REIN: Pesta Kemenangan
Getaran keras menjalar ke seluruh badan jet pribadi saat roda-roda pendaratan menghantam permukaan aspal landasan pacu dengan benturan yang kasir. Rein duduk dengan tenang di kursi kabin kulit domba, membiarkan alat vitalnya yang tebesar dan berurat tebal terlihat dengan jelas di balik celananya yang masih berantakan.
Di lantai kabin, jasad Enzo terbujur kaku dengan luka tembak tepat di dahinya. Di samping jasad itu, Alice tergeletak diam dalam kondisi pingsan sejak tembakan dilepaskan, tubuhnya berlumuran sisa cairan putih kental serta bercak darah yang merembes di karpet beludru.
Pintu hidrolik pesawat terbuka secara otomatis, membiarkan udara malam yang segar merangsek masuk ke dalam kabin yang pengap oleh aroma cairan tubuh dan darah.
Sepuluh pria dengan pakaian taktis hitam lengkap dengan senjata api laras panjang segera bergerak masuk. Mereka adalah unit keamanan pribadi yang sangat setia kepada Rein. Pemimpin unit tertegun sejenak melihat kondisi mengerikan di dalam kabin, lalu ia segera menunduk penuh hormat di hadapan tuannya.
"Semua jalur bandara sudah steril, Tuan. Kendaraan Anda sudah bersiap di bawah tangga," lapor pemimpin unit itu dengan nada suara yang rendah.
Rein menatap dingin ke arah lantai. "Bereskan bangkai ini. Bawa wanita ini ke ruang bawah tanah kediamanku. Jangan biarkan ia mati sebelum saya memberikan izin."
"Laksanakan, Tuan," sahut sang pemimpin unit.
Dua anggota keamanan langsung maju, memegangi tubuh Alice yang masih tidak sadarkan diri, lalu menyeretnya keluar dari pesawat secara kasar. Kulit mulus sekretaris pengkhianat itu bergesekan langsung dengan besi anak tangga dan jalanan beraspal yang kasar, meninggalkan luka baret merah di sekujur tubuhnya yang lemas. Dua orang lainnya dengan cepat membungkus jasad Enzo ke dalam kantong hitam tebal.
Rein berdiri, merapikan celananya ke posisi semula, lalu mengancingkan kemeja sutranya. Ia berjalan menuruni anak tangga pesawat dengan langkah kaki yang penuh tenaga, masuk ke dalam mobil sedan hitam yang langsung melesat membelah jalanan kota.
Sesampainya di kedianan pribadi yang mewah, Rein langsung menuju ke ruang kerja super canggih miliknya. Jajaran layar monitor melengkung di ruangan itu menampilkan grafik pergerakan pasar saham global.
Rein duduk di kursi utama, lalu mengaktifkan sistem perdagangan saham dunia secara otomatis melalui serangkaian perintah digital. Dalam waktu kurang dari satu jam, nilai aset milik Enzo langsung menghilang dari pasar dagang melalui manipulasi perbankan yang rahasia. Di layar monitor besar yang menempel di dinding, sebuah saluran televisi bisnis mendadak memotong siaran mereka dengan pengumuman darurat.
"Berita sela malam ini, konglomerasi milik pengusaha Enzo dilaporkan hancur total. Seluruh nilai perusahaan anjlok hingga menyentuh angka nol akibat gelombang penjualan panik yang terjadi secara mendadak di lantai bursa..."
Belum selesai siaran berita itu, Rein langsung mematikan saluran televisinya, ia kemudia tersenyum dingin. Berita tentang kebangkrutan total sang rival kini telah meledak di seluruh kanal berita bisnis dunia.
Tidak lama, Rein keluar dari ruang kerja miliknya. Ia lalu melangkahkan kaki menuju tempat gym pribadi yang terletak di sayap barat rumah mewah tersebut. Ruangan luas berlantai karet tebal itu dikelilingi oleh dinding cermin. Rein menanggalkan pakaiannya, membiarkan tubuhnya polos tanpa selembar benang pun. Ia berjalan mendekati rak besi, lalu mulai mengatur tumpukan piringan beban pada batang besi.
