REIN: Penaklukan (Bagian 3)

Rein meninggalkan Silicon Valley setelah memastikan sistem data global berada di bawah kendali jemarinya. Jet pribadinya membelah badai salju menuju Moskow. Wilayah tersebut merupakan pusat kekuatan energi yang menjadi kepingan penting bagi operasional AI miliknya. Di dalam kabin, ia mengamati peta jalur pipa gas Rusia yang tersebar di daratan Eropa. Rein tidak merasa kedinginan. Ia justru merasa sangat bersemangat untuk menaklukkan wilayah yang dikenal sangat kejam ini.

Suhu di bawah nol derajat menyambut Rein saat ia melangkah keluar dari pesawat. Angin kutub yang tajam menusuk tidak membuatnya gentar. Ia justru semakin tegap dengan mantel bulu hitam yang menyelimuti raga sekelnya. Di bawah mantel tersebut, otot dada Rein tetap terasa panas serta penuh tenaga. Ia melewati barisan pengawal bersenjata lengkap tanpa menunjukkan rasa takut sedikit pun. Ia langsung masuk ke dalam jip militer lapis baja yang dikirim oleh keluarga Volkov. Targetnya adalah Katya Volkov, agen tingkat tinggi serta putri dari oligarki terbesar di Rusia yang mencoba menyabotase pengiriman minyak ke fasilitasnya di Asia.

Perjalanan menuju dacha pribadi keluarga Volkov di pinggiran hutan birch yang membeku terasa sangat sunyi. Rein masuk ke dalam bangunan kayu yang megah tersebut dengan langkah yang bergema keras. Katya Volkov berdiri di depan perapian besar, mengenakan pakaian kulit hitam ketat yang menonjolkan lekuk raga atletisnya. Rambut perak Katya berkilau di bawah cahaya api. Pemandangan tersebut memberikan kesan wanita predator yang siap membunuh siapa pun yang mengganggunya.

"Tuan Rein, kau sangat berani datang ke sini sendirian di tengah musim dingin yang mematikan ini," ucap Katya dengan aksen Rusia yang sangat tajam.

Rein tidak menjawab dengan basa-basi. Ia melepas mantel bulunya, memperlihatkan kemeja hitam yang sangat ketat membungkus raga sekelnya. Ia melangkah mendekati Katya dengan aura dominasi yang sangat menekan. Rein memojokkan Katya ke dinding kayu yang kasar. Ia merasakan hawa panas dari perapian bercampur dengan aroma parfum Katya yang sangat menggoda. Rein mencengkeram leher Katya. Ia memaksa wanita itu menatap matanya yang sedingin es.

"Aku datang untuk memberikan perintah. Sabotase itu akan berhenti sekarang. Jika tidak, aku akan menghancurkan seluruh keluarga Volkov dalam semalam," desis Rein dengan suara bariton yang berat.

Katya mencoba melawan. Cengkeraman tangan Rein sekeras baja. Rein menarik pinggul Katya hingga menempel pada kejantannya yang sudah mulai menegang. Ia melumat bibir Katya secara brutal. Ia menghisap lidah wanita itu hingga Katya mengeluarkan erangan yang tertahan. Rein merobek pakaian kulit Katya sampai raga putih mulus wanita Rusia itu terpampang nyata di depan perapian. Ia membiarkan Katya melihat raga sekelnya yang penuh otot saat ia melepaskan pakaiannya sendiri.

Rein melepaskan ikat pinggangnya dengan cepat. Penisnya yang besar, panjang, serta berurat langsung berdiri tegak menantang hawa panas ruangan. Batang penisnya terlihat sangat kokoh akibat gairah yang sudah memuncak. Katya gemetar saat melihat ukuran kejantanan Rein yang sangat luar biasa. Rein membalikkan tubuh Katya agar wanita itu bertumpu pada meja kayu besar di depan perapian. Ia membuka lebar kedua paha Katya. Ia memposisikan dirinya di belakang wanita tersebut.

Rein menghujamkan penisnya masuk ke dalam kemaluan Katya melalui satu sentakan pinggul yang sangat bertenaga. Katya menjerit kencang saat rahimnya dihantam oleh kejantanan Rein yang sangat keras. Ia bergerak dengan ritme yang sangat cepat. Suara benturan panggul Rein dengan bokong Katya memenuhi dacha yang sunyi tersebut. Ia terus memacu gerakannya menggunakan seluruh staminanya. Keringat bercampur dengan hawa panas perapian membuat raga Rein tampak berkilat sangat terang.

Ia menjambak rambut perak Katya. Ia memaksa wanita itu untuk merasakan setiap inci dominasinya yang kejam. Rein mempercepat gerakannya. Ia menghajar rahim Katya tanpa ampun sampai wanita itu mencapai puncak kepuasannya berkali-kali dengan tubuh yang bergetar hebat. Rein merasa sangat dominan saat melihat agen tangguh Rusia itu kini hancur berantakan di bawah kuasanya.

Pada puncaknya, Rein mengerang rendah. Ia menyemburkan spermanya yang sangat kental serta panas jauh ke dalam lubang kemaluan Katya. Cairan putih itu memenuhi bagian dalam Katya, memberikan sensasi hangat yang sangat dalam di tengah dinginnya Moskow. Rein menarik kembali celananya. Ia berdiri tegak menatap api yang mulai meredup di perapian. Sisa cairan sperma masih mengalir dari paha Katya ke atas meja kayu yang berantakan.
BACA JUGA