The Timeline - Babak Keempat

Kunming, Juni 2032

Suasana ruang perawatan Rumah Sakit Yunnan University terasa sangat dingin, menyisakan suara ketukan pelan dari tetesan cairan infus. Erick berbaring dengan mata terpejam, tubuhnya terlihat sangat kurus di balik selimut putih. Perkembangan sel kanker di kepala sudah menyebar luas hingga merusak saraf-saraf utama, membuat kesadarannya timbul tenggelam.

Rekan risetnya berjalan mendekati ranjang membawa sebuah map besar berisi dokumen kelulusan. Ia menggenggam tangan Erick yang terasa sedingin es. "Rick, bangun sebentar, Rick. Ini berkas ijazah doktoralmu dari dewan senat universitas sudah keluar resmi hari ini. Lu lulus dengan predikat terbaik, Rick."

Erick membuka kelopak matanya dengan sangat lambat, mencoba melempar pandangan ke arah dokumen tersebut meskipun kepalanya terasa didera nyeri yang luar biasa. Fokus matanya tampak samar, menatap lembar publikasi ilmiah terakhirnya yang tergeletak di atas meja nakas. Lidahnya terasa kaku saat mencoba bersuara.

"Ter... ri... ma... ka... sih," bisik Erick dengan suara parau yang terputus-putus.

"Lu harus kuat, Rick. Yydett di Jakarta pasti bangga kalau tahu hasil riset sistem cerdas lu diakui dunia," ucap rekan risetnya dengan mata berkaca-kaca.

Erick hanya menyunggingkan simpul senyum tipis di sudut bibirnya. Tangannya bergerak lemah ke bawah bantal, meraih gawai lamanya, lalu menekan tombol hapus pada seluruh draf pesan perpisahan yang pernah ia tulis untuk Yydett. Erick memilih membawa seluruh rasa cintanya menuju keheningan yang panjang, tanpa ingin meninggalkan beban kesedihan baru bagi wanita itu.
___

Jakarta, Juli 2032

Ruang kerja manajer teknologi di lantai belasan gedung perkantoran Sudirman tampak sepi menjelang pukul sembilan malam. Yydett duduk bersandar pada kursi kerjanya, menatap tumpukan berkas pembaruan sistem perusahaan yang dahulu sempat dikerjakan bersama Erick. Jam dinding terus berdetik, mengisi kekosongan ruangan yang sunyi.

Gawai Yydett di atas meja bergetar nyaring, memunculkan nama Allio pada layar digital. Yydett segera menggeser tombol jawaban dengan perasaan yang mendadak tidak tenang. "Halo, Al? Lu tumben telepon malam-malam begini. Ada kabar dari Erick di Kunming?"

Suara Allio di seberang telepon terdengar sangat berat, disertai jeda yang cukup panjang sebelum kalimatnya keluar. "Det... lu harus kuat ya. Gue baru dapat kabar resmi dari pihak KBRI di Tiongkok."

Jantung Yydett berdesir aneh, ia menegakkan punggungnya dengan cemas. "Kabar apa, Al? Jangan bikin gue takut."

"Erick... Erick sudah meninggal dunia dua hari lalu di rumah sakit universitas, Det. Dia menderita kanker kepala stadium lanjut selama ini," ucap Allio dengan suara pecah.

"Nggak! Lu bohong, kan, Al?! Erick kemarin bilang cuma sibuk riset komputer di sana!" teriak Yydett dengan air mata yang langsung tumpah membasahi pipinya. Gawai di tangannya terlepas, menghantam lantai karpet dengan keras bersamaan dengan runtuhnya seluruh harapan yang selama ini ia gantungkan pada pria itu.
___

Surabaya, Oktober 2034

Langkah kaki Yydett terdengar berkejaran dengan waktu saat menyusuri koridor area pusat perbelanjaan di Surabaya Pusat untuk menemui klien bisnis. Dua tahun sejak kepergian Erick, Yydett memilih menenggelamkan diri sepenuhnya dalam urusan pekerjaan kantor guna mengubur rasa kehilangan yang mendalam di hatinya.

