REIN: Kekalahan (Bagian 1)
Rein keluar dari gedung dengan kondisi yang tidak karuan. Darah, peluh, hingga sperma menempel di tubuhnya. Ia keluar melalui lift rahasia yang ada di gedung itu, yang hanya bisa diakses oleh Zata. Rein kemudian lari melewati gang-gang sempit untuk menghindari kerumunan orang, menuju ke sebuah ujung tunnel, tempat di mana unit keamanannya menjemputnya.
Namun, sekelompok orang berpakaian hitam bermasker langsung menyergap Rein, saat ini baru beberapa langka masuk ke dalam tunnel itu. Ia mencoba memberikan perlawanan, tapi obat bius yang sudah disebarkan di sekitar kelompok itu seketika melumpuhkan Rein. Pandangannya perlahan kabur, lalu ia tersungkur, dan seketika kesadarannya hilang total.
Tubuhnya yang dilempar paksa di tengah gurun dengan terik matahari yang menyengat itu sontak membuat Rein tersentak kaget, dan terbangun. Ia menyadari, kini kedua tangannya sudah terikat rantai baja yang kuat. Rein bingung, kenapa dan bagaimana dia ada di tempat itu. Tidak ada bangunan di sekitarnya, hanya ada kendaraan tempur yang berlapis baja dengan ratusan tentara bersenjata yang memandanginya dengan hina.
Tiba-tiba, seorang wanita terlihat keluar dari salah satu kendaraan. Wanita itu bernama Lylia, adik kandung Zata yang lebih memilih kehidupan bawah tanah daripada hidup bermewah-mewah. Paras yang cantik membuat semua orang yang melihat pasti akan jatuh hati kepadanya, ditambah tubuhnya yang ramping dengan payudara berisi semakin menambah kecantikannya.
Namun kesan itu langsung sirna jika tahu kenyataan kalau Lylia adalah wanita pembunuh berdarah dingin. Ia selalu membawa cambuk yang ujungnya dialiri listrik bertegangan tinggi. Kekuatan yang dimiliki wanita itu di atas rata-rata manusia super, tidak heran jika ia menjadi pemimpin jaringan bawah tanah.
"Inilah balasan untukmu," ucap Lylia dengan suara dingin seraya mencambuk tubuh Rein berulang kali, hingga ia merintih kesakitan.
Namun, dengan sisa tenaga yang ia punya, Rein mencoba menerjang ke arah Lylia meskipun kakinya terasa berat. Ia berhasil memukul jatuh dua orang pengawal yang menghalangi jalannya. Namun, saat akan mengarahkan pukulannya ke wajah Lylia. Ia langsung tersungkur jatuh, lalu mengeluarkan darah segar dari mulutnya akibat pukulan mendadak dari wanita itu yang mengenai ulu hatinya. Kecepatan gerak wanita itu sungguh di luar dugaannya, atau mungkin karena tenaganya yang terkurang habis, pikirnya.
Pertarungan habat terjadi tengah gurun yang panasnya membakar kulit. Rein berkali-kali memberikan serangan beruntun di sisa tenaga yang ia punya. Namun, Lylia selalu menangkis setiap pukulannya. Saat Rein lengah, Lylia langsung menyabetkan cambuk listrik ke arah punggungnya, membuatnya berteriak kencang akibat sengatan listrik yang menghancurkan sistem sarafnya secara paksa. Rein jatuh tersungkur, tapi Lylia langsung menendangnya dengan sangat keras hingga membuat bayangannya berkunang-kunang. Rein yang sudah kesulitan untuk melihat dan bergerak itu hanya bisa pasrah. Ia sudah tidak peduli, hidup atau mati.
Tubuh Rein kemudian diseret paksa di atas pasir panas gurun oleh anak buah Lylia. Wanita itu mendekat, ia lalu menginjak datat Rein menggunakan sepatunya yang keras tepat di luka bahunya yang menganga. Rein mengerang kesakitan.
"Kau akan menjadi budak pemuas nafsuku, Rein. Aku akan memeras seluruh kejantananmu sampai kau memohon untuk dibunuh," desis Lylia tepat di telinga Rein.
Lylia lalu memerintahkan anak buahnya untuk membawa Rein menuju sel paling dalam di istana bawah tanah. Rein dengan bayangan samarnya melihat Lylia tersenyum puas, mungkin karena melihat penderitaan yang ia alami.
Post a Comment