REIN: Pertolongan

Hantaman pintu dimensi kali ini melemparkan tubuh Putri Su Hua dengan sangat kasar, membuat badannya terhempas kencang di atas lantai semen yang kotor dan basah. Ia terkapar di dalam sebuah gang sempit yang gelap dan berbau busuk. Udara dingin bercampur bau sampah menyengat langsung menusuk indra penciumannya. Sisa kutukan lintas alam membuat seluruh energinya merosot drastis ke titik terendah. Su Hua terengah-engah, memegangi dadanya yang sesak, merasa tubuh rampingnya benar-benar lemas tanpa daya bagai untaian tali yang diputus paksa. Kesehatannya yang rusak parah membuatnya berada di ambang kematian. 

Sembari bertumpu pada dinding semen yang lembap, Su Hua memaksakan kakinya melangkah keluar dari kegelapan gang demi memeriksa lingkungan baru. Sepasang mata indahnya membelalak menyaksikan pemandangan gila di sekitarnya. Bangunan raksasa menjulang tinggi menyentuh awan, kepulan asap kelabu memenuhi langit, dan kotak-kotak besi berlarian gila mengeluarkan deru mesin yang memekakkan telinga. 

Beberapa orang asing berpakaian aneh yang berjalan di trotoar mendadak menunjuk ke arahnya, mengeluarkan tawa mengejek yang keras sambil memperhatikan gaun pengantin merahnya yang sudah lusuh, robek, dan ternoda bercak darah. Su Hua mencoba mendekati seorang pedagang paruh baya untuk menanyakan keberadaan Xiao Lin, menggunakan bahasa negerinya sendiri. 

"Permisi... apakah kau melihat suamiku, Xiao Lin? Pria bertubuh tinggi, tegap..." tanya Su Hua dengan suara parau yang amat lemah. 

Pedagang itu langsung melotot galak, mengayunkan tangannya dengan beringas dan menepis kasar cengkeraman jemari Su Hua hingga sang putri tersentak mundur. Pria itu meneriakinya dengan nada suara yang tinggi dan penuh amarah, mengucapkan kata-kata asing yang sama sekali tidak dipahami oleh Su Hua. 

Melihat guratan kemarahan di wajah pedagang itu serta gerakan tangannya yang mengusir kasar, Su Hua hanya bisa terpaku kebingungan. Lidahnya mendadak terasa kaku. Ia gagap tidak mampu membalas atau menjelaskan maksud kedatangannya karena perbedaan bahasa yang total. Ia tersesat di tempat asing yang tidak dikenalnya sama sekali, hanya bisa meraba lewat intonasi suara bahwa kehadiran ia sangat tidak diinginkan di tempat ini. Rasa frustrasi mulai menekan dadanya yang kian sesak. 

Di tengah kondisi bingung, lapar, dan sekarat, segerombolan berandalan jalanan tiba-tiba datang mengepungnya di sudut jalan yang sepi. Pakaian pengantin merahnya yang robek-robek memicu hasrat bejat para pria itu. Mereka mengucapkan kalimat-kalimat melengking penuh tawa mesum yang tidak dimengerti oleh Su Hua, namun tatapan lapar mereka membuat naluri kewanitaannya waspada. 

Salah satu berandalan melangkah maju dengan beringas, langsung mencengkeram kuat ujung gaunnya dan merobek sisa kain di dada Su Hua hingga payudara putih kenyalnya menyembul bebas di bawah temaram lampu jalan. 

Su Hua mencoba mengerahkan sisa kekuatan magisnya untuk menyerang, tetapi tubuhnya terlalu lemas. Terlebih lagi, sang pemimpin berandalan mendadak mengeluarkan sebuah jimat hitam yang memancarkan ilmu magis pelumpuh energi spiritual, membuat seluruh aliran hawa murni di tubuh Su Hua mendadak macet total. 

"Lepas... bajingan... jangan sentuh aku..." rintih Su Hua dengan air mata menahan rasa hina. 

Tubuhnya tersungkur pasrah di atas tanah akibat hantaman rasa lemas yang mendadak melumpuhkan sarafnya. Gerombolan pria itu langsung menindih tubuhnya, meraba permukaan kulit mulusnya dengan rakus sembari menarik paksa pakaian bawahnya hingga mengekspos paha bersihnya ke udara malam yang dingin. 

"Lepas... bajingan... suamiku akan membunuh kalian semua!" jerit Su Hua dengan sisa tenaga yang ada, mencoba meludahi wajah pria di atasnya meskipun ia tidak tahu arti umpatan para pria tersebut. 

