Cerpen Cak Kirun: Nurani Sebatas Konten Viral
Warung Mak Inun mendadak gempar. Bukan karena ada diskon gorengan, tapi karena ada iring-iringan mobil dinas pelat merah yang menderu-deru lewat jalan desa yang biasanya cuma dilewati gerobak sapi. Sirinenya meraung-raung, seolah-olah sedang mengejar maling kelas kakap.
"Walah, ada apa itu? Kok dinas kesehatan, dinas sosial, sampai rombongan Pak Camat turun semua?" tanya Mak Inun sambil memegang ulekannya.
"Itu lho, Mak. Pak Man yang dipasung di gubuk belakang desa. Tadi malem masuk TV nasional gara-gara ada YouTuber Jakarta yang memviralkan. Katanya 'Tragedi Kemanusiaan di Desa Terpencil'," jawab seorang pemuda sambil sibuk refresh beranda TikTok-nya.
Cak Kirun, yang sedang asyik menyeruput kopi sambil nyemil kerupuk, cuma tersenyum kecut. Ia melihat para pejabat itu turun dari mobil dengan seragam rapi, diikuti kamera wartawan yang sudah siap membidik momen kepedulian mereka.
"Lho, Kirun, kok kamu malah senyum-senyum?" tegur Pak RT yang juga baru sampai dengan napas terengah-engah. "Itu lho, akhirnya Pak Man diselamatkan. Harusnya kita seneng dong!"
Cak Kirun meletakkan cangkirnya perlahan. "Seneng sih seneng, Pak RT. Tapi saya lagi mikir, apa sekarang Gusti Allah namnya sudah ganti jadi Gusti Viral?"
"Hush! Ngawur kamu itu!" potong Pak RT.
"Lha, kenyataannya begitu toh?" lanjut Cak Kirun kalem. "Pak RT inget nggak, dua tahun lalu kita bareng-bareng lapor ke dinas? Jawabannya apa? 'Anggaran belum turun'. Tahun lalu lapor lagi, jawabannya 'Bukan wewenang kami'. Lapor ke kecamatan, katanya 'Data tidak ditemukan'. Berpuluh-puluh tahun Pak Man hidup sama belenggu kayu, dinas-dinas itu budeg semua. Begitu ada video berdurasi tiga puluh detik di internet, mendadak anggarannya ada, wewenangnya muncul, datanya lengkap, bahkan mobil dinasnya bisa lewatin jalan rusak."
Cak Kirun menunjuk rombongan pejabat yang sedang berpose di depan gubuk Pak Man dengan wajah sedih yang dibuat-buat.
"Lihat itu, Pak RT. Masa modelan kayak gitu nolong beneran, paling juga lagi ibadah konten, Pak! Mereka itu ibarat orang yang mau ibadah kalau ada kamera yang merekam, kalau nggak ada, ya mending tidur di kamar."
Mak Inun ikut menimpali, "Iya ya, Run. Masyarakat kita juga aneh. Tiap hari lewat gubuk Pak Man ya biasa aja, cuma dikasih makan sisa. Begitu viral, mendadak semuanya jadi pahlawan di media sosial, maki-maki pemerintah, padahal kemarin-kemarin ya diem aja."
Cak Kirun manggut-manggut. "Itu dia penyakitnya, Mak. Masyarakat kita ini kena penyakit rabun dekat. Kalau ada tetangga lapar tapi nggak viral, dianggap pemandangan biasa. Tapi kalau ada kucing kejepit di Amerika dan viral, sedihnya sampai nggak bisa tidur tujuh hari tujuh malam."
Cak Kirun berdiri, menghampiri Pak RT yang wajahnya mulai agak memerah. "Pak RT, pendidikan itu bukan cuma soal baca tulis. Tapi juga soal melatih telinga supaya nggak perlu nunggu suara viral baru mau denger. Kita ini punya mata, tapi seringnya cuma dipake buat ngelihat layar HP, bukan buat ngelihat penderitaan di balik tembok rumah sebelah."
Cak Kirun mengambil sepotong bakwan, lalu menunjuk ke arah iring-iringan mobil dinas yang mulai bersiap pergi setelah sesi foto selesai.
"Besok-besok, kalau ada warga sakit atau kelaparan, jangan kasih laporan ke dinas, Pak RT. Percuma, nanti cuma jadi tumpukan kertas buat bungkus kacang. Mending suruh anak-anak muda itu joget TikTok di depan penderitaannya. Kasih musik yang sedih, kasih tulisan 'Tolong Viralkan'. Itu mantra paling ampuh buat manggil pejabat jaman sekarang. Pejabat kita itu nggak takut sama dosa, Pak, mereka cuma takut sama hujatan netizen."
Cak Kirun kembali duduk, suaranya merendah tapi tajam. "Miris ya, Mak. Nyawa manusia sekarang harganya ditentukan oleh berapa banyak jumlah share dan view. Kalau nggak viral, ya silakan mati pelan-pelan."
Mak Inun terdiam. Pak RT terdiam. Di kejauhan, sirine mobil dinas kembali meraung, membawa Pak Man menuju rumah sakit demi sebuah citra, sementara ribuan "Pak Man" lainnya masih menunggu giliran untuk menjadi viral agar bisa dianggap sebagai manusia oleh negaranya sendiri.
Post a Comment