REIN: Pencarian Sang Kaisar

Sinar matahari pagi mulai menyingsing dari balik jendela besar kamar pengantin. Sisa keharuman dupa melati serta bau pekat cairan pelumas basah hasil percintaan semalam masih menguar di atas ranjang sutra luas. Putri Su Hua masih tertidur pulas dengan wajah cantiknya yang kelelahan. Payudara putih mulusnya menyembul dari balik selimut sutra merah yang acak-acakan, bergesekan dengan sprei yang ternoda cairan sperma kental Xiao Lin. 

Rasa hangat dari pelukan tubuh kekar suaminya yang mendadak menguap berganti embusan angin sedingin es membuat kelopak mata Su Hua tersentak terbuka. Jantungnya berdegup kencang. Insting kewanitaannya merasakan sesuatu yang salah. 

Su Hua membalikkan tubuhnya ke sisi kanan ranjang, bermaksud meraba penis besar atau dada bidang milik suaminya. Jemarinya hanya menyentuh hamparan kain yang kosong dan dingin. 

"Suamiku...?" panggil Su Hua dengan suara parau khas orang bangun tidur. 

Kesunyian paviliun kamar pengantin menyambut panggilannya. Su Hua langsung bangkit berdiri, membiarkan gaun tidur sutra tipisnya yang melar mengekspos puting payudaranya yang mengencang ditiup angin pagi. Dengan langkah cepat, dirinya memeriksa setiap sudut kamar. Tirai bilik mandi ditarik kasar. Lemari pakaian kerajaan dibuka lebar. Sela-sela pilar kayu disisir habis. 

"Suamiku... kau ke mana? Jangan bercanda denganku pagi ini..." gumam Su Hua dengan napas yang memburu penuh kepanikan. 

Su Hua berjalan cepat menuju pintu utama, menyentak daun kayu besar itu hingga terbuka lebar dan mengejutkan sepasang pengawal berbaju zirah besi yang siaga sejak semalam. 

"Tuan Putri! Ada apa?" tanya pengawal terdepan seraya menegakkan tombaknya. 

"Di mana Yang Mulia Xiao Lin?! Kalian melihatnya keluar dari kamar ini?!" bentak Su Hua dengan mata membelalak penuh ketakutan. 

Kedua pengawal itu langsung menjatuhkan lutut mereka ke atas lantai batu, menundukkan kepala sedalam-dalamnya dengan wajah pucat pasi. 

"Ampun, Tuan Putri! Demi dewa langit, kami berdiri siaga di depan pintu ini sejak malam pergantian hari hingga fajar menyingsing tanpa memejamkan mata sedikit pun! Kami bersumpah tidak ada satu orang pun yang melintas keluar dari kamar Anda! Pasukan panah dari atas menara juga terus mengawasi dinding luar paviliun!" jawab pengawal itu dengan suara gemetar ketakutan. 

"Kalian tidak berguna! Bagaimana bisa seorang pria bertubuh besar lenyap dari pengawasan kalian?!" pekik Su Hua penuh emosi. 

"Mohon ampun, Tuan Putri! Kami benar-benar tidak mendengar suara gerakan apa pun dari dalam kamar sejak suara desahan dan erangan nikmat semalam mereda," sahut pengawal satunya lagi dengan peluh dingin yang mengucur di pelipis. 

Lutut Su Hua lemas. Dirinya bersandar pada daun pintu dengan tatapan kosong, sementara air matanya menetes deras membasahi dada. Pria perkasa yang semalam baru saja menghantam lubang vaginanya hingga memekik nikmat telah lenyap secara misterius dari samping tempat tidur mereka tanpa meninggalkan jejak kaki sedikit pun. 

Hari penobatan agung yang seharusnya dipenuhi sorak-sorai rakyat berubah total menjadi kekacauan besar. Langkah kaki para prajurit berzirah besi berderap kacau, menggeledah setiap jengkal Istana Utara. Lembah bersalju disisir, dasar danau biru diselami, tetapi tubuh kekar Xiao Lin tetap tidak ditemukan. 

Siang harinya, aula pertemuan darurat bergemuruh oleh perdebatan panas para tetua dan pejabat kerajaan. Mereka berkumpul mengelilingi meja kayu panjang dengan rahang mengencang. 

"Pria asing itu pasti ketakutan! Menjadi kaisar Istana Utara membutuhkan tanggung jawab besar, dan dia memilih kabur seperti tikus!" seru seorang pejabat tua bertubuh tambun, meludahi lantai batu dengan gusar. 

"Betul! Dia sengaja mempermainkan pernikahan suci ini! Bisa jadi sekarang dia sedang meniduri wanita lain di wilayah luar dan menertawakan kita!" timpal pejabat lain, disambut tawa sinis beberapa orang di ruangan. 