Saat melewati sebuah kedai kopi berarsitektur modern, langkah Yydett mendadak berhenti total. Matanya terpaku pada seorang pria yang sedang duduk membaca buku di balik dinding kaca. Pria itu memakai kemeja kasual, memiliki bentuk kacamata, serta potongan rambut yang sangat identik dengan mendiang Erick.

Yydett mengabaikan panggilan telepon dari rekan kantornya. Ia berjalan terburu-buru memasuki kedai kopi, mendatangi meja pria itu, lalu menarik lengan kemejanya dari belakang dengan jemari yang bergetar hebat. "Erick?! Lu... lu beneran masih hidup, Rick?! Jawab gue!"

Pria itu tersentak, membalikkan badannya dengan raut wajah yang tampak sangat bingung. Yydett terbelalak, napasnya tertahan di tenggorokan saat menatap wajah pria itu dari dekat. Kemiripan struktur wajah, bentuk rahang, hingga sepasang mata pria ini benar-benar sama persis seperti mendiang Erick hingga membuat Yydett gemetar hebat karena syok.

"Maaf, Mbak? Anda salah orang sepertinya. Nama saya Ervan, bukan Erick," jawab pria itu dengan nada suara terdengar lebih tegas, sama sekali tidak memiliki nada gugup seperti ciri khas Erick dahulu.

Yydett mundur satu tapak, memegangi dadanya yang sesak karena syok melihat kembaran wajah yang begitu identik. "Nggak mungkin... bagaimana bisa ada orang yang mirip banget seperti ini?"

___

Jakarta, September 2035

Cahaya lampu kristal ballroom gedung pertemuan memantulkan keanggunan Yydett yang berbalut kebaya pengantin brokat putih panjang. Hari pernikahan yang direncanakan oleh kedua pihak keluarga besar akhirnya terlaksana, menjadi penanda bahwa Yydett harus siap membuka lembaran hidup yang baru setelah lama berduka.

Allio berdiri di deretan kursi tamu bagian depan, menatap Yydett yang berjalan perlahan menuju panggung pelaminan dengan senyum getir. Allio memilih tetap menjadi sahabat yang mendukung dari kejauhan, merelakan Yydett bersanding dengan pria pilihan keluarga yang identitasnya sengaja dirahasiakan dari publikasi media sosial demi ketenangan bersama.

Di hadapan penghulu, Yydett menatap pria yang duduk di sampingnya untuk memulai prosesi akad nikah. Yydett melirik wajah calon suaminya, kembali merasakan sengatan rasa kaget yang luar biasa di dalam dadanya. Setiap kali memandang pria ini, ingatan Yydett langsung terlempar pada sosok Erick di laboratorium komputer dahulu karena garis wajah mereka yang menyerupai pinang dibelah dua.

"Bagaimana, Saudari Yydett Davina, apakah Anda siap?" tanya penghulu dengan suara rendah.

Yydett menarik napas dalam-dalam untuk meredakan debar jantungnya yang kacau akibat rasa kaget yang belum sepenuhnya hilang, lalu mengangguk pelan. "Saya siap, Pak."

Yydett memejamkan mata erat-erat saat kalimat ijab kabul mulai diucapkan oleh pria di sampingnya. Ia mencoba menerima kenyataan bahwa takdir hidupnya harus terus berjalan bersama pria yang memiliki wajah sangat identik dengan cinta masa lalunya ini, meskipun separuh hatinya telah lama ikut terkubur bersama jasad Erick di Kunming.
___

Surabaya, Juli 2032

Suara deru kendaraan dari jalan raya Surabaya sore itu terdengar samar, tenggelam oleh suara tangis lirih yang pecah di dalam ruang tamu yang temaram. Ibu Zara duduk bersimpuh di lantai, memeluk sebuah bingkai foto masa kecil Erick dengan erat. Di hadapannya, Allio duduk bersandar pada kursi kayu dengan wajah penuh kedukaan.