Pria yang ditindihnya membalas dengan satu tamparan keras ke pipi mulus Su Hua hingga bibirnya pecah mengeluarkan darah segar. Su Hua mengerang kesakitan, matanya berkunang-kunang di ambang pingsan saat tangan-tangan kotor itu meremas beringas payudara padatnya. 

Tepat saat celana sutranya hendak ditarik paksa sampai ke mata kaki, sesosok pria muda berwajah tampan dengan tubuh atletis menerobos masuk ke dalam kepungan. Pria itu menghentakkan telapak tangan ke udara, melepaskan hantaman ilmu magis pelindung yang memancarkan gelombang kejut keperakan. 

Brak! 

Para berandalan itu terlempar mundur hingga menghantam dinding beton dan tiang besi di sekitar gang. Pria tampan itu bernama Leo, yang ternyata memiliki kemampuan supranatural tersembunyi, dan ia bekerja sebagai seorang gigolo di rumah bordil terdekat. Leo meneriaki gerombolan berandalan dengan suara berat sambil menghunus pisau berenergi magis, membuat kelompok penjahat itu langsung lari terbirit-birit ketakutan. 

Leo segera berlutut di samping Su Hua yang sudah setengah telanjang bulat di atas tanah. Ia melepas jaket tebal miliknya, lalu membungkus tubuh lemas sang putri yang terus menggigil kedinginan. Su Hua yang kebingungan karena tidak memahami situasi hanya bisa bersandar pasrah pada dada bidang pria tersebut, sepasang matanya nampak menatap kosong dengan sisa air mata yang mengalir di pipi. 

Leo mengajukan pertanyaan dengan nada khawatir, namun Su Hua hanya menggeleng lemah karena perbedaan bahasa membuat ia tidak mengerti satu patah kata pun. Melihat kondisi tubuh wanita asing itu yang kian sekarat dan membutuhkan perawatan intensif, pria tampan itu segera menggendong tubuh Su Hua dengan gaya bridal style, membawa sang putri berjalan cepat membelah kegelapan jalanan kota menuju sebuah rumah bordil kelas bawah dengan papan neon merah yang berkedip erotis.

Langkah kaki tegap pria itu membawa tubuh lemas Su Hua melintasi pelataran remang-remang bangunan berlampu neon merah yang berkedip erotis. Bau asap rokok pekat, alkohol murahan, serta lamat-lamat suara erangan syahwat dari balik dinding-dinding tipis langsung menyergap indra penciuman sang putri begitu mereka melangkah masuk melewati pintu kayu utama. 

Wanita penjega meja pendaftaran bertubuh sintal yang sedang mengikir kuku jarinya mendadak menghentikan kegiatannya. Sepasang matanya melotot tajam, mengernyitkan dahi penuh tanya saat melihat temannya membawa tubuh berantakan yang dibungkus jaket tebal. 

"Hei, Leo! Siapa cewek berantakan penuh darah yang kau bawa ini? Pelanggan baru atau pelacur kaburan?" tanya wanita pendaftaran itu dengan nada suara menyelidik yang melengking tinggi. 

Leo menatap sejenak wajah pucat Su Hua sebelum menjawab secara spontan. "Namanya Airi. Dia pacarku yang sedang dalam masalah. Aku akan membawanya ke kamarku di atas untuk dibersihkan." 

Tanpa memedulikan tatapan curiga temannya, Leo melangkah cepat menaiki anak tangga menuju lantai dua, lalu menendang pintu paviliun kamarnya hingga terbuka. Ia membaringkan tubuh lemas Su Hua di atas sofa kulit yang usang, kemudian bergegas menuju kamar mandi untuk menyalakan pancuran air hangat. Uap air mulai memenuhi ruangan sempit berdinding keramik tersebut. 

Leo kembali ke luar, mengangkat tubuh sang putri yang kini ia panggil Airi, lalu membimbingnya masuk ke bawah kucuran air. Dengan gerakan perlahan penuh kehati-hatian, jemari tangan Leo mulai melucuti sisa pakaian kaos hitam lusuh serta celana jins yang melekat di tubuh Su Hua. 

Begitu seluruh kain basah itu terlepas sepenuhnya, Leo mendadak tertegun kaku di tempatnya berdiri. Sepasang matanya langsung bergelora penuh gairah yang meledak beringas menatap pemandangan telanjang bulat di depannya. Tubuh polos Su Hua begitu menakjubkan: sepasang payudara putih mulus yang padat dengan puting merah muda yang mengencang akibat siraman air, lekuk pinggang yang meliuk ramping, serta hamparan bulu kemaluannya yang lebat hitam menyembul di sela kedua paha mulusnya yang bersih. 

