.

Rein menatap gelas kristal itu dengan tatapan dingin. Ia tahu betul, jika di dalam cairan merah itu, ada racun yang siap merenggut nyawanya. Alih-alih mengambil gelas itu. Rein justru mencengkeram leher Alice dengan penuh kekuatan. Dalam cengkraman itu, Alice membelalak ketakutan. Gelas kristal di tangannya itu pun jatuh, pecah berkeping-keping di atas lantai kabin. Cairan wine yang mengandung racun mematikan itu pun tumpah, cipratannya mengotori area sekelilingnya.

"Katakan pada Enzo, trik murahan ini tidak mempan untukku," desis Rein dengan suaranya yang mengancam.

Tubuh Alice gemetar hebat dalam cengkeraman tangan Rein yang kuat. Wajahnya pucat pasi. Ia tidak mengerti bagaimana tuannya bisa tahu rencananya ini, bahkan sampai menyebut nama Enzo, dalang di balik pengkhianatan ini. 

Rein menarik tubuh Alice ke atas pangkuannya secara paksa. Ia merobek rok ketat yang dikenakan Alice hingga hancur. Rein melepaskan ikat pinggangnya dengan satu tangan. Penisnya yang besar, panjang, dan tegang itu pun langsung menyembul keluar. Ia memposisikan Alice tepat di atas penisnya. 

"Aku akan memberikanmu pelajaran sebelum menghabisi bajingan itu," kata Rein dengan nada penuh amarah.

Tanpa basa-basi, Rein menghujamkan penisnya masuk ke dalam liang senggama Alice. Wanita itu langsung menjerit keras saat merasakan penis tuannya menembus hingga ke pangkal rahimnya. Rein menggoyangkan pinggulnya maju mundur dengan sangat amat kasar menggunakan seluruh tenaganya Tubuh Alice dipaksa menahan tekanan tuannya di atas kursi kabin. Setiap kali Reain menghujamkan penisnya, ia merasakan sensasi nikmat dan amarah yang bercampur menjadi satu.

Rein pun menyemburkan spermanya ke dalam rahim Alice dengan erangan penuh amarah. Ia kemudian melempar wanita itu ke lantai kabin secara kasar, lalu mengambil ponsel satelit miliknya yang ada di atas meja kerja di dalam kabin. 

Tanpa pikir panjang, Rein langsung menghubungi unit keamanan pribadinya untuk segera menjemputnya di tempat pendaratan. 
Memuat daftar chapter...
[X]