REIN: Bersatu Kembali
Kilatan cahaya putih muncul secara mendadak di tengah aula doa Istana Utara. Suara dengungan energi memecah keheningan malam di tempat itu. Para penjaga aula yang sedang berpatroli terkejut melihat kemunculan Putri Su Hua dengan seorang pria telanjang yang penuh luka. Mereka segera mendekat saat melihat kedatangan sang putri yang membawa raga tak berdaya tersebut.
"Cepat panggil tabib istana!" perintah Putri Su Hua dengan suara bergetar kepada penjaga itu. Dirinya mendekap erat kepala Xiao Lin yang bersandar lemas di dadanya, mengabaikan aroma busuk nanah yang menguar hebat dari punggung suaminya.
Para pelayan berlarian masuk ke aula setelah mendengar teriakan panik sang putri. Mereka membantu Putri Su Hua membawa tubuh pria itu menuju kamar tidur utama kerajaan. Aroma busuk yang menyengat seketika memenuhi ruangan megah itu. Putri Su Hua lalu memerintahkan seluruh tabib untuk memberikan perawatan terbaiknya demi menyelamatkan Xiao Lin.
"Obati setiap jengkal lukanya! Jangan sampai suamiku mati!" tangis Putri Su Hua saat para tabib mulai membersihkan sisa darah kental di sekujur tubuh Xiao Lin.
"Tenang, Tuan Putri. Kami akan memberikan ramuan obat langka terbaik," ucap kepala tabib istana sambil tergesa-gesa menyiapkan perban dan jarum herbal.
Selama berminggu-minggu, Xiao Lin terbaring tidak sadarkan diri di atas kamar tidur utama. Putri Su Hua selalu menjaga suaminya setiap hari tanpa beranjak darinya. Dirinya selalu membersihkan setiap luka terbuka di sekujur tubuh suaminya menggunakan ramuan obat langka dari puncak gunung salju agar jaringan kulit suaminya cepat menyatu kembali. Pemulihan tubuh Xiao Lin berjalan secara perlahan. Garis-garis luka yang tadinya membusuk di sekujur tubuhnya kini mulai menutup dan mengering.
***
Suatu pagi, sinar mentari menyusup masuk, menyentuh lembut kelopak mata Xiao Lin yang terpejam erat. Pria itu merasakan tarikan napasnya terasa jauh lebih ringan daripada saat terkapar di lantai semen sel yang pengap. Kesadarannya merangkak naik dari dasar kegelapan yang sunyi. Dirinya mulai merasakan permukaan sprei sutra yang halus bersentuhan dengan kulit tubuhnya. Pikirannya dipenuhi oleh bayangan dari dunia sebelumnya, sebuah gejolak batin yang merambat di dalam kepala, membuatnya merasakan sebuah kebingungan yang teramat sangat.
Perlahan, kelopak mata Xiao Lin mulai terbuka. Dirinya memandang langit-langit kamar yang dipenuhi oleh ukiran naga emas yang sudah lama tidak dilihatnya.
Putri Su Hua yang selama ini setia duduk menjaga di samping tempat tidur tersentak bangun. Wanita itu melihat binar kehidupan kembali terpancar di mata suaminya yang semula cekung dan kosong. Su Hua menangis bahagia, tidak mampu lagi membendung rasa haru yang bergejolak di dadanya. Dirinya memeluk tubuh Xiao Lin dengan sangat erat, menumpahkan segala kerinduan dan ketakutan yang dipendamnya selama ini. Air mata haru membasahi pipi sang putri yang sudah lama menunggu momen kembalinya sang penguasa.
"Ahhh... kau kembali, suamiku... kau bangun..." isak Putri Su Hua di sela pelukannya.
Xiao Lin hanya mampu melenguh rendah, merasakan kehangatan yang nyata dari dekapan istrinya, seolah segala siksaan biadab di dunia bawah tanah sebelumnya hanyalah sebuah mimpi buruk yang panjang.
Putri Su Hua segera melepaskan pelukannya secara perlahan, menyeka air mata yang membasahi wajah cantiknya. Dirinya bergegas melangkah menuju ambang pintu kamar untuk memanggil bantuan.