"Nggaaak! Ini tidak mungkin terjadi, Mas Allio!" teriak Ibu Zara dengan suara yang pecah oleh rasa kaget yang luar biasa. "Erick dua minggu lalu menelepon Ibu, katanya dia sedang bersiap menghadapi sidang doktoral di Kunming! Dia bilang badannya sehat!"

Allio menundukkan kepala, membiarkan setitik air mata menetes membasahi kemejanya. Ia menarik napas pendek yang terdengar berat. "Ugh... Ibu, perwakilan dari KBRI menceritakan bahwa Erick sengaja menyembunyikan dokumen pemeriksaan medisnya selama dua tahun ini. Dia menderita penyakit tumor ganas di kepala, Bu."

"Kenapa dia sekejam ini kepada ibunya sendiri?!" erang Ibu Zara seraya memukul dadanya yang terasa sesak. "Ibu bahkan tidak bisa melihat wajahnya untuk terakhir kali! Kenapa jenazahnya harus langsung dimakamkan di sana secara darurat?!"

Allio bergerak mendekat, memegang pundak wanita tua itu untuk memberikan kekuatan. "Kondisi penyebaran sel abnormal itu terjadi sangat cepat di hari-hari terakhirnya, Bu. Erick meninggalkan nama baik sebagai peneliti terbaik di kampus Yunnan University. Pihak KBRI sedang mengurus seluruh dokumen administrasi kematian agar salinan sertifikat kelulusannya bisa segera dikirimkan ke Surabaya."

Ibu Zara hanya bisa menggelengkan kepala dalam isak tangisnya, meratapi kepergian anak tunggalnya yang wafat dalam kesunyian di negeri orang demi menjaga keteraturan hidup orang-orang yang dicintainya di Indonesia.
___

Jakarta, Januari 2035

Suara denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring terdengar kaku di dalam ruangan berpendingin udara itu. Yydett duduk di samping ibunya, meremas jemarinya sendiri di bawah meja. Malam itu, acara makan malam diadakan oleh orang tuanya untuk memperkenalkan seorang pria pilihan keluarga.

Pintu geser kayu ruangan terbuka perlahan. Seorang pria paruh baya masuk, diikuti oleh seorang pemuda yang mengenakan kemeja batik berwarna gelap.

"Nah, ini anak saya. Namanya Ervan," ucap pria paruh baya itu seraya menjabat tangan ayah Yydett.

Yydett mendongak untuk memberikan salam kesopanan. Begitu pandangannya jatuh pada wajah pemuda itu, napasnya mendadak tercekat di tenggorokan.

"Ah..." Sebuah desahan kaget yang tertahan keluar dari bibir Yydett.

Bentuk rahang, cara berjalan, hingga sepasang mata di balik kacamata tipis itu memicu ingatan Yydett pada sosok yang telah tiada. Pria di hadapannya memiliki struktur wajah yang menyerupai mendiang Erick. Kepalanya mendadak terasa pening, membuat dadanya terasa sesak.

"Selamat malam, Om, Tante. Malam, Yydett," sapa Ervan. Suaranya terdengar jernih, menyodorkan tangan untuk bersalaman.

Yydett menyambut uluran tangan itu dengan jemari yang terasa dingin. "Se-selamat malam..."

Ibu Yydett yang menyadari perubahan sikap anaknya langsung menyenggol lengan Yydett pelan. "Kamu kenapa, Det? Kok mukanya pucat begitu?"

"Tidak apa-apa, Bu. Cuma... agak pusing karena kurang tidur," kilah Yydett, mencoba mengatur detak jantungnya yang berdegup kencang.

Ervan duduk di posisi seberang, memberikan senyuman ramah yang tulus. "Kata Ayah, Yydett bekerja di perusahaan teknologi ya? Kebetulan, usaha keluarga kami juga sedang mengembangkan sistem baru."

Yydett hanya bisa mengangguk kaku, mencoba bertahan di posisinya meskipun pikirannya dipenuhi oleh kebingungan besar tentang kemiripan wajah pria itu.
___

Surabaya, Oktober 2034

Suara langkah kaki yang tergesa-gesa memecah kesunyian rumah keluarga Davina sore itu. Yydett membuka pintu depan dengan sentakan keras, lalu berjalan masuk ke ruang tengah dengan napas yang memburu cepat. Tas kerjanya terlepas dari genggaman, jatuh begitu saja di atas karpet.

