Paranoia: Misteri Bakso Beranak
Jumat Kliwon
Lamongan, 4 Mei 1923
Malam Jumat Kliwon, dua puluh tiga tahun sejak perjanjian berdarah di pantai Lasem. Angin laut Lamongan berembus kencang, membawa aroma asin yang pekat bercampur bau anyir yang samar. Di pinggir jalan setapak yang becek dan berlumur lumpur pesisir, sebuah warung tenda kusam berdiri sendirian di bawah rindangnya pohon ketapang tua. Sebuah papan kayu tergantung miring di tiang bambu, bertuliskan "Bakso Beranak Pak Kumis" dengan cat merah babi yang sudah mengelupas di sana-sini.
Vino menghentikan laju sepeda motor tua miliknya tepat di depan tenda. Deru mesin motor mendadak mati, digantikan oleh sunyi malam yang mencekam.
"Argh... sialan, perutku," rintih Vino sambil memegangi perutnya yang melilit hebat. Rasa lapar itu datang begitu mendadak, menghantam lambungnya seperti tusukan pisau dapur yang diputar-putar di dalam organ dalam.
Vino melangkah masuk ke dalam warung, menyibak tirai kain kusam yang terasa berminyak saat disentuh. Di dalam tenda, penerangan hanya bersumber dari sebutir bohlam kuning redup yang bergoyang pelan ditiup angin malam. Cahaya itu memantulkan bayangan panjang yang meliuk-liuk di dinding triplek penuh noda lemak hitam pekat. Bau kaldu yang sangat gurih tercium kuat, merangsang air liur Vino untuk menetes, namun ada aroma aneh yang menusuk di indra penciumannya—bau besi berkarat yang dipanaskan.
"Pesan apa, Mas?"
Sesosok pria tua muncul dari balik tirai plastik dapur belakang. Pria itu memiliki kumis tebal melintang yang menutup bibirnya, dengan sepasang mata cekung yang dingin tanpa ekspresi. Apron putih yang ia kenakan penuh dengan bercak kecokelatan kering yang sudah mengeras. Pria tua itu tidak lain adalah Karyono, yang kini menggunakan nama samaran Pak Kumis.
"Bakso beranak satu porsi, Pak. Yang paling besar! Cepat ya, saya lapar sekali," jawab Vino dengan nada ketus seraya menghempaskan tubuhnya ke atas kursi plastik yang terasa lengket oleh minyak.
Pak Kumis hanya mengangguk pelan. Ia berbalik ke arah dandang besar yang mengepulkan uap putih tebal. Air di dalam dandang itu berwarna keruh kemerahan, meletup-letup mengeluarkan busa lemak yang kental. Dengan menggunakan serokan besi, Pak Kumis mengangkat sebuah bola daging raksasa seukuran kepala bayi.
Plak!
Mangkuk besar berisi bakso raksasa itu diletakkan di depan Vino. Vino tertegun sejenak. Bakso itu nampak bergetar pelan di atas kuah yang berminyak, seolah-olah ada sesuatu yang hidup di dalamnya. Permukaan dagingnya kasar, dipenuhi urat-urat lemak menonjol berwarna keunguan yang menegang mirip pembuluh darah manusia.
"Silakan dinikmati, selagi hangat," bisik Pak Kumis dengan suara serak, lalu melangkah mundur ke sudut ruangan yang gelap.
Tanpa pikir panjang, Vino menyambar botol sambal di pojok meja. Ia memeras botol itu, menumpahkan cairan cabai merah kental di atas permukaan bakso hingga kuahnya berubah warna menjadi merah pekat. Tangan Vino gemetar hebat karena rasa lapar yang kian menggila. Ia memegang pisau dapur tipis yang disediakan di atas meja, lalu menghujamkannya tepat di tengah-tengah bola daging tersebut.
Sret! Srat!
Lapisan daging kelabu itu robek terbuka. Bersamaan dengan robeknya daging induk, puluhan butir bakso kecil seukuran kelereng menggelinding keluar dari rongga dalam, membanjiri mangkuk. Vino langsung menyendok sebutir bakso kecil, meniupnya sebentar, lalu memasukkannya ke dalam mulut.
Crot!
"Ah! Kenyal sekali... joss!" gumam Vino dengan mulut penuh daging.
Tekstur dagingnya sangat liat, hampir menyerupai karet, namun ledakan rasa gurih yang luar biasa langsung menjalar ke seluruh dinding mulutnya. Rasa gurih itu begitu kuat, membuat saraf-saraf di kepala Vino berdenyut kencang hingga ia mendesah kenikmatan. “Ngggh, enak banget ini...” Vino terus melahap butiran-butiran bakso itu dengan rakus, menelannya bulat-bulat tanpa memedulikan rasa hangat aneh yang mulai membakar tenggorokannya.
Pada kunyahan yang ketiga belas, gerakan rahang Vino mendadak terhenti.
Klek!
Giginya menghantam sesuatu yang sangat keras di dalam butiran bakso yang sedang ia kunyah. Vino mengernyitkan dahi, lalu meludahkan isi mulutnya ke telapak tangan kanan. Di antara lumatan daging kelabu itu, sebuah kuku jari tangan manusia yang masih lengkap dengan sisa kuteks merah jambu tergeletak.
Jantung Vino berdegup kencang. Ia mengenali warna kuteks itu. Itu adalah warna kuteks milik pacarnya yang hilang tanpa jejak sebulan lalu saat berpamitan pergi ke pasar malam.