"Tabib! Kemari cepat! Suamiku sudah sadar!" seru Putri Su Hua dengan nada suara yang melengking riang.
Kepala tabib bersama beberapa asistennya langsung berlarian masuk ke dalam kamar tidur utama. Mereka memeriksa denyut nadi, pupil mata, serta meraba bekas luka di dada dan punggung Xiao Lin yang kini telah menyatu dengan baik berkat khasiat ramuan gunung salju.
"Sungguh sebuah keajaiban besar, Tuan Putri. Kondisi Yang Mulia Xiao Lin sudah benar-benar stabil. Racun dan pengaruh obat-obatan asing di dalam darahnya telah bersih sepenuhnya," ucap kepala tabib sambil membungkuk hormat penuh kehangatan.
"Syukurlah... Terima kasih, Dewa," bisik Putri Su Hua seraya kembali memegangi jemari tangan suaminya yang kokoh.
Putri Su Hua kemudian menoleh ke arah panglima penjaga yang berdiri siaga di dekat pintu kamar. "Panglima! Sebarkan kabar gembira ini ke seluruh penjuru Istana Utara sekarang juga!" perintah Putri Su Hua dengan suara yang kembali tegas dan berwibawa.
"Siap, laksanakan, Tuan Putri!" jawab panglima tersebut seraya memberikan penghormatan militer yang gagah sebelum melangkah pergi dengan cepat.
Hanya dalam hitungan menit, suasana Istana Utara yang semula diselimuti duka mendalam berubah total. Suara terompet istana yang terbuat dari tanduk perak bergema dengan sangat nyaring, bersahut-sahutan di atas menara tinggi, menandakan berakhirnya masa duka atas hilangnya sang penguasa.
Rakyat yang mendengar gema terompet tersebut langsung keluar dari rumah-rumah mereka. Mereka berkumpul di sepanjang jalanan kota, bersorak gembira penuh suka cita.
"Yang Mulia telah kembali! Hidup Kaisar Xiao Lin!" teriak kerumunan rakyat di alun-alun kota.
Suasana istana yang tadinya sunyi senyap kini dipenuhi oleh kemeriahan pesta syukur. Para pelayan mulai sibuk menyiapkan hidangan mewah, dan lampion-lampion benderang mulai digantung di sepanjang selasar koridor kerajaan untuk merayakan kesembuhan sang kaisar.
***
Angin malam yang membawa hawa dingin dari puncak gunung salju berembus perlahan melewati celah pintu balkon istana yang terbuka. Xiao Lin berdiri mematung di atas panggung balkon, menatap hamparan bintang yang bertaburan luas di langit malam yang bersih. Tubuh pria itu kini sudah kembali bugar dan gagah. Otot dada serta bahunya yang tebal terlihat padat di balik jubah sutra tipis berwarna hitam yang sedang dikenakannya.
Meskipun fisiknya telah pulih tanpa cacat, batin Xiao Lin masih merasakan peperangan yang teramat hebat. Ingatan terperinci sebagai Rein, kenangan akan siksaan berdarah, lecutan cambuk listrik, hingga hinaan di aula bawah tanah milik Lylia terus merayap masuk ke dalam kepalanya, seolah memanggil dirinya untuk kembali ke dunia yang penuh kekacauan tersebut. Rasa asin sperma dan bau anyir darah seakan masih menempel di indra pengecapnya, membuat rahangnya mengencang rapat menahan pergolakan memori yang bertabrakan di dalam pikirannya.
Namun, langkah kaki yang halus tiba-tiba terdengar mendekat dari arah belakang, memecah kesunyian lamunan Xiao Lin di atas balkon. Putri Su Hua melangkah mendekati Xiao Lin, lalu menyandarkan kepalanya pada punggung suaminya yang bidang. Tangan mungil sang putri melingkar di pinggang Xiao Lin dengan erat, menyalurkan kehangatan yang seketika menembus jubah sutra tipis pria itu.
Putri Su Hua merasakan detak jantung suaminya berdegup dengan cepat tidak beraturan, pertanda ada badai pikiran yang sedang berkecamuk di dalam sana.