"Ibu... Ibu di mana?!" panggil Yydett dengan nada suara yang bergetar hebat menahan tangis.

Ibunya berjalan terburu-buru dari arah dapur bersih, wajahnya penuh kecemasan melihat kondisi anak perempuannya yang berantakan. "Astaga, Yydett! Kamu kenapa, nak? Kenapa pulang dari menemui klien bisnis dengan menangis seperti ini?"

Yydett terduduk lemas di sofa panjang, menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangan yang dingin. "Aku... aku tadi melihat Erick, Bu. Di kedai kopi dekat pusat perbelanjaan. Wajahnya, matanya, semuanya sama persis seperti mendiang Erick."

Sang ibu tertegun, lalu duduk di samping Yydett seraya mengusap lembut punggung anaknya. "Dengarkan Ibu, nak. Erick sudah tiada dua tahun lalu di Kunming. Kamu sendiri yang menerima kabar dari Allio waktu itu. Jangan biarkan rasa bersalah membuat pikiranmu kacau."

"Tapi pria tadi benar-benar mirip, Bu! Hanya cara bicaranya saja yang lebih tegas dan namanya Ervan," sahut Yydett dengan dengusan pelan, mencoba menyeka air mata yang membasahi pipi.

Ibunya menarik napas dalam-dalam, menatap lekat-lekat mata anak perempuannya. "Pria bernama Ervan itu... sebenarnya adalah anak dari rekan bisnis ayahmu yang baru saja pindah dari wilayah Surabaya Barat. Ayahmu memang berencana memperkenalkannya kepadamu bulan depan untuk membahas rencana perjodohan keluarga. Ibu tidak menyangka kalau penumpukan kemiripan wajah ini akan membuatmu terguncang sampai seperti ini."

Yydett terbelalak, dadanya terasa semakin sesak menerima kenyataan mengenai rencana perjodohan tersebut. Kebingungan besar mulai menguasai kepalanya, membayangkan bagaimana dirinya harus hidup berdampingan dengan pria yang memiliki paras wajah serupa dengan cinta masa lalunya yang telah gugur.
___

Jakarta, Agustus 2038

Lonceng tanda pulang sekolah berbunyi nyaring, memicu keriuhan anak-anak yang berlarian keluar dari gerbang sekolah dasar swasta di Jakarta Selatan. Yydett berdiri di bawah naungan pohon peneduh, mengenakan kacamata hitam untuk melindungi pandangannya dari sengatan terik matahari siang yang membakar kulit.

Seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun dengan tas ransel hitam berlari cepat, langsung memeluk erat pinggang Yydett dengan wajah ceria. "Mama! Lihat ini! Hari ini aku dapat nilai sempurna lagi di kelas pemrograman dasar komputer!"

Yydett berlutut, mengambil selembar tisu dari tasnya lalu mengusap tetesan keringat di dahi anak kandungnya itu. "Wah, anak Mama hebat banget. Belajar sama siapa semalam di rumah?"

"Belajar sendiri dong, Ma! Kan aku mau pintar kayak foto pria yang ada di laci meja kerja Mama," jawab sang anak dengan polos, menampilkan garis wajah serta sepasang mata bulat yang memicu rasa haru di hati Yydett.

Yydett tertegun sejenak, mengamati lekat-lekat paras anaknya yang terlihat familier namun penuh misteri. Mengenai siapa sosok ayah kandung dari anak laki-laki ini, Yydett memilih untuk menyimpan informasinya rapat-rapat dari konsumsi publik, membiarkan orang-orang di sekitarnya berspekulasi tanpa pernah memberikan jawaban pasti demi melindungi ketenangan tumbuh kembang sang buah hati.
___

Jakarta, April 2035

Suara riuh rendah dari para pengunjung pameran teknologi tahunan terdengar menggema sampai ke area selasar luar yang berlantai marmer. Yydett berjalan perlahan dengan memegang sebuah brosur vendor peladen, langkahnya terhenti saat melihat Ervan sedang berdiri menatap mendung yang mulai menggantung di langit Jakarta.