"I-ini... apa-apaan ini?!" pekik Vino, suaranya bergetar hebat.
Rasa mual yang dahsyat langsung menyerang pangkal tenggorokannya, namun seluruh otot tubuh Vino mendadak kaku secara instan. Ia mencoba berdiri dari kursi, tetapi kedua kakinya terasa lemas dan lembek seperti jeli yang mencair. Jangankan berlari, untuk menggerakkan jari tangannya pun ia sudah tidak mampu.
Pak Kumis berjalan mendekat dari sudut kegelapan. Langkah kakinya terdengar berat di atas lantai tanah yang becek. Di tangan kanannya, ia kini memegang sebuah palu besi besar berlumur noda hitam yang sudah mengering.
"Kenapa berhenti, Mas? Habiskan... anak-anak di dalam perutmu masih ingin bermain," bisik Pak Kumis tepat di samping telinga Vino dengan nada datar yang teramat dingin.
"B-ba... ji... ngan..." Vino berusaha mengumpat, namun bibirnya terlalu kaku.
Bugh!
Palu besi itu dihantamkan dengan kekuatan penuh ke tengkuk Vino. Bunyi remukan tulang leher terdengar jelas di dalam tenda yang sunyi. Pandangan mata Vino langsung gelap seketika, dan tubuh tambunnya ambruk ke lantai.
Saat kesadarannya kembali, Vino mendapati dirinya dalam kondisi telanjang bulat, telentang di atas meja kayu panjang yang tebal di dapur belakang warung. Kedua pergelangan tangan dan kakinya diikat sangat kencang menggunakan tali tambang rami yang kasar, hingga kulitnya lecet dan berdarah setiap kali ia mencoba bergerak.
Bau busuk bangkai yang teramat menyengat langsung menusuk hidungnya, membuat matanya perih. Vino mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang remang-remang. Di langit-langit dapur, tergantung potongan-potongan kaki, paha, dan lengan manusia yang kulitnya sudah berubah warna menjadi biru kehijauan, dikerumuni oleh puluhan lalat hijau yang berdengung berisik.
Di ujung meja, Pak Kumis sudah berdiri tegak. Ia memegang sebuah pisau bedah perak yang sangat tajam, yang berkilau menangkap sisa cahaya lampu.
"Mmmph! Mmmph!" Vino mencoba menjerit sekuat tenaga, namun mulutnya sudah disumpal penuh dengan gumpalan lemak sapi mentah yang asin, amis, dan dingin, membuat tenggorokannya tersedak.
Tanpa membuang waktu, Pak Kumis menancapkan ujung pisau bedah itu tepat di bawah pusar Vino.
Sreeet! Srak!
Suara robekan kulit terdengar sangat nyata di telinga Vino. Pak Kumis menarik pisau itu lurus ke atas hingga ke dada, mengiris kulit dan lapisan lemak perut Vino dengan sekali gerak. Darah segar berwarna merah terang langsung menyembur keluar dari jalur sayatan, mengalir deras membanjiri sisi meja kayu dan menetes ke lantai. Vino mengerang hebat di balik sumpalan lemaknya, matanya melotot sejadi-jadinya hingga urat merah di bola matanya pecah karena menahan rasa sakit yang luar biasa dahsyat. “Mmmmghhh! Nghhhh!”
Pak Kumis memasukkan kedua tangannya yang keriput ke dalam robekan perut Vino yang masih mengepulkan uap hangat. Ia merogoh ke dalam rongga perut, lalu menarik paksa usus halus Vino keluar seperti seutas tali tambang. Dengan menggunakan gunting besi besar, Pak Kumis memotong-motong usus halus yang masih berdenyut itu menjadi bagian-bagian pendek.
Cros! Cros!
Darah segar kembali menyembur, mengenai wajah Vino dan merembes masuk ke celah matanya, membuat pandangan pria itu memerah. Pak Kumis kemudian beralih ke mesin penggiling daging manual yang bautnya sudah karatan, yang terpasang di ujung meja.
"Kita mulai dari jari-jarimu ya," kata Pak Kumis santai.
Ia mengambil golok, lalu menebas kelima jari tangan kanan Vino dalam satu ayunan keras. Pak Kumis memasukkan potongan jari-jari tangan itu satu per satu ke dalam lubang mesin penggiling. Ia mulai memutar tuas besi mesin tersebut dengan kuat.
Krek... krek... krek...
Bunyi tulang-tulang jari yang hancur berkeping-keping terdengar mengerikan, mirip seperti kerupuk mentah yang diinjak dengan sepatu bot. Remahan tulang hancur, jaringan kuku, dan lumat daging halus keluar dari ujung mesin, jatuh tepat ke dalam sebuah wadah plastik yang sudah berisi bumbu racik rahasia berbau wangi ketumbar dan bawang. Pak Kumis mengambil segenggam adonan daging dari jari-jari Vino tersebut, lalu dengan lihai membentuknya menjadi butiran bakso kecil menggunakan tangan telanjangnya yang berlumur darah.
"Sekarang, kita buat isian untuk bakso induknya. Bagian paling inti," ucap Pak Kumis sambil menatap ke arah selangkangan Vino yang gemetar hebat.
Dengan satu gerakan cepat dan beringas, Pak Kumis mengayunkan pisau bedahnya, memotong penis serta kedua biji testis Vino hingga terlepas dari pangkalnya.
