Paranoia: Misteri Bakso Beranak
Jumat Kliwon
Lamongan, 4 Mei 1923
Vino menghentikan motornya di depan sebuah warung tenda kusam yang berdiri sendirian di pinggir jalan setapak di jalanan pesisir pantai. Perutnya melilit hebat, rasa lapar itu terasa seperti pisau yang mengiris lambungnya dari dalam. Di papan kayu yang tergantung miring, tertulis nama "Bakso Beranak Pak Kumis" dengan cat merah yang sudah mengelupas. Bau kaldu yang sangat gurih tercium kuat, tapi ada aroma aneh yang menusuk, mirip bau besi berkarat yang dipanaskan.
Vino melangkah masuk. Suasana di dalam sangat sepi. Hanya ada satu lampu bohlam kuning yang bergoyang pelan, menciptakan bayangan panjang di dinding triplek yang penuh noda lemak hitam.
"Pesan apa, Mas?" seorang pria tua dengan kumis tebal dan apron putih yang penuh bercak kecokelatan muncul dari balik tirai plastik.
"Bakso beranak satu, Pak. Yang paling besar," jawab Vino sambil duduk di kursi plastik yang terasa lengket.
Pak Kumis, si penjual hanya mengangguk tanpa ekspresi. Ia mengambil mangkuk besar, lalu menyiduk sebuah bola daging dari dalam dandang yang airnya berwarna keruh kemerahan. Saat diletakkan di meja, bakso itu nampak bergetar pelan. Permukaannya kasar, penuh urat-urat lemak yang menonjol seperti pembuluh darah yang menegang.
Vino langsung menyambar botol sambal. Ia menuangkan cairan merah pedas itu ke atas bakso itu. Tangannya gemetar saat mulai membelah bagian tengah daging itu dengan pisau dapur yang disediakan.
Sret!
Lapisan daging kelabu itu terbuka. Puluhan butir bakso kecil seukuran kelereng keluar dari perut bakso induk membajiri mangkok tersebut. Vino menyendok satu butir, lalu mengunyahnya. Tekstur dagingnya sangat kenyal, hampir seperti karet, tapi dapat meledakkan rasa gurih yang membuat saraf kepalanya berdenyut kencang. Vino terus makan bakso-bakso itu dengan rakus, tidak peduli dengan rasa aneh yang mulai menjalar di tenggorokannya.
Saat kunyahan ketiga belas, tiba-tiba, gigi Vino menghantam sesuatu yang keras di dalam bakso kecil yang ia santap. Ia meludahkannya ke telapak tangan. Sebuah kuku manusia yang masih lengkap dengan sisa kuteks merah jambu tergeletak. Vino tertegun. Warna kuteks yang sama dengan milik pacarnya yang menghilang sebulan lalu.
Rasa mual menyerang, tapi, seluruh tubuh Vino mendadak kaku. Ia mencoba berdiri, namun kakinya terasa lemas seperti jeli. Pak Kumis berjalan mendekat, kali ini ia membawa sebuah palu besi besar.
"Kenapa berhenti? Anak-anak di dalam perutmu masih ingin bermain," bisik Pak Kumis lirih.
Bugh!
Palu itu menghantam tengkuk Vino. Pandangannya gelap seketika.
Saat terbangun, Vino mendapati dirinya dalam posisi telanjang bulat, terikat kencang di atas meja kayu panjang di dapur belakang. Bau busuk bangkai manusia menyengat hidungnya. Di sekelilingnya, tergantung potongan-potongan kaki dan tangan manusia yang sudah membiru.
Pak Kumis yang sudah siap dengan pisau bedah yang sangat tajam. Tanpa basa-basi, ia mulai mengiris kulit perut Vino dari bawah pusar hingga ke dada. Vino ingin menjerit, tapi mulutnya sudah disumpal dengan gumpalan lemak sapi yang asin dan amis.
Srak! Srak!
Suara robekan kulit terdengar jelas di telinga Vino. Pak Kumis membelah lapisan lemak perut Vino, lalu memasukkan tangannya ke dalam rongga perut yang masih hangat. Ia menarik paksa usus halus Vino, memotongnya menjadi bagian-bagian pendek menggunakan gunting besi.
Darah merah segar menyembur ke wajah Vino, merembes masuk ke celah matanya. Pak Kumis kemudian mengambil mesin penggiling daging manual yang bautnya sudah berkarat. Ia mulai memasukkan potongan jari-jari tangan Vino satu per satu ke dalam lubang mesin itu.
