REIN: Balas Dendam

Paranoia

Dinding beton perbukitan di pinggiran kota berdiri kokoh, mengapit jalur aspal sepi yang berkelok tajam. Ban mobil sedan hitam mewah yang membawa Rein berputar stabil, melintasi bayangan pepohonan rindang yang bergoyang pelan ditiup angin malam. Rein duduk bersandar di kursi belakang yang empuk, meluruskan kedua kakinya yang panjang dengan posisi santai. Setelan jas sutra hitam membalut pas bidang dada serta lekuk otot lengan miliknya yang kekar, memancarkan aura wibawa seorang penguasa tertinggi. 

Hari itu, ia bersiap menghadiri acara lelang akbar di pusat kota, bertekad menyapu bersih sisa tender bisnis pelabuhan baru yang sangat berharga untuk melipatgandakan kekayaannya. Di depan dan belakang mobil utamanya, dua kendaraan jip hitam berisi pasukan keamanan pribadi bergerak mengapit ketat dalam formasi siaga. 

Rein menggeser layar komputer jinjing di pangkuannya, memeriksa lembar demi lembar dokumen penawaran harga dengan tatapan mata yang tenang. Riak kekhawatiran sama sekali tidak terlihat di wajah tampannya, karena ia merasa seluruh musuh besarnya telah mampus tak tersisa. 

Namun, ketenangan di jalur sepi itu mendadak robek menjadi serpihan dalam sekejap mata. 

Duar! 

Sebuah guncangan dahsyat akibat ledakan ranjau darat menghantam bagian kolong jip pengawal paling depan. Kendaraan berbobot tonase besar itu terpental ke udara, terbalik beberapa kali sebelum akhirnya menghantam tebing batu dan meledak menjadi bola api raksasa yang membubung tinggi. Benturan yang luar biasa keras tersebut seketika menutup jalur pelarian depan sepenuhnya dengan rongsokan besi panas yang membara. 

Belum sempat kepulan asap hitam mereda, rentetan tembakan dari puluhan pucuk senapan otomatis berondong-berondong menyerbu secara brutal dari arah atas bukit. Peluru-peluru tajam kaliber berat menghantam kaca depan dan jendela samping mobil Rein, menciptakan ribuan serpihan putih yang merata, merusak lapisan antipeluru hingga nyaris tembus ke dalam kabin. 

"Bajingan! Kita dijebak! Jalur belakang juga ditutup oleh barikade truk mereka, Tuan!" berteriak pengemudi mobil Rein dengan kepanikan yang luar biasa, yang langsung menginjak pedal rem dengan sekuat tenaga. Ban mobil sedan itu mencicit keras, bergesekan hebat dengan permukaan aspal hingga menimbulkan kepulan asap tipis sebelum akhirnya kendaraan itu berhenti melintang, terkunci di tengah jalan akibat kepungan barikade. 

Di saat mobil baru saja berhenti total, Rein tidak tinggal diam. Dengan gerakan kilat, ia menekan tombol di samping sandaran tangan kursi belakang, membuka kompartemen rahasia yang langsung menyodorkan sebilah senapan serbu laras pendek beserta rompi antipeluru tambahan. Ia menyambar senjata tersebut, mengokangnya dengan satu sentakan keras hingga suara besi beradu garing terdengar di dalam kabin. 

"Tendang pintunya! Buka lebar-lebar dan jadikan bodi mobil sebagai tameng! Tembak mati keparat-keparat itu!" perintah Rein dengan suara beringas yang menggelegar. 

Pintu sedan ditendang paksa hingga terbuka lebar. Rein bersama sopir dan dua pengawal yang tersisa langsung berlindung di balik pintu besi, membalas tembakan ke arah tebing dengan brutal. Rentetan peluru dari senapan Rein menyalak keras, merobek dada dua penyerang di atas bukit hingga tubuh mereka menggelinding jatuh dengan darah yang menyembur deras mengotori batuan tebing. 

Duar! Duar! 

