REIN: Penaklukan (Bagian 1)

Pesawat jet pribadi milik Rein membelah awan di atas langit Tokyo yang sedang diguyur hujan deras. Di dalam kabin yang kedap suara, ia duduk sambil mengamati data statistik pasar Asia Timur yang terpampang pada layar tipis di depannya. Raga Rein yang sekel terbalut jas rancangan penjahit terbaik. Pakaian itu menonjolkan lebar bahu yang dominan. Ia menyesap sake kualitas tertinggi seharga puluhan ribu dolar dengan ekspresi muka yang datar. Langkahnya ke Jepang menjadi awal dari rencana besar untuk menguasai sektor teknologi.

Setibanya di penthouse mewah di pusat distrik Shinjuku, Rein disambut oleh jajaran asisten barunya. Di tengah kerumunan tersebut, berdiri seorang wanita bernama Kimi Saito. Kimi memegang jabatan sebagai pemimpin tertinggi dari Saito Tech, perusahaan teknologi raksasa yang sedang Rein incar. Wanita itu memiliki kecantikan khas oriental yang dingin dengan tatapan mata yang tajam di balik kacamata tipisnya. Gaun sutra hitam yang dikenakannya melekat erat pada lekuk tubuh yang ramping tetapi berisi.

"Selamat datang di Tokyo, Tuan Rein. Saya harap negosiasi kita berjalan lancar," ucap Kimi dengan bahasa Inggris yang sangat fasih.

Rein mengamati Kimi dari ujung kaki hingga ujung rambut dengan pandangan bak predator yang kelaparan. Ia merasakan gairah yang kembali berkobar saat melihat sikap angkuh wanita di hadapannya tersebut. Rein menyuruh semua asisten keluar dari ruangan luas itu. Ia mau berbicara berdua saja dengan Kimi di ruang tamu yang menghadap langsung ke kerlap-kerlip lampu kota Tokyo.

"Aku datang ke sini untuk menundukkanmu dan mengambil alih seluruh kekuasaanmu," suara bariton Rein menggema dengan penuh otoritas.

Kimi mencoba mempertahankan ketenangannya, tetapi ia kesulitan menyembunyikan getaran kecil pada jemarinya. Rein melangkah maju untuk memperkecil jarak di antara mereka berdua. Ia mencengkeram dagu Kimi, memaksa wanita itu menatap matanya yang memancarkan aura kegelapan yang pekat. Rein bisa merasakan napas Kimi yang mulai tidak teratur. Ia menarik tubuh Kimi masuk ke dalam pelukannya yang sekeras baja. Ia melumat bibir Kimi dengan sangat rakus untuk menghancurkan segala pertahanan wanita itu.

Tangan Rein yang besar merobek kain gaun sutra Kimi dalam satu tarikan yang kasar. Ia membiarkan keindahan raga Kimi terpampang nyata di bawah cahaya lampu ruangan. Rein melepaskan ikat pinggangnya dengan sangat cepat. Penisnya yang besar, panjang, dan berurat langsung menyembul keluar dalam kondisi yang sangat tegang. Ukuran kejantanannya yang luar biasa membuat Kimi membelalak ketakutan serta penasaran. Rein memaksa Kimi untuk membungkuk di atas meja kaca yang mahal.

Ia memegang pinggul Kimi yang ramping. Rein menghujamkan penisnya masuk dari arah belakang melalui satu dorongan yang sangat bertenaga. Kimi menjerit kencang saat merasakan kejantanan Rein merobek paksa kehangatan tubuhnya. Rein bergerak dengan ritme yang sangat cepat dan kasar. Suara benturan panggulnya dengan bokong Kimi memenuhi ruangan penthouse yang sunyi tersebut. Ia memacu gerakannya tanpa memedulikan rintihan kesakitan yang mulai berubah menjadi desahan kenikmatan dari bibir Kimi.

Keringat mulai membanjiri tubuh mereka yang saling bertautan. Rein merasakan otot-ototnya menegang hebat seiring dengan kecepatan gerakannya yang semakin tidak terkendali. Ia membolak-balik tubuh Kimi agar wanita itu bisa merasakan berat raga sekelnya di atas ranjang berukuran besar yang empuk. Rein menghajar rahim Kimi dengan kejantanannya yang perkasa sampai wanita itu mencapai puncak kepuasannya berkali-kali. Rein merasa sangat dominan saat melihat Kimi yang tadinya begitu angkuh kini hancur berantakan di bawah kuasanya.

Pada puncaknya, Rein mengerang rendah. Ia menyemburkan spermanya yang sangat kental dan panas jauh ke dalam lubang kemaluan Kimi. Cairan putih itu memenuhi bagian dalam Kimi, memberikan sensasi hangat yang sangat dalam bagi wanita itu. Rein membiarkan dirinya terkulai di atas tubuh Kimi yang lemas tidak berdaya. Ia menarik kembali celananya, lalu berdiri tegak menatap rintik hujan di balik kaca jendela besar penthouse tersebut. Sisa cairan sperma masih menetes dari paha Kimi ke atas sprei sutra yang berantakan.
BACA JUGA