Hasrat kejantanan Leo seketika meroket tajam ke puncak tertinggi. Di balik celananya, penis besarnya langsung menegang keras hingga berdenyut beringas menekan kain. Tanpa pikir panjang lagi, Leo bergerak cepat menanggalkan seluruh pakaiannya sendiri hingga bugil total. Kejantanannya yang tebal berurat kini berdiri tegak, menantang hawa lembap kamar mandi. 

Leo melangkah maju ke bawah pancuran, merangsek mendekat dan langsung memeluk tubuh polos Su Hua dari arah belakang. Kulit dada bidangnya yang hangat menempel ketat pada punggung mulus sang putri. Kedua telapak tangan Leo yang besar langsung bergerak liar menjamah ke depan, meremas gila belahan payudara kenyal Su Hua dengan rakus hingga dadih putih itu menyembul di sela jemarinya. 

Su Hua yang badannya sudah terlampau letih dan sekarat akibat hantaman kutukan lintas alam sama sekali tidak memiliki daya untuk memberontak. Ia hanya bisa melenguh pasrah, membiarkan tubuhnya digerayangi secara sensual di bawah guyuran air hangat. 

"Ahhh... tebal sekali... kau sangat cantik, Airi..." bisik Leo dengan napas yang memburu penuh syahwat, mengembuskan hawa panas di celah leher sang putri. 

Leo membalikkan tubuh ramping Su Hua agar mereka saling berhadapan. Dengan tatapan mata yang gelap oleh gairah, Leo menundukkan wajahnya. Ia langsung menyatukan bibir mereka untuk sebuah ciuman yang sangat dalam, kasar, dan basah. Lidah Leo yang kekar menerobos paksa masuk ke dalam rongga mulut Su Hua, mengisap air liurnya dengan rakus selagi tubuh polos mereka saling bergesekan beringas di bawah kucuran air. 

Tepat saat bibir mereka bersentuhan dan saling melumat dalam mandi bersama itu, sebuah keajaiban magis purba mendadak terpicu. Cahaya perak spiritual berhawa dingin menyeruak terang, memancar keluar dari sela pagutan bibir mereka yang basah. Energi hebat bergolak beringas, mengaktifkan salah satu rahasia kekuatan tersembunyi dari Cermin Langit; bahwa untuk bisa memahami, menyatu, dan menguasai seluruh bahasa serta pengetahuan di dimensi baru secara instan, harus ada ciuman mendalam yang melibatkan pertukaran cairan lidah dengan penghuni asli dunia tersebut. 

Sepasang mata Su Hua membelalak lebar saat merasakan pusaran energi gaib itu mulai bekerja. Secara beringas, kekuatan cermin mengisap, menyedot, dan memindahkan seluruh isi pikiran Leo. Ribuan informasi tentang kosakata bahasa modern, memori ingatan, pengetahuan, hingga cara bertahan hidup di dunia ini terserap paksa masuk ke dalam otak Su Hua dalam hitungan detik. 

Bruk! 

Leo mendadak menegang kaku, lalu tubuh bugilnya langsung jatuh pingsan tak sadarkan diri di atas lantai kamar mandi yang basah. Efek pingsan itu terjadi akibat guncangan hantaman energi sihir yang lewat secara mendadak saat seluruh isi pikiran, pengetahuan, dan bahasanya disalin secara magis ke dalam ingatan Su Hua. 

Su Hua melepaskan pagutan bibirnya yang basah. Napasnya memendek terengah-engah dengan dada naik turun beringas di bawah siraman air pancuran. Ia memegang kepalanya yang berdenyut kencang menahan hantaman memori asing yang meluap masuk. 

Namun, perlahan guratan kebingungan di wajah cantiknya memudar, berganti dengan sorot mata yang dingin dan tajam. Kegagapannya telah hilang total. Ia kini telah memahami struktur dunia modern seutuhnya karena berhasil menyalin memori pria tersebut, termasuk nama samaran "Airi" yang sempat diucapkan Leo di lantai bawah tadi. 

"Jadi... namaku di dunia ini adalah Airi," desis Su Hua dengan suara parau yang kini terdengar penuh keyakinan tanpa ada ragu lagi, menatap dingin ke arah tubuh polos Leo yang terkapar pingsan di bawah kakinya.