Namun, jumlah musuh terlalu timpang. Peluru kaliber berat dari senapan otomatis lawan menghantam pintu mobil bertubi-tubi hingga jebol. Sopir Rein hancur kepalanya akibat terjangan peluru, menyemburkan otak dan cairan merah kental tepat ke wajah Rein. Dua pengawal lainnya roboh bersimbah darah dengan dada berlubang, mereguk napas terakhir mereka di atas aspal yang dingin. 

Rein terus menggeram, melepaskan sisa peluru dengan amarah yang meluap hingga terdengar suara garing dari senjatanya. 

Klik! Klik! 

"Sialan, habis!" umpat Rein kasar saat menyadari magasin senapannya telah kosong melongpong tanpa sisa amunisi. 

Melihat Rein sudah kehabisan peluru dan tidak lagi memberikan perlawanan, puluhan pria bertubuh tegap dengan pakaian taktis hitam merangsek turun dari tebing batu, langsung mengepung mobil sedan yang sudah hancur total tersebut. 

"Tahan tembakan! Biarkan bajingan ini hidup-hidup!" sebuah perintah bernada tinggi yang menggelegar seketika membuat rentetan tembakan anak buahnya mereda tidak bersuara. 

Perintah itu dari sesosok pria dengan rahang kokoh dan tatapan sepasang mata yang penuh dendam membara. Ia pun melangkah maju penuh percaya diri di barisan paling depan. Pria itu adalah Zata, pimpinan tertinggi dari aliansi bisnis bentukan mendiang Enzo yang tersisa. Selama ini, ia bergerak di bawah tanah, mengumpulkan sisa-sisa pengikut setia Enzo yang kelaparan setelah seluruh aset mereka dilumat habis oleh Rein. Hari ini, ia turun langsung ke jalanan untuk memimpin eksekusi. 

Zata menghentikan langkah kaki tepat lima langkah di depan mobil Rein, menatap lurus ke arah sang target yang masih berdiri di balik pintu mobil yang bolong dengan pakaian yang kotor akibat cipratan darah. Zata menyeringai keji, mengacungkan moncong senjatanya tepat ke dada Rein. 

"Hei bajingan! Buang senjatamu dan bersujud di kakiku," ucap Zata dengan nada suara yang rendah namun sangat dingin dan menekan. "Hari ini, aku akan menguliti kepalamu hidup-hidup di atas aspal ini. Nyawa Enzo harus dibayar lunas."

***

Asap cerutu tebal membubung di dalam ruang rapat rahasia pinggiran pelabuhan kota, persis beberapa jam setelah kabar kematian Enzo meledak ke permukaan. Berita runtuhnya saham perusahaan hingga menyentuh angka nol dalam semalam telah mengirimkan gelombang ketakutan bagi seluruh rekan bisnis yang bernaung di bawah benderanya. 

Di ujung meja marmer, Zata mencengkeram tepi meja hingga buku-buku jarinya memutih. Sepasang matanya yang memerah menatap tajam ke arah jajaran pria berjas di hadapannya yang sedang dilingkupi kepanikan. 

"Rein bangsat itu sudah keterlaluan! Keparat itu membunuh Enzo, lalu menghabisi seluruh jaringan finansial kita sampai kita miskin total!" teriak Zata dengan urat leher yang menegang, menumpahkan amarah yang meluap-luap. 

Seorang pria di sampingnya mengetuk meja dengan gelisah, wajahnya pucat pasi. "Lalu apa rencana kita? Pasukan keamanan bajingan itu sangat kuat. Bergerak gegabah sekarang sama saja dengan bunuh diri. Kita kehilangan kekuatan untuk melawannya hari ini." 

Zata menyeringai kejam, memperlihatkan deretan giginya yang rapat dengan sorot mata kelam. "Kita tidak akan tolol dengan menyerang sekarang. Kita tunggu sampai si keparat itu lenggah. Biarkan bajingan itu merasa menang di atas angin. Kita merayap di bawah tanah, kumpulkan sisa pasukan bersenjata milik aliansi secara senyap dari sisa-sisa uang kita. Aku yang akan memimpin langsung pembalasan ini saat waktunya tiba. Nyawa harus dibayar dengan nyawa!" 