Putri Su Hua yang duduk di kursi kebesaran langsung menggebrak meja hingga cangkir teh retak berantakan. Wajah cantiknya memerah, sepasang matanya melotot menembus barisan pria tua bangkai di depannya. 

"Tutup mulut busuk kalian, keparat!" pekik Su Hua dengan suara melengking memecah aula. "Xiao Lin adalah pria pilihan yang sah untuk menduduki takhta kaisar baru di sampingku! Dia telah menerima mandat penuh untuk memimpin Istana Utara dari mendiang ayahku! Jika dia ingin menolak takhta ini, dia akan mengatakannya langsung di hadapanku, bukan merangkak pergi seperti pengecut!" 

Napas Su Hua memburu cepat, dadanya naik turun dengan emosi yang meluap-luap. Sepasang matanya yang sembap berkilat tajam, menantang setiap pejabat yang tadi berani membuka suara. 

"Dengar baik-baik! Pernikahan kami semalam adalah bukti nyata dari kesetiaannya. Aku adalah istrinya, dan aku tahu pasti bahwa ada kekuatan asing yang tidak kasat mata yang telah merenggut raga suamiku dari atas ranjang pengantin kami! Siapa pun di antara kalian yang berani menyebarkan desas-desus keji tentang pengkhianatan Xiao Lin lagi, kepalanya akan kupenggal dan kujadikan pajangan di gerbang benteng!" ancam Su Hua dengan nada yang teramat dingin. 

Keheningan yang mencekam seketika melanda seluruh aula pertemuan darurat. Para pejabat tua yang tadi tertawa sinis kini tertunduk rapat, tidak ada satu pun yang berani menatap mata sang putri. Mereka tahu betul bahwa wanita di depan mereka bukan sekadar putri pajangan, melainkan pewaris darah murni Istana Utara yang memiliki kekuatan spiritual yang patut ditakuti. 

Kepala Panglima kerajaan melangkah maju perlahan, membungkuk dalam-dalam untuk meredakan ketegangan. "Mohon redakan amarah Anda, Tuan Putri. Hamba akan memerintahkan seluruh barisan prajurit elit untuk memperluas radius pencarian hingga ke luar perbatasan gunung salju. Kami tidak akan berhenti sampai menemukan petunjuk tentang Yang Mulia Xiao Lin." 

Su Hua tidak membalas ucapan panglima tersebut. Dirinya langsung membalikkan tubuh dan melangkah pergi meninggalkan aula dengan langkah yang anggun namun sarat akan duka yang mendalam. Kebenaran tentang hilangnya Xiao Lin harus ditemukannya sendiri, bukan lewat laporan para pejabat istana yang tidak becus berjaga.

***

Dua tahun berlalu. Selama dua tahun itulah, Istana Utara dipenuhi atmosfer yang muram. Penderitaan Su Hua terasa semakin menyiksa karena dirinya terpaksa melewati masa kehamilan yang berat dan melahirkan seorang diri tanpa didampingi sosok suami yang dicintainya. 

Anak perempuan yang lahir dari rahimnya diberi nama Hua Er. Bocah kecil itu tumbuh dengan sangat sehat dan menggemaskan. Kulitnya putih bersih, namun hal yang paling mencolok adalah bentuk sepasang mata tajamnya yang sangat mirip dengan tatapan milik Xiao Lin. 

Sore itu, angin dingin dari pegunungan kembali berembus melewati pelataran istana. Hua Er yang baru berusia belasan bulan tampak merangkak di atas karpet bulu, mencoba meraih ujung kain jubah milik ibunya. 

"Ibu... Ibu..." celoteh Hua Er dengan suara cadel yang polos, mendongak menatap Su Hua dengan mata bulatnya yang benderang. 

Su Hua berlutut di atas lantai batu, mengangkat tubuh kecil putrinya ke dalam dekapan hangatnya. Air matanya kembali merebak di pelupuk mata saat melihat pantulan wajah suaminya pada paras sang anak. 

"Anakku sayang... Ayahmu pasti sangat ingin memelukmu saat ini," bisik Su Hua dengan suara serak, mengecup lembut kening Hua Er. 

Setiap malam, setelah memastikan Hua Er tidur terlelap di dalam ranjang bayinya, Su Hua selalu merenung seorang diri di tepi jendela besar kamar tidurnya. Kamar itu masih dibiarkan sama seperti malam pengantin mereka. Keharuman dupa melati sengaja terus dinyalakan untuk mengenang sisa-sisa kehadiran Xiao Lin. 