Krek... krek...
Bunyi tulang jari yang hancur berkeping-keping terdengar seperti kerupuk yang diinjak. Remahan tulang dan daging halus keluar dari ujung mesin, jatuh ke dalam wadah plastik berisi bumbu racik rahasia. Pak Kumis mengambil adonan daging dari jari-jari Vino, lalu membentuknya menjadi butiran bakso kecil.
"Sekarang, bagian intinya," kata Pak Kumis sambil menatap selangkangan Vino.
Dengan satu gerakan cepat, Pak Kumis memotong penis dan kedua biji peler Vino. Vino mengerang hebat di balik sumpalannya, tubuhnya mengejang sampai otot lehernya hampir putus. Biji peler itu kemudian dimasukkan ke dalam adonan daging yang lebih besar sebagai isian anak bakso oleh Pak Kumis.
Pak Kumis lalu membedah paha Vino, menyisit dagingnya hingga menyisakan tulang putih yang bersih. Daging paha yang masih berdenyut itu dicampur dengan tepung kanji dan darah segar Vino. Adonan itu diaduk-aduk dengan tangan telanjang sampai menjadi kenyal.
Pak Kumis membentuk adonan paha Vino menjadi bola bakso seukuran kepala bayi. Ia memasukkan semua bakso kecil yang terbuat dari jari dan organ dalam Vino ke dalam perut bola daging besar itu.
Napas pendek Vino keluar tidak beraturan, matanya yang mulai sayu melihat tubuhnya sendiri sudah habis dipangkas menjadi gumpalan-gumpalan daging. Pak Kumis kemudian mengangkat sisa tubuh Vino, bersamaan dengan gumpalan daging itu, lalu menceburkannya ke dalam air mendidih di dalam dandang.
Cesss!
Suara itu mengisi ruangan sunyi itu, bersamaan dengan gelembung air yang semakin terlihat mengeliling tubuh Vino. Pria itu pun perlahan merasakan panas yang luar biasa menyiksa saat dagingnya mulai menampakkan tanda kematangan di dalam air kaldu yang menggelegak. Uap panas dari air yang mendidih itu pun menyamarkan napas terakhir yang ia hembuskan.
____
Jumat Kliwon
Blitar, 4 Mei 1962
Lampu jalanan berpijar redup. Andi, supir truk muatan barang, memarkir truknya tepat di depan tenda Bakso Mas Eman. Perut sopir itu melilit hebat. Rasa lapar menyerang lambung Andi seperti tusukan paku panas. Andi menyeka keringat di dahi, lalu melangkah masuk ke dalam tenda yang pengap oleh uap lemak.
"Pak, bakso beranak satu porsi. Paling besar!" teriak Andi sambil menghempaskan pantat di kursi plastik lengket.
Mas Eman, si penjual muncul dari balik tirai plastik kusam. Tangan pria tua itu basah oleh cairan bening berbau amis. Tanpa suara, penjual itu menyodorkan semangkuk besar berisi bola daging seukuran kepala bayi.
Andi segera menuangkan sambal merah hingga kuah bakso berubah warna menyerupai genangan darah. Ia langsung menghujamkan pisau dapur ke tengah bakso itu.
Srat!
Irisan itu merobek lapisan daging terluar. Semburan cairan merah kehitaman dari sisa tubuh Vino muncrat mengenai kaos Andi. Bau besi tajam segera menyeruak, bercampur aroma bawang goreng menyengat. Dari dalam perut bakso induk, belasan butir bakso kecil menggelinding keluar membanjiri mangkuk berkuah lemak itu.
Andi menyendok satu butir bakso kecil dari jaringan testis Vino. Ia mengunyahnya dengan rakus.
Croot!
Cairan asin meledak di dalam mulut Andi. Setiap kali Andi mengunyah bulatan bola bakso itu, lidahnya hampir selalu merasakan tekstur kasar yang mengganjal, menyerupai jalinan serat saraf liat yang sulit hancur. Sensasi kenyal tidak wajar terkadang ikut serta menyiksa gerahamnya. Namun, rasa gurih yang sangat kuat memaksa Andi terus melahap isi mangkuk itu tanpa henti.