"Dengusan pelan keluar dari hidung Yydett saat dirinya melangkah mendekat. Kamu tidak ikut mendengarkan presentasi dari tim pengembang di dalam, Van?"

Ervan menoleh, melemparkan sebuah senyuman ramah yang seketika membuat dada Yydett berdesir aneh karena kemiripan gurat wajah pria itu dengan mendiang asisten dosennya dahulu. "Aplikasi sistem mereka masih memiliki banyak celah keamanan, Det. Aku lebih memilih mencari udara segar di luar sini."

Yydett bersandar pada pagar pembatas besi, mengeluarkan helaan napas panjang. "Tiga bulan sejak acara makan malam keluarga waktu itu, kamu selalu bersikap sangat baik kepadaku, Van. Padahal kamu tahu kalau aku sering kedapatan termenung setiap kali melihat wajahmu."

Ervan membetulkan letak kacamatanya dengan gerakan tangan yang tenang, matanya menatap lekat-lekat ke arah Yydett. "Aku tahu cerita tentang mendiang Erick dari ibumu, Det. Aku bisa memahami kalau kehadiran fisikku ini memicu kenangan lama yang menyakitkan di benakmu."

"Apa kamu tidak merasa keberatan jika dijadikan pilihan karena kemiripan wajah ini?" tanya Yydett dengan nada suara yang lirih.

Ervan menggelengkan kepala dengan pasti, suaranya terdengar jernih tanpa ada keraguan. "Aku ingin menikahimu karena aku menghormati kegigihan kerjamu, bukan untuk menjadi bayangan dari masa lalumu. Kita bisa membangun sebuah komitmen hubungan yang baru dari awal, tanpa perlu menghapus cerita yang sudah berlalu. Aku akan menunggumu sampai kamu siap membuka pintu hatimu secara utuh."

Yydett menatap Ervan dengan rasa haru yang mendalam, pergolakan batin yang selama ini menyiksanya perlahan mulai mencair setelah mendengar ketulusan ucapan pria di hadapannya tersebut.
___

Surabaya, September 2000

Suasana ruang tengah kediaman keluarga Rushl terasa sangat mencekam. Sisa tangis sang ibu terdengar lirih di sudut sofa panjang, memandangi sepasang sepatu kain berukuran kecil yang tertinggal di area bermain pasar swalayan. Berkas laporan kehilangan anak dari kepolisian tergeletak di atas meja kayu dengan posisi berantakan.

Sang ayah memijat pelipisnya, menatap lurus ke arah dinding ruangan. "Kita harus segera mengemas barang-barang Erick malam ini, lalu pindah ke rumah neneknya di Malang besok pagi."

"Bagaimana kalau nanti Erick dewasa menanyakan keberadaan kembarannya?" tanya sang ibu dengan suara gemetar.

"Kita rahasiakan hal ini dari Erick, jangan sampai anak ini tumbuh dengan beban pikiran mencari keberadaan Evan yang tidak jelas rimbanya," jawab sang ayah dengan nada getir.

Keputusan besar tersebut disepakati demi melindungi masa depan Erick. Seluruh dokumentasi foto serta pakaian milik Evan dimusnahkan tanpa sisa, membuat Erick tumbuh dewasa sebagai anak tunggal yang percaya bahwa dirinya memang dilahirkan tanpa memiliki saudara kandung.

___

Jakarta, Maret 2028

Hembusan angin malam di area taman pusat perbelanjaan Sudirman menerpa wajah Yydett yang sedang berjalan beriringan dengan Erick. Pertemuan rutin untuk membahas evaluasi sistem teknologi kali ini terasa canggung karena sikap Erick yang cenderung menjaga jarak aman.

Yydett menghentikan langkahnya di dekat pagar pembatas, menatap lekat-lekat wajah pria di sampingnya. "Rick, manajemen kantor gue berencana mengajukan kontrak jangka panjang buat posisi konsultan utama. Gue berharap lu mau mengambil kesempatan ini agar bisa menetap di Jakarta."

