The Timeline - Babak Kelima (Final)
Suasana kantor cabang pelabuhan Balikpapan tampak sibuk oleh lalu lalang petugas ekspedisi yang membawa berkas manifes logistik. Allio duduk di balik meja kerja barunya, memandangi hamparan lautan luas dari balik dinding kaca ruangan. Keputusan pindah tugas ke Pulau Kalimantan menjadi langkah drastis yang ia pilih demi menata kembali hatinya.
Seorang staf administrasi mengetuk pintu kubikel Allio, menyodorkan segelas kopi hitam. "Pak Allio, ada dokumen pengiriman dari wilayah Surabaya yang membutuhkan tanda tangan persetujuan Anda segera."
Allio menerima dokumen tersebut, tatapannya mendadak tertuju pada kolom nama pengirim yang tercantum di pojok kertas. Yydett Davina. Nama itu memicu debar canggung yang sempat Allio coba kubur selama berbulan-bulan sejak malam penolakan di kafe Surabaya Barat.
Allio meraih ponselnya, berniat mengirimkan pesan singkat untuk sekadar menanyakan kabar pertemanan mereka. Jari Allio tertahan di atas layar digital, mengingat kembali bagaimana Yydett selalu menceritakan kerinduannya pada sosok Erick setiap kali mereka menghabiskan waktu bersama. Allio menarik napas dalam-dalam, mengurungkan niat tersebut lalu menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celana, memilih melanjutkan proses pengasingan diri demi menghargai keputusannya yang ingin berhenti menjadi pelampiasan emosional.
___
Jakarta, September 2027
Lampu neon lorong rumah sakit swasta di kawasan Jakarta Pusat memantulkan bayangan Yydett yang sedang berjalan dengan langkah terburu-buru. Kabar mengenai tumbangnya Erick di tengah jalannya rapat proyek teknologi membuat Yydett meninggalkan seluruh pekerjaannya di kantor demi menuju ruang instalasi gawat darurat.
Yydett menemukan Erick sedang duduk di tepi ranjang periksa, mengenakan kemeja kerja yang tampak kusut tanpa dasi. Wajah Erick terlihat sangat pucat, dengan gurat kelelahan yang tergambar jelas di bawah terpaan cahaya ruangan.
Yydett langsung mencengkeram lengan Erick dengan erat, suaranya bergetar menahan amarah bercampur panik. "Lu sebenarnya kenapa, Rick? Dokter bilang lu pingsan karena tekanan darah lu kacau. Kenapa setiap kali gue tanya soal kondisi badan lu, lu selalu menghindar?!"
Erick menarik tangannya dengan perlahan, membetulkan letak kacamata demi menghindari kontak mata langsung dengan Yydett. "Aku hanya kelelahan karena begadang menyelesaikan struktur basis data peladen, Det. Tidak ada hal serius yang perlu kamu khawatirkan."
Yydett melangkah mundur, air mata kekecewaan mulai menggenang di pelupuk matanya. Benturan ego kembali memperlebar jarak di antara mereka malam itu. Yydett merasa perjuangannya untuk mendekati hati Erick selalu menemui jalan buntu, tanpa pernah menyadari bahwa sikap dingin Erick merupakan tameng pelindung agar Yydett tidak perlu ikut menangis saat takdir buruk benar-benar menjemputnya kelak.
___
Jakarta, Oktober 2035
Gemercik air mancur di area taman dalam rumah baru Yydett menemani suasana sore hari yang lengang. Satu bulan sejak acara pernikahan yang digagas keluarga besar terlaksana, Yydett masih berusaha keras membiasakan diri dengan kehadiran Ervan di dalam kehidupannya yang baru.
Yydett berjalan menuju ruang kerja pribadi Ervan, membawa nampan berisi camilan sore. Langkah kaki Yydett terhenti di ambang pintu saat melihat Ervan sedang serius membetulkan posisi kacamata sembari membaca dokumen bisnis, menampilkan postur tubuh yang menyerupai mendiang Erick.
Ervan menoleh, melemparkan senyum ramah yang seketika mencairkan suasana canggung. "Eh, Yydett. Kemari, duduk di sini. Aku baru saja menyelesaikan ulasan anggaran untuk proyek bulan depan."
Yydett meletakkan nampan di atas meja kerja, menatap lekat-lekat garis wajah suaminya dengan perasaan campur aduk antara rasa kaget yang belum sepenuhnya hilang dan rasa haru. Setiap kali Ervan berbicara dengan nada tegas, memori Yydett seolah dipaksa memutar kembali kenangan di laboratorium komputer tahun 2018 bersama Erick. Yydett membalas senyuman Ervan, memantapkan langkah untuk menghargai komitmen pernikahan ini, menerima kenyataan bahwa takdir hidupnya kini berjalan bersama Ervan meskipun sebagian hatinya telah lama membeku di masa lalu.
___
Surabaya, Mei 2005
Suara tawa anak-anak dari acara pesta ulang tahun di halaman belakang rumah mewah itu masih terdengar samar melalui celah pintu yang terbuka. Ervan duduk di atas karpet tebal kamarnya, mengosongkan isi sebuah kotak besi kecil peninggalan dari panti asuhan tempat dirinya tinggal dahulu.
"Hembusan napas terdengar dari sang ibu angkat, Ibu sinta, yang baru saja masuk membawakan sepotong kue tar. "Van, kenapa kamu malah bersembunyi di sini, nak? Teman-temanmu di luar sedang bersiap meniup lilin kue ulang tahun."
Ervan kecil mendongak, jemari tangannya yang mungil memegang sebuah benda logam kecil yang tampak kusam. "Bu, aku menemukan ini di bagian bawah kotak. Ini benda apa?"