"MUUUGHHH! NGGGGHHH!" Vino melolong dalam sumpalannya, tubuhnya mengejang hebat di atas meja, meliuk-liuk seperti cacing yang disiram garam hingga otot-otot di lehernya menegang keras hampir putus. Air mata campur darah mengalir deras dari sudut matanya. Dua biji peler yang berlumur darah itu kemudian dimasukkan oleh Pak Kumis ke dalam adonan daging yang lebih besar sebagai isian anak bakso.
Belum selesai penderitaan Vino, Pak Kumis mulai menyayat paha kanan Vino. Ia menguliti dan menyisit daging paha itu lapis demi lapis dengan pisau daging, memisahkannya dari tulang paha hingga menyisakan tulang putih yang bersih tanpa daging sedikit pun. Daging paha yang masih berdenyut dan gemetar itu dicampur di atas nampan dengan tepung kanji serta kucuran darah segar yang ditampung dari perut Vino. Pak Kumis mengaduk-aduk adonan kental itu dengan tangan telanjangnya sampai teksturnya menjadi sangat kenyal.
Dengan cekatan, Pak Kumis membentuk adonan paha tersebut menjadi bola bakso raksasa seukuran kepala bayi. Ia melubangi bagian tengahnya, lalu menjejalkan semua bakso kecil yang terbuat dari potongan jari, usus, dan buah zakar Vino ke dalam perut bola daging besar itu, lalu menutupnya kembali hingga rapat.
Napas Vino kini menjadi pendek dan putus-putus, tidak beraturan. Kesadarannya mulai timbul tenggelam akibat syok dan kehilangan terlalu banyak darah. Matanya yang kian sayu melihat ke arah bawah, menyaksikan tubuhnya sendiri dari dada ke bawah sudah habis dipangkas dan dikuliti menjadi gumpalan-gumpalan daging mentah di atas meja.
Pak Kumis mengangkat sisa tubuh Vino yang tinggal separuh, bersama dengan bola-bola daging bakso yang baru saja ia cetak. Ia berjalan mendekati dandang besar di sudut ruangan, lalu menceburkan semuanya ke dalam air yang sedang mendidih bergejolak.
Cesssss!
Suara daging mentah yang bertemu dengan air panas membara memenuhi ruangan dapur yang sunyi itu. Gelembung-gelembung air mendidih langsung mengelilingi sisa tubuh Vino, melepaskan sisa-sisa kulit ari yang menempel. Di dalam air kaldu yang menggelegak panas tersebut, Vino perlahan merasakan sensasi terbakar yang luar biasa menyiksa saat daging tubuhnya mulai menampakkan tanda kematangan dan berubah warna menjadi kelabu.
Uap panas dari air mendidih yang mengepul tebal ke udara akhirnya menyamarkan napas terakhir yang diembuskan oleh Vino, meninggalkan aroma masakan daging yang teramat gurih di dalam warung tenda itu.
____
Jumat Kliwon
Blitar, 4 Mei 1962
Lampu-lampu minyak di sepanjang jalanan antarkota Blora-Blitar berpijar redup, bergoyang pelan tertiup angin malam yang dingin. Andi, seorang supir truk muatan barang antarpulau, menginjak rem dalam-dalam. Truk besarnya berhenti tepat di depan sebuah tenda bambu kusam di pinggir jalur hutan jati yang sepi. Di kain tenda putih yang sudah dekil karena cipratan lumpur, tertulis nama "Bakso Mas Eman" dengan cat hitam.
Perut Andi mendadak melilit hebat. Rasa lapar menyerang lambungnya dengan sangat agresif, terasa seperti tusukan paku panas yang dihantamkan berulang kali ke dinding lambung. Andi menyeka keringat dingin yang mengucur di dahinya, lalu melangkah keluar dari kabin truk. Ia menerobos masuk ke dalam tenda yang pengap dan dipenuhi uap lemak tebal berbau anyir.
"Pak! Bakso beranak satu porsi. Yang paling besar, taruh mangkuk paling tebal!" teriak Andi dengan suara serak sambil menghempaskan pantatnya di atas kursi plastik yang terasa lengket.
Sesosok pria tua muncul dari balik tirai kain kusam yang membatasi dapur. Tangan pria tua itu tampak basah oleh cairan bening berbau amis. Wajahnya sangat pucat, dengan tatapan mata yang kosong namun tajam. Pria itu adalah Karyono, yang kini hidup dalam wujud baru sebagai Mas Eman. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, ia menyodorkan semangkuk besar berisi bola daging seukuran kepala bayi ke hadapan Andi.
Andi yang sudah tidak tahan langsung meraih botol sambal merah. Ia menuangkan cairan cabai itu dalam jumlah banyak hingga kuah bakso yang awalnya bening keruh berubah warna sepenuhnya, menyerupai genangan darah segar yang berbusa. Tanpa menunggu garpu, Andi langsung menghujamkan pisau dapur bergagang kayu tepat ke tengah-tengah bakso raksasa tersebut.
Srat!
Irisan pisau itu merobek lapisan daging terluar yang kenyal. Detik itu juga, semburan cairan merah kehitaman dari sisa tubuh Vino—korban puluhan tahun lalu yang telah menyatu dalam kutukan daging—muncrat keras, mengenai kaos oblong yang dikenakan Andi. Bau besi tajam yang teramat menyengat segera menyeruak ke udara, bercampur dengan aroma bawang goreng yang gosong. Dari dalam rongga perut bakso induk, belasan butir bakso kecil seukuran kelereng menggelinding keluar, membanjiri mangkuk.