"Ikutlah bersamaku. Ada seseorang yang sudah sangat lama menanti kehadiranmu," ajak Putri Su Hua dengan nada suara yang penuh harapan, sembari mendongak menatap sepasang mata suaminya yang masih tampak menerawang jauh.
Putri Su Hua menuntun jemari kekar Xiao Lin dengan lembut, membawanya berjalan menyusuri selasar koridor batu menuju area taman luas di belakang bangunan istana utama. Di tengah taman yang dipenuhi hamparan bunga melati yang mekar dan mengeluarkan aroma harum segar itu, seorang gadis kecil terlihat sedang asyik bermain dengan seekor anjing berbulu putih lebat.
Gadis kecil itu mengenakan gaun sutra indah berwarna merah muda. Rambut hitamnya yang panjang berkilau indah diterpa bendaran cahaya mentari pagi yang baru saja menyembul di balik gunung salju.
Gadis kecil itu seketika menoleh ke belakang saat mendengar suara gesekan langkah kaki mereka di atas jalan setapak berbatu. Sepasang mata tajam yang persis menyerupai bentuk mata Xiao Lin langsung menatap lurus ke arah pria itu dengan binar kebahagiaan yang meluap-luap.
"Ayah?" suara cempreng nan menggemaskan itu keluar dari bibir mungil gadis kecil tersebut.
Gadis itu bernama Hua Er. Tanpa ragu-ragu, dirinya langsung berlari sekencang mungkin melewati rerumputan taman menuju ke arah Xiao Lin, lalu memeluk erat kedua kaki pria itu dengan sangat kuat, seolah takut sosok di depannya akan kembali menghilang.
Xiao Lin seketika terpaku di tempatnya berdiri. Dirinya merasakan sebuah getaran emosional yang luar biasa kuat merasuki seluruh aliran darah dan pikirannya. Kehangatan polos dari pelukan anak kandungnya itu bagai sebuah palu besar yang menghancurkan seluruh dinding trauma di kepalanya. Segala memori buruk, bayangan kelam sebagai Rein, hingga bisikan batin yang mengajaknya untuk kembali ke dunia modern sirna seketika tanpa bekas. Dirinya menyadari sepenuhnya di mana tempatnya yang sejati berada.
Xiao Lin perlahan berlutut di atas rerumputan taman, lalu mengangkat tubuh mungil Hua Er ke dalam dekapan dadanya yang bidang. Dirinya mendekap erat tubuh putrinya, lalu menciumi kening Hua Er dengan penuh rasa sayang yang mendalam secara berulang-ulang, menghirup aroma tubuh anaknya yang suci.
"Aku tidak akan pernah meninggalkan kalian lagi," janji Xiao Lin dengan nada suara yang bergetar penuh keyakinan mutlak.
Putri Su Hua yang berdiri di samping mereka hanya mampu menangis haru, menyaksikan bersatunya kembali belahan jiwanya yang sempat hilang tertelan dimensi lain.
***
Seminggu setelah pertemuannya dengan putri kecilnya, tepat di malam yang disinari bulan purnama, Xiao Lin mengajak Putri Su Hua menuju danau di belakang istana. Ditemani dengan cahaya rembulan yang memantul di permukaan airnya, memberikan kesan romantis bagi mereka berdua. Kesunyian malam itu hanya dipecahkan oleh suara kecipak air dan angin malam yang bertiup lembut dari lereng gunung salju.
Xiao Lin melepaskan jubah sutra hitamnya, membiarkan tubuhnya bertelanjang bulat di bawah siraman cahaya bulan yang keperakan. Permukaan kulit tubuhnya yang kekar kini menonjolkan otot-otot yang padat, bersih dari luka-luka busuk yang sempat menyiksanya. Begitu pun dengan Putri Su Hua yang ikut serta melepaskan gaun sutra tipisnya perlahan, memperlihatkan seluruh lekuk tubuhnya yang putih mulus dengan payudara yang padat berisi.