Seluruh anggota aliansi yang berkumpul di ruangan tersebut memberikan anggukan setuju. Mereka sepakat menyembunyikan dendam kesumat yang mendalam, bergerak bagai hantu di dalam kegelapan. 

Hingga suatu hari, sebuah informasi rahasia mengenai agenda lelang akbar tender pelabuhan baru bocor ke tangan Zata. Mengetahui si bangsat Rein bakal melewati jalur perbukitan sepi pinggir kota, Zata langsung bergerak cepat memesan ranjau darat militer, menyusun barikade truk, serta menempatkan puluhan penembak jitu di atas tebing batu untuk menyergap sang musuh bebuyutan.

***

Rein perlahan menegakkan tubuhnya yang tegap, membuat moncong laras panjang di tangan Zata kini terarah lurus ke wajahnya. Dengan nekat dan penuh intimidasi, Rein justru memajukan mukanya tepat di depan ujung besi panas yang siap meledak tersebut. Guratan darah tipis di pipi akibat serpihan kristal kaca justru membuat paras tampannya terlihat semakin beringas. Tidak ada sedikit pun ketakutan di wajahnya, melainkan sebuah seringai mengejek yang mematikan. 

"Sisa kecoak dari aliansi Enzo ternyata masih ada yang berani merangkak keluar dari lubang got," ucap Rein dengan suara berat yang menggelegar tenang di tengah kepungan asap mesiu. "Hanya jebakan murahan begini yang bisa kau pamerkan padaku?" 

Rein melemparkan senapannya yang kosong ke atas aspal, membiarkan bunyi besi beradu dengan batu menggema memecah kesunyian malam. Sepasang matanya berkilat tajam, menatap lurus ke dalam bola mata Zata seolah-olah dialah yang memegang kendali situasi. 

"Kurang ajar! Habisi bajingan ini sekarang juga!" teriak Zata yang langsung naik pitam akibat dihina. 

Instruksi itu membuat puluhan anak buah Zata merangsek maju bagai kawanan serigala lapar, siap memberondong tubuh Rein yang sudah tidak memegang senjata. Namun, sebelum sempat jari-jari mereka menarik pelatuk, petir mendadak menyambar dari kegelapan malam. 

Duar! Duar! Duar! 

Rentetan tembakan presisi kaliber berat menggema dari arah jalur belakang perbukitan, langsung menjebol tengkorak dan dada barisan depan pasukan taktis Zata hingga otak mereka menyembur ke aspal. Barikade truk yang semula menutup jalur mundur Rein dihantam pasak besi dari tiga kendaraan lapis baja yang merangsek masuk menghancurkan kepungan. 

Zata terbelalak, langkah mundurnya terhenti seketika. "Sialan! Dari mana anjing-anjing ini datang?!" teriaknya panik melihat pasukan elit pribadi Rein yang bersenjata lengkap mendadak muncul membalikkan keadaan. 

Rein sama sekali tidak bergerak dari posisinya. Seringai di wajah tampannya semakin melebar, memperlihatkan kepuasan yang keji. Sejak awal, sistem pelacak darurat di jam tangannya sudah mengirimkan sinyal koordinat begitu jip depan meledak. Rein sengaja mengulur waktu dengan bacotan kosongnya hanya untuk menunggu babi-babi aliansi ini berkumpul di satu titik mati. 

"Habisi semua bajingan ini, jangan sisakan satu pun hidup!" perintah Rein, suaranya dingin tanpa ampun. 

Pertempuran jarak dekat berubah menjadi pembantaian massal yang brutal. Pasukan elit Rein bergerak tanpa ampun, memuntahkan timah panas yang mengoyak daging, memutus lengan, dan menghancurkan organ tubuh anak buah Zata. Bau anyir darah segar seketika menyengat, mengalir deras menggenapi permukaan aspal yang menurun. 