Kali ini, Rein menambah beban latihan hingga lima kali lipat dari kapasitas yang biasa ia lakukan. Rein mengambil posisi di bawah besi, mencengkeram bar dengan kuat, lalu mendorongnya ke atas. Otot dada dan lengan miliknya menegang hebat, menciptakan guratan urat yang menonjol di sekujur tubuh yang mulai dibasahi keringat. Setiap tarikan napasnya terdengar berat dan memburu di dalam ruangan yang sunyi, memaksa jantungnya bekerja keras hingga batas tertinggi untuk membakar sisa amarah yang masih membekas.
Keesokan harinya, Rein muncul di hadapan publik. Ia mengenakan setelan jas hitam yang membalut tubuh tegapnya dengan sangat rapi. Langkah kakinya terasa berwibawa saat memasuki aula utama gedung pusat perusahaan milik Enzo yang kini telah berpindah tangan.
Rein mengadakan konferensi pers mendadak untuk mengumumkan akuisisi seluruh aset rivalnya secara resmi. Ia berdiri di balik podium, menatap ratusan jurnalis yang terus menyalakan lampu kilat kamera.
"Mulai hari ini, seluruh kendali operasional, jalur distribusi, dan tender pelabuhan utama di bawah bendera perusahaan Enzo telah beralih sepenuhnya ke dalam kepemilikan saya," ucap Rein dengan suara berat yang memenuhi aula. Tatapan matanya yang tajam menyapu seisi ruangan, memberikan tekanan yang membuat para pemburu berita tertunduk, tidak berani melayangkan pertanyaan yang menyimpang dari pengumuman tersebut. Selesai memberikan pernyataan singkat, Rein langsung meninggalkan gedung tanpa memedulikan kegaduhan di belakangnya.
Malam harinya, Rein menggelar pesta perayaan kemenangan di aula terbuka kediamannya. Hanya kalangan pengusaha atas dan kolega terpilih yang mendapatkan undangan. Musik lembut mengalun di antara denting gelas kristal. Rein berdiri di dekat balkon pribadi, mengenakan kemeja sutra hitam dengan tiga kancing bagian atas yang sengaja dibiarkan terbuka, memperlihatkan otot dadanya yang bidang di bawah siraman lampu keemasan. Beberapa wanita dari kalangan jetset berulang kali mencuri pandang dengan pipi yang merona, namun Rein mengabaikan mereka, memilih menikmati scotch wine di dalam gelas kristal yang ia pegang.
"Ternyata rumor itu benar. Anda selalu mendapatkan apa yang Anda inginkan, Tuan Rein," sebuah suara wanita bernada rendah mendesah terdengar dari arah belakang.
Rein menoleh. Verez, seorang model internasional yang terkenal memiliki selera tinggi dan sulit didekati, sedang berdiri dengan jarak dua tindakan darinya. Wanita itu mengenakan gaun sutra merah tipis yang melekat ketat, menonjolkan lekuk pinggul dan dadanya yang berisi. Sepasang matanya menatap Rein dengan tatapan yang sarat akan kekaguman sekaligus godaan.
"Pujian yang terlambat, Verez," balas Rein, pandangannya langsung beralih tajam ke arah dada wanita itu.
Verez melangkah maju, mempersempit jarak hingga aroma parfum melati dari tubuhnya menyentuh indra penciuman Rein. "Saya rasa, kemenangan besar seperti ini membutuhkan rekan perayaan yang sepadan. Bagaimana menurut Anda?" tanya Verez sambil menyentuh ujung kerah kemeja Rein dengan jemari lentiknya yang lentur.
Rein tidak membalas ucapan tersebut dengan kata-kata. Tangan kanannya yang besar bergerak cepat, mencengkeram pinggul Verez dengan remasan yang kuat, menarik tubuh ramping sang model hingga menempel pada dada bidangnya. Verez terkesiap, matanya membelalak merasakan kekuatan jemari Rein yang langsung menyusup ke balik kain gaun merahnya untuk meremas bokongnya tanpa ragu.
"Kau terlalu banyak bicara," desis Rein dengan suara yang memberat penuh dominasi.
Rein langsung menyeret Verez meninggalkan area balkon, melangkah cepat menuju kamar tidur utama miliknya.