Xiao Lin menarik pinggul istrinya perlahan, membawa raga polos wanita itu merapat pada dadanya yang bidang. Tanpa membuang waktu, dirinya lalu melumat bibir istrinya dengan ciuman yang penuh dengan gairah yang bergejolak.
Putri Su Hua melenguh rendah di sela ciuman mereka. "Ahhh... suamiku..." desah sang putri sambil mengalungkan kedua lengan mulusnya di leher Xiao Lin.
Tanpa melepaskan tautan ciumannya, tangan kekar Xiao Lin perlahan meraba ke bawah, menelusuri lekuk pinggang istrinya, lalu meremas payudaranya yang terasa sangat kenyal dan hangat. Xiao Lin membaringkan tubuh istrinya dengan sangat hati-hati di atas hamparan rumput yang lembut di tepi danau. Penis besar Xiao Lin yang sudah menegang hebat berurat, berdiri tegak menantang malam, seketika menarik gairah istrinya hingga membuat lubang kemaluan sang putri banjir cairan pelumas.
Putri Su Hua yang sudah terbaring di atas rumput itu pun lalu merangkak mendekati suaminya. Tangan halus sang putri dengan lihainya memainkan batang penis suaminya yang tebal berdenyut beringas.
"Ughhh..." Xiao Lin mengerang rendah, merasakan kehangatan jemari istrinya yang bergerak naik turun.
Erangan Xiao Lin semakin tidak terkontrol saat istrinya mulai maju dan mengulum ujung penisnya dengan sangat lembut. Putri Su Hua berkali-kali memasukkan penis besar itu hingga mencapai pangkal tenggorokannya secara perlahan, menghisapnya dengan irama maju mundur yang penuh gairah. Suara kuluman yang basah berbunyi nyaring di tengah malam yang sepi.
Chhluup... sruupp...
Dalam sela-sela kulumannya yang dalam, Putri Su Hua menjilati biji kemaluan suaminya, membuat Xiao Lin mencengkeram rumput di bawahnya karena menahan nikmat yang luar biasa hebat. Jilatan lidah Putri Su Hua yang basah semakin bergerak ke bawah, melewati sela paha hingga mencapai lubang pantat suaminya.
"Ahhhh! Su Hua... bajingan, itu nikmat sekali... ughhh!" Tubuh Xiao Lin bergetar hebat, erangan tiada henti keluar dari mulutnya saat lubang sensitif itu dijilati istrinya dengan penuh nafsu dan gairah yang membara.
Setelah merasa puas memanjakan kejantanan suaminya, Xiao Lin beralih posisi dengan Su Hua. Dirinya membuka lebar kedua paha istrinya yang mulus, lalu memposisikan dirinya di tengah paha tersebut. Xiao Lin menurunkan wajahnya, menggunakan lidahnya yang liat untuk menjilati area vagina istrinya yang sudah sangat becek.
Cllaaapp... mhhss...
Xiao Lin juga menggunakan jarinya yang terampil untuk membuka bibir kemaluan itu, hingga klitoris istrinya yang kemerahan terlihat dengan jelas. Rintihan nikmat yang Putri Su Hua keluarkan dari mulutnya membuat gairah suaminya semakin menggebu-gebu.
"Ahhh! Masukkan, suamiku... hancurkan memekku sekarang... gelihh... ahh!" jerit Putri Su Hua sambil menggeliat liar. Xiao Lin sesekali menggigit kecil dan memainkan klitoris istrinya di sela-sela jilatannya di area itu, membuat rintihan istrinya semakin tidak terkendali dan memburu penuh syahwat.
Mendengar rintihan Putri Su Hua yang sudah tidak terkendali, Xiao Lin tidak ingin menahan gairahnya lebih lama lagi. Dirinya mengangkat tubuh istrinya sedikit, lalu mengarahkan ujung penisnya yang besar, tebal, dan berurat tepat di depan lubang vagina Su Hua yang sudah banjir oleh cairan pelumas yang pekat.
Dengan satu dorongan pinggul yang kuat dan mantap, Xiao Lin menghujamkan seluruh batang penisnya masuk ke dalam liang senggama istrinya.
