REIN: Penaklukan (Bagian 2)

Rein meninggalkan Tokyo dengan kepuasan yang dingin setelah berhasil menundukkan Kimi Saito. Penaklukan tersebut memberikan kontrol penuh atas Saito Tech. Algoritma AI tercanggih di dunia kini berada di bawah kendalinya. 

Jet pribadinya membelah Samudra Pasifik dengan kecepatan tinggi menuju pantai barat Amerika Serikat. Di dalam kabin yang mewah, ia membiarkan raga sekelnya bersandar pada kursi kulit sambil menikmati segelas wiski tua. Pikirannya mencatat bahwa penguasaan teknologi di Jepang merupakan fondasi utama. Perjalanan panjang melintasi zona waktu tidak membuat energinya terkuras. Ambisinya yang semakin membesar memberikan kekuatan tambahan. Sosok penguasa tersebut menatap cakrawala dari jendela oval. Pikirannya merencanakan penggabungan sistem AI dengan jaringan data global yang ada di Silicon Valley.

Roda jet pribadi Rein menyentuh landasan pacu San Jose tepat saat matahari California mencapai puncaknya. Kabin yang tadinya kedap suara kini dipenuhi oleh deru mesin yang perlahan meredup. Ia melangkah keluar dengan kacamata hitam yang menutupi tatapan tajamnya. Panas aspal yang menyengat tidak menghalangi langkahnya yang mantap. Jas abu-abu gelap yang ia kenakan melekat sempurna. Pakaian itu memperlihatkan raga sekelnya yang dominan. Ia melewati barisan pejabat bandara tanpa menoleh sedikit pun. Rein langsung masuk ke dalam limusin hitam yang telah bersiap untuk membawanya ke pusat kekuasaan data dunia. Target berikutnya berada di puncak gedung pencakar langit berlantai kaca. Perusahaan perangkat lunak yang memegang kendali atas jaringan data global dipimpin oleh Sarah Vence. Perusahaan ini adalah kepingan terakhir yang ia butuhkan untuk mendominasi arus informasi dunia.

Langkahnya bergema di lobi marmer yang sangat luas. Rein naik menuju lantai teratas untuk menemui Sarah Vance. CEO wanita tersebut dikenal memiliki hati sekeras berlian. Sarah berdiri di depan jendela besar. Wanita itu menatap cakrawala kota dengan gaun putih ketat yang memamerkan lekuk pinggul yang berisi. Rambut pirangnya tersanggul rapi. Tampilan tersebut memberikan kesan wanita cerdas yang tidak mudah untuk ditundukkan oleh siapa pun.

"Tuan Rein, kehadiranmu di sini cukup mengejutkan bagi dewan direksi kami. Apa kedatanganmu ke sini untuk mengambil alih perusahaan ini? Urungkan saja niatmu itu, sangat mustahil!" ucap Sarah tanpa menoleh sedikit pun.

Rein mendekat secara perlahan. Ia merasakan aura persaingan yang kental di dalam ruangan tersebut. Ia melepaskan jasnya. Kemeja sutranya yang ketat memperlihatkan setiap guratan otot lengan yang liat. Rein berdiri tepat di belakang Sarah. Ia mencium aroma parfum mahal yang bercampur dengan aroma tubuh wanita itu yang sangat menggoda. Rein mencengkeram bahu Sarah. Ia memutar tubuh wanita itu secara paksa agar menatap langsung ke arahnya.

"Dewan direksimu sudah tidak memiliki suara lagi. Aku sudah membeli saham mayoritas kalian melalui perusahaan cangkang di Jepang pagi ini. Aku datang untuk mengambil alih segalanya, termasuk dirimu," desis Rein dengan suara bariton yang berat.

Sarah mencoba melepaskan diri. Cengkeraman tangan Rein sekeras baja. Rein menarik tubuh Sarah sampai dada mereka bersentuhan rapat. Ia melumat bibir Sarah dengan sangat kasar. Rein menghisap lidah Sarah hingga wanita itu merintih tertahan. Pria itu merasakan detak jantung Sarah yang semakin cepat. Ia merobek gaun putih mahal itu sampai kancing-kancingnya berhamburan ke atas lantai marmer. Raga Sarah yang putih mulus kini terpampang nyata tanpa sehelai benang pun.

Rein melepaskan ikat pinggangnya sendiri. Ia membiarkan celananya meluncur jatuh ke lantai. Penisnya yang besar, panjang, dan berurat langsung berdiri tegak menantang udara ruangan. Ukuran kejantanannya yang sangat perkasa membuat Sarah gemetar hebat. Rein mendorong Sarah ke atas meja kerja kayu jati yang besar. Ia membuka lebar kedua paha Sarah. Rein memposisikan dirinya di antara kedua kaki wanita itu.

Ia menghujamkan penisnya masuk ke dalam kemaluan Sarah melalui satu sentakan pinggul yang sangat bertenaga. Sarah menjerit kencang saat rahimnya dihantam oleh kejantanan Rein yang sangat keras. Rein bergerak dengan ritme yang sangat cepat. Suara benturan panggulnya dengan bokong Sarah menggema di seluruh ruangan kantor yang sunyi tersebut. Ia terus memacu gerakannya untuk menghancurkan pertahanan wanita di bawahnya.

Keringat mulai membanjiri tubuh sekel Rein. Setiap gerakan pinggulnya memberikan sensasi panas yang membakar bagi Sarah. Rein menjambak rambut pirang Sarah. Ia memaksa wanita itu menatap pantulan mereka di jendela kaca. Ia menginginkan Sarah melihat sendiri, bagaimana raga perkasanya mendominasi setiap inci tubuhnya. Rein mempercepat gerakannya. Ia menghajar rahim Sarah tanpa ampun sampai wanita itu mencapai puncak kepuasannya berkali-kali dengan tubuhnya yang bergetar hebat.

Pada puncaknya, Rein mengerang rendah. Ia menyemburkan spermanya yang sangat kental dan panas jauh ke dalam lubang kemaluan Sarah. Cairan putih itu meluap keluar. Sperma tersebut mengalir di antara sela-sela paha Sarah yang sudah lemas tidak berdaya. Rein berdiri tegak. Ia kembali mengenakan celananya tanpa ekspresi wajah. Ia meninggalkan Sarah yang masih terbaring di atas meja kerja dengan napas yang memburu. Sisa cairan sperma masih berceceran di atas dokumen-dokumen penting perusahaan yang kini sudah jatuh ke tangan Rein secara sah.
BACA JUGA