Sesampainya di kamar, Rein menarik napas panjang, membiarkan jemari tangannya melepas kemeja sutra hitamnya hingga terjatuh ke lantai. Di bawah temaram lampu sensor kamar yang meredup secara otomatis, tubuh tegapnya terpapar bebas. Jajaran otot dadanya yang tebal tampak berkedut, selaras dengan guratan urat yang menonjol di sepanjang lengan berotot miliknya.
Kepala gesper besinya berdentang halus saat dilepaskan. Celana bahan miliknya meluncur turun, seketika membuat alat vitalnya yang berukuran besar, panjang, dan berurat tebal menyembul keluar, menegang penuh ke arah atas dengan sisa debar kemarahan yang panas.
Rein melangkah mendekati tepi ranjang dengan langkah tegap, membiarkan kejantatannya yang besar berurat menegang kokoh di udara terbuka. Verez tertegun sejenak, sepasang mata indahnya bergerak turun, memperhatikan ukuran luar biasa di depan pandangannya sebelum ia dengan cepat menyembunyikan keterkejutannya di balik senyuman menantang.
"Ternyata rumor tentang keperkasaan Anda bukan sekadar isapan jempol, Tuan Rein," ucap Verez dengan nada suara yang rendah menggoda. Wanita itu tidak langsung menyerah; ia justru merangkak mundur perlahan di atas seprai sutra abu-abu, membiarkan gaun merah tipisnya terangkat hingga memamerkan sepasang paha mulusnya. "Tapi, saya bukan wanita murahan yang bisa langsung Anda tekuk dengan mudah."
Rein menyeringai dingin, aura dominasinya langsung mengepung seisi kamar. "Kau pikir kau punya pilihan untuk menolak di kamar ini, Verez?"
Verez bersandar pada tumpukan bantal, menatap Rein dengan pandangan sayu yang menantang. "Tunjukkan pada saya, Tuan. Buat saya tunduk jika Anda memang bisa menaklukkan selera saya."
Tantangan itu membuat darah Rein berdesir panas. Tanpa membuang kata lagi, Rein menerjang maju, mencengkeram pergelangan tangan Verez dengan satu gerakan cepat, lalu mengunci tubuh ramping sang model di bawah kungkungan dada bidangnya yang kekar. Kehangatan kulit mereka yang bergesekan langsung memicu luapan gairah yang membakar di antara kedua paha mereka.
"Kau akan memohon untuk mendapatkan lebih, Verez," desis Rein tepat di depan bibir merah wanita itu.
"Kita lihat saja siapa yang akan menyerah lebih dulu, Tuan..." balas Verez dengan napas yang mulai memburu, jemari lentiknya bergerak mencengkeram pundak berotot Rein yang mulai dibasahi keringat.
Rein menundukkan kepalanya, langsung membungkam mulut angkuh Verez dengan ciuman yang kasar, dalam, dan penuh tuntutan. Lidahnya merangsek masuk, menguasai rongga mulut sang model yang awalnya mencoba membalas dengan gigitan kecil sebelum akhirnya luluh, mendesah pasrah menerima dominasi penuh dari Rein.
Rein melepaskan pagutan bibir mereka dengan sentakan pelan, menyisakan napas Verez yang terengah-engah kekeringan. Tanpa memberikan waktu bagi sang model untuk menguasai diri, Rein memposisikan batangnya yang tebal panas tepat di depan wajah Verez yang mendongak pasrah dengan pipi merona merah.
"Buktikan keangkuhanmu tadi. Isap sampai ke pangkalnya," perintah Rein dengan nada suara yang berat menuntut.
Verez tidak lagi mendebat. Jemari lentiknya memegang pangkal kejantanan Rein yang tebal berurat, mengarahkannya masuk ke dalam rongga mulutnya yang hangat. Verez mulai mengulum kepala alat vital Rein dengan isapan yang dalam dan basah, menggerakkan kepalanya maju mundur secara agresif. Rein menjambak rambut panjang Verez, mengendalikan ritme kepala wanita itu agar menelan seluruh batangnya hingga menyentuh bagian terdalam tenggorokan.