Andi meludah ke telapak tangannya, saat giginya menghantam benda kecil yang sangat keras. Andi tertegun, saat melihat sebuah kuku jari kelingking manusia dengan sisa kulit ari mengerut terpampang nyata di matanya. Rasa mual seketika naik ke pangkal tenggorokannya. Membuat seluruh tubuh Andi mendadak kaku. Otot lehernya menegang keras hingga kepalanya tidak bisa menoleh.
Mas Eman berjalan pelan dari balik tirai plastik kusam. Pria tua itu membawa pengait besi besar yang biasa digunakan untuk menggantung bangkai sapi.
"Habiskan. Dia ingin tumbuh di dalam perutmu," suara Mas Eman terdengar serak di dekat telinga Andi.
Seketika, perut Andi membuncit sangat cepat, disertai dengan rasa perih yang menghujam lambungnya. Butiran bakso yang sudah ia lahap tadi seolah mencakar dinding perutnya dari dalam menggunakan kuku-kuku kecil yang tumbuh mendadak. Andi mencoba memuntahkan seluruh isi perutnya. Namun, gumpalan rambut hitam keluar menyumbat tenggorokan Andi, menyumbat jalur napas pria itu hingga ia tersedak hebat.
Andi terjatuh dari kursinya. Tubuh pria itu lalu mengejang hebat di atas ubin yang becek, yang semakin becek akibat tumpahan bakso dari mangkoknya. Kulit perut Andi merenggang sangat tipis, hingga menampakkan gumpalan bakso-bakso kecil yang baru saja ia telan bergerak-gerak secara liar di bawah kulitnya. Gumpalan daging itu terus membelah diri, mendesak paksa dinding perut Andi hingga jaringan ototnya terkoyak satu per satu. Tekanan dari dalam lambung yang kian penuh membuat kulit perutnya yang mereggang, meregang itu pun sobek perlahan di beberapa bagian.
Robekan yang perlahan membesar itu pun mulai mengeluarkan rembesan darah bercampur cairan kuning berbau busuk. Tonjolan-tonjolan daging berwarna kelabu yang terasa hangat, berdenyut seperti jantung yang baru dipotong itu pun tampak terlihat dengan jelas. Andi mengerang, tapi suaranya tertahan oleh gumpalan rambut yang kini mulai tumbuh memanjang di dalam kerongkongannya.
Srak!
Mas Eman menghujamkan ujung tajam pengait besi itu ke pergelangan kaki Andi hingga menembus tulang dan urat sarafnya. Andi mengejang hebat saat besi berkarat itu mengoyak jaringan kakinya. Air matanya membasahi pipi yang tampak sangat pucat.
Mas Eman menarik pengait itu, dengan beringas, tanpa peduli dengan apa yang Andi rasakan. Ia terus menarik pengait itu, membuat Andi terseret, menyisakan bekas darah di sepanjang jalurnya. Mas Eman berhenti, tepat di meja kayu panjang di dapur belakang.
Mas Eman lalu mengikat tangan Andi menggunakan kawat berduri yang langsung merobek kulit pergelangan tangannya. Mas Eman lalu mengambil pisau yang biasa ia gunakan untuk menguliti korbannya.
Srak! Srak!
Suara pisau dingin yang tajam itupun perlahan memperlebar robekan di perutnya, membuat lubang besar yang menganga. Darah segar merembes keluar dari robekan itu membanjiri meja kayu. Mas Eman memasukkan tangannya yang keriput itu ke dalam rongga perut Andi yang terasa hangat. Ia menarik keluar usus, jantung, hingga paru yang masih terasa hangat itu, lalu menaruhnya di sebuah nampan.
Perlahan, kesadaran Andi mulai memudar, matanya yang tadinya melotot perlahan kehilangan fokus akibat tekanan darahnya merosot tajam. Tubuh Andi kini hanya bisa merasakan sensasi dingin yang menjalar dari perut ke seluruh tubuhnya saat udara luar menyentuh rongga perut yang menganga.
Mas Emanl mulai menyayat kulit paha Andi.
Srak! Srak!
Suara saat mata pisau mengiris otot paha menjadi suara terakhir yang sanggup dicerna otak Andi sebelum napasnya hilang bersamaan dengan kesadarannya. Pria itu lalu memotong tendon di pangkal paha, memisahkan tulang paha Andi dari panggul dengan satu tarikan kasar yang beringas.