Erick membetulkan letak kacamatanya dengan canggung, mengalihkan pandangan ke arah lampu-lampu jalan raya demi menyembunyikan getaran halus di jemari tangan kirinya. Serangan nyeri yang tajam mendadak berdenyut di dalam kepala, mengacaukan konsentrasinya.

"Kontrak riset akademis saya di Yunnan University akan berjalan penuh akhir tahun ini, Det. Saya harus kembali ke Kunming," jawab Erick dengan nada datar.

Yydett melangkah mundur, gurat kecewa tergambar jelas di wajahnya. "Lu selalu memilih pergi setiap kali hubungan kita mulai terasa dekat, Rick. Gue lelah menghadapi benteng pertahanan yang lu bangun sendiri tanpa pernah mau membagi isi hati lu ke gue."

Erick memilih bungkam, menahan diri untuk tidak mengejar Yydett yang melangkah pergi meninggalkannya sendirian di bawah keremangan lampu taman. Konflik batin membuat Erick memilih dicap sebagai pria berhati dingin, demi menyembunyikan fakta kesehatan badannya yang kian mengkhawatirkan.
___

Kunming, Desember 2030

Tumpukan salju pertama mulai menutupi pelataran asrama Yunnan University, menghadirkan suhu dingin yang menusuk tulang. Erick duduk bersandarkan meja belajar, memandangi dokumen pemeriksaan medis dari rumah sakit universitas yang baru saja ia bawa siang tadi.

Rekan risetnya masuk ke dalam kamar membawa sebungkus makanan hangat, lalu meletakkannya di dekat laptop Erick. "Rick, dokter spesialis saraf menelepon lagi. Sel kanker di dalam kepalamu sudah mulai menyebar ke bagian jaringan sensitif. Kenapa lu masih menunda jadwal tindakan medis?"

Erick melipat dokumen tersebut dengan perlahan, memasukkannya ke dalam laci paling bawah. "Sidang draf tesis doktoral saya dijadwalkan tiga bulan lagi. Saya tidak bisa membiarkan fokus riset ini terganggu oleh rangkaian terapi pemulihan yang melelahkan."

"Tapi ini menyangkut keselamatan nyawamu, Rick! Apa lu tidak memikirkan perasaan orang-orang yang menunggumu di Indonesia?" cetus rekan risetnya dengan nada tinggi.

Erick menyandarkan punggungnya pada kursi kayu, memejamkan mata rapat-rapat untuk meredakan denyutan hebat di kepala. Erick bertekad menyelesaikan pencapaian akademis ini sebagai pembuktian terakhir hidupnya, sengaja memutus jalur komunikasi dengan Yydett agar wanita itu membencinya, sebuah pilihan yang ia ambil demi menghindarkan Yydett dari penderitaan mendampingi pria yang sisa usianya kian menipis.
___

Jakarta, September 2035

Lampu sorot di area tengah ballroom hotel memancarkan cahaya keemasan yang hangat, memantulkan senyum ramah dari para tamu undangan yang mengalir memberikan ucapan selamat. Yydett berdiri anggun di atas panggung pelaminan, mengenakan pakaian pengantin tradisional yang mewah.

Di sampingnya, Ervan berdiri menyalami para kolega bisnis keluarga dengan sikap yang sangat tenang. Yydett sesekali melirik wajah suaminya tersebut, merasakan sisa rasa terkejut yang masih membekas di dalam dada akibat kemiripan struktur wajah Ervan dengan mendiang Erick yang begitu identik.

Allio berjalan perlahan di barisan penonton, menatap Yydett dari kejauhan dengan tatapan penuh rasa haru. Kehadiran Allio malam itu menjadi bentuk pelepasan atas perasaan cinta masa lalunya yang kini telah resmi menemukan muara baru.

Saat prosesi bersulang bersama dimulai, Ervan menggenggam jemari tangan Yydett dengan lembut. "Terima kasih sudah memercayakan masa depanmu bersamaku, Yydett."