Rasa rindu yang membakar batinnya membuat pertahanan Su Hua runtuh. Dirinya tidak bisa lagi hanya duduk diam menanti keajaiban yang tidak pasti.

"Aku tidak bisa terus seperti ini," gumam Su Hua dengan tatapan yang mengeras. Jemarinya mencengkeram gorden sutra jendela kamar pengantin dengan erat, memandang kosong ke arah puncakan salju yang terhampar luas di bawah sinar rembulan. 

Ingatannya melayang pada gulungan kitab kuno rahasia dinasti yang tersimpan di bilik terdalam peninggalan mendiang ayahnya. Di bawah fondasi batu Istana Utara, terkunci sebuah pusaka gaib terlarang yang dijaga oleh barisan sesepuh adat gaib yaitu Cermin Langit. Benda itu dikenal sebagai gerbang pemutus batas dimensi semesta. Namun, hukum multiverse yang mengikatnya sangatlah kejam dan penuh kutukan mematikan bagi siapa saja yang berani menyentuhnya. 

Su Hua berbalik, melangkah mantap menyusuri lorong-lorong gelap istana menuju ruang bawah tanah terdalam. Begitu dirinya tiba di depan pintu gerbang batu raksasa berlapis segel gaib, dua orang sesepuh adat berambut perak langsung melangkah maju menghadang jalannya. 

"Putri Su Hua! Berhenti!" gertak sesepuh pertama, menegakkan tongkat kayu besi miliknya. "Tempat ini adalah wilayah tabu! Balikkan badan Anda sekarang juga!" 

"Minggir, Tetua! Aku datang untuk mengambil Cermin Langit!" perintah Su Hua dengan nada suara rendah yang dingin. 

"Anda sudah gila, Tuan Putri!" seru sesepuh kedua dengan mata membelalak panik. "Anda tahu konsekuensi dari pusaka terkutuk itu?! Sekali Anda merapalkan mantra pembuka gerbang, waktu di Istana Utara hanya akan berkurang sehari bagi rupa tubuh Anda. Namun, di dunia asing sana, Anda bisa terjebak selama setahun penuh! Kekuatan spiritual Anda akan digerogoti habis-habisan dari dalam hanya untuk mempertahankan wujud Anda agar tidak berubah! Dan yang paling mengerikan adalah tidak ada jaminan Anda bisa kembali! Anda bisa tersesat selamanya di dalam kehampaan dimensi tanpa jalan pulang!" 

Su Hua menatap kedua pria tua itu dengan senyum pahit yang teramat nekat. Kilat amarah dan kerinduan yang membara bergolak di sepasang matanya. 

"Jika tubuh ini harus digerogoti dari dalam, atau jika aku harus terjebak di dimensi asing tanpa bisa kembali seumur hidup, aku akan menerimanya dengan suka rela!" teriak Su Hua tekad. "Aku tidak akan membiarkan anakku tumbuh tanpa pernah melihat wajah ayahnya!" 

Sebelum kedua tetua sempat merapalkan mantra pengikat, Su Hua menghentakkan kedua kakinya ke lantai batu. Energi spiritual murni dari darah bangsawannya melesat kuat, membentuk gelombang kejut yang telak. 

Brak! 

"Ugh!" Kedua tetua itu terpekik saat tubuh mereka terhempas kasar ke dinding gua batu hingga jatuh pingsan tak berdaya. 

Su Hua mengabaikan mereka, langsung mendorong pintu batu besar itu hingga terbuka dengan suara derit yang berat. Di tengah ruangan pengap, sebuah cermin perak kuno setinggi manusia berdiri tegak memancarkan bendaran cahaya misterius. 

Su Hua berjalan mendekat, lalu menarik sebilah belati kecil dari balik pinggang gaunnya. Tanpa ragu sedikit pun, ia menyayat telapak tangan kanannya sendiri dengan satu tarikan tajam. 

Darah sucinya yang kental mengalir deras. Su Hua langsung menempelkan telapak tangan yang bersimbah darah ke permukaan kaca Cermin Langit. Bibir indahnya bergerak secepat kilat, merapalkan mantra terlarang pemutus batas dimensi semesta. 

Wusss! 

Seketika, ruangan bawah tanah bergetar hebat. Permukaan cermin mencair dan bergulung, mengeluarkan suara dengungan spiritual yang memekakkan telinga. Sebuah percikan cahaya putih keluar dari dalam pusat kaca, perlahan melebar menciptakan sebuah lingkaran pusaran energi benderang. Gerbang antar dimensi telah terbuka lebar. 

