REIN: Bersatu Kembali
Putri Su Hua yang selama ini setia duduk menjaga di samping tempat tidur tersentak bangun. Wanita itu melihat binar kehidupan kembali terpancar di mata suaminya. Su Hua menangis bahagia. Ia memeluk tubuh Xiao Lin dengan sangat erat. Air mata haru membasahi pipi sang putri yang sudah lama menunggu momen ini.
Putri Su Hua segera memanggil tabib istana untuk memeriksa kondisi suaminya, serta memerintahkan pengawal untuk menyebarkan kabar gembira ke seluruh penjuru Istana Utara. Suara terompet istana bergema dengan nyaring, menandakan berakhirnya masa duka. Rakyat bersorak gembira di jalanan kota. Suasana istana yang tadinya sunyi kini dipenuhi oleh kemeriahan pesta syukur.
Beberapa hari pun berlalu semenjak kesadaran Xiao Lin. Angin malam yang membawa hawa dingin dari puncak gunung salju berembus perlahan melewati balkon istana. Xiao Lin berdiri mematung sambil menatap hamparan bintang yang bertaburan di langit malam. Tubuh pria itu kini sudah kembali bugar. Otot dada serta bahunya terasa padat di balik jubah sutra tipis yang ia kenakan.
Meskipun tubuhnya sudah pulih, batin Xiao Lin masih merasakan peperangan yang hebat. Ingatan sebagai Rein, terus memanggilnya untuk kembali.
Langkah kaki yang halus terdengar mendekat dari arah belakang. Putri Su Hua melangkah mendekati Xiao Lin, lalu menyandarkan kepalanya pada punggung suaminya yang bidang. Tangan mungil sang putri melingkar di pinggang Xiao Lin dengan erat. Putri Su Hua merasakan detak jantung suaminya berdegup dengan cepat tidak beraturan.
"Ikutlah bersamaku. Ada seseorang yang sudah sangat lama menanti kehadiranmu," ajak Putri Su Hua dengan nada suara yang penuh harapan.
Putri Su Hua menuntun Xiao Lin menuju taman di belakang bangunan istana utama. Di tengah taman yang dipenuhi bunga melati yang harum itu, seorang gadis kecil sedang bermain dengan seekor anjing putih. Gadis kecil itu mengenakan gaun sutra berwarna merah muda. Rambut hitamnya yang indah berkilau diterpa cahaya mentari. Gadis itu seketika menoleh saat mendengar langkah kaki mereka. Sepasang mata tajam yang persis menyerupai mata Xiao Lin menatap ke arah pria itu dengan binar kebahagiaan.
"Ayah?" suara cempreng nan menggemaskan itu keluar dari bibir mungil gadis itu.
Gadis itu bernama Hua Er, ia berlari sekencang mungkin ke arah Xiao Lin, lalu memeluk kaki pria itu dengan sangat erat. Xiao Lin terpaku di tempatnya berdiri. Ia merasakan sebuah getaran emosional yang luar biasa kuat merasuki pikirannya. Segala pikiran yang mengajaknya untuk kembali ke dunia Rein sirna seketika.
Xiao Lin berlutut, lalu mengangkat tubuh Hua Er ke dalam dekapannya. Ia lalu menciumi kening putrinya dengan penuh rasa sayang yang mendalam, berulang.
"Aku tidak akan pernah meninggalkan kalian lagi," janji Xiao Lin dengan nada suara yang penuh keyakinan.
Seminggu setelah pertemuannya dengan putri kecilnya, tepat di malam yang disinari bulan purnama, Xiao Lin mengajak Putri Su Hua menuju danau di belakang istana. Ditemani dengan cahaya rembulan yang memantul di permukaan airnya, memberikan kesan romantis bagi mereka berdua.
Xiao Lin melepaskan jubah sutranya, membiarkan tubuhnya bertelanjang bulat. Begitu pun dengan Putri Su Hua yang ikut serta melepaskan gaun tipisnya, memperlihatkan seluruh lekuk tubuhnya. Xiao Lin menarik pinggul istrinya perlahan, ia lalu melumat bibir istrinya dengan ciuman yang penuh dengan gairah.