Yydett membalas genggaman tangan tersebut, mencoba memantapkan hatinya untuk menerima takdir pernikahan yang dirancang oleh kedua keluarga besar ini. Yydett sadar komitmen hidupnya kini harus didekasikan sepenuhnya untuk Ervan, meskipun bayang-bayang kisah asmara bersama Erick di masa kuliah dahulu tidak akan pernah benar-benar terhapus dari ingatannya.
___

Jakarta, September 2038

Langkah kaki Yydett terdengar pelan saat menyusuri area ruang tunggu sebuah klinik dokter spesialis anak di Jakarta Pusat. Sore itu, Yydett sengaja mengambil cuti paruh waktu dari aktivitas kantornya demi mengantar anak kandungnya menjalani pemeriksaan kesehatan berkala.

Anak laki-lakinya yang berusia tujuh tahun duduk tenang di samping Yydett, sibuk menyusun balok mainan kayu dengan tingkat fokus yang sangat tinggi. Garis rahang serta sorot mata anak tersebut memicu rasa haru yang mendalam di hati Yydett setiap kali mereka saling bertatapan.

"Mama, setelah ini kita mampir ke rumah Nenek, kan?" tanya sang anak dengan nada suara yang terdengar jernih.

Yydett tersenyum hangat, mengusap helai rambut anaknya dengan penuh perasaan protektif. Status hubungan pribadinya mengenai siapa sosok ayah kandung dari anak ini tetap ia simpan sebagai rahasia besar, membiarkan lingkaran sosial luar menebak-nebak tanpa pernah memberikan ruang konfirmasi, demi menjaga tumbuh kembang buah hatinya tetap berjalan damai jauh dari bayang-bayang konflik masa lalu.
___

Kunming, Maret 2031

Deru angin malam menembus celah jendela kamar asrama, membawa masuk aroma hawa dingin yang membekukan lantai. Erick bersandar pada tepi meja belajar yang dipenuhi tumpukan buku referensi. Pandangannya terpaku pada selembar cetakan jadwal sidang doktoral yang baru saja dikirimkan oleh sekretariat pascasarjana Yunnan University melalui surat elektronik.

Pintu kamar diketuk dari luar, disusul kedatangan rekan risetnya yang langsung meletakkan nampan berisi sup hangat. "Rick, tim dokter dari rumah sakit universitas kembali mengirimkan nota peringatan berkala. Kenapa kamu masih mengabaikan jadwal pemeriksaan sel abnormal di kepalamu?"

Erick membetulkan letak kacamatanya dengan perlahan, berusaha menyembunyikan rasa pening hebat yang mendadak menyerang bagian pangkal tengkorak. "Jadwal sidang terbuka saya sudah ditetapkan bulan depan. Saya harus menyelesaikan revisi draf publikasi ini sebelum memikirkan pengobatan medis."

Rekan risetnya menghela napas panjang, menatap Erick dengan gurat kecemasan yang mendalam. "Kamu bisa kehilangan nyawamu kalau terus keras kepala seperti ini, Rick. Apa kamu tidak memikirkan perasaan Yydett di Jakarta?"

Nama wanita itu membuat Erick terdiam beberapa saat, menatap nanar ke arah layar monitor komputer. Konflik batin yang menyiksa berkecamuk di dalam benak Erick; keinginan untuk membagi derita ini terbentur oleh ketakutan akan merusak masa depan Yydett. Erick membulatkan tekad untuk mengunci rapat rahasia kesehatannya, membiarkan Yydett membenci dirinya sebagai pria yang egois, sebuah pilihan pahit demi membebaskan Yydett dari beban duka di kemudian hari.
___

Balikpapan, Agustus 2035

Deru suara pendingin ruangan berpadu dengan ketukan pelan jemari tangan seorang staf administrasi, Danu, yang sedang menyusun kotak-kotak berkas logistik di dekat pintu. Allio duduk bersandar di kursi kerjanya, menatap segelas teh hangat yang uapnya sudah menghilang.

"Pak Allio, ada paket dokumen kilat dari kantor pusat Surabaya baru saja tiba," kata Danu seraya meletakkan sebuah amplop tebal berwarna cokelat tua di atas meja.