Ibu Sinta mendekat, lalu berlutut di samping anak angkatnya. Ia mengambil benda tersebut, memperhatikannya di bawah pendar lampu kamar. Benda itu merupakan sebuah kalung perak kecil dengan gantungan berbentuk huruf E.
"Ah..." Sebuah desahan kecil keluar dari mulut Ibu Sinta. "Ini pasti kalung yang melekat di pakaianmu saat pihak pengasuh panti menemukanmu telantar di jalanan dulu, nak."
Ervan memiringkan kepalanya, menunjukkan rasa ingin tahu yang besar. "Huruf E ini artinya apa, Bu? Apa itu singkatan dari namaku?"
Ibu Sinta tersenyum hangat, mengusap helai rambut Ervan dengan penuh kasih sayang. "Mungkin saja begitu. Sekarang, Ibu akan menyimpan kalung ini dengan baik di dalam kotak besi ini ya. Suatu hari nanti, saat kamu sudah tumbuh menjadi pria dewasa yang hebat, benda ini akan membantumu memahami dari mana kamu berasal."
Ervan mengangguk gembira, mengeluarkan dengusan riang sebelum kembali berlari keluar kamar menuju halaman belakang untuk melanjutkan pesta.
___
Surabaya, Desember 2018
Suasana laboratorium komputer terasa sangat pengap karena cuaca luar yang terik. Yydett duduk di atas meja asisten dosen, melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap tajam ke arah Erick yang sedang sibuk mengetik nilai praktikum di komputer utama. Ketegangan emosional di antara mereka berdua langsung terasa saat Erick menghentikan gerakan tangannya.
"Kamu harus mengulang modul pemrograman basis data ini dari awal, Yydett," ucap Erick dengan suara rendah, berusaha tidak menatap mata wanita di depannya.
Yydett mendengus kesal, melompat turun dari meja hingga suara tumit sepatunya terdengar keras. "Gue sudah meluangkan waktu berjam-jam untuk datang ke sini, Rick. Lu pelit banget memberikan nilai tambahan buat gue."
Erick membetulkan letak kacamatanya dengan gugup, meremas pinggiran meja kerja demi menahan debar jantungnya yang berdegup kencang akibat kedekatan posisi mereka. Konflik idealisme sebagai asisten dosen membuat Erick memilih bersikap disiplin, memaksa Yydett untuk membuang gaya hidup santainya demi menyelamatkan masa depan studinya di kampus ini.
___
Kunming, Mei 2032
Hujan deras mengguyur area kompleks Rumah Sakit Yunnan University, menciptakan suasana kelam di dalam kamar perawatan nomor 402. Erick bersandar lemah pada bantal ranjang medis, menatap rintik air yang membasahi kaca jendela luar. Sel kanker di kepalanya sudah merusak sebagian besar fungsi motorik tubuhnya, membuat lengan kanannya sering mati rasa.
Rekan risetnya berjalan masuk membawa map berisi surat keputusan dewan senat universitas mengenai kelulusan akademisnya. "Rick, tim penguji sudah menandatangani draf ijazah doktoralmu. Publikasi jurnal internasionalmu juga mendapatkan sambutan hangat dari para peneliti."
Erick menggerakkan bibirnya dengan sangat lambat, mencoba melempar senyuman tipis ke arah rekan risetnya. "Terima kasih sudah membantu mengurus seluruh proses administrasi kelulusan saya."
"Kamu harus segera menyetujui tindakan pembedahan kepala, Rick. Jangan menyerah sekarang," kata rekan risetnya dengan suara tertahan.
Erick menggelengkan kepala perlahan, menatap gawai lamanya yang menampilkan potret masa kuliah Yydett di Surabaya. Erick memilih membiarkan takdir kesehatannya berjalan menuju titik akhir tanpa perlu melakukan pengobatan yang sia-sia. Erick ingin Yydett di Jakarta mengingat dirinya sebagai sosok mantan asisten dosen yang berhasil meraih mimpi di luar negeri, membiarkan rahasia penderitaan ini terkubur selamanya demi menjaga ketenangan hidup wanita itu.
___
Jakarta, November 2035
Suasana ruang makan di rumah keluarga besar terasa hangat oleh obrolan seputar perkembangan bisnis properti. Yydett duduk berdampingan dengan Ervan, mendengarkan wejangan dari kedua orang tua mengenai pentingnya menjaga keharmonisan dalam sebuah hubungan rumah tangga yang baru berjalan beberapa bulan.
Ervan mengambilkan sepotong lauk untuk diletakkan di piring Yydett, disusul dengan senyuman ramah. "Dimakan ya, Yydett. Kamu belakangan ini kelihatan kurang istirahat karena urusan proyek kantor."
Yydett tertegun sejenak, menerima perhatian tersebut dengan debar canggung yang masih tersisa di hatinya. Bentuk rahang, cara tersenyum, hingga sorot mata Ervan memicu rasa kaget yang mendalam karena garis wajah pria itu benar-benar menyerupai mendiang Erick.
Yydett memaksakan diri untuk mengangguk, mencoba fokus pada momen kebersamaan mereka malam itu. Komitmen pernikahan yang didasari pilihan orang tua memaksa Yydett untuk mengubur dalam-dalam seluruh kenangan asmaranya bersama Erick di masa lalu, mencoba belajar mencintai Ervan yang kini menjadi pelindung hidupnya yang baru.
___
Jakarta, September 2038
Lobi utama sekolah dasar swasta di Jakarta Selatan mulai sepi setelah sebagian besar siswa dijemput oleh orang tua mereka. Yydett berjalan perlahan menyusuri koridor kelas, membawa sebuah payung kecil untuk mengantisipasi cuaca siang yang mendadak berubah mendung.