Andi tidak peduli. Rasa lapar yang tidak masuk akal mematikan akal sehatnya. Ia menyendok satu butir bakso kecil yang terbuat dari jaringan testis Vino, lalu memasukkannya ke dalam mulut.
Croot!
"Ah... ngggh, gurih banget!" desah Andi.
Cairan asin dan hangat langsung meledak, membanjiri rongga mulut Andi. Setiap kali gerahamnya mengunyah bulatan daging itu, lidahnya merasakan tekstur kasar yang sangat mengganjal, menyerupai jalinan serat saraf liat yang sulit hancur. Ada sensasi kenyal tidak wajar yang ikut serta menyiksa gerahamnya, namun rasa gurih yang teramat kuat seolah menghipnotis saraf otaknya, memaksa Andi untuk terus melahap isi mangkuk itu dengan beringas tanpa henti.
Klek!
Kunyahan Andi mendadak terhenti ketika giginya menghantam benda kecil yang sangat keras. Andi mengernyit, lalu meludahkan isi mulutnya ke telapak tangan. Di antara sisa kunyahan daging kelabu, sebuah kuku jari kelingking manusia dengan sisa kulit ari yang mengerut terpampang nyata.
Rasa mual seketika naik ke pangkal tenggorokan, membuat Andi ingin muntah. Namun secara instan, seluruh tubuh Andi mendadak kaku. Otot-otot di lehernya menegang begitu keras hingga kepalanya terkunci, tidak bisa menoleh sama sekali.
Mas Eman berjalan pelan dari balik tirai plastik kusam dapur belakang. Di tangan kanannya, ia menyeret sebuah pengait besi besar yang biasa digunakan di jagal hewan untuk menggantung jasad sapi.
"Habiskan, Mas. Jangan dibuang... dia ingin tumbuh di dalam perutmu," suara Mas Eman terdengar serak dan bergetar tepat di lubang telinga Andi.
Glek.
Seketika, perut Andi bergejolak hebat. Lambungnya membuncit dengan kecepatan yang tidak masuk akal, mendorong kancing celananya hingga lepas berterbangan. Rasa perih yang luar biasa menghitamkan pandangannya. Butiran-butiran bakso kecil yang sudah ia telan tadi mendadak bergerak secara liar. Daging-daging kelabu di dalam lambungnya seolah menumbuhkan kuku-kuku kecil yang tajam, lalu mulai mencakar dan merobek dinding perut Andi dari dalam.
"Ugh... hoakkk!"
Andi mencoba menusuk tenggorokannya dengan jari untuk memuntahkan isi perutnya. Namun, bukannya sisa makanan yang keluar, melainkan gumpalan rambut hitam lebat dan panjang yang keluar memanjang dari dalam kerongkongannya. Rambut itu menyumbat total jalur pernapasan Andi, membuatnya tersedak hebat hingga matanya melotot keluar.
Bruk!
Andi terjatuh dari kursi plastik, tubuhnya tumbang dan mengejang hebat di atas lantai ubin yang becek oleh tumpahan kuah bakso dari mangkuknya yang pecah. Kulit perut Andi merenggang sangat tipis, berubah menjadi transparan hingga menampakkan siluet gumpalan bakso-bakso kecil di bawah kulitnya yang terus membelah diri secara liar. Jaringan otot perut Andi terkoyak satu per satu akibat tekanan dari dalam.
Srak!
Kulit perut yang meregang ekstrem itu akhirnya sobek di beberapa bagian. Robekan yang perlahan membesar itu mengeluarkan rembesan darah kental bercampur cairan kuning lambung yang berbau busuk. Dari dalam celah robekan kulit perut Andi, tampak tonjolan-tonjolan daging berwarna kelabu yang terasa hangat, berdenyut-denyut cepat seperti jantung yang baru saja dipotong dari dada. Andi mengerang kesakitan, namun suaranya tenggelam oleh sumbatan rambut yang kian memanjang di kerongkongannya. “Nggghhh... mmmph... hhuuugh!”
Mas Eman menatap datar tubuh Andi yang sedang sekarat. Tanpa ragu, ia menghujamkan ujung tajam pengait besi besar ke pergelangan kaki kanan Andi hingga menembus tulang dan memutuskan urat sarafnya.
Kraak!
Andi mengejang hebat, seluruh badannya melengkung ke atas menahan sakit yang tak terperikan saat besi berkarat itu mengoyak jaringan kakinya. Air mata kesakitan membasahi pipinya yang kian pucat pasi. Mas Eman menarik pengait besi itu dengan beringas. Ia menyeret tubuh Andi yang tak berdaya menembus lantai tenda, menyisakan jalur darah merah pekat yang panjang menuju ke arah meja kayu di dapur belakang.
Sesampainya di dapur, Mas Eman mengangkat tubuh Andi ke atas meja kayu, lalu mengikat kedua tangan supir truk itu menggunakan kawat berduri. Kawat-kawat tajam itu langsung merobek kulit pergelangan tangan Andi hingga ke tulang, mengunci posisinya dengan kokoh. Mas Eman lalu mengambil sebuah pisau jagal besar yang biasa ia gunakan untuk menguliti korbannya.
Srak! Srak!
Mata pisau dingin itu merobek sisa kulit perut Andi, memperlebar lubang yang menganga dari ulu hati hingga selangkangan. Darah segar menyembur keluar seperti air pancuran, membanjiri permukaan meja kayu dan menetes deras ke ubin dapur. Mas Eman memasukkan tangannya yang keriput ke dalam rongga perut Andi yang panas. Dengan gerakan kasar, ia menarik keluar jalinan usus, memotong pembuluh darah jantung, dan merenggut paru-paru Andi yang masih kembang kempis, lalu meletakkannya di atas sebuah nampan seng.