Zata yang menyadari kekalahannya mencoba berbalik untuk kabur ke arah semak-semak tebing. Namun, Rein bergerak lebih cepat bagai predator. Tubuh tegapnya melesat maju, menerjang punggung Zata hingga pemimpin aliansi itu tersungkur, wajahnya menghantam batu jalanan hingga hidungnya patah menembakkan darah kental. 

Rein mendekat, lalu menginjak batang leher Zata dengan sepatu pantofelnya, menekan kuat hingga terdengar suara tulang muda yang bergeser kaku. Zata mengerang kesakitan, terengah-engah di bawah injakan kaki Rein. 

"Hei bangsat! Katanya mau menguliti kepalaku?" bisik Rein dengan nada suara yang sangat rendah dan dingin. Ia membungkuk, lalu menjambak rambut Zata dengan beringas hingga kulit kepalanya hampir terkelupas agar wajah pecundang itu mendongak paksa menatapnya. "Sini, biar kutunjukkan caranya." 

Rein merebut senapan laras panjang yang tergeletak di dekatnya. Tanpa ragu, ia menghentakkan ujung laras besi itu masuk ke dalam mulut Zata yang menganga penuh darah, menembus dalam hingga mengunci langit-langit tenggorokannya. Zata melotot histeris, tubuhnya gemetar hebat dikuasai ketakutan murni yang menjijikkan saat besi dingin itu mengunci kerongkongannya. 

Duar! 

Satu tembakan dilepaskan. Kepala bagian belakang Zata hancur berantakan seketika, menyemburkan sisa isi kepala, darah kental, dan pecahan tengkorak di atas tanah. Tubuh pemimpin aliansi itu kejang-kejang sesaat sebelum akhirnya terkulai kaku, tewas mengenaskan di tangan Rein. 

Rein berdiri tegak di tengah tumpukan mayat yang bersimbah darah, menyeka cipratan merah di wajahnya lalu menghirup aroma mesiu dan kematian dengan kepuasan yang mendalam. Seluruh sisa aliansi Enzo malam itu rata tanah, binasa tanpa ampun di jalur perbukitan sepi yang kini resmi menjadi kuburan massal mereka.

Namun, kematian itu ternyata belum cukup bagi iblis di dalam diri Rein. Hasrat dominasi yang beringas dan menyimpang justru semakin menyala melihat musuhnya telah menjadi seonggok daging tak bernyawa. 

Di bawah tatapan dingin puluhan pasukan elitnya yang berdiri mengepung dalam diam, Rein mencengkeram jasad kaku Zata. Dengan tangannya yang kasar itu, ia merobek paksa celana yang dikenakan Zata, membuat bagian membuat bagian belakang tubuh pemimpin aliansi yang sudah mati itu terekspos sepenuhnya di bawah temaram lampu sorot kendaraan taktis. Udara perbukitan yang dingin mendadak terasa pekat oleh kegilaan yang mengerikan. 

Rein melepaskan ikat pinggangnya, menurunkan celana dengan satu sentakan tanpa memedulikan puluhan pasang mata pasukan elitnya yang berdiri mematung mengepung area pembantaian. Penisnya yang berukuran besar, tebal, dan berurat menegang kokoh di udara malam, dipicu oleh sisa adrenalin pertempuran dan hasrat berahi yang teramat menyimpang. 

Pria perkasa itu mengambil posisi berlutut di antara kedua paha Zata yang sudah tak bernyawa. Tanpa rasa jijik, Rein meludahi lubang pantat pria yang baru saja ia tembak kepalanya tersebut, lalu menghujamkan seluruh jengkal penis besarnya masuk ke dalam lubang belakang itu dengan satu dorongan pinggul yang sangat kuat. 

Slbhh! 

Batang kerasnya merobek paksa lubang pantat yang mulai kehilangan elastisitasnya, membuat sisa darah kental dari dalam perut bawah korbannya merembes keluar, melumuri pangkal paha Rein. 