Allio menegakkan punggungnya, menarik napas pendek yang terdengar seperti sebuah desahan lelah. "Dari bagian kearsipan atau manajemen, Nu?"

"Bukan urusan kantor sepertinya, Pak. Di pojok kiri bawah tertera nama pengirim pribadi, Ibu Davina," jawab Danu sebelum melangkah keluar dari kubikel.

Tangan Allio mendadak terasa dingin saat merobek segel perekat amplop tersebut. Ketika isinya dikeluarkan, sebuah kartu undangan tebal dengan cetakan tinta emas berornamen sulur terjatuh di atas meja kerja kayu miliknya. Nama Yydett Davina & Ervan Fernando tertulis dengan sangat jelas di bagian depan.

"Ugh..." Sebuah erangan kecil yang sarat akan rasa perih lolos begitu saja dari tenggorokan Allio.

Ia membuka lembaran dalam kartu tersebut, membaca tanggal pelaksanaan acara resepsi yang akan digelar di Jakarta sebulan lagi. Sepuluh tahun dirinya mencoba melarikan diri ke Pulau Kalimantan demi mengubur rasa cinta masa lalunya, ternyata selembar kertas ini datang untuk menegaskan bahwa ruang di hati Yydett memang sudah resmi dimiliki oleh pria lain.

Danu kembali masuk membawa berkas laporan baru, menghentikan langkahnya saat melihat perubahan raut wajah atasannya. "Pak Allio? Wajah Bapak mendadak pucat sekali. Apa ada kabar buruk dari Surabaya?"

Allio menggelengkan kepala dengan perlahan, menutup kembali kartu undangan tersebut dengan jemari yang sedikit bergetar. "Tidak ada apa-apa, Danu. Hanya kabar bahagia mengenai pernikahan seorang sahabat lama. Tolong siapkan draf pengajuan cuti tahunan untukku bulan depan, aku harus menghadiri acara ini."
___

Jakarta, Maret 2038

Suara langkah kaki para karyawan yang baru saja menyelesaikan jam kerja sore itu terdengar riuh di sekitar area pintu keluar kaca. Dua orang staf administrasi divisi keuangan, Shinta dan Maya, berdiri di dekat meja resepsionis seraya memperhatikan Yydett yang sedang berjalan menuju mobil jemputan di area lobi luar.

"Dengusan pelan terdengar dari mulut Shinta seraya menyenggol lengan temannya. May, kamu perhatikan tidak? Anak laki-laki berumur tujuh tahun yang kemarin sore dijemput oleh Mba Yydett ke kantor?"

Maya mengambil botol minumnya dari dalam tas. "Iya, aku lihat. Garis rahang dan bentuk matanya tampan sekali. Tapi, sebenarnya siapa sih suami Mba Yydett? Di media sosialnya tidak pernah ada foto pernikahan keluarga besar."

"Itu dia yang menjadi bahan perbincangan di lantai tiga," bisik Shinta dengan nada suara rendah. "Beberapa staf senior bilang, Mba Yydett menikah secara tertutup di Jakarta beberapa tahun lalu karena suaminya berasal dari keluarga pemilik bisnis besar yang sangat menjaga privasi. Tapi ada juga desas-desus kalau wajah anaknya itu mirip sekali dengan mantan konsultan ahli kantor kita yang dulu meninggal di Tiongkok."

"Hussh! Jangan sembarangan bicara, Shin," tegur Maya seraya menoleh cemas ke arah koridor. "Mba Yydett itu manajer yang sangat tegas. Kalau tim pengembang sampai mendengar gunjingan ini, posisi kerja kita bisa terancam."

Yydett yang saat itu sudah berada di dalam mobil luar lobi, sempat melihat ke arah kedua stafnya dari balik kaca jendela. Ia membetulkan letak kacamata hitamnya, mendesah panjang seraya memeluk tas kerjanya, memilih mengabaikan seluruh penilaian sosial luar demi melindungi ketenangan tumbuh kembang sang buah hati yang paras wajahnya menyimpan misteri masa lalu.

Memuat daftar chapter...
[X]