Seorang anak laki-laki berlari keluar dari ruang perpustakaan, langsung menggenggam erat tangan Yydett dengan wajah gembira. "Mama! Hari ini aku berhasil membuat program permainan sederhana di kelas komputer!"
Yydett berlutut, merapikan kerah baju seragam anak kandungnya itu dengan penuh kasih sayang. Tatapan mata bulat sang anak menghadirkan kembali rasa haru yang mendalam di benak Yydett karena paras wajah anak tersebut menyimpan kemiripan dengan seseorang dari masa lalunya.
"Hebat sekali anak Mama. Nanti di rumah kita tunjukkan hasilnya ya," ucap Yydett lembut.
Status hubungan Yydett mengenai siapa sosok ayah kandung dari anak laki-laki ini sengaja disimpan rapat dari lingkaran sosialnya. Yydett memilih membesarkan sang buah hati secara mandiri di tengah kesibukan kariernya, membiarkan orang-orang luar berspekulasi tanpa pernah mendapatkan konfirmasi pasti demi melindungi ketenangan tumbuh kembang anaknya.
___
Surabaya, Juni 2019
Suasana ruang jurusan Teknik Informatika terasa sangat bising oleh suara kipas angin dinding. Erick berdiri di depan meja administrasi, menyerahkan map berkas kelulusan transfer studinya ke Tiongkok kepada staf bagian akademik.
Allio berjalan masuk membawa tumpukan buku praktikum, langkahnya langsung terhenti saat melihat Erick memasukkan paspor ke dalam tas ransel. "Rick, lu beneran berangkat malam ini? Yydett dari kemarin mencari lu di laboratorium."
Erick membetulkan letak kacamatanya dengan gugup, memandang ke arah lantai ubin. "Semua urusan berkas di Indonesia sudah selesai, Al. Tolong sampaikan buku catatan rangkuman materi semester depan itu kepada Yydett."
"Kenapa lu nggak menyerahkan sendiri ke dia, Rick? Dia berhak tahu alasan lu pergi mendadak seperti ini," desak Allio dengan nada suara meninggi.
Erick menggelengkan kepala perlahan, meremas tali tas ranselnya erat-erat. Konflik ketakutan akan kedekatan emosional membuat Erick memilih melarikan diri, percaya bahwa memutus komunikasi secara sepihak di bandara akan menjaga keteraturan hidupnya, tanpa menyadari langkah tersebut meninggalkan tanda tanya besar di hati Yydett.
___
Kunming, Juni 2032
Suasana pagi hari di pemakaman umum dekat kawasan kampus Yunnan University terasa sangat sepi. Rekan riset Erick berdiri mengenakan pakaian hitam, menatap gundukan tanah baru yang ditutupi taburan bunga segar. Upacara pemakaman telah selesai dilaksanakan secara sederhana dengan bantuan pihak kedutaan besar.
Rekan riset tersebut mengeluarkan ponsel dari saku mantel, membuka riwayat panggilan ke nomor Jakarta milik Yydett yang sempat ia hubungi kemarin. "Tugasmu menyelesaikan riset akademis sudah tuntas, Rick. Kamu pergi meninggalkan nama baik sebagai peneliti terbaik di kampus ini."
Hembusan angin membawa pergi dedaunan kering di sekitar nisan. Kepergian Erick membawa akhir dari seluruh perjuangannya melawan penyakit ganas di kepala. Pilihan Erick untuk mengunci rapat rahasia penderitaannya berhasil terlaksana, membuat dirinya wafat dalam kesunyian tanpa perlu menyeret Yydett ke dalam pusaran duka yang berkepanjangan.
___
Surabaya, Februari 2039
Suara rintik hujan sore hari membentur kaca jendela ruang tamu, menciptakan suasana yang tenang di dalam rumah lama keluarga Rushl. Evan duduk di sofa panjang berdampingan dengan Yydett, menghadapi seorang pria muda berjaket tebal, Hendra, yang merupakan rekan riset mendiang Erick di Tiongkok dahulu.
Ibu Zara berjalan dari arah dapur membawa senampan teh hangat, lalu duduk di kursi tunggal dengan pandangan mata yang tertuju pada sebuah map dokumen besar di atas meja. "Bagaimana hasil pertemuanmu dengan pihak perwakilan kedutaan besar di Kunming kemarin, Nak Hendra?"
Hendra membetulkan posisi duduknya, mengeluarkan desahan panjang sebelum membuka map tersebut. "Seluruh berkas administrasi izin pemindahan jenazah dari pemakaman umum Yunnan University sudah selesai divalidasi oleh dewan senat kampus dan pihak berwenang di sana, Bu Zara."
Yydett menggenggam erat jemari tangan Evan, matanya mulai berkaca-kaca menahan rasa haru. "Lalu, kapan proses pemulangan peti jenazah Erick bisa dilakukan, Hen?"
"Pihak maskapai penerbangan cargo sudah menjadwalkan keberangkatan akhir bulan ini, Mba Yydett," jawab Hendra seraya menunjukkan selembar draf manifes pengiriman internasional. "Mas Evan juga sudah membantu menyelesaikan seluruh penyelesaian biaya administrasi kedokteran forensik di Kunming dari Jakarta kemarin."
Evan mengangguk pelan, memberikan usapan lembut pada punggung tangan istrinya demi memberikan ketenangan. "Ini sudah menjadi kesepakatan keluarga besar kita, Hen. Erick harus pulang ke Surabaya agar bisa beristirahat dengan damai di dekat makam bapak."
Ibu Zara menyeka setitik air mata yang menetes di pipinya dengan ujung kain kerudung, sebuah senyuman tulus terukir di wajah senjanya. "Terima kasih banyak atas bantuan kalian semua. Setelah belasan tahun anak Ibu terasing di negeri orang, takdir akhirnya memberikan jalan agar potongan keluarga kita yang terpisah bisa berkumpul kembali di sini."
___
Jakarta, Desember 2034
Lampu hias pohon natal di sudut ruang tengah rumah keluarga besar Yydett menyala terang, memantulkan perpaduan warna merah dan hijau. Yydett duduk bersandar di sofa, memandangi berkas profil perusahaan rekanan bisnis yang dikirimkan oleh ayahnya untuk dipelajari minggu ini.
Ibunya masuk membawa nampan berisi kue kering, lalu duduk di samping Yydett dengan wajah serius. "Det, pria yang waktu itu kamu temui di Surabaya sudah menyetujui rencana pertemuan keluarga besar kita bulan depan. Namanya Ervan."
Yydett meletakkan berkas tersebut, ingatan tentang pertemuan mengejutkan dengan pria mirip Erick di kedai kopi beberapa bulan lalu kembali melintas, memicu debar cemas. "Gue ikuti pengaturan Ayah dan Ibu saja."
Perjodohan ini memicu konflik batin di dalam diri Yydett. Sisi hatinya masih menolak membuka lembaran baru, tetapi desakan orang tua serta kemiripan wajah Ervan dengan mendiang Erick membuat Yydett terdorong untuk menerima rencana tersebut, berharap kehadiran Ervan bisa mengobati rasa kehilangan yang selama ini menyiksa batinnya.
___
Jakarta, Oktober 2038
Langkah kaki Yydett terdengar teratur saat menyusuri koridor area bermain dalam ruangan di sebuah pusat perbelanjaan Jakarta Selatan. Sore itu, Yydett meluangkan waktu di sela kesibukan dinas kantor demi menemani anak kandungnya menghabiskan waktu libur sekolah.
Anak laki-lakinya yang berusia tujuh tahun melompat turun dari area mandi bola, berlari menghampiri Yydett dengan tawa renyah. "Mama, besok antar aku ke toko buku ya! Aku mau beli buku tentang sejarah penemu komputer."
Yydett tersenyum hangat, menyeka keringat di leher anaknya menggunakan selembar kain kecil. "Iya, besok sore sepulang Mama dari kantor kita pergi bersama."
Yydett memandangi wajah anaknya yang kian bertumbuh besar, menyimpan rahasia tentang silsilah keturunan sang anak dari pengetahuan rekan-rekan kerjanya. Yydett memilih menghadapi setiap gunjingan sosial secara mandiri, mendedikasikan seluruh sisa hidupnya untuk membesarkan anak tersebut di tengah hilangnya sosok pendamping yang seharusnya ada di sisi mereka.
___
Jakarta, Januari 2039
Suara rintik hujan malam hari membentur kaca jendela ruang tengah dengan irama yang teratur. Yydett duduk di atas sofa panjang dengan menggenggam gawai miliknya, memandangi nomor kontak Allio yang sudah lama tidak ia hubungi sejak kepindahan sahabatnya itu ke Pulau Kalimantan. Setelah menarik napas pendek untuk menenangkan debar di dadanya, Yydett menekan tombol panggilan suara.
Sambungan telepon berdering beberapa kali sebelum akhirnya terdengar suara berat Allio di seberang sana. "Halo, Det? Ada masalah mendesak di Jakarta? Tumben kamu menelepon malam-malam begini."
Yydett memejamkan mata erat-erat, selembar air mata haru menetes di pipinya. "Al... aku mau menceritakan sesuatu hal yang sangat luar biasa kepadamu. Ini tentang hasil pemeriksaan laboratorium genetik suamiku, Ervan."
Suara Allio terdengar bergeser dari kursinya, disusul dengusan pelan penuh rasa penasaran. "Pemeriksaan genetik? Maksudmu soal kemiripan wajahnya dengan mendiang si kutu buku itu? Ada perkembangan apa, Det?"
"Ervan... Ervan itu sebenarnya adalah Evan Rushl, Al. Dia anak kembar dari keluarga mendiang bapaknya Erick yang hilang di pasar swalayan tahun dua ribu dulu," ucap Yydett dengan suara yang bergetar hebat menahan tangis yang pecah. "Hasil tes medis menyatakan tingkat kecocokan mereka mutlak sembilan puluh sembilan persen."
Keheningan panjang mendadak menguasai sambungan telepon jarak jauh tersebut. Allio terdengar mengembuskan napas pendek di seberang sana, mencoba meresapi kenyataan takdir yang terasa begitu mencengangkan. "Astaga... jadi selama ini pria yang bersanding di pelaminan bersamamu adalah saudara kandung dari Erick sendiri?"
"Iya, Al. Takdir mengembalikan potongan keluarga mereka yang terpisah lewat jalur pernikahan kami," jawab Yydett seraya menyeka air matanya.
"Ugh... mendengarnya membuat dadaku terasa sesak karena haru, Det," bisik Allio dengan nada suara yang bergetar. "Erick di sana pasti tersenyum bahagia melihat saudaranya pulang untuk menjaga ibunya dan juga menjaga wanita yang paling dia cintai. Selamat ya, Det. Sampaikan salam hormatku untuk Evan."
___
Surabaya, Mei 2005
Suasana halaman belakang sebuah rumah mewah di kawasan elit Surabaya Barat dipenuhi suara tawa anak-anak yang sedang merayakan pesta ulang tahun. Evan, yang kini tumbuh menjadi bocah berusia tujuh tahun, berlari gembira mengejar balon gas bersama teman-teman sebayanya. Sepasang suami istri paruh baya pemilik rumah tersebut memperhatikan gerakan Evan dengan tatapan penuh kasih sayang dari balik meja makan taman.
"Keputusan kita mengadopsi Evan dari panti asuhan lima tahun lalu merupakan berkah terbesar dalam hidup kita, Pa," ucap sang ibu angkat sambil menyandarkan kepala pada bahu suaminya.
Sang ayah angkat mengangguk, membetulkan letak kacamata bacanya. "Benar, Ma. Kita beruntung bisa memberikan fasilitas pendidikan dan kasih sayang yang berlimpah untuk anak secerdas dia. Pengorbanan kita mencarinya ke berbagai wilayah terbayar lunas melihat tumbuh kembangnya sekarang."
Evan dibesarkan oleh keluarga kaya yang sangat baik, mendapatkan limpahan fasilitas hidup serta kasih sayang yang utuh tanpa pernah kekurangan sesuatu pun. Keluarga angkatnya sengaja menyimpan rapat informasi mengenai asal-usul panti asuhan tempat Evan ditemukan dahulu, demi menjaga ketenangan jiwa sang anak agar tidak perlu terbebani oleh misteri masa lalunya yang hilang.
___
Jakarta, Desember 2035
Suara gemercik air hujan yang membasahi tanaman di area taman dalam rumah menemani keheningan malam itu. Yydett duduk di atas karpet ruang tamu, menyusun beberapa berkas profil perusahaan logistik baru milik keluarga suaminya. Dari arah koridor kamar, Ervan berjalan mendekat membawa dua cangkir cokelat hangat yang asapnya masih mengepul.
"Ugh... melelahkan sekali memeriksa laporan anggaran akhir tahun ini ya, Det," ucap Ervan seraya meletakkan cangkir di atas meja kaca, lalu mengambil tempat duduk di samping istrinya.
Yydett mendongak, menerima cangkir tersebut dengan jemari yang terasa hangat. "Terima kasih, Van. Kamu juga sepertinya kurang istirahat karena bolak-balik menghadiri rapat komite di Surabaya Barat minggu ini."
Ervan tersenyum tulus, membetulkan letak kacamatanya dengan gerakan tangan kiri yang sangat khas. Momen itu membuat gerakan tangan Yydett mendadak kaku selama beberapa detik, ingatan masa lalunya tentang Erick kembali bergetar di dalam kepala.
Ervan yang menyadari perubahan tatapan mata istrinya mengeluarkan helaan napas pendek. Ia memegang jemari tangan Yydett dengan lembut. "Det, aku tahu proses adaptasi pernikahan ini tidak mudah bagimu. Setiap kali aku melakukan gerakan spontan, kamu pasti teringat pada mendiang asisten dosenmu itu."
Yydett menundukkan kepala, selembar air mata kekecewaan pada takdir masa lalu hampir menetes di pipinya. "Maafkan aku, Van. Komitmen pernikahan ini sudah aku terima dengan tulus, tapi bayangan masa lalu itu terkadang datang tanpa diundang."
"Aku tidak memintamu untuk melupakan seluruh cerita lama itu, Yydett," jawab Ervan dengan nada suara yang penuh arti dan jernih. "Erick adalah bagian dari sejarah yang membentuk dirimu menjadi wanita hebat seperti sekarang. Tugasku sebagai suamimu adalah mendampingimu membangun lembaran baru, memastikan kamu tidak perlu menghadapi setiap masalah seorang diri lagi."
Yydett mendengus pelan untuk menahan haru, lalu menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Ervan. Pergantian rasa canggung menjadi sebuah ketenangan batin mulai tumbuh di dalam hatinya, menerima takdir pernikahan ini sebagai jalan pulang yang baru bagi kehidupannya.
___
Jakarta, Maret 2026
Riuh suara obrolan para tamu undangan di koridor luar Ballroom Hotel Mercure terdengar samar sampai ke area lift. Yydett berjalan perlahan menuju konter registrasi, membawa sebuah tas tangan kecil berisi berkas undangan reuni akbar lintas angkatan. Jantungnya mendadak berdegup kencang saat melihat daftar nama peserta yang tertera pada lembar papan pengumuman digital.
Erickson Rushl. Nama itu tertulis jelas di baris atas, memicu debar canggung yang bercampur rasa tidak percaya di dalam dada Yydett setelah bertahun-tahun kehilangan kontak komunikasi sejak perpisahan bandara.
Yydett membetulkan posisi gaun malamnya, melangkah masuk ke dalam ruangan dengan jemari yang mulai terasa dingin akibat gugup. Konflik batin mendera pikiran Yydett; keinginan untuk menuntut penjelasan mengenai kepergian mendadak Erick dahulu berbenturan dengan rasa rindu yang selama ini ia pendam sendiri. Yydett mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan, bersiap menghadapi momen pertemuan yang akan mengubah arah jalannya takdir emosional mereka sekali lagi.
___
Jakarta, November 2035
Lampu meja ruang keluarga memancarkan cahaya temaram, memantulkan bayangan Yydett yang sedang duduk merapikan dokumen akta pernikahan yang baru saja diserahkan oleh pihak perwakilan KUA. Dua bulan sejak janji suci diucapkan, Yydett masih sering kedapatan termenung setiap kali mengamati Ervan yang sedang terlelap di kamar tidur mereka.
Ervan berjalan keluar kamar mengenakan kaus kasual, lalu duduk di samping Yydett seraya mengusap lembut pundak istrinya. "Belum tidur, Yydett? Pekerjaan kantor tidak perlu kamu paksakan selesai malam ini."
Yydett tersentak, mencoba menyembunyikan debar kaget yang selalu muncul akibat garis wajah Ervan yang menyerupai pinang dibelah dua dengan mendiang Erick. "Hanya memeriksa beberapa berkas administrasi keluarga saja, Van."
Komitmen pernikahan yang didasari pilihan orang tua memaksa Yydett untuk menekan seluruh memori asmaranya bersama Erick di masa lalu. Yydett mencoba membuka hati secara perlahan untuk menerima kehadiran Ervan sebagai pendamping hidupnya yang baru, berjuang meredam konflik batin di dalam dirinya demi menghormati ketulusan Ervan yang selalu memperlakukannya dengan sangat baik.
___
Jakarta, September 2035
Suasana malam resepsi pernikahan di ballroom hotel berbintang terasa begitu megah. Alunan musik instrumental mengiringi langkah kaki Yydett yang berjalan anggun menuju pelaminan. Gaun brokat putih panjang bertabur manik-manik indah membalut tubuhnya, membuat setiap mata tamu undangan tertuju padanya.
Ervan, pria yang kini resmi menjadi suaminya, berdiri tegak menyambut kedatangan Yydett dengan senyuman ramah. Yydett membalas senyuman itu dengan debar jantung yang tidak beraturan. Setiap kali memandang Ervan dari dekat, rasa terkejut yang luar biasa selalu melanda hatinya karena garis wajah, bentuk hidung, hingga sorot mata pria itu benar-benar menyerupai mendiang Erick.
Allio berdiri di barisan penonton bagian belakang, menatap pelaminan dengan pandangan penuh rasa haru yang bercampur duka. Allio memegang gelas minumannya dengan erat, merelakan Yydett bersanding dengan pria pilihan keluarga besar tersebut.
Setelah acara bersalaman selesai, Ervan membawa Yydett menuju area ruang istirahat keluarga di belakang panggung. Ervan menggenggam jemari Yydett dengan lembut, menatap mata istrinya dengan penuh ketulusan.
"Terima kasih sudah mau menerima perjodohan keluarga ini, Yydett. Aku berjanji akan menjagamu dengan seluruh hidupku," ucap Ervan dengan nada suara yang terdengar jernih.
Yydett mengangguk pelan, mencoba meredam pergolakan batin yang sejak tadi menyiksa pikirannya. Yydett tahu bahwa pria di hadapannya ini bukanlah Erick, melainkan Ervan. Komitmen pernikahan memaksa Yydett untuk mengubur dalam-dalam seluruh kisah cinta masa kuliahnya, memilih takdir baru untuk hidup berdampingan dengan Ervan meskipun sebagian besar hatinya telah ikut terkubur bersama jasad Erick di Kunming.
___
Surabaya, November 2038
Suasana ruang tamu di kediaman ibu kandung Erick, Ibu Zara, terasa hangat oleh aroma teh melati sore hari. Yydett duduk di sofa panjang bersama Ervan yang sedang memangku anak laki-laki mereka. Ini adalah kunjungan rutin yang sering Yydett lakukan untuk menemani Ibu Zara—ibu dari mendiang Erick—yang hidup sendiri semenjak suaminya Rushl Fernando dan Erick tiada.
Ibu Zara berjalan perlahan dari arah dapur membawa piring berisi camilan. Langkah kakinya mendadak terhenti di ambang pintu, pandangannya terkunci pada Ervan yang sedang membetulkan posisi kacamata dengan gerakan tangan kiri yang sangat khas, persis seperti kebiasaan Erick dahulu.
Rasa gundah dan kecurigaan yang selama bertahun-tahun dipendam oleh Ibu Zara kini membuncah kembali. Setiap kali Yydett mengajak Ervan berkunjung ke rumah lama keluarga Rushl ini, Ibu Zara selalu merasakan getaran batin yang kuat. Ingatan masa lalunya tentang anak kembarnya yang hilang di pasar swalayan pada tahun 2000 seolah dipaksa terbuka kembali oleh kehadiran Ervan.
"Ervan, kalau Ibu boleh tahu, apa kamu masih menyimpan dokumen atau barang masa kecil sebelum kamu diadopsi oleh keluarga angkatmu?" tanya Ibu Zara dengan suara yang mendadak bergetar hebat.
Ervan tersenyum ramah, meletakkan cangkir tehnya. "Saya hanya memiliki sebuah kalung perak kecil bertuliskan huruf E yang tersimpan di dalam kotak besi peninggalan ayah angkat saya, Bu. Kata pengasuh panti dulu, kalung itu melekat di leher saya saat ditemukan telantar."
Mendengar pengakuan tersebut, Ibu Zara langsung menjatuhkan piring camilan di tangannya hingga hancur berantakan di atas lantai ubin. Air mata Ibu Zara tumpah seketika, dadanya sesak oleh rasa kaget yang luar biasa karena kalung yang disebutkan Ervan adalah properti kembar milik keluarga Rushl yang ia buat khusus untuk Evan dan Erick dahulu. Konflik takdir yang rumit mulai terkuak, memicu Ibu Zara untuk segera mencari kebenaran mutlak mengenai identitas pria yang kini menjadi suami dari menantunya sendiri.
___
Surabaya, Desember 2038
Suasana ruang tunggu gedung laboratorium Rumah Sakit Pusat Surabaya terasa sangat sunyi, hanya menyisakan deru pelan pendingin ruangan. Ibu Zara duduk di barisan kursi tunggu kayu dengan jemari yang saling bertautan erat, menahan kecemasan yang mendalam. Di sampingnya, Yydett menggenggam sebuah amplop putih berisi draf permohonan uji forensik genetik yang baru saja mereka daftarkan satu jam lalu.
Setelah kejadian pecahnya piring camilan di rumah waktu itu, Ibu Zara menceritakan seluruh rahasia masa lalu tentang hilangnya Evan pada tahun 2000 kepada Yydett. Konflik batin yang hebat sempat melanda pikiran Yydett; rasa kaget bercampur haru membuatnya sempat tidak percaya bahwa pria yang kini menjadi suaminya kemungkinan besar adalah belahan jiwa dari masa lalu yang hilang.