Kesadaran Andi mulai memudar dengan cepat. Pandangan matanya yang melotot perlahan kehilangan fokus akibat tekanan darahnya yang merosot tajam ke titik nol. Tubuh Andi kini hanya bisa merasakan sensasi dingin yang teramat sangat, yang menjalar dari rongga perutnya yang kosong ke seluruh tubuh saat udara dapur menyentuh organ dalamnya yang tersisa.
Mas Eman mulai menyayat kulit paha Andi yang tebal.
Srak! Srak!
Suara mata pisau yang memotong otot-otot paha menjadi suara terakhir yang sanggup dicerna oleh otak Andi sebelum napasnya benar-benar hilang bersamaan dengan kesadarannya. Mas Eman memotong tendon di pangkal paha, memisahkan tulang paha Andi dari panggul dengan satu tarikan kasar yang sangat beringas.
Mesin penggiling daging manual di pojok dapur mulai mengeluarkan suara deru parau saat Mas Eman memutar tuasnya. Ia memasukkan satu per satu organ dalam, jantung, paru, dan potongan jari Andi ke dalam lubang besi berkarat tersebut. Adonan kental yang keluar dari ujung mesin membentuk bubur daging kemerahan yang pekat. Mas Eman kemudian mencincang sisa daging paha yang masih menempel di tulang Andi, mencampurnya dengan bumbu racik rahasia, tepung kanji, serta genangan darah hangat Andi yang mengalir di atas meja.
Tangan Mas Eman yang kasar mulai meremas dan membentuk adonan tersebut menjadi bulatan-bulatan kecil, menjejalkan potongan saraf liat serta sumsum tulang Andi ke dalamnya. Terakhir, ia mengambil adonan daging paha Andi, membentuknya menjadi bola raksasa seukuran kepala bayi, lalu menjejalkan puluhan bakso kecil tadi ke dalam rongga bola daging besar itu hingga padat.
Sisa tubuh Andi yang tersisa—termasuk tulang-tulang rusuk dan kepalanya yang bermata melotot—langsung dipotong-potong oleh Mas Eman menggunakan kapak daging menjadi bagian-bagian kecil. Mas Eman mengangkat gumpalan bakso beranak yang baru selesai dicetak bersama potongan tulang Andi, lalu menceburkannya sekaligus ke dalam dandang besar yang air kaldunya sudah mendidih bergolak di atas tungku.
____
Jumat Kliwon
Pemalang, 4 Mei 2040
Di tengah kesunyian hutan jati yang lebat di pinggiran kota Pemalang, sebuah warung tenda bakso berdiri sayu. Sebutir lampu bohlam temaram bergoyang pelan, berdecit akibat tiupan angin malam yang menusuk tulang. Seorang pria bertubuh sangat tambun berlindung di balik jaket tebalnya, berdiri kaku di balik rombong kayu. Cak Ndut, begitu orang-orang di sekitar pinggiran hutan memanggilnya.
Cak Ndut baru tiga bulan membuka lapak dagangannya di tempat terpencil itu. Namun malam ini, tubuh tambunnya tiada henti bergetar. Ia memandangi jalanan aspal hitam di depan hutan jati yang lengang dengan tatapan kosong, tanpa ada satu pun tanda-tanda kehadiran manusia. Keringat dingin mengucur deras dari dahi dan balik jaket tebalnya, membasahi kaos dalamnya hingga basah kuyup.
Jam dinding plastik yang tergantung di tiang bambu tenda berdetik parau, menunjukkan pukul 11.59 malam. Semenit lagi sebelum malam ritual pembalasan dendam harus dituntaskan. Kegelisahan Cak Ndut memuncak saat ia merasakan getaran halus dari bawah tanah hutan jati, merambat naik menembus ubin tanah hingga ke telapak kakinya.
Kruuuk... Kreeek...
Perut Cak Ndut mendadak bergejolak hebat. Rasa lapar yang luar biasa membakar menghantam dinding lambungnya dengan kekuatan penuh. Padahal, sejam yang lalu ia sudah makan tiga porsi nasi padang. Kedua kakinya gemetar hebat, tidak kuat lagi menopang berat badannya.
"Ah... ah... b-bajingan! Kenapa lapar sekali ini, kakek buyut... tolong..." rintih Cak Ndut, erangannya pecah saat ia tersungkur di atas lantai tanah, kedua tangannya mendekap erat perutnya yang mendadak melilit dahsyat seperti diperas tangan tak terlihat.
Dengan sisa tenaga yang ada, Cak Ndut merangkak dengan napas tersengal-sengal menuju ke arah dandang besar yang mengepulkan uap putih panas. Di dalam dandang itu, terdapat sisa-sisa bola bakso beranak miliknya yang belum laku. Tanpa memikirkan sendok atau mangkuk, pria bertubuh tambun itu langsung memasukkan tangannya ke dalam air kaldu yang mendidih, meraup bola-bola daging besar itu secara rakus dengan tangan telanjang.
Cesss!
"AAAGHH! Panas! Sialan, h-hangat... enak!" Cak Ndut menjerit sekaligus mendesah gila. Kulit tangannya melepuh tersiram kuah, namun mulutnya terus mengunyah daging-daging kenyal itu dengan beringas.