Tanpa melepaskan ciumannya, tangan Xiao Lin perlahan meraba tubuh istrinya, lalu meremas payudaranya yang terasa sangat kenyal. Xiao Lin membaringkan tubuh istrinya itu di atas hamparan rumput yang lembut di tepi danau. Penisnya yang sudah menegang hebat itu pun, menarik gairah istrinya.
Putri Su Hua yang sudah terbaring itu pun lalu merangkak mendekati suaminya. Tangan halus sang putri dengan lihainya memainkan batang penis suaminya itu. Xiao Lin mengerang rendah, saat istrinya mulai mengulum ujung penisnya dengan sangat lembut. Erangan Xiao Lin semakin tidak terkontrol, saat istrinya berkali-kali memasukkan penisnya hingga mencapai pangkal tenggorokan istrinya. Xiao Lin yang besar ke dalam mulutnya secara perlahan, menghisapnya dengan irama yang penuh gairah.
Dalam sela-sela kulumannya, Putri Su Hua menjilati biji kemaluan suaminya itu, membuat suaminya mengerang merasakan nikmat yang luat biasa hebat. Jilatan Putri Su Hua itu semakin ke bawah hingga mencapai lubang pantat suaminya. Tubuh Xiao Lin bergetar hebat, erangan tiada henti keluar dari mulutnya saat lubang itu dijilati istrinya dengan penuh nafsu.
Setelah puas, Xiao Lin beralih posisi dengan Su Hua, ia membuka lebar kedua paha istrinya yang mulus, lalu memposisikan dirinya di tengah tubuh istrinya. Ia menggunakan lidahnya yang liat untuk menjilati area vagina istrinya. Xiao Lin juga menggunakan jarinya yang terampil untuk membuka lubang itu, hingga klitoris istrinya terlihat dengan jelas. Rintihan nikmat yang Putri Su Hua keluarkan dari mulutnya, membuat gairah suaminya semakin menggebu. Xiao Lin sesekali memainkan klitoris istrinya di sela-sela jilatannya di area itu, membuat rintihan istrinya itu semakin tidak terkendali.
Beberapa saat kemudian, Xiao Lin memasukkan penisnya yang sudah menegang hebat itu ke dalam liang senggama istrinya. Dengan satu dorongan pinggul yang kuat, penisnya masuk hingga mencapai pangkal rahim istrinya hingga membuat teriakan penuh nikmat.
Cumbu rayu malam itu terasa sangat liar. Hujaman demi hujaman terus Xiao Lin berikan. Suara erangan, rintihan, hingga benturan tubuh mereka mengisi kesunyian malam itu. Peluh-peluh mulai keluar, membasahi tubuh mereka.
Xiao Lin terus memperdalam setiap hujamannya, menghajar rahim istrinya dengan penuh gairah. Tak ayal, berkali-kali Putri Su Hua mencengkram lengan suaminya dengan sangat keras, disertai dengan rintihan yang keluar dari mulutnya.
Xiao Lin lalu memutar tubuh istrinya, membuat wanita itu menungging tepat di hadapannya. Tanpa ragu, ia langsung menghujamkan penisnya lebih dalam. Xiao Lin bergerak maju mundur dengan cepat , membuat istrinya merintih penuh nikmat saat penisnya menyentuk pangkal rahim itu. Xiao Lin tidak memberikan kesempatan istrinya untuk bergerak, ia terus mempercepat gerakannya secara mendadak.
Gerakan cepat itu membuat Xiao Lin merasakan nikmat yang sudah tidak dapat dibendung lagi. Sentakan terakhir yang penuh tenaga dengan erangan rendahnya itu pun dibarengi dengan keluarnya sperma di dalam rahim istrinya. Cairan putih itu memberikan rasa hangat yang luar biasa di perut bagian bawah Putri Su Hua.
Seketika, Xiao Lin langsung ambruk di atas punggung istrinya, saat tetes terakhir spermanya keluar. Ia membiarkan penisnya tetap tertanam di dalam liang senggama istrinya untuk waktu yang lama.
"Terima kasih sudah mencariku, Istriku," bisik Xiao Lin sambil menciumi pundak istrinya.
Malam itu pun menjadi saksi bisu bersatunya kembali sang penguasa dengan keluarga kecilnya. Identitasnya sebagai Rein ia kubur dalam-dalam, ia ingin menjadi seorang kaisar bagi rakyat Istana Utara, seorang suami bagi istrinya, serta seorang ayah bagi anaknya.
Post a Comment