REIN: Kekalahan (Bagian 2)

Rein terbangun di dalam sebuah penjara bawah tanah yang hanya diterangi oleh obor temaram. Kedua tangannya terikat kuat pada rantai besi yang menjuntai dari langit-langit yang tinggi. Rein berdiri dengan tubuh yang hanya mengenakan celana pendek yang sudah robek. Raga sekel pria tersebut penuh dengan luka memar serta bekas cambukan yang masih basah oleh darah. Rein mencoba menggerakkan otot bahunya yang lebar untuk melepas rantainya. Namun, rantai itu terlalu kuat untuk dipatahkan menggunakan tenaga manusia biasa. 

Pintu baja ruangan tersebut terbuka dengan suara derit yang tajam. Lylia masuk ke dalam penjaradengan langkah yang sangat anggun. Wanita itu mengenakan gaun sutra merah yang transparan. Pakaian itu memamerkan lekuk raga atletis yang sangat indah di bawah cahaya obor. Lylia membawa sebuah botol air yang sangat dingin. Lylia mendekati Rein yang sedang terengah-engah karena haus dan rasa perih. Lylia tidak memberikan air tersebut ke mulut Rein. Lylia justru menyiramkan air dingin tersebut ke atas luka-luka di dada Rein yang masih menganga. Rein mengerang keras karena sensasi perih yang menusuk sampai ke tulang.

"Kau terlihat sangat menggiurkan dalam kondisi sekarat seperti ini, Rein," ucap Lylia sambil meraba otot perut Rein yang tetap terasa keras meskipun dalam kondisi terluka parah.

Lylia mengambil sebuah belati kecil dari balik gaunnya. Lylia menggoreskan ujung senjata tersebut ke sekitar puting dada Rein. Darah segar kembali mengalir di atas raga sekel pria itu. Lylia menjilat darah itu dengan wajah yang penuh gairah dendam. Lylia melepaskan gaun sutranya secara perlahan. Raga Lylia yang sangat kuat serta menawan kini terpampang nyata di depan mata Rein. Lylia menjambak rambut Rein secara kasar agar pria itu menatap lurus ke arah kemaluannya.

"Kau akan melayaniku sampai tenagamu habis. Aku akan memeras kejantanan yang kau banggakan itu sampai kau tidak sanggup lagi bernapas," desis Lylia dengan suara yang penuh ancaman.

Lylia melepaskan sisa pakaian Rein. Penis Rein yang besar, panjang, serta berurat terlihat sangat kontras dengan kondisi tubuhnya yang hancur. Batang penisnya tetap berdiri tegak karena pengaruh obat perangsang yang disuntikkan secara paksa oleh pasukan Lylia sebelumnya. Lylia tertawa melihat pemandangan itu. Lylia memposisikan dirinya tepat di depan wajah Rein. Lylia memaksa Rein untuk menggunakan lidahnya guna memuaskan raga Lylia. Rein mencoba meronta. Cambuk listrik milik Lylia kembali mengenai punggung Rein. Rein terpaksa menuruti kemauan wanita itu karena rasa sakit yang tidak tertahankan.

Setelah merasa cukup, Lylia menaiki raga Rein yang masih tergantung pada rantai besi. Lylia memasukkan penis Rein yang besar ke dalam lubang kemaluannya secara perlahan. Rein mengerang rendah saat merasakan kehangatan tubuh Lylia meremas kejantannya. Lylia bergerak dengan ritme yang sangat cepat serta liar. Suara benturan panggul Lylia dengan perut Rein memenuhi ruangan sunyi itu. Lylia terus menghajar tubuh Rein. Rein merasa sangat terhina karena ia tidak berkutik dan hanya menjadi alat pemuas nafsu bagi wanita yang kini ia benci itu.

Keringat membanjiri raga mereka berdua yang saling beradu. Lylia mencengkeram rahang Rein. Lylia mencium bibir Rein secara brutal sambil terus memacu gerakan pinggulnya dengan sangat kuat. Lylia memberikan luka gigitan pada bahu Rein yang berotot. Rein merasakan setiap inci dominasi Lylia yang sangat kejam merobek harga dirinya. Lylia mempercepat gerakannya sampai raga Rein yang terluka bergetar hebat. Rein tidak sanggup lagi menahan rasa nikmat yang bercampur dengan rasa sakit yang luar biasa.

Pada puncaknya, Rein mengerang sangat keras sampai urat lehernya menonjol. Rein menyemburkan spermanya yang sangat kental serta panas jauh ke dalam rahim Lylia. Cairan putih tersebut meluap keluar dan membasahi paha mereka yang penuh keringat. Lylia tetap berada di posisi tersebut selama beberapa saat untuk menikmati setiap tetes kemenangannya. Lylia kemudian turun dari tubuh Rein. Lylia menyeka luapan cairan putih yang masih mengalir di celah pahanya menggunakan jemari yang lentur.

Lylia mendekatkan jemari yang penuh dengan sisa kejantanan Rein tersebut ke depan mulut Rein. Lylia mencengkeram rahang Rein dengan sangat kuat, memaksa pria tersebut membuka mulutnya kembali. Rein mencoba memalingkan wajah, tetapi cengkeraman Lylia tidak tergoyahkan.

"Minum sisa kejantananmu sendiri, Rein. Satu-satunya asupan yang layak untuk budak sepertimu di istana ini," ucap Lylia dengan nada yang sangat dingin.

Rein terpaksa menelan cairan kental miliknya sendiri di bawah tatapan Lylia yang penuh dengan kemenangan. Lylia keluar dari penjara itu dengan telanjang dan meninggalkan Rein yang masih terikat pada rantai besi dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Lylia mengunci pintu baja itu. Rein dibiarkan sendirian di dalam kegelapan penjara. 
BACA JUGA