Ia menelan bulat-bulat bulatan daging tersebut, mencoba mengisi lambungnya yang terus-menerus terasa kosong dan menganga lapar. Bau anyir bangkai yang teramat pekat dari uap kuah langsung menyergap lubang hidungnya begitu seluruh bakso di dalam dandang habis ia lahap tanpa sisa.
Detik itu juga, petaka dimulai.
Perut Cak Ndut membuncit dengan kecepatan ekstrem. Kain jaket tebal yang ia kenakan robek seketika, benang-benangnya putus berhamburan. Tidak hanya perut, seluruh jaringan kulit di lengan, paha, dan lehernya ikut membesar dan meregang parah, hingga memperlihatkan jalinan urat-urat lemak dan pembuluh darah yang menegang merah di balik kulitnya yang kian menipis.
"Masuklah... bergabunglah dengan kami... cicit perwira keparat!"
Suara bisikan gaib dari ribuan jiwa korban yang telah ia tumbalkan bersama leluhurnya terdengar menggema berulang kali, mengisi penuh ruang kepala Cak Ndut hingga telinganya mengeluarkan darah segar.
Gumpalan-gumpalan bakso di dalam perut Cak Ndut mendadak berputar secara liar. Daging kelabu di dalam lambungnya mencakar dinding usus hingga jaringan otot perutnya sobek dari dalam. Cairan hitam kental bercampur lemak berbau busuk merembes keluar dari pusarnya yang kini terbuka lebar, menganga lebar seperti mulut yang kelaparan.
Cak Ndut yang sudah setengah gila menahan rasa sakit langsung menyambar pisau bedah tajam dari atas meja kayu dengan tangan yang gemetar hebat.
Sreeet!
Ia menyayat kulit perutnya sendiri secara perlahan, berharap tekanan udara di dalam lambungnya yang menghimpit jantung bisa mereda. Namun, bukannya rasa sakitnya berkurang, Cak Ndut justru menjerit ngeri saat melihat butiran bakso kecil yang baru saja ia telan justru merangkak keluar dari luka sayatan perutnya. Bakso-bakso kecil itu telah menumbuhkan kuku-kuku manusia yang tajam di permukaannya, mencakar robekan kulit luar agar bisa bebas.
"NGGGHHH! J-JA-NGAN! AMPUN!" erang Cak Ndut bergulingan di lantai.
Kulit lengannya ikut berdenyut kencang, lalu sobek perlahan mengeluarkan cairan lemak kental berwarna kuning kehijauan yang menetes, membanjiri ubin tenda yang becek. Karena tubuhnya kini telah membengkak hebat laksana balon daging dan kehilangan keseimbangan, Cak Ndut terjerembap ke belakang.
Byuurrr!
Tubuh tambunnya jatuh tepat ke atas dandang besar berisi sisa air kaldu yang sedang menggelegak panas di atas kompor gas.
Cessssss!
Bunyi mengerikan dari daging manusia yang bersentuhan langsung dengan air mendidih memenuhi seluruh warung tenda yang sunyi itu. Cak Ndut yang masih memiliki kesadaran penuh hanya bisa mengerang tiada henti dengan suara parau yang menyedihkan. “Mmmfghhh... nggghhh... p-panas... g-gusti... ahhhh!”
Ia tidak bisa berbuat apa-apa, lumpuh total di dalam dandang besar saat merasakan kulit ari dan lapisan lemak tubuhnya terlepas dari tulang secara perlahan, mencair dan menyatu dengan racikan kaldu berdarah miliknya sendiri.
Akibat pergerakan hebat dari tubuh Cak Ndut yang kian membesar di dalam dandang, wadah besi raksasa itu pun terguling. Cairan lemak mendidih yang meluap ke segala arah segera menyambar selang tabung gas melon di bawah kompor. Selang karet itu meleleh seketika akibat hawa panas yang berlebihan, memicu kebocoran gas dalam skala besar.
DUAR!!!
Sebuah ledakan dahsyat menghancurkan warung tenda bakso itu dalam sekejap mata. Kobaran api merah bercampur hitam pekat membubung tinggi ke langit malam, melahap habis seluruh bangunan kayu, bambu, dan sisa-sisa gumpalan daging tubuh Cak Ndut, menyisakan keheningan malam Jumat Kliwon yang mencekam di tengah hutan jati Pemalang.
___
Jumat Kliwon
Blora, 4 Mei 1900
Malam itu, langit Blora pekat tanpa bintang. Hutan jati di pinggiran kota menjadi saksi bisu ketegangan yang memuncak. Karyono berlari kencang, napasnya memburu, menembus semak belukar yang menyabet kulit wajahnya. Sepatu laras seragam KNIL milik tentara Belanda yang ia curi terasa berat penuh lumpur. Sebagai mata-mata pribumi yang menyusup ke barisan musuh, Karyono baru saja menyelesaikan tugas menyabotase gudang peluru milik kompeni.
Dor! Dor!
Dua dentuman senjata laras panjang memecah keheningan dari arah kejauhan, tepat dari titik gubuk tempat ia menyembunyikan keluarganya. Jantung Karyono serasa berhenti berdetak.
"Sialan! Jangan sekarang, Gusti... jangan mereka!" umpat Karyono dengan suara serak, mempercepat langkah kakinya hingga otot betisnya hampir kejang.
Karyono menerobos pintu gubuk anyaman bambu miliknya yang sudah jebol tendang paksa. Bau mesiu bercampur amis menyengat indra penciumannya. Di atas tanah merah yang becek, pemandangan di depannya menghancurkan seluruh kewarasannya.