Meskipun seluruh pengetahuan bahasa dan cara hidup di dunia ini telah merangsek masuk ke dalam ingatan, kondisi tubuh Su Hua tetap berada di ambang kehancuran. Kutukan lintas dunia masih terus menggerogoti organ dalamnya, membuat setiap tarikan napasnya terasa perih menyiksa. Ia membutuhkan perawatan secepatnya agar tidak ambruk menjadi mayat di jalanan. 

Sembari melangkah keluar dari dalam bak mandi, Airi mengabaikan tubuh polos Leo yang masih terkapar pingsan di atas lantai keramik yang basah. Ia berjalan menuju lemari pakaian kayu di sudut kamar, menarik sepasang celana jins ketat berwarna pudar serta kaos hitam polos yang agak longgar. Tanpa membuang waktu, ia membalut tubuh polosnya yang putih mulus, menyembunyikan gundukan payudara kenyal serta lebatnya bulu kemaluannya. Rambut hitam panjangnya yang basah diikat asal-asalan ke belakang menggunakan seutas tali kain bekas. 

"Aku akan menyisir setiap jengkal tempat ini sampai aku menemukanmu, Suamiku," desisnya dengan rahang mengencang rapat, menahan rasa perih yang menusuk dada bawahnya. 

Dengan sisa tenaga yang kian menipis, Airi membuka daun jendela kamar paviliun tersebut perlahan. Ia melompat turun menuju kegelapan gang sempit di bawah, lalu melangkah berat membelah keheningan malam jalanan kota. 

Langkah kakinya yang goyah membawa Airi menyusuri trotoar beton hingga ia berhenti di depan sebuah papan pengumuman yang menempel di dinding toko kuno yang sudah tutup. Di bawah temaram lampu jalan yang berkedip, sepasang matanya tertuju pada selembar koran harian yang ditempel di mading tersebut. Lembaran kertas itu memuat berita utama tentang sebuah skandal pembunuhan berdarah di perbukitan pinggiran kota yang sempat mengguncang masyarakat beberapa bulan lalu. 

Di samping artikel koran tersebut, terpampang jelas lembar maklumat kepolisian dengan foto wajah seorang pria yang kini resmi menjadi buronan. Jantung Airi seketika berhenti berdetak selama beberapa detik saat menatap foto itu. 

Pria buronan yang dicari atas kasus pembunuhan keji terhadap Zata itu bernama Rein. Airi terpaku kaku di tempatnya berdiri, sepasang matanya membelalak lebar. Melalui cetakan kertas di depannya, ia langsung merasakan desakan sisa aura spiritual yang teramat pekat dari suaminya, Xiao Lin. Sorot mata pria di foto itu yang tajam bak predator kelaparan, dada bidangnya yang tegap, serta rahang kokohnya merupakan ciri khas suaminya. 

Begitu ia mengenali energi dari suaminya tersebut, Airi tidak mau membuang waktu untuk berpikir lagi. Detik itu juga, ia menyatukan kedua telapak tangan, mengabaikan rasa sakit yang menguliti organ dalamnya, lalu merapalkan bait mantra perpindahan lokasi seketika. Dengan sisa kekuatan spiritualnya yang sekarat, ia langsung mengunci koordinat aliran hawa murni Xiao Lin dan memindahkan dirinya dalam sekejap mata menuju tempat suaminya berada. 

Wuss!

Suara dengungan energi bergetar rendah mengiringi percikan cahaya yang kian melebar di dinding batu, membentuk sebuah robekan dimensi yang memancarkan kilauan spiritual benderang ke seluruh sudut sel. 

Lylia tertegun. Gerakan pinggulnya terhenti seketika sebelum sempat menancap ke batang penis. 

"Sialan! Siapa yang berani mengacaukan kesenanganku?!" bentak Lylia dengan wajah manis yang mendadak berubah bengis penuh amarah. 

Lylia langsung menarik kembali tubuh telanjangnya, melindungi sepasang matanya yang silau akibat bendaran cahaya yang mendadak meluap. Bocah pimpinan mafia itu melangkah mundur dengan gusar menuju ambang pintu untuk bersiap mengambil jarak aman. Dari balik robekan dimensi yang memancarkan cahaya putih terang dan keharuman melati tersebut, sesosok wanita cantik melangkah keluar dengan anggun. Wanita itu adalah Airi.

Airi melangkah keluar dari dalam celah dimensi gaib dengan rahang yang mengencang rapat. Sepasang mata indahnya berkilat tajam penuh amarah saat menyaksikan pemandangan mengerikan di depan matanya. Air mata amarah seketika mengalir melewati pipinya, melihat tubuh Rein yang hancur, telanjang bulat, dan dipenuhi luka bernanah akