REIN: Kekalahan (Bagian 3)
Beberapa jam berlalu sejak Lylia meninggalkan sel itu. Rein masih merasakan rasa asin spermanya sendiri yang membekas. Ia lalu mencoba mengatur napas pelan, meski harus beradu dengan perihnya luka yang tidak tertahan dan denyut nadi yang kian melemah,
Tidak lama, Lylia masuk ke dalam sel itu lagi membawa dua pengawal bertubuh besar. Tubuhnya kini sudah dibalut dengan gaun berwarna keemasan, dan tidak ketinggalan sebuah cambuk yang selalu ia bawa ke mana pun ia pergi. Namun, kali ini, ada yang beda, ia membawa sebuah kalung besi tebal yang tersambung dengan rantai panjang.
Lylia memerintahkan pengawalnya untuk melepaskan ikatan yang membelenggu Rein. Ia kemudian berjongkok di samping kepala pria itu, lalu melingkarkan kalung besi itu ke lehernya. Lylia menarik rantainya dengan kasar. Suara dentangnya terdengar menggema di dalam sel itu. Tarikan itu memaksa Rein untuk merangkak di samping kaki Lylia.
Lylia kemudian membawa Rein ke sebuah aula. Di tempat itu, banyak petinggi jaringan bawah tanah hingga para kolektor senjata berkumpul. Ia kemudian menuju sebuah tempat, seperti panggung kecil di tengah aula.
"Saudara sekalian, perkenalkan anjing penjagaku yang baru, Rein," ucap Lylia dengan suara lantang ke seluruh orang yang ada di aula.
Rein merasakan ratusan pasangan mata menatap dirinya. Bahkan tidak sedikit yang mengeluarkan gelak tawa mengejek. Setelah orasi singkatnya itu, Lylia memerintahkan Rein untuk berpose menonjolkan tubuhnya yang berotot dan dipenuhi luka itu. Setiap ingin melihat Rein berganti gaya, ia mencambuk pria itu dengan senyum datarnya.
Setelah puas, Lylia mendekati Rein. Ia lalu merobek celana pendek pria itu hingga tubuhnya benar-benar telanjang bulat di depan semua orang. Lylia lagi-lagi menyuntikkan obat perangsang, dan seketika penisnya langsung menegang. Aksi Lylia sontak membuatnya menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di aula. Mereka berkumpul melingkar menyaksikan pemandangan itu.
Tiba-tiba, Lylia mencambuk penis Rein yang menegang itu, menciptakan luka goresan. Tanpa pikir panjang, Lylia langsung menjilati penis itu, menciptakan rasa perih yang luar biasa bagi Rein.
"Lihatlah atraksi anjingku ini," teriak Lylia, diikuti senyuman bahagia ke arah semua orang yang melihatnya.
Lylia melanjutkan aksinya. Ia mulai mengulum penis Rein, sesekali memperlihatkan gerakan yang menunjukkan dominasinya. Kuluman Lylia itu membuat tubuh Rein bergetar hebat. Rasa perih bercampur nikmat membuat erangan Rein berkali-kali keluar dari mulutnya.
Setelah merasa puas, Lylia memerintahkan salah satu pengawal wanita mendekat. Ia memerintahkan pengawal itu ikut serta menikmati tubuh Rein sebagai hadiah atas kesetiaannya. Pengawal wanita itu langsung menindih tubuh Rein yang lemas. Rein dipaksa menahan beban tubuh wanita itu dalam kondisi terbelenggu lehernya. Pengawal tersebut menggerakkan pinggulnya liar di atas penis Rein. Lylia menarik rantai leher Rein, setiap kali tubuhnya mau roboh supaya pria itu tetap terjaga di tengah rasa sakitnya. Pandangan Rein perlahan mulai kabur.
Tidak berselang lama Rein mencapai puncaknya. Ia mengeluarkan spermanya dengan erangan lemah saat pengawal itu menghujam penisnya masuk ke dalam liang senggama wanita itu untuk terakhir kalinya. Lylia kembali mendekati Rein, lalu menarik rantainya dengan keras. Sontak membuat Rein tersungkur. Lylia langsung menginjak punggung Rein menggunakan tumit sepatu hak tinggi yang ia kenakan, lalu menekan luka bekas cambukan yang masih menganga itu sampai membuat Rein menjerit tertahan.
Tidak lama, Lylia menyeret Rein kembali menuju sel bawah tanah dalam kondisi tidak sadarkan diri.
Post a Comment