Sari, istrinya, tergeletak melintang. Gaun kain jariknya robek, dadanya bolong mengalirkan genangan darah kental yang masih mengepulkan uap hangat. Di samping jasad Sari, dua anak lelakinya yang belum genap berumur sepuluh tahun tewas mengenaskan dengan leher nyaris putus akibat sabetan bayonet.
"Sari! Bagas! Guntur!" Karyono melolong, suaranya pecah mengguncang ruangan sempit itu. Ia bersimpuh, meraup wajah kedua anaknya yang sudah dingin dan memeluk tubuh istrinya yang bersimbah darah. Air matanya bercampur dengan darah yang mengalir di lantai.
Di sudut meja kayu, sebuah lencana perwira tinggi KNIL milik Letnan Van Der Wijck sengaja ditinggalkan. Itu adalah pesan jelas dari sang atasan yang telah mencium pengkhianatannya.
"Bajingan! Biadab kamu, Van Der Wijck! Demi bumi dan langit, aku bersumpah!" teriak Karyono sambil menatap lencana emas tersebut dengan tatapan penuh dendam. "Aku akan memotong-motong seluruh keturunanmu! Anak, cucu, cicit, sampai buyutmu akan mati dalam kondisi tubuh terpotong-potong menjadi santapan!"
Kemarahan yang membakar dada membuat Karyono kehilangan akal sehat. Malam itu juga, ia menggendong jasad istri dan anak-anaknya ke dalam gerobak, lalu berjalan kaki menembus kegelapan sejauh belasan kilometer menuju pesisir pantai Lasem.
Angin laut berembus kencang, menghempaskan ombak ke tebing karang saat Karyono tiba di tepi pantai. Air laut terlihat hitam legam. Karyono mencabut belati dari pinggangnya. Tanpa ragu, ia menyayat telapak tangan kirinya dari pangkal jempol hingga pergelangan.
Sret!
Darah segar mengucur deras. Karyono berlutut di atas pasir basah, membiarkan aliran darahnya mengalir, larut bersama buih air laut yang dingin.
"Wahai penguasa kegelapan pantai utara! Ambil jiwaku! Berikan aku pembalasan dendam yang tidak akan selesai! Berikan aku kekuatan untuk memakan daging-daging keturunan pembunuh ini!" teriak Karyono histris, menantang gemuruh ombak.
Air laut di depannya mendadak bergolak kencang, berputar membentuk pusaran air yang besar. Bau busuk belerang dan bangkai laut menyeruak. Dari dalam gulungan ombak hitam, sebuah bayangan tinggi besar memancar, dengan dua mata merah menyala laksana bara api yang menyala di tengah malam.
"Karyono... nyawamu dan seluruh darahmu adalah milikku mulai detik ini," sebuah suara menggema di dalam kepala Karyono, membuat telinganya berdenging hebat hingga mengeluarkan darah. "Kau akan terus hidup lewat daging. Setiap malam Jumat Kliwon, kau harus memberi makan bumi dengan daging manusia. Jika kau gagal menyediakan tumbal, maka tubuhmu sendiri yang akan dicincang lumat menjadi santapan pengikutku."
"Aku setuju! Biar tubuhku hancur, asalkan garis keturunan Van Der Wijck mati menderita di tanganku!" jawab Karyono sambil tertawa renyah, tawa kegilaan yang mengerikan.
Sesosok makhluk hitam itu mengulurkan lengan bayangannya yang penuh dengan duri hitam. Sebuah cincin emas kuno berukir kepala ular terjatuh di atas pasir di depan Karyono.
"Pakai cincin itu. Itu adalah pengikat kutukanmu. Garis keturunan perwira itu tidak akan pernah lepas dari incaranmu, dimanapun mereka berada," bisik suara itu sebelum akhirnya lenyap bersama ombak yang kembali tenang.
Karyono mengambil cincin itu dengan tangan yang gemetar. Saat cincin terpasang di jari manisnya, rasa lapar yang sangat luar biasa langsung menghantam lambungnya. Perutnya berbunyi nyaring, melilit hebat seolah-olah organ dalamnya sedang diremas oleh tangan tak terlihat. Karyono menatap jasad keluarganya di dalam gerobak, lalu menatap tangannya sendiri yang kini dipenuhi urat-urat hitam.
Ritual kutukan bakso beranak telah lahir dari rahim dendam kesumat.
___
Sabtu Legi
Pemalang, 5 Mei 2040
Pagi itu, kabut tipis masih menggantung di sela-sela pohon jati, namun suasana di pinggiran hutan Pemalang sudah teramat mencekam. Bau daging gosong yang sangat menyengat bercampur aroma besi terbakar tercium kuat, menusuk hidung siapa saja yang mendekat ke lokasi kejadian. Puluhan warga desa berdiri menyemut di balik garis polisi kuning yang melingkari sisa reruntuhan warung tenda bakso milik Cak Ndut.
Warung itu kini rata dengan tanah, hanya menyisakan puing-puing tiang bambu yang menghitam dan tumpukan abu kelabu tebal yang sesekali terbang tertiup angin hutan.
Seorang petugas kepolisian muda bernama Wirawan melangkah melewati garis pembatas. Sepatu bot kulitnya amblas beberapa sentimeter ke dalam tanah yang becek oleh sisa air pemadam dan cairan lemak padat yang membeku. Wirawan menghela napas panjang, mencoba menghalau rasa mual yang tiba-tiba bangkit akibat bau busuk yang tertinggal di area pusat ledakan.