Plokk!
"Ahhhh! Yang Mulia... dalam sekali... ughhh!" Teriakan penuh nikmat seketika pecah dari mulut Putri Su Hua saat merasakan kejantanan suaminya masuk sepenuhnya hingga mencapai pangkal rahim, meregangkan dinding-dinding kemaluannya dengan sangat padat.
Cumbu rayu di tepi danau malam itu terasa sangat liar dan penuh emosi. Hujaman demi hujaman bertenaga terus Xiao Lin berikan tanpa jeda. Suara erangan berat dari Xiao Lin, rintihan melengking dari Putri Su Hua, hingga bunyi benturan kulit panggul mereka yang basah mengisi kesunyian malam di bawah siraman bulan purnama. Peluh-peluh mulai keluar deras, membasahi raga polos mereka yang saling bergesekan beringas. Ccriitt... plokk... plokk...
"Ahhh... ahhh... lebih cepat, suamiku... hantam lagi..." rintih Putri Su Hua dengan napas yang memburu cepat. Dirinya mencengkeram lengan kekar Xiao Lin dengan sangat keras, kuku-kukunya menancap di kulit suaminya seiring dengan sensasi nikmat yang menghajar rahimnya tanpa ampun.
Xiao Lin terus memperdalam setiap hujamannya, tidak memberikan kelonggaran sedikit pun. Dirinya kemudian memutar tubuh istrinya, mengubah posisi membuat wanita itu kini menungging pasrah tepat di hadapannya di atas rumput.
Tanpa ragu, Xiao Lin kembali mencengkeram pinggul mulus Su Hua dari belakang, lalu langsung menghujamkan kembali penisnya lebih dalam ke dalam lubang memek istrinya yang sudah sangat becek berbusa karena pelumas. Xiao Lin bergerak maju mundur dengan ritme yang cepat dan kasar, membuat istrinya merintih hebat menahan jepitan kenikmatan saat ujung kepala penis suaminya terus menyenggol pangkal rahimnya yang sensitif.
Plok! Plok! Plok!
"Ughhh... ahhh... aku mau keluar... Yang Mulia... ahkk!" jerit Su Hua dengan tubuh yang bergetar hebat.
Xiao Lin tidak memberikan kesempatan bagi istrinya untuk bergerak ataupun menghindar. Dirinya justru mempercepat gerakan pinggulnya secara mendadak dengan sentakan-sentakan penuh tenaga di sisa klimaksnya. Gerakan cepat dan brutal itu membuat Xiao Lin merasakan pusaran kenikmatan yang sudah tidak dapat dibendung lagi di ujung kemaluannya.
"Ahhhh... hhh..." Dengan satu erangan rendah yang berat, Xiao Lin memberikan dorongan terdalamnya, bersamaan dengan keluarnya cairan sperma yang kental dan deras di dalam rahim istrinya.
Muncratan air mani yang panas itu memberikan rasa hangat yang luar biasa di perut bagian bawah Putri Su Hua, membuat dinding rahimnya berkedut jepit menjepit kejantanan Xiao Lin. Seketika, Xiao Lin langsung ambruk di atas punggung istrinya saat tetes terakhir spermanya keluar sepenuhnya. Dirinya membiarkan penisnya yang mulai melunak tetap tertanam di dalam liang senggama istrinya untuk waktu yang cukup lama, menikmati sisa-sisa denyutan nikmat malam itu.
"Terima kasih sudah mencariku, Istriku," bisik Xiao Lin dengan suara parau penuh kasih sayang sambil menciumi pundak mulus istrinya yang penuh peluh.
Malam yang disinari bulan purnama itu pun menjadi saksi bisu bersatunya kembali sang penguasa dengan keluarga kecilnya. Identitas kelamnya sebagai Rein di dunia bawah tanah kini telah ia kubur dalam-dalam di dasar ingatannya. Di dunia ini, dirinya hanya ingin menjadi seorang kaisar sejati bagi rakyat Istana Utara, seorang suami yang penuh gairah bagi istrinya, serta seorang ayah yang pelindung bagi anak perempuannya.
Post a Comment