REIN: Perasaan Lega

Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden sutra di kamar tidur utama yang sangat luas. Rein membuka matanya perlahan. Rein merasakan kesegaran yang luar biasa pada seluruh otot tubuhnya. Di samping Rein, Verez masih terlelap dengan tubuh yang tertutup sebagian oleh selimut mahal. Rein menyingkap selimut itu secara perlahan, menatap lekuk tubuh Verez yang sangat indah di bawah siraman cahaya pagi. Rein merasakan gairah yang meledak di dalam darahnya. Batang penis Rein yang besar, panjang, dan berurat sudah berdiri tegak menantang udara pagi.

Rein merangkak mendekati Verez tanpa suara dan membuka lebar kedua paha Verez yang mulus. Ia memposisikan penisnya yang sangat keras tepat di depan lubang kemaluan Verez. Dengan satu sentakan pinggul yang sangat bertenaga, ia menghujamkan penisnya masuk sampai ke pangkal rahim. Verez tersentak bangun dengan pekikan kencang. Verez merintih karena rahimnya dihantam secara tiba-tiba oleh kejantanan Rein yang sangat besar dan tidak memberikan kesempatan bagi Verez untuk sadar sepenuhnya. Rein bergerak dengan ritme yang sangat kasar dan cepat.

Suara benturan panggul Rein dengan bokong Verez memenuhi kamar tidur yang sunyi itu. Verez mencengkeram sprei sutra dengan sangat erat saat Rein terus memacu gerakannya tanpa ampun. Keringat mulai membasahi raga Rein yang penuh otot. Ia merasakan kenikmatan yang luar biasa saat melihat wajah Verez yang merintih dalam kepuasan yang menyiksa. Setelah beberapa saat, Rein mengerang rendah. Rein menyemburkan spermanya yang sangat kental dan panas ke dalam rahim Verez. Verez terkulai lemas dengan napas yang sangat memburu. Rein mencium kening Verez singkat, lalu bangkit dari ranjang dengan raga yang terasa sangat segar.

Kemudian Rein mengenakan jubah mandi hitam. Rein melangkah keluar kamar menuju lift pribadi yang tersembunyi di balik lemari buku. Lift tersebut membawa Rein turun jauh ke bagian bawah tanah kediamannya yang megah. Pintu lift terbuka, menampakkan sebuah gym pribadi yang memiliki peralatan paling canggih di dunia. Rein melepas jubah mandinya. Ia membiarkan tubuh sekelnya kembali terlihat jelas di bawah lampu neon yang terang.

Rein segera memulai sesi latihan berat yang ia susun berdasarkan pengetahuan dari dunia Xiao Lin. Rein mengangkat beban yang beratnya sangat luar biasa. Keringat membasahi seluruh permukaan kulit Rein yang penuh dengan otot yang sangat keras. Setiap gerakan yang Rein lakukan terasa sangat bertenaga. Rein merasakan kekuatan raga yang terus bertumbuh setiap harinya. ia merasa sangat puas dengan kondisi tubuhnya yang sekarang.

Sambil mengatur napas yang berat, Rein melihat ke arah layar monitor besar di dinding ruangan. Tampilan monitor itu memperlihatkan Enzo dan Alice yang sedang menderita di ruang interogasi. Mereka berdua terikat dengan rantai besi yang sangat kuat. Rein tersenyum dingin. Rein merasa sangat puas melihat kehancuran musuh Rein yang sekarang hanya menjadi tumpukan manusia tidak berguna. Rasa dendam yang selama ini membakar batin Rein mulai terasa sedikit mereda.

Pintu gym terbuka secara perlahan. Kara, kepala keamanan pribadi Rein yang sangat setia, masuk dengan pakaian latihan yang sangat ketat. Kara memiliki raga yang sangat atletis dengan perut rata yang berotot. Kara mendekati Rein dengan tatapan mata yang penuh rasa hormat. Kara mengetahui semua rahasia tuan Rein. Kara siap melakukan apa pun untuk menjaga kekuasaan Rein tetap utuh.

"Semua instruksi Anda sudah dilaksanakan, Tuan Rein. Enzo sudah tidak memiliki apa-apa lagi di dunia ini," ucap Kara dengan nada suara yang tenang.

Rein tidak segera membalas laporan itu. Rein justru menatap raga Kara dengan pandangan yang sangat dominan. Rein membiarkan penis Rein yang sangat besar dan panjang menyembul keluar di depan mata Kara. Batang penisnya terlihat sangat kokoh dengan urat-urat yang menonjol kuat. Rein menarik tangan Kara secara kasar. Ia memaksa Kara untuk berlutut di depan Rein tanpa banyak bicara.

"Buktikan kesetiaanmu sekarang," perintah Rein dengan suara bariton yang sangat berat.

Kara segera membuka mulutnya. Kara mulai mengulum penis Rein yang panas dengan gerakan yang sangat mahir. Rein menjambak rambut Kara agar wanita itu menelan seluruh batang Rein sampai ke pangkal tenggorokan. Rein menggerakkan pinggulnya dengan ritme yang cepat. Ia merasakan kenikmatan yang luar biasa saat mulut Kara berusaha menampung ukuran penisnya yang sangat besar. Rein membiarkan gairahnya meledak di tengah keheningan markas rahasianya.

Rein kemudian membawa Kara ke hadapan cermin besar yang ada di dinding gym. Rein memposisikan Kara agar menungging dengan bokong yang terangkat tinggi. Rein memasukkan penisnya ke dalam kemaluan Kara melalui satu dorongan yang sangat dalam. Kara menjerit kencang saat rahimnya dihantam oleh kejantanan Rein yang sangat keras. Rein bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi.

Suara benturan panggul Rein dengan bokong Kara menggema di seluruh ruangan gym yang sunyi itu. Keringat mereka bercampur. Raga Rein tampak sangat berkilat di bawah lampu neon. Rein terus memacu gerakannya tanpa rasa lelah. Ia menggunakan stamina luar biasa hasil latihan ekstrem. Kara hanya bisa merintih dalam kenikmatan yang sangat menyiksa.

Pada puncaknya Rein mengerang rendah. Rein menyemburkan sperma Rein yang sangat kental ke dalam rahim Kara. Cairan putih itu meluap keluar dan membasahi paha Kara. Rein membiarkan penisnya tetap tertanam di dalam tubuh Kara untuk beberapa saat. Rein merasa raga barunya ini jauh lebih kuat daripada yang pernah ia bayangkan. Rein melepaskan Kara, lalu melangkah menuju ruang interogasi untuk menyelesaikan urusannya dengan Enzo.

Rein berdiri di depan Enzo yang sudah tidak berdaya. Rein memegang pistol milik Enzo yang ia ambil di pesawat tempo hari. "Waktumu sudah habis, Enzo. Kau sudah tidak punya tempat lagi di dunia ini," ucap Rein dengan nada yang sangat dingin. Ia menembak kaki Enzo satu per satu, membiarkan pria itu menjerit kesakitan sebelum akhirnya ia melepaskan tembakan terakhir tepat di dahi Enzo.

Rein kemudian menoleh ke arah Alice yang menggigil ketakutan di pojok ruangan. Ia tidak membunuh mantan sekretarisnya itu, ia pun memerintahkan anak buahnya untuk membuang Alice ke tempat penampungan tunawisma yang paling buruk di kota ini tanpa membawa sepeser uang. Rein keluar dari markas rahasianya dengan perasaan yang sangat lega. Ia sudah membersihkan semua sampah dari masa lalunya. Kini Rein siap untuk menguasai dunia bisnis internasional dengan cara yang jauh lebih agresif.
BACA JUGA