REIN: Penaklukan (Bagian 2)

Setelah kejadian di gedung itu, tidak lama Rein langsung meninggalkan Tokyo untuk menuju pantai barat Amerika Serikat. Ia sudah merencakan untuk mengakuisi perusahaan DTC Inc, sebuah perusahaan yang menyimpan data seluruh dunia.

Hampir 12 jam Rein berada di dalam pesawat itu, selama itu pula ia menyusun berbagai rencana dengan segala kondisi, mulai dari meminta tim sibernya untuk mematikan jaringan CCTV, sampai sabotase jaringan komunikasi para petinggi. 

Setibanya di bandara San Jose, ia langsung bergegas menuju Silicon Valley, tempat perusahaan itu berada. Dan, ia mendapatkan notifikasi dari kacamata canggih yang ia kenakan, bahwa unit sibernya sudah selesai menjalankan tugasnya. Seluruh jaringan CCTV di gedung perusahaan itu telah dilumpuhkan, dengan mengganti rekaman palsu yang diulang

Satu jam kemudian, Rein sampai. Rein masuk tanpa pengawalan dan langsung naik menuju lantai teratas gedung itu. Di sana, ia akan menemui Dextra, pemilik tunggal perusahaan itu. Dextra berdiri di depan jendela kaca yang besar, menatap cakrawala. Ia mengenakan gaun berwarna putih yang ketat hingga lekuk pinggulnya menonjol, semakin terlihat sempurna dengan sanggul sebelah di rambutnya yang pirang.

"Tuan Rein, kehadiranmu di sini mengejutkan. Kau mau apa?" ucap Dextra tanpa menoleh.

Hawa dingin di dalam ruangan seketika menjadi panas. Aura persaingan keduanya semakin membara. Rein perlahan mendekat ke arah Dextra sambil melepaskan jasnya. Kemeja yang ketat itu memperlihatkan setiap guratan otot lengannya yang liat. 

Rein berdiri tepat di belakang Dextra. Aroma parfum sandalwood yang sudah bercampur dengan aroma tubuh wanita itu perlahan masuk dalam indra penciumannya. Seketika, Rein mencengkeram bahu Dextra, lalu memutar tubuh wanita itu dengan paksa agar menatap ia langsung ke arahnya.

"Aku hanya mau mengambil seluruh milikmu, termasuk dirimu," desis Rein dengan nada suara yang berat.

Tidak tinggal diam, Dextra mencoba melepaskan diri dari cengraman Rein. Namun, usahanya gagal. Cengkeraman tangan Rein sekeras baja, membuatnya kesulitan meski ia sudah mengerahkan seluruh kekuatannya.

Saat Dextra mencoba menggunakan kekuatan terakhirnya untuk meminta pertolongan kepada para pengawalnya, itu juga sia-sia. Rein sudah melumpuhkan alat komunikasinya. 

Rein kemudian menarik tubuh Dextra hingga membuat dada mereka bersentuhan rapat. Ia dengan sigap melumat bibir wanita itu dengan kasar, lalu menghisap lidahnya hingga membuat wanita itu merintih tertahan. Detak jantung Dextra semakin kuat, tanpa melepaskan ciumannya, Rein langsung merobek paksa gaun yang dikenakan wanita itu hingga membuat kancing-kancingnya berterbaran di lantai. Seluruh lekukan di tubuh Dextra kini terpampang dengan jelas tanpa adanya kain yang menutupi.

Rein dengan nafsu yang sudah memuncak, tiba-tiba menghantam kaca gedung tebal yang ada di belakang Dextra menggunakan sikutnya. Seketika kaca itu pecah, menciptakan sebuah lubang besar di atas ketinggian.

Angin kencang dari luar langsung masuk mengacak-acak seluruh ruangan. Rein kemudian menyeret Dextra hingga ke pinggir lantai dekat lubang kaca itu. Dextra menjerit ketakutan saat melihat aspal jalanan dari ketinggian. Dengan sigap, Rein langsung melepaskan ikat pinggangnya, membiarkan celananya meluncur jatuh ke lantai. Penisnya yang sudah menegang itu langsung ia arahkan tepat di muka wanita itu. 

"Cepat nungging? Atau kau mati konyol di sini," ucap Rein dengan nada dingin yang memaksa.

Dextra yang sudah terpojok tidak bisa berbuat apa-apa lagi langsung nungging di depan Rein. Tanpa basa-basi, Rein langsung menghujamkan penisnya masuk hingga mencapai pangkal rahim Dextra dengan satu sentakan pinggul yang bertenaga. Dextra menjerit kencang, tapi Rein terus menggerakkan pinggulnya semakin cepat, dibarengi dengan jeritan wanita itu yang tiada henti keluar dari mulutnya.

Di tengah dinginnya angin yang menerpa tubuh mereka, peluh tetap saja membanjiri. Rein tiba-tiba menjambak rambut pirang Dextra yang disanggul itu, memaksa wanita itu untuk melihat ke lubang yang menganga di ketinggian itu. Ketakutan yang Dextra alami, membuat gairahnya semakin membabi buta, gerakannya semakin tidak terkendali. Hujaman demi hujaman ia lakukan, mengabaikan teriakan mohon ampun yang keluar dari mulut wanita itu.

Tubuh Dextra semakin bergetar hebat, saat Rein mendorongnya sedikit ke depan, hingga membuat sebagian tubuh wanita itu ada di luar gedung. Gerakan Rein semakin cepat. Beberapa saat kemudian, ia mengerang rendah, disusul dengan spermanya yang keluar di dalam rahim Dextra yang pikirannya sudah tidak karuan.

Rein kemudai berdiri tegak, menarik Dextra yang sudah lemas itu kembali ke tengah ruangan. Ia mengenakan celananya kembali dengan ekspresi yang datar. Rein mengambil data key yang terpasang di cincin Dextra, lalu menuju lift dan meninggalkan wanita itu di ruangan itu sendirian.

Selama di dalam lift, Rein menghubungi unit keamanan untuk membereskan ruangan itu. Ia juga menghubungi unit sibernya, untuk membantunya mengekstrak data key itu supaya semua data bisa dia amankan.
Memuat daftar chapter...
[X]