"Ughh... hnghh..." rintih Verez tersedak, matanya berkaca-kaca menahan ketebalan penis Rein yang menyumbat seluruh jalur napasnya, namun gerakan lidahnya justru semakin liar menjilati setiap jengkal kulit keras yang menegang di dalam sana. Suara isapan yang basah beradu dengan erangan rendah dari mulut Rein yang mulai terbakar nikmat.
"Bagus. Sekarang biarkan aku menghantam rahimmu," geram Rein, melepaskan jambakannya dengan sentakan kasar.
Rein mencengkeram pinggang Verez, memaksa tubuh ramping wanita itu berbalik mengambil posisi menungging dengan bokong yang terangkat tinggi menghadap ke arahnya. Gaun sutra merah milik Verez ditarik paksa ke atas dada, memamerkan bentuk pantatnya yang bulat putih bersih di bawah temaram cahaya bulan yang menembus celah jendela kaca. Lubang kemaluan Verez tampak sudah basah, mengeluarkan cairan bening yang berkilau akibat luapan gairah yang sedari tadi tertahan.
Rein memposisikan ujung kepala alat vitalnya yang tebal berurat tepat di depan lubang vagina Verez. Dengan satu sentakan pinggul yang kuat, kasar, dan bertenaga, Rein menghujamkan seluruh jengkal penis besarnya ke dalam liang senggama sang model.
"Ahhhh! Tuan Rein! Sakit... ughh, tebal sekali... amblas sampai ke rahim... ahh!" jerit Verez dengan kencang, tubuh moleknya melengkung ke atas, kedua tangannya mencengkeram seprai sutra dengan kencang demi menahan gempuran yang mendadak meregangkan rongga tubuhnya secara maksimal.
"Ini baru permulaan, Verez. Rasakan seluruh bagian dari diriku!" balas Rein dengan napas yang mulai memburu berat.
Rein mulai menggerakkan pinggul kekarnya maju mundur dengan ritme yang sangat cepat dan bertenaga. Dorongan kasarnya menghantam dalam hingga pangkal pahanya berbenturan keras dengan bokong bulat Verez, menimbulkan suara tamparan kulit yang basah berulang kali memenuhi seisi kamar yang luas. Verez melenguh manja, menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan seiring rasa perih yang bercampur kenikmatan luar biasa mulai mengocok ulu hatinya.
"Ah... ah... terus, Tuan... hantam lebih keras... rahimku terasa penuh... hnghh, nikmat sekali!" seru Verez dengan suara yang terputus-putus, pantatnya justru bergerak mundur, sengaja menyambut setiap tusukan dalam yang diberikan Rein.
"Kau menyukai batang besarku, huh?!" bentak Rein, mempercepat sodokannya hingga batas tertinggi. Otot paha dan bisepnya menegang keras, memompa gairah kejantatannya tanpa ampun. Keringat yang bercucuran dari dada bidang Rein menetes membasahi punggung mulus Verez, menciptakan pemandangan erotis di bawah temaram kamar.
"Ya, Tuan! Milikmu yang terbaik... ah... aku mau keluar... ahh!" jerit Verez dengan mata membalik ke atas saat dinding vaginanya berkedut hebat, menjepit ketat batang keras Rein.
Rein mencengkeram pinggang Verez dengan remasan yang kuat, mengunci pergerakan wanita itu lalu melepaskan beberapa hantaman terakhir yang sangat dalam. Rasa ngilu yang luar biasa panas menjalar di selangkangan Rein, menandakan ledakan berahinya sudah berada di ujung tanduk. Dengan satu erangan panjang yang berat, Rein menyemburkan sperma kental berwarna putih susu dalam jumlah yang sangat banyak, membanjiri bagian terdalam rahim Verez dengan kehangatan cairannya.
"Ahhhhh!" Verez memekik panjang sebelum akhirnya ambruk, terkulai lemas di atas kasur dengan tubuh yang menegang kejang selama beberapa detik menikmati puncak kepuasan yang gila. Rein menarik keluar penisnya yang basah berlumur cairan tubuh, lalu merebahkan diri di samping sang model yang masih terengah-engah dengan napas memburu.