Rein menggerakkan pinggulnya maju mundur dengan ritme yang cepat, bertenaga, dan kasar. Suara ketukan kulit pantatnya yang beradu dengan paha dingin di bawahnya terdengar berulang kali, memecah kesunyian malam di perbukitan sepi. 

Hasrat beringas di dalam diri Rein semakin membara saat menyadari tubuh di bawahnya sama sekali tidak memberikan perlawanan. Pria perkasa itu memacu sodokannya hingga batas kecepatan tertinggi, menjambak rambut kepala Zata yang hancur agar posisi bokongnya semakin menungging tinggi menampung setiap tumbukan kasar yang diberikannya. 

Suara lenguhan dan ketukan kulit yang basah menyatu dengan sensasi panas di ujung kejantanannya yang siap memuncratkan cairan putih kental itu dalam hitungan detik. Rein mengerang rendah, mencengkeram pinggul korbannya dengan erat saat menyadari bahwa sedetik lagi, dia akan meledak tanpa bisa ditahan. 

Seluruh otot di pangkal pahanya menegang hebat, berdenyut-devil liar seiring rasa nikmat yang teramat sangat mulai merayap naik. Ia bisa merasakan cairannya sudah berada di ujung tanduk, menyumbat jalurnya, menciptakan sensasi ngilu yang luar biasa nikmat sebelum akhirnya tumpah ruah, menyemburkan sperma kental berwarna putih susu dalam jumlah banyak langsung membanjiri bagian dalam lubang pantat yang robek tersebut. 

"Argghhh!" Rein mengerang panjang, suara beratnya menggema beringas di tengah kegelapan perbukitan saat cairannya tumpah habis. 

Setelah puas menuntaskan kegilaannya pada tubuh kaku itu, Rein menarik keluar miliknya yang berlumur noda merah kehitaman dengan sentakan kasar. Ia membiarkan tubuh tak bernyawa itu ambruk mencium aspal yang basah, lalu menaikkan kembali celananya dan merapikan setelan jas hitamnya seolah tidak terjadi hal menjijikkan beberapa saat lalu. 

Keesokan harinya, sebuah bencana mengerikan menghantam reputasi Rein tanpa peringatan. 

Di salah satu sudut semak-semak tebing batu, rupanya terdapat sebuah kamera pengawas portabel berteknologi tinggi yang sengaja dipasang secara rahasia oleh anak buah Zata sebelum penyergapan dimulai. Sejak awal, aliansi tersebut sangat yakin akan memenangkan pertempuran dan berniat menggunakan rekaman video itu untuk memamerkan eksekusi mati Rein kepada jaringan bawah tanah mereka. 

Namun, perangkat tersembunyi yang luput dari pemeriksaan pasukan elit Rein itu justru merekam seluruh pembalikan situasi dengan sangat jelas, mulai dari aksi baku hantam, penembakan kepala Zata, hingga adegan persetubuhan gila yang dilakukan Rein di depan anak buahnya. 

Salah satu sisa pengikut aliansi Zata yang berhasil kabur langsung mengakses peladen penyimpanan kamera portabel tersebut dari jarak jauh. Menggunakan akun anonim, ia mengambil salinan rekaman mentah tanpa sensor itu lalu mengunggahnya ke jejaring sosial terbesar di dunia sebagai bentuk pembalasan dendam terakhir. 

Dalam hitungan jam, video berdurasi beberapa menit itu meledak di seluruh jagat maya. Jutaan pasang mata menyaksikan kengerian tersebut. Rekaman video yang memperlihatkan tindakan menjijikkan yang dilakukan oleh Rein kepada Zata langsung memuncaki tangga tren global, memicu kecaman luar biasa dari masyarakat, rekan bisnis internasional, hingga aparat penegak hukum tingkat tinggi. Imperium bisnis yang baru saja ia amankan kembali kini mulai diguncang oleh badai kehancuran akibat penyebaran rekaman terkutuk itu.

Memuat daftar chapter...
[X]