REIN: Balas Dendam

Langkah kaki yang berat terdengar dari arah kokpit. Pintu penghubung terbuka dan sosok Enzo muncul dengan senyum lebar yang terlihat menjijikkan. Pria itu memegang pistol di tangan kanannya. Ia mengira Rein sedang meregang nyawa di atas lantai kabin akibat racun mematikan dari Alice. Senyum itu seketika lenyap saat ia melihat Rein berdiri tegak dengan aura penguasa yang sangat menekan. Rein berdiri kokoh di samping Alice yang tergeletak lemas tanpa busana. Celana Rein masih melorot di bawah pinggang, memperlihatkan penisnya yang besar, panjang, dan sangat berurat yang masih menegang hebat.

"Kenapa kau masih hidup?" teriak Enzo dengan suara yang bergetar karena terkejut.

Rein mengabaikan pertanyaan itu. Raga Rein bergerak dengan kecepatan yang luar biasa. Ia menggunakan teknik gerak cepat dari masa lalunya sebagai Xiao Lin. Sebelum Enzo sempat menarik pelatuk pistolnya, Rein sudah berada tepat di depan wajah pria itu. Rein mencengkeram pergelangan tangan Enzo dengan kekuatan yang sangat besar. Suara tulang yang patah terdengar jelas di dalam kabin yang sunyi itu. Enzo menjerit kesakitan saat pistolnya jatuh ke lantai. Penis Rein yang perkasa berayun di depan mata Enzo, menambah rasa ngeri dan penghinaan bagi sang rival.

Rein menghantamkan tinjunya yang sekeras baja ke ulu hati Enzo. Pukulan itu membuat Enzo tertekuk dan memuntahkan cairan empedu. Rein terus menyerang. Ia menjambak rambut Enzo lalu membenturkan wajah lawannya itu ke meja bar kristal berkali-kali. Darah segar menyembur dan mengotori kemeja putih mahal milik Rein. Rein merasakan kepuasan yang luar biasa saat melihat rival bisnisnya itu hancur berantakan di bawah kakinya.

"Kau terlalu lemah untuk menjadi musuhku," desis Rein tepat di telinga Enzo yang sudah setengah sadar.

Rein menyeret tubuh Enzo ke arah Alice. Ia memaksa Enzo untuk merangkak di atas lantai kabin yang dingin. Rein menendang wajah Enzo dengan sepatu pantofelnya sampai hidung pria itu remuk. Kemarahan Rein dari ingatan masa depan menyatu dengan kekuatan otot Xiao Lin. Ia merasa tubuhnya sangat kuat dan penuh energi yang meluap. Rein melihat Alice mencoba menjauh. Rein menginjak punggung Alice dengan sangat keras sampai wanita itu mengerang kesakitan di bawah kakinya.

Kejantanan Rein yang besar dan berurat masih dalam kondisi sangat tegang. Rein memaksa Enzo untuk menungging di hadapannya sementara tangannya yang lain menjambak rambut Alice agar wanita itu mendekat. Rein memasukkan penisnya yang besar ke dalam lubang belakang Enzo secara paksa. Enzo menjerit kesakitan yang luar biasa saat kejantanan Rein merobek paksa harga dirinya hingga berdarah. Rein bergerak dengan ritme yang sangat kasar, menghantam lubang belakang Enzo tanpa ampun.

Sambil terus menghajar lubang belakang Enzo, Rein menarik kepala Alice agar wanita itu menjilat dan mengulum penisnya dari arah depan. Rein menggunakan kedua pengkhianat ini secara bersamaan untuk memuaskan dendamnya. Suara benturan daging dan rintihan kesakitan memenuhi ruangan pesawat jet pribadi tersebut. Rein merasa sangat dominan, ia memperlakukan Enzo dan Alice seperti binatang peliharaan yang tidak berharga. Rein mempercepat gerakannya, menghujam lubang belakang Enzo sampai pria itu menangis memohon ampun.

Rein menarik penisnya keluar dari tubuh Enzo, lalu segera memasukkannya kembali ke dalam mulut Alice yang sudah menganga. Setelah merasa cukup, Rein mengeluarkan spermanya yang panas dan kental ke wajah Alice dan punggung Enzo. Ia membiarkan cairan putih itu berlumuran di tubuh mereka. Rein tetap membiarkan celananya melorot dan penisnya terpampang nyata sebagai simbol kekuasaannya. Ia mengambil pistol milik Enzo yang tergeletak di lantai. Rein mengarahkan moncong senjata itu tepat ke dahi Enzo.

"Aku akan mengambil semua milikmu. Aku akan menghapus namamu dari dunia ini," ucap Rein dengan nada yang sangat dingin.

Rein menekan tombol pada ponsel satelitnya. Ia memerintahkan tim elit keamanannya untuk mencegat pesawat ini di bandara pribadi. Ia memerintahkan penghancuran seluruh saham milik Enzo dalam waktu satu jam ke depan. Rein duduk di kursi kebesarannya dengan kaki terbuka lebar, memperlihatkan penisnya yang mulai rileks. Ia menatap dua pengkhianat yang kini hanya menjadi tumpukan manusia tidak berguna di lantai. Pesawat jet itu mulai menembus awan gelap menuju pendaratan. Rein tahu bahwa ini adalah awal dari kekuasaannya. Ia akan mengubah dunia ini menjadi miliknya dengan cara yang kejam.
BACA JUGA