Hawa panas sisa pergumulan perlahan mendingin seiring detak jantung mereka yang mulai kembali normal. Verez yang sudah kehabisan tenaga menarik ujung selimut abu-abu untuk menutupi tubuh polosnya, lalu membalikkan badan membelakangi Rein. Tidak butuh waktu lama bagi wanita itu untuk langsung terhanyut ke dalam tidur yang sangat pulas. Rein pun memejamkan matanya, membiarkan tubuh kekarnya beristirahat di bawah keheningan malam yang tenang. Keduanya tertidur sangat lelap berdampingan, mengakhiri gejolak berahi yang membakar sejak malam pesta perayaan.
Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden, menerangi sudut kamar tidur utama. Rein membuka kelopak matanya terlebih dahulu, merasakan aliran energi yang segar di sekujur tubuh bugar miliknya setelah tidur beberapa jam. Di sebelahnya, Verez masih terlelap diam, tidak bergerak sedikit pun di bawah gulungan kain selimut. Rein menyibak kain selimut itu secara perlahan, menatap lekuk tubuh mulus yang masih menyisakan noda sperma putih kering sisa semalam di sela pahanya.
Seketika, aliran darah di selangkangannya kembali bergejolak panas. Penisnya kembali menegang keras, berdenyut tebal menuntut penyaluran berahi yang tiba-tiba bangkit di pagi hari. Rein tidak berniat memberikan aba-aba atau menunggu wanita itu terjaga dengan normal.
Rein merangkak mendekat di atas kasur tanpa menimbulkan suara. Ia membuka lebar kedua paha mulus Verez secara paksa, membuat lubang vagina yang masih tampak membengkak kemerahan itu terekspos sepenuhnya. Tanpa memberikan kecupan atau pemanasan, Rein langsung memposisikan batang penisnya yang keras tepat di depan lubang kemaluan, lalu menghujamkan penis besarnya masuk sampai ke pangkal rahim Verez dalam satu sentakan pinggul yang sangat bertenaga.
Verez tersentak bangun secara brutal dengan pekikan yang melengking kencang, "Aakhhh! Sakit! Apa ini...?! Arghhh!". Sepasang matanya mendelik lebar, dipenuhi rasa syok dan kepanikan yang luar biasa karena keheningan paginya dirobek oleh rasa perih yang menusuk ulu hati. Tubuh bagian bawahnya mendadak terasa lumpuh, terkunci oleh tekanan benda tegal raksasa yang merenggangkan rongga vaginanya secara paksa. Rasa sakit yang bercampur dengan kebingungan instan membuat jantungnya berdebar liar, ia belum menyadari sepenuhnya apa yang sedang terjadi pada dirinya di tengah kondisi setengah sadar dari tidur pulasnya.
Verez mencoba meronta, memalingkan kepalanya ke belakang dengan napas tersengal-sengal, dan barulah matanya menangkap sosok Rein yang sedang berada di atas tubuhnya dengan wajah dingin tanpa ekspresi.
"T-Tuan Rein...? Ughh... milikmu... kenapa langsung masuk... ini terlalu sakit, hnghh!" rintih Verez akhirnya setelah mengenali pria yang sedang menguasainya, kedua tangannya bergerak panik mencengkeram seprai sutra dengan kencang karena rongga vaginanya mulai dipaksa melebar kembali.
"Diam dan terima saja, Verez. Tubuhmu sudah menjadi milikku sepenuhnya sejak semalam," bisik Rein dingin di dekat telinga sang model, tangannya bergerak meremas payudara kenyal Verez dengan cengkeraman yang kuat untuk mengunci pergerakan wanita itu.
Rein mengabaikan keluhan dari mulut Verez, justru semakin cepat memacu gerakannya dengan dorongan yang dalam dan beringas. Gesekan kasar pada dinding vagina yang masih sensitif lambat laun mengubah rasa perih yang dialami Verez menjadi luapan panas yang memicu berahi baru. Keringat pagi mulai membasahi dada bidang Rein yang bergesekan langsung dengan dada Verez, membuat lenguhan sang model yang awalnya berupa rintihan kesakitan kini berubah menjadi desahan pasrah yang mengikuti irama beringas tuannya.
"Ah... ah... Tuan... ughh, hantam lagi... masukkan semuanya... ahh!" pasrah Verez dengan mata membalik ke atas, menyerah pada kekuatan otot Rein yang mengombang-ambingkan tubuhnya di atas kasur.
