REIN: Penaklukan (Bagian 1)

Keesokan harinya, Rein pergi ke bandara pribadinya yang ada di balik bukit di belakang rumahnya. Ia punya rencana besar untuk menguasai sektor teknologi yang kini dipegang Saito Tech, di Jepang. 

Beberapa jam kemudian, pesawat jet pribadinya sudah mengudara menuju Jepang. Di dalam kabin pesawat sambil menyesap sake racikan keluarga Kin Zai, ia terus memikirkan strategi untuk mengakuisi perusahaan itu.

Saat mendarat, Rein disambut pengawalan Saito Tech. Mobil limosin yang sudah dipersiapkan itu membawanya menuju gedung pusat. Kedatangannya untuk memenuhi undangan khusus Kimi Saito, tapi dibalik itu, ia sudah menyiapkan strateginya. 

Sebelum kakinya melangkah masuk ke dalam gedung itu, seluruh senjata Rein dilucuti oleh pengawal Kimi di lobi utama. Ia kemudian dibawa menuju "The Void", sebuah laboratorium sensorik di lantai paling atas gedung itu. 

Saat pintu lift terbuka, Kimi Saito menyambutnya dengan tatapan dingin yang mempesona di balik kacamatanya, di tengah ruangan gelap yang hanya disinaro oleh cahaya biru dari kabel optik yang menjalar di seluruh ruangan itu. Putri dari Jinjo Saito itu memegang kendali penuh atas seluruh sistem milik Saito Tech. 

"Selamat datang, Tuan Rein. Sudah lama aku menantimu," ucap Kimi dengan senyum tipis yang menawan seraya menjentikkan jarinya.

Seketika, jeruji laser berwarna hijau itu langsung muncul mengelilingi Rein. Kimi merasa sudah berhasil menjebak pria itu. Namun, Rein tetap tenang tanpa ada ekspresi kekhawatiran, ia berdiri tegak di posisinya. Ia kemudian mengeluarkan sebuah koin perak dari sakunya, lalu menjatuhkannya ke lantai. Suara dentingan koin seketika memicu kode suara yang telah unit sibernya tanamkan di dalam server utama Kimi selama perjalannya menuju tempat ini. Seketika, jeruji laser itu berubah warnanya menjadi merah, lalu menghilang. Tiba-tiba, Layar utama di ruangan menampilkan rekaman rahasia saat Kimi melakukan transaksi ilegal dengan kartel bayangan.

"Ini kah teknologimu? Kimi," suara Rein dengan suara tenang yang mengejek.

Rein mendekat, menuju arah Kimi yang sedang gemetar ketakukan, karena ia tidak bisa menghubungi pengawalnya melalui tombol emergency yang ada di balik meja kontrol. Ia dengan sigap dan cepat mencengkram tubuh wanita itu dengan kuat, mengikatnya dengan kabel fiber yang ia tarik dari panel kontrol. 

Ikatan yang kuat ke tubuh Kimi membuat wanita itu tidak bisa bergerak, hanya bisa berteriak. Namun sayangnya, teriakan itu terasa sia-sia. Ruangan yang kedap udara itu pun Rein jadikan tempat bermain barunya. Kabel yang sudah mengikat tubuh Kimi kemudian ia gantungkan pada pengait besi yang ada di ruangan itu, hingga membuat tubuh wanita itu sedikit terangkat. 

Rok pendek yang Kimi kenakan itu langsung Rein tarik dengan kasar hingga robek sebagian, membuat tubuh bagian bawahnya yang mulus itu terpampang dengan jesal. Ia kemudian melepaskan celana yang ia kenakan, penisnya yang sudah menegang langsung menonjol keluar.

Rein menjambak rambut Kimi agar menengadah ke arahnya. Ia memaksa wanita itu untuk membuka mulutnya tepat di depan penisnya yang sudah siap menghujam dengan paksa. Rein menyodokkan penis nya hingga jauh ke dalam tenggorokan wanita itu. 

Dengan sengaja, Kimi menggigit penis Rein sebagai bentuk perlawanan. Namun, gigitan itu malah membuat Rein semakin bergairah. Ia terus menghujam mulut Kimi dengan sangat cepat dan penuh tenaga, hingga membuat wanita itu sesekali tersedak dan meneteskan air matanya.

Setelah merasa puas, Rein merendahkan tubuh Kimi, membuatnya berlutut di depan meja kontrol yang biasa wanita itu tempati. Ia mengikat pergelangan kaki wanita itu ke kaki meja kayu menggunakan sisa kabel fiber yang ada di sampingnya. Rein lalu menghujamkan penisnya yang masih tegang dengan keras itu masuk hingga ke pangkal rahim wanita itu, membuatnya berteriak dengan kencang akibat rasa sakit yang belum pernah ia rasakan. 

Rein menggoyangkan pinggulnya maju mundur, sesekali ia mengeluarkan penisnya dan langsung menghujam dengan satu dorongan bertenaga. Membuat Kimi berteriak mohon ampun dengan tubuh yang bergetar hebat dalam kondisi terikat.

Di ruang yang dingin itu, peluh tetap membasahi tubuh mereka. Rein yang sudah tidak kuat menahan spermanya untuk keluar pun langsung mencengkram leher Kimi dengan sangat keras, membuat wanita itu sulit untuk bernapas. Spermanya langsung keluar dengan satu dorongan yang kuat.

Rein merapikan celananya, lalu ia melangkah keluar dari ruangan itu tanpa melepaskan ikatan yang ada pada tubuh Kimi. Sebelum meninggalkan gedung itu, ia memerintahkan unit keamanannya untuk membereskan Kimi, lalu menghubungi unit sibernya untuk proses akuisisi perusahaan itu.
Memuat daftar chapter...
[X]