Su Hua menatap pusaran cahaya itu dengan dada yang berdegup kencang. Dirinya tahu, langkah ini penuh risiko kematian dan kemungkinan dirinya untuk kembali sangatlah tipis. Namun, bayangan tubuh kekar Xiao Lin terus membakar jiwanya. 

"Tunggu aku, Xiao Lin," desis Su Hua. 

Tanpa menoleh ke belakang lagi, Su Hua melangkahkan kakinya masuk ke dalam lubang cahaya putih tersebut. Tubuh rampingnya seketika tersedot dan lenyap ditelan sepenuhnya oleh pusaran dimensi, meninggalkan ruang bawah tanah yang kembali sunyi.

Mantra terlarang Cermin Langit bekerja dengan beringas, langsung menyedot tubuh Putri Su Hua masuk ke dalam pusaran alam gaib yang liar. Kecepatan perpindahan antar dunia terjadi begitu brutal. Pusaran tersebut melemparkan tubuhnya menembus batasan langit tanpa memberikan kesempatan sedikit pun bagi badannya untuk bersiap. Tiap kali gerbang cahaya terbuka dan mengisapnya kembali, kutukan waktu dari pusaka kuno itu bekerja semakin kejam menggerogoti daya hidup dari dalam tubuhnya. 

Dunia pertama tempatnya terdampar adalah alam api gersang dengan hamparan tanah hitam yang retak di bawah langit sewarna darah segar. Udara di semesta itu teramat tipis. Kondisi buruk tersebut membuat paru-paru Su Hua terasa sesak yang teramat parah bagai menghirup abu belerang yang mendidih. Hawa panas langsung membakar permukaan kulit wajah cantiknya, memaksa kekuatan spiritual di dalam tubuhnya terperas hebat demi memagari kulit mulusnya agar tidak langsung menghangus menjadi debu. 

"Tempat jahanam ini kosong! Sialan!" teriak Su Hua dengan suara parau menahan rasa perih yang membakar tenggorokannya. 

Su Hua sadar, ia tidak melihat tanda keberadaan manusia di tempat itu, termasuk sang suami. Ia langsung menyatukan kembali jemarinya yang gemetar hebat itu untuk merapalkan mantra kembali ke negerinya guna memulihkan diri. 

Hubungan sihir dari cermin pusaka itu sangat mengikat. Semakin lama Su Hua menetap di alam asing, maka akan semakin hancur organ dalamnya. Waktu untuk menyembuhkan kesehatannya di Istana Utara akan berjalan jauh lebih lama dan menyiksa. 

Karena di alam api tadi dirinya hanya singgah sebentar, Su Hua beruntung hanya membutuhkan waktu beberapa jam perawatan intensif untuk bisa melompat kembali. Tubuhnya ambruk lemas di atas lantai gua batu dengan napas terengah-engah begitu berhasil pulang. 

"Tuan Putri! Minum ramuan ini sekarang!" seru Tetua Pertama sembari menyodorkan mangkuk tembaga berisi cairan herbal pekat, sementara tangannya yang keriput ditempelkan ke punggung Su Hua untuk menyalurkan energi penyembuh murni. 

"Ahhh... ugh... perih sekali, Tetua... dadaku rasanya terbakar..." keluh Su Hua dengan rintihan pendek selagi cairan hitam itu mengalir melewati tenggorokannya. 

"Tahan sebentar, Tuan Putri! Energi Anda bergejolak hebat, urat nadi Anda bisa pecah kalau Anda banyak bergerak!" jawab Tetua Pertama dengan peluh dingin yang mengucur di dahi. 

Su Hua meneguk habis cairan pahit itu, membiarkan hawa hangat menjalar menambal urat nadinya yang sempat meregang. Setelah beberapa jam beristirahat dan memulihkan batin hingga dadanya tidak lagi terasa sesak, dirinya kembali memaksakan kakinya berdiri tegak. Tekad yang nekat membuat Su Hua kembali menyayat telapak tangan, menempelkan darah segarnya ke kaca perak, lalu meloncat ke alam berikutnya. 

Lompatan demi lompatan ke berbagai dunia lain dan pulang ke Istana Utara demi menyembuhkan luka tubuh itu terus berjalan berulang kali, mengikis stamina spiritualnya hingga ke batas paling tipis. Bagi orang-orang di Istana Utara yang mengawasi dari luar, sang putri terlihat hanya keluar masuk kamar selama hitungan jam saja akibat perbedaan perputaran waktu yang aneh antara dunia luar dan dunia mereka. Kenyataannya, tubuh Su Hua dipaksa menanggung beban pengembaraan selama satu tahun penuh di luar dunia aslinya demi mencari keberadaan sang kaisar, Xiao Lin.


Memuat daftar chapter...
[X]