Saat mesin penggiling daging manual di pojok dapur mulai mengeluarkan suara deru yang nyaring. Mas Eman pun memasukkan satu per satu organ yang ada di tubuh Andi ke dalam lubang besi berkarat itu. Adonan yang keluar dari ujung mesin itu bagai bubur kental kemerahan. Pria itu lalu mencincang sisa daging yang masih menempel di tulang Andi, mencampurnya dengan bumbu racik rahasianya, termasuk campuran darah Andi yang masih hangat di atas meja.
Tangan Mas Eman yang kasar mulai membentuk adonan itu menjadi bulatan-bulatan kecil, lalu memasukkan potongan saraf dan sumsum tulang Andi. Mas Eman lalu membentuk adonan daging paha Andi menjadi bola besar seukuran kepala bayi. Pria itu menjejalkan puluhan bakso kecil tadi ke dalam rongga bola daging besar itu.
Sisa tubuh Andi yang tersisa, termasuk tulang hingga kepala, langsung dipotong oleh Mas Eman menjadi bagian kecil-kecil. Pria itu lalu memasaknya bersamaan bulatan bakso yang sudah dibuat tadi ke dalam dandang yang airnya sudah mendidih itu.
____
Jumat Kliwon
Pemalang, 4 Mei 2040
Di tengah kesunyian hutan jati di pinggiran kota, sebuah tenda bakso berdiri sayu dengan lampu temaran yang bergerak akibat tiupan angin. Seorang pria, bertubuh tambunyang berlindung di balik jaket tebalnya terlihat berdiri kaku di depan tempat itu. Cak Ndut, begitu orang di sekitaran tempat itu memanggilnya.
Cak Ndut baru tiga bulan berjualan di tempat itu. Namun, kali ini, pria itu tampak gelisah saat memandangi jalanan aspal yang tidak menampakkan tanda kehadiran manusia dengan tatapan kosong. Pria bertubuh tambun itu tiada henti menyeka keringat dingin yang mengucur dari balik jaket tebalnya.
Jam yang tergantung di dinding tenda menunjukkan pukul 11.59, semenit sebelum malam ritual dilaksanakan. Namun, belum ada satu pun manusia yang mampir ke tendanya. Kegelisahan Cak Ndut memuncak saat merasakan getaran halus dari bawah tanah hutan jati yang merambat naik ke telapak kakinya.
Perut Cak Ndut mendadak bergejolak hebat. Rasa lapar yang membakar menghantam dinding lambungnya, padahal sebelumnya ia sudah makan sangat banyak. Kakinya gemetar hebat, Cak Ndut tersungkur sambil mendekap perutnya yang tiba-tiba melilit dahsyat.
Cak Ndut merangkak dengan napas tersengal-sengal menuju dandang yang dipanaskan, tempat bakso beranak miliknya. Pria bertubuh tambun itu langsung melahap bola-bola daging dingin itu secara rakus menggunakan tangan telanjang tanpa peduli dengan panas mendidih yang membakar. Cak Ndut terus mengunyah, mencoba mengisi lambungnya yang terasa kosong itu.
Bau anyir bangkai dari uap kuah mulai menyergap lubang hidungnya saat seluruh bakso di dandang sudah habis dimakan. Saat itu juga, perutnya membuncit dengan cepat, merobek jaket tebal yang ia kenakan. Tidak hanya perut, seluruh tubuhnya pun ikut membesar, hingga memperlihatkan isi yang ada di balik kulitnya yang semakin tipis itu.
"Masuklah!"
Suara dari ribuan korban yang ia tumbalkan itu berulang kali mulai mengisi ruang kepalanya.
Gumpalan bakso di dalam perut Cak Ndut berputar liar, mencakar dinding lambung hingga jaringan otot perutnya sobek. Cairan hitam kental merembes keluar dari pusar yang kini terbuka lebar seperti mulut yang lapar. Cak Ndut menyambar pisau bedah dari atas meja kayu dengan tangan gemetar. Pria itu menyayat kulit perutnya sendiri secara perlahan untuk meredakan tekanan yang menghimpit jantungnya.
Sreeet!
Bukannya mereda, Cak Ndut semakin merasakan sakit akibat butiran bakso kecil yang ia telan justru keluar dari luka sayatan itu dengan kuku-kuku tajam yang tumbuh di permukaannya. Cak Ndut mengerang ngeri saat melihat kulit lengannya ikut berdenyut kencang, lalu sobek perlahan mengeluarkan cairan lemak kental yang menetes ke atas ubin tenda yang becek.