Seorang petugas medis berjalan keluar dari pintu kaca ruang sterilisasi, membawa selembar kertas hasil komparasi asam deoksiribonukleat (DNA) yang diambil dari sampel air liur Ervan dan sisa sampel darah medis mendiang Erick yang tersimpan di bank data rumah sakit. "Ibu Zara, hasil pengujian laboratorium mandiri sudah selesai divalidasi oleh tim dokter spesialis."
Ibu Zara berdiri dengan tubuh bergetar, merebut kertas tersebut dengan sisa tenaganya. Air mata Ibu Rushl langsung tumpah membanjiri pipinya saat melihat baris kesimpulan di bagian bawah dokumen yang menunjukkan angka kecocokan genetik mutlak sebesar 99,9 persen.
"Dia beneran Evan, Det... Ervan itu Evan, anak kandung Ibu yang hilang puluhan tahun lalu," bisik Ibu Rushl dengan suara pecah sebelum tubuhnya lunglai ke dalam pelukan Yydett yang juga ikut menangis sejadi-jadinya menerima kenyataan takdir yang begitu luar biasa ini.
___
Jakarta, Januari 2039
Lampu meja di ruang kerja pribadi Ervan di rumah Jakarta memancarkan cahaya kekuningan yang lembut. Ervan duduk termenung, menatap dua buah kalung perak identik bertuliskan huruf E yang kini diletakkan berdampingan di atas telapak tangannya. Pertemuan keluarga besar yang diadakan di Surabaya minggu lalu telah membuka tabir misteri yang menyelimuti seluruh hidupnya sejak kecil.
Pintu ruangan terbuka perlahan, menampilkan Yydett yang masuk membawa secangkir cokelat hangat, lalu duduk di lengan kursi kerja Ervan. Yydett melingkarkan lengannya di pundak suaminya, menyandarkan pipinya dengan penuh rasa sayang.
"Kamu masih memikirkan hasil tes medis itu, Van?" tanya Yydett dengan nada suara yang sangat lembut.
Ervan menghela napas panjang, mengencangkan genggaman tangannya pada kalung-kalung tersebut seraya menatap foto mendiang Erick yang kini sengaja dipasang di sudut meja kerja mereka. "Aku hanya tidak menyangka bahwa takdir membawaku kembali ke rumah ini dengan cara seperti ini, Yydett. Aku merasa bersalah kepada Erick karena menempati posisi yang seharusnya menjadi miliknya di sisimu."
Yydett membalikkan tubuh Ervan agar saling berhadapan, menatap lekat-lekat sepasang mata bulat suaminya yang kini terasa begitu penuh arti. "Erick pasti sangat bahagia di sana melihat ibunya tidak lagi kesepian, dan melihat saudara kembarnya tumbuh menjadi pria hebat yang menjaga wanita yang dia cintai. Ini bukan tentang merebut posisi, Van, tapi tentang takdir yang menyatukan kembali potongan keluarga yang sempat terpisah."
Ervan tersenyum tipis, merengkuh tubuh Yydett ke dalam pelukannya dengan sangat erat. Konflik emosional yang sempat berkecamuk di dalam dadanya perlahan mencair, digantikan oleh rasa syukur yang mendalam karena pelarian panjang hidupnya sebagai anak adopsi kini telah menemukan muara pulang yang sejati bersama keluarga kandung dan wanita pilihan hatinya.
___
Surabaya, Maret 2039
Suasana halaman belakang rumah lama keluarga Rushl tampak sangat cerah sore itu. Guratan kebahagiaan terpancar dari wajah Ibu Zara yang sedang duduk di kursi taman, menyaksikan cucu laki-lakinya berlarian mengejar bola di atas hamparan rumput hijau. Untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun didera rasa bersalah dan kesunyian, rumah ini kembali gembira.
Ervan berjalan mendekati ibunya, lalu meletakkan secangkir teh hangat di atas meja kecil. Ervan kini telah sepenuhnya melepas beban masa lalunya sebagai anak adopsi, memilih memantapkan langkah hidupnya untuk menyandang kembali nama Evan Rushl guna meneruskan garis keturunan bapaknya.
"Terima kasih ya, Van. Ibu tidak pernah menyangka di usia senja ini, Tuhan mengembalikan anak Ibu yang hilang sekaligus memberikan cucu yang tampan," ucap Ibu Zara sambil menggenggam jemari tangan anak kembarannya yang sempat terpisah itu.
Evan tersenyum hangat, mengecup kening ibunya dengan penuh rasa hormat. "Ini sudah menjadi kewajiban Evan untuk menjaga Ibu sekarang. Kita tidak akan terpisah lagi."
___
Surabaya, Januari 2039
Hembusan angin sore masuk melalui celah jendela kaca kamar yang baru saja dibuka lebar. Debu-debu tipis beterbangan di bawah sorot cahaya matahari yang mulai meredup berwarna jingga. Ervan—yang kini mulai membiasakan diri menyandang kembali nama Evan—berdiri tegap di depan lemari buku tua milik saudaranya.
Yydett berjalan masuk ke dalam kamar membawa sebuah kotak penyimpanan kecil dari kardus, lalu duduk di tepi ranjang tidur yang sepraingnya sudah diganti bersih oleh pihak keluarga. "Ibu Zara meminta kita memeriksa isi lemari ini, Van. Ada beberapa dokumen lama peninggalan bapak yang perlu disimpan kembali ke dalam laci meja."
Evan membuka pintu lemari kayu tersebut, menimbulkan bunyi derit panjang yang memecah kesunyian ruangan. Jemari tangannya bergerak perlahan menyentuh deretan buku teks usang tentang perkembangan kecerdasan buatan. "Ugh..." Evan mendesah pelan, seolah merasakan beban emosional yang besar di dalam kamar ini. "Setiap kali aku memegang barang-barang milik Erick, ada perasaan aneh yang bergetar di dalam dadaku."
Ibu Zara berjalan masuk dari arah koridor luar, langkah kakinya terdengar pelan menapak lantai ubin. Tangannya memegang sebuah album foto kecil yang sampul kulitnya sudah tampak mengelupas. "Evan, kemari nak. Ibu mau menunjukkan sesuatu kepadamu dan Yydett."
Evan dan Yydett bergerak mendekat, duduk berdampingan di samping Ibu Zara. Lembar pertama album foto tua itu dibuka perlahan, memperlihatkan potret dua bayi laki-laki yang sedang tertidur bersama di dalam satu keranjang bambu kecil.
"Ini foto kalian berdua yang sempat Ibu simpan sebelum kejadian hilangnya kamu di pasar swalayan tahun dua ribu dulu," ucap Ibu Zara dengan nada suara yang mendadak bergetar hebat menahan tangis yang pecah. "Ibu selalu didera rasa bersalah karena lalai menjagamu saat itu."
Evan segera merangkul pundak ibunya dengan erat, memberikan kehangatan yang menenangkan. "Ibu tidak perlu menangis menyesali masa lalu lagi sekarang. Takdir sudah membawa Evan pulang ke rumah ini dengan selamat. Sekarang, Evan yang memiliki kewajiban untuk menjaga Ibu dan Yydett."
Yydett yang melihat momen kebersamaan itu menyandarkan kepalanya di bahu Evan, mengeluarkan dengusan pelan seraya menahan haru yang membuncah di dalam dada. Kekosongan hati yang selama belasan tahun menyiksanya kini perlahan mulai terisi oleh kehadiran Evan yang membawa kedamaian baru bagi masa depan keluarga besar Rushl.
___
Surabaya, Februari 2039
Aroma seduhan teh melati hangat memenuhi ruangan yang sore itu dinaungi oleh mendung tipis. Ervan duduk tegak di hadapan Ibu Zara, menatap dua buah kalung perak berlogo huruf E yang tergeletak di atas meja kayu. Di sudut ruangan, Yydett mengawasi obrolan mereka dengan pandangan mata penuh rasa haru.
"Ibu... sebelum acara pemindahan makam Erick dari Kunming dilaksanakan bulan depan, ada satu hal penting yang ingin saya sampaikan kepasrahan hati saya," ucap Ervan dengan nada suara yang jernih dan jantan.
Ibu Zara membetulkan letak selendangnya, menatap anak kandungnya yang terpisah puluhan tahun itu dengan mata berkaca-kaca. "Katakan saja, nak. Ibu akan mendengarkan setiap ucapanmu."
Ervan meraih jemari tangan ibunya, menggenggamnya dengan penuh rasa hormat. "Saya ingin menanggalkan nama pemberian dari keluarga angkat saya, Bu. Saya ingin menggunakan kembali nama Evan Rushl secara resmi di dalam dokumen kependudukan saya, untuk meneruskan garis keturunan mendiang Bapak dan mendampingi Ibu di rumah ini."
"Dengusan tangis yang tertahan lolos dari mulut Ibu Zara. Ia langsung memeluk tubuh anak laki-lakinya itu dengan sangat erat. "Evan... anakku. Ibu sangat bersyukur mendengarnya. Nama itu memang milikmu sejak kamu lahir ke dunia ini."
Evan membalas pelukan ibunya seraya melirik ke arah foto mendiang Erick yang terpasang di atas meja sudut. Pergolakan batin yang sempat mendera pikirannya kini telah sirna sepenuhnya, berganti dengan sebuah ketetapan hati yang kuat untuk menjaga keutuhan keluarga besar Rushl sampai akhir hayatnya.
___
Surabaya, April 2039
Hembusan angin sore di area pemakaman umum asri kawasan Surabaya Pusat membawa aroma harum dari taburan bunga mawar yang masih segar. Yydett berdiri anggun di samping Evan, menatap batu nisan putih bertuliskan nama Erickson Rushl yang telah dipindahkan secara resmi dari Kunming agar bisa menyatu dekat dengan makam sang bapak.
Anak laki-laki mereka yang berusia tujuh tahun melangkah maju, meletakkan sebuah piala kecil perlahan di atas pusara pamannya. "Paman Erick, lihat! Ini piala kemenangan lomba teknologi komputerku minggu lalu. Kata Mama, aku harus hebat seperti Paman."
Yydett menyeka setitik air mata yang sempat menggenang di sudut kelopak matanya, bukan karena duka, melainkan karena rasa haru yang mendalam. Yydett melirik ke arah Evan yang langsung merangkul pundaknya dengan erat, memberikan kehangatan yang menenangkan seluruh sisa pergolakan batin di dalam dadanya.
Konflik takdir yang begitu rumit dan menyakitkan di masa lalu kini telah menemukan titik kedamaian yang utuh. Yydett menatap langit sore yang mulai berwarna jingga dengan senyuman terbaiknya. Meskipun takdir memutuskan bahwa Yydett dan Erick tidak berjodoh di dunia ini karena maut yang memisahkan, takdir memiliki cara yang luar biasa untuk menyatukan kembali serpihan hati Yydett melalui kehadiran Evan.
Keluarga besar Rushl kini telah berkumpul bersama kembali, merajut lembaran hidup yang baru dengan penuh ketulusan, membiarkan kenangan tentang Erick tetap hidup abadi sebagai bagian dari fondasi cinta yang menjaga keutuhan rumah tangga mereka sampai akhir masa.
Post a Comment