REIN: Penaklukan (Bagian 3)
Setelah berhasil mendapatkan data key, Rein langsung terbang menuju Surinda, setelah mendapat informasi, bahwa perusahaan Krakov Energy berusaha menyabotase pengiriman minyak ke fasilitasnya.
Pesawat jet yang Rein tumpangi itu pun akhirnya turun di landasan pribadi yang ia sewa di wiliayah Baikit. Langkah kakinya saat keluar dari pesawat disambut dengan suhu dingin di bawah nol derajat. Dalam balutan mantel bulu beruang, Rein tampak lebih garang dari biasanya.
Kali ini, Rein akan menuju dacha pribadi milik keluarga Krakov menggunakan sebuah mobil amfibi untuk mengelabuhi penjaga keluarga Krakov yang tersebar di seluruh tempat itu., yang kabar dari unit sibernya, kini sedang ditempati anaknya, Katya Krakov. Perjalanan menuju ke tempat itu terasa sangat sunyi, hanya ada tumbuhan tanpa daun disertai guguran kristal salju yang menjadi pemandangannya.
Rein mematikan mesin mobil amfibi beberapa ratus meter dari dermaga kayu dacha. Ia kemudian turun dan bergerak merayap di atas tumpukan salju yang tebal. Rein menghindari sorotan lampu patroli yang menyisir area dermaga. Ia merayap di antara batang-batang pohon yang membeku.
Rein melihat seorang penjaga berdiri di dekat pintu samping. Ia mendekati penjaga itu dengan hati-hati tanpa menimbulkan suara dari arah belakang, lalu mematahkan leher penjaga itu dengan satu sentakan tangan. Rein menyeret mayat penjaga itu ke balik semak berbelukar yang sudah tertutup salju, lalu menutupinya dengan tumpukan salju. Ia kemudian masuk ke dalam bangunan kayu itu melalui jendela lantai bawah yang tidak terkunci.
Rein masuk ke dalam ruangan besar yang hangat karena api perapian, langkah kakinya tidak menimbulkan derik suara. Di depannya, Katya Krakov sedang berdiri menatap perapian mengenakan pakaian kulit hitam ketat yang menonjolkan lekuk tubuhnya. Rambut perak Katya berkilau akibat terkena cahaya api. Rein yang datang langsung mencengkeram leher Katya dari belakang.
"Berani-beraninya kau sabotase, rasakan akibatnya," desis Rein dengan nada suara yang mengancam.
Katya mencoba melawan dengan gerakan yang tangkas. Namun, Rein jauh lebih kuat. Ia memutar tubuh wanita itu lalu membantingnya ke atas meja kayu besar. Tubuh Katya yang sudah lemas penuh darah itu pun tidak bergerak, memberikan kesempatan Rein untuk mengambil sepasang belenggu baja yang tergantung di dinding dekat perapian. Rein dengan sigap mengunci pergelangan tangan Katya pada kaki meja, lalu merobek pakaian kulit wanita itu secara kasar.
Tubuh Katya yang terpampang dengan jelas itu membuat nafsu Rein semakin membara. Ia melepaskan ikat pinggang kulitnya yang tebal, lalu ia gunakan untuk mengikat pergelangan kaki wanita itu agar tetap terbuka lebar.
Penis Rein yang besar itu pun menonjol saat celananya ia lepas. Rein mendekati katya, lalu menjambak rambut perak wanita itu secara kasar. Ia lalu memaksa Katya membuka mulutnya dengan lebar. Dan saat mulut Katya terbuka, Rein langsung menghujamkan penisnya hingga menyentuh pangkal tenggorokan. wanita itu. Pinggulnya bergerak maju mundur dengan ritme yang berantakan. Suara derit belenggu baja mengiringi rintihan Katya.
Setelah merasa puas bermain dengan mulut Katya, Rein berpindah posisi tepat di antara paha wanita itu yang masih terbuka. Ia lalu menghujamkan penisnya masuk hingga mencapai pangkal rahim wanita itu. Katya menjerit kencang, tapi jeritan itu tidak membuatnya merasa kasihan. Rein justru semakin kencang menghujamkan penisnya. Semakin keras hujamannya, semakin keras juga jeritan wanita itu.
Peluh sudah membasahi tubuh Rein. Katya yang sudah semakin lemas, sesekali hanya berdesis mohon ampun agar Rein menghentikan hujaman itu. Namun, Rein mengindahkan, ia semakin cepas menggerakkan pinggulnya maju mundur. Rein terlihat mengerang rendah, ia lalu mengeluarkan penisnya dari lubang senggama Katya, dan seketika ia memuncratkan spermanya hingga mengenai muka wanita itu.
Rein kemudian melepaskan belenggu yang mengikat Katya, lalu menyeretnya menuju pintu dacha. Ia kemudian mengambil botol vodka yang berada di meja, lalu menuangkan isinya ke wajah Katya yang sedang terengah-engah.
Setelah itu ia lalu menghubungi unit keamanannya untuk membereskan lokasi dan menjemputnya. Sebelum meninggalkan tempat itu, Rein mengambil seluruh dokumen penting yang ada di tempat itu.
Post a Comment