Sambil memegang senter, Wirawan mengais tumpukan abu hitam di dekat bekas tungku menggunakan ujung sepatu botnya.
Krek.
Sepatunya menghantam sesuatu yang keras. Wirawan membungkuk, lalu memindahkan sisa-sisa arang menggunakan bilah kayu. Matanya terbelalak. Di balik tumpukan abu yang menghanguskan seluruh bangunan, terdapat sebuah foto kuno berbingkai kayu jati yang sama sekali tidak terbakar, bahkan tidak ada bekas jelaga sedikit pun di permukaannya.
Wirawan memungut foto itu dengan tangan kirinya. Jantungnya berdegup kencang saat menatap gambar hitam-putih yang sudah memudar di dalam bingkai. Foto itu menampilkan seorang perwira tinggi KNIL Belanda dengan seragam militer lengkap berselempang emas, berdiri tegak dengan tatapan angkuh di depan sebuah gubuk di Blora. Pria di dalam foto itu adalah Letnan Van Der Wijck—kakek buyut Wirawan sendiri.
Namun, perhatian Wirawan segera teralih ke tanah, tepat di titik foto itu tadi tergeletak. Sebuah cincin emas kuno berukir kepala ular yang melingkar tampak berkilau di antara abu. Cincin itu berlumur cairan merah kental yang anehnya masih basah dan hangat, seolah-olah baru saja keluar dari nadi seseorang.
Wirawan seperti terhipnotis. Ia mengambil cincin emas itu, lalu menyeka darah kental beserta kotoran hitam yang menempel menggunakan ibu jarinya. Tanpa keraguan sedikit pun, seolah digerakkan oleh kekuatan tak kasat mata, Wirawan memasukkan cincin kuno itu ke jari manis tangan kirinya.
Zasss!
Detik itu juga, sebuah hantaman rasa sakit yang luar biasa menusuk tepat di tengah otaknya. Wirawan memegangi kepalanya dengan kedua tangan, lututnya membentur tanah. Jantungnya berpacu gila-gilaan. Kilasan ingatan kelam milik Karyono dari tahun 1900 mendadak membanjiri ruang kepala Wirawan seperti air bah.
Ia bisa melihat dengan sangat jelas malam berdarah di Blora, jeritan istri dan anak-anak Karyono yang dibantai oleh bayonet sang kakek buyut, hingga kepulan asap hitam di pantai Lasem saat perjanjian darah itu diucapkan. Suara lolongan dendam Karyono menggema parau di dalam gendang telinga Wirawan: "Anak, cucu, cicit, sampai buyutmu akan mati dalam kondisi tubuh terpotong-potong menjadi santapan!"
Sumpah itu nyata. Kutukan berdarah itu tidak akan pernah hilang sebelum seluruh garis keturunan Letnan Van Der Wijck habis tak bersisa di atas bumi. Dan kini, cincin itu telah menemukan inang barunya—sang cicit sendiri yang bertugas sebagai penegak hukum.
Kruuuk... Kruuuk...
Rasa lapar yang teramat sangat, yang belum pernah Wirawan rasakan seumur hidupnya, mendadak menghantam dinding lambungnya dengan beringas. Perutnya melilit hebat, seakan-akan organ dalamnya sedang dicabik-cabik oleh kuku-kuku tak terlihat. Air liurnya menetes deras dari sudut bibir, terasa asin dan amis.
Wirawan mengangkat tangan kirinya. Kulit lengannya mendadak menegang keras hingga menjadi semi-transparan, menampakkan urat-urat besar berwarna biru kehitaman yang berdenyut-denyut liar di bawah permukaan kulitnya. Jari-jari tangannya mulai bergerak kaku, menekuk laksana cakar yang siap menerkam.
"Hoi, Wir! Kamu menemukan sesuatu di sana?"
Suara bentakan dari Bagus, rekan polisi bertubuh kekar yang berdiri beberapa meter di sampingnya, memecah keheningan. Bagus berjalan mendekat sambil memegang papan jalan, tidak menyadari perubahan mengerikan yang sedang terjadi pada tubuh rekannya.
Wirawan perlahan bangkit berdiri. Tubuhnya kaku, namun tatapan matanya berubah total. Sepasang bola matanya yang tadi jernih kini dipenuhi guratan urat merah darah dengan pupil yang mengecil, menatap lurus ke arah leher Bagus yang penuh urat lemak hangat. Di dalam kepala Wirawan, rasa lapar itu berbisik gila, membayangkan betapa kenyalnya daging paha dan betapa gurihnya jalinan usus hangat milik temannya itu jika dicincang lumat masuk ke dalam mesin penggiling daging.
"Wir? Kamu kenapa? Wajahmu pucat sekali," tanya Bagus lagi, melangkah mundur saat melihat desah napas Wirawan yang beruap tebal dan berbau anyir besi berkarat. “Ngggh... l-lapar... Bagus...” rintih Wirawan dengan suara yang berubah serak, dalam, dan parau—suara yang persis sama dengan milik Pak Kumis dan Mas Eman.
Tanpa sadar, Wirawan melangkah maju, mencengkeram erat pisau komando di pinggangnya dengan tatapan lapar yang teramat mengerikan. Garis keturunan sang perwira kini akan mulai memotong tubuhnya sendiri untuk dijadikan santapan malam Jumat Kliwon berikutnya.
Post a Comment