Setelah beberapa menit pertarungan pagi yang panas, Rein mengerang rendah, menyemburkan sperma kentalnya di dalam rahim Verez untuk kedua kalinya, membuat model internasional itu terkulai lemas tanpa daya dengan napas tersengal-sengal di atas tempat tidur.
Rein bangkit dari ranjang, menyambar jubah mandi satin hitam yang tergantung di samping tempat tidur, lalu memakainya tanpa mengancingkannya. Ia berjalan mendekati jendela kaca besar untuk menatap pemandangan kota di bawah siraman matahari pagi.
Di atas ranjang, Verez kembali terpejam dengan deru napas yang teratur, menampakkan gurat kelelahan yang luar biasa setelah menerima gempuran bertubi-tubi. Rein membiarkan wanita itu terkapar beristirahat, lalu melangkah keluar kamar dengan tenang untuk memulai aktivitasnya.
***
Waktu berjalan dengan cepat hingga tiga puluh hari telah terlewati sejak malam perayaan besar di kediaman mewah tersebut. Selama satu bulan ini, Rein mencurahkan seluruh energinya untuk menata ulang peta bisnis yang baru saja ia kuasai. Proses hukum pengambilalihan seluruh aset, pelabuhan utama, hingga jaringan distribusi milik mendiang Enzo berhasil diselesaikan secara sepihak tanpa ada hambatan berarti. Seluruh kaki tangan dan pengikut setia Enzo di luar sana didepak dari jajaran direksi, membuat posisi Rein di puncak industri kini berdiri tanpa ada yang berani menantang.
Sementara itu, di tempat yang terpisah dari kemewahan lantai atas, Alice melewati setiap detik dalam ruang isolasi bawah tanah dengan siksaan mental yang berat. Selama empat minggu penuh ketidakpastian, mantan sekretaris itu dikurung dalam kesunyian, meratapi kesalahan besarnya yang telah mengkhianati sang atasan.
Setelah memastikan seluruh kendali kerajaan bisnisnya berjalan sempurna, Rein memutuskan untuk turun ke area rahasia di bawah rumahnya. Rein berjalan menuju lemari buku besar di sudut ruang kerja, menekan sebuah tombol tersembunyi hingga dinding geser terbuka secara otomatis. Lift rahasia di baliknya segera membawa tubuh tegap pria itu meluncur turun ke dalam perut bumi.
Pintu lift berdenting lembut, terbuka dan menampilkan ruang gym pribadi yang sangat luas dengan lantai karet hitam dan jajaran peralatan olahraga dengan teknologi tercanggih. Rein melepas pakaian kasualnya, membiarkan tubuh penuh ototnya telanjang bulat di tengah ruangan untuk memulai sesi latihan yang berat. Rein mengatur piringan besi pada bar cor dengan berat latihan lima kali lipat dari kapasitas biasanya.
Sambil mendorong beban besi yang sangat berat ke atas, mata tajam Rein melirik ke arah layar monitor raksasa yang menempel di dinding beton ruangan. Layar tersebut terhubung dengan kamera pengawas ruang isolasi, menampilkan sosok Alice yang sudah kurus kering dan meringkuk ketakutan di sudut ruangan semen yang dingin. Pakaian robek yang melekat di tubuh mantan sekretarisnya itu sudah kusam dan kotor. Rein tersenyum dingin, ada kepuasan murni melihat pengkhianat itu menderita dalam kehampaan selama sebulan penuh.
Suara desis pintu lift kembali terdengar. Sesosok wanita dengan langkah kaki yang teratur dan tegap keluar dari dalam celah pintu baja. Ia adalah Kara, kepala keamanan rahasia yang paling setia kepada Rein. Wanita bertubuh atletis dengan pakaian taktis hitam itu merupakan teman masa kecil Rein, putri kandung dari mendiang Tuan Brian yang dulu menjaga ayah Rein. Kara tahu semua rahasia terdalam milik tuannya dan siap melakukan apa pun demi melindunginya.