Tubuh Cak Ndut yang kini membengkak hebat kehilangan keseimbangan itu pun jatuh terjerembap tepat ke dalam dandang berisi air kaldu yang sedang menggelegak panas.
Cesssss!
Bunyi daging yang bersentuhan dengan air mendidih memenuhi tenda itu. Cak Ndut yang masih memiliki kesadaran itu pun mengerang tiada henti. Ia tidak bisa berbuat apa-apa, selain terus menerus mengerang saat merasakan kulitnya terlepas dari tulang secara perlahan, menyatu dengan racikan kaldu berdarah.
Akibat pergerakan tubuhnya yang semakin membesar, dandang itu pun terguling. Cairan lemak mendidih yang meluap segera menyambar selang gas yang seketika bocor akibat panas yang berlebihan.
Duar!
Ledakan dahsyat menghancurkan warung tenda itu dalam sekejap. Api berkobar hebat, melahap habis seluruh bangunan di tenda bakso itu.
___
Jumat Kliwon
Blora, 4 Mei 1900
Door.
Suara peluru terdengar nyaring, memecah keheningan malam. Seseorang pria yang mendengar suara itu pun langsung bergegas menuju sebuah gubuk, tempat persembunyiannya bersama keluarga kecilnya. Pria itu adalah Karyono, seorang mata-mata yang berhasil menyelinap di KNIL.
Sesampainya di gubuknya, tiba-tiba tubuhnya kaku, air matanya seketika membanjiri pipinya, disertai dengan teriakan saat melihat istri beserta kedua anaknya terbaring di tanah bersimbah darah. Karyono pun bersimpuh di samping jasad istri serta anak-anaknya. Ia bersumpah, akan membalaskan dendam mereka, menghabisi seluruh anak turun dari pembunuh sampai habis tidak bersisa.
Malam itu juga, Karyono menyeret langkah kakinya menuju pesisir pantai Lasem dalam kegelapan yang pekat. Di atas pasir basah, Karyono menyayat telapak tangan sendiri, membiarkan darah segarnya yang menetes itu bercampur dengan air laut yang dingin.
Seketika, sosok hitam bertubuh tinggi muncul dari balik gulungan ombak. Dan, saat itu juga, sebuah perjanjian berdarah untuk mendapatkan kekekalan yang mengikat jiwanya pun terjadi. Sebagai imbalan, Karyono harus menyiapkan tumbal setiap malam jumat kliwon, jika tidak, maka dirinya yang akan menjadi tumbal pengganti.
___
Sabtu Legi
Pemalang, 5 Mei 2040
Pagi itu, suasana mencekam. Banyak warga berkumpul di sekitar sisa reruntuhan warung tenda bakso Cak Ndut yang sudah hangus. Bau daging terbakar masih sangat kuat menyengat hidung siapapun yang mendekat. Di tempat itu, garis polisi sudah terpasang, melingkari area ledakan yang kini hanya menyisakan tumpukan abu kelabu yang terkadang berterbangan tertiup angin hutan.
Seorang petugas kepolisian muda bernama Wirawan mengais tumpukan abu menggunakan ujung sepatu botnya. Wirawan menemukan sebuah foto kuno yang tidak terbakar sedikitpun, meski saat ditemukan foto itu berada di pusat ledakan. Foto itu menampakkan kakek buyut Wirawan, seorang perwira tinggi KNIL yang bertugas di Blora ratusan tahun silam.
Namun, matanya tertuju pada cincin emas kuno yang berlumur darah yang tergeletak di samping foto itu. Wirawan mengambil cincin itu, lalu menyeka darah beserta kotoran yang menempel. Tanpa ragu, Wirawan memasukkan cincin itu ke jari manis tangan kirinya. Dan, seketika itu juga, ingatan Karyono membanjiri ruang kepala Wirawan.
Rasa lapar secara mendadak menghantam lambung Wirawan. Kulit pria itu pun menegang keras hingga menampakkan urat-urat biru yang berdenyut liar di bawah permukaan. Ternyata, sumpah itu benar-benar tidak akan hilang sebelum seluruh garis keturunan itu mati.
Dan, tanpa sadar, Wirawan menatap rekan polisi di sampingnya dengan tatapan lapar yang sangat mengerikan.
Post a Comment