Kara berjalan mendekat sambil membawa map digital, pandangannya tetap lurus tanpa canggung, mengabaikan kondisi Rein yang sedang berdiri telanjang bulat dengan penis yang kembali menegang tebal setelah sesi latihan yang berat. Pemandangan tubuh polos sahabatnya itu sudah menjadi hal yang biasa bagi Kara karena mereka tumbuh bersama sejak kecil, layaknya saudara yang saling menjaga.
Kara langsung bersandar santai di salah satu tiang alat gym, lalu melirik Rein sambil tersenyum tipis. "Gila, porsi latihanmu makin mengerikan saja. Mau bikin ototmu pecah, ya?"
Rein terkekeh pelan sembari menyeka keringat di dahinya dengan handuk kecil, lalu meraih jubah mandinya untuk menutupi tubuh. "Cuma buang stres. Jadi, bagaimana perkembangan di luar? Semuanya aman?"
"Aman terkendali," sahut Kara santai sembari menyodorkan data di layarnya. "Semua instruksi yang kamu berikan sejak satu bulan lalu sudah beres tanpa jejak. Jasad Enzo sudah tenggelam di dasar samudra pakai pemberat beton sejak minggu pertama. Pengikutnya di luar juga sudah bersih total disikat unit siber. Mereka langsung tiarap begitu tahu aset finansial Enzo ludes."
Rein mengangguk puas, merasa lega karena lini belakangnya dipegang oleh orang yang tepat. "Kerja bagus. Paling tidak, aku tahu aku bisa tidur nyenyak sebulan ini karena ada kamu yang jaga."
"Hei, jangan sok melow begitu," canda Kara sambil menepuk pundak berotot Rein dengan akrab. "Kamu tahu sendiri, aku bakal beresin apa saja buat kamu. Kita kan sudah sepaket sejak kecil."
Hubungan kepercayaan di antara mereka berdua memang jauh lebih kuat daripada ikatan darah, membuat Rein selalu memercayakan rahasia tergelapnya kepada wanita tangguh ini tanpa perlu menjaga imej formal.
Rein tersenyum licik, lalu mengabaikan handuknya. "Ayo ikut aku. Waktunya menyelesaikan urusan dengan tikus di sebelah."
Kara langsung menegakkan posisi tubuhnya, kembali ke mode siaga. "Siap. Aku di belakangmu."
Rein melangkah menuju pintu baja sel isolasi untuk menyelesaikan urusannya dengan Alice yang sudah dikurung sebulan penuh, diikuti oleh Kara yang berjalan siaga di belakangnya. Begitu pintu baja tebal itu terbuka, Alice yang mendengar langkah kaki langsung merangkak maju dengan sisa tenaga yang ada, bersujud di depan sepatu gunung Rein dengan tubuh gemetar hebat seraya menangis histeris.
"Tuan Rein... ampuni saya! Tolong maafkan saya... sebulan di sini membuat saya gila! Enzo yang mengancam dan memaksa saya melakukan semua ini! Tolong jangan bunuh saya, Tuan!" mohon Alice dengan suara parau bercampur air mata yang membasahi lantai semen yang berdebu.
Rein menatap wanita kurus di bawah kakinya dengan pandangan muak yang sedingin es. "Kau sudah tidak punya tempat di sini. Pergilah dari hadapanku."
Rein menoleh ke arah Kara, memberi isyarat dagu. "Kara, bawa wanita pengkhianat ini keluar. Buang ia ke tempat penampungan tunawisma di pinggiran kota timur. Jangan biarkan ia membawa uang sepeser pun atau pakaian yang layak. Biarkan ia membusuk."
"Beres. Serahkan padaku," jawab Kara pendek dengan nada dingin, langsung kehilangan keramahannya saat menatap Alice.
Kara langsung mencengkeram lengan Alice secara kasar, menariknya berdiri lalu menyeretnya menuju lift keluar tanpa memedulikan jeritan tangis minta ampun yang terus keluar dari mulut mantan sekretaris tersebut.
Rein berdiri tegak di tengah lorong bawah tanah, menatap kepergian mereka dengan senyuman puas yang kejam. Semua pengkhianat telah menerima pembalasan yang setimpal setelah satu bulan penuh ketidakpastian, dan kini, kekuasaan bisnis serta kendali penuh atas kota ini telah berada di bawah kekuasaannya tanpa ada satu pun rival yang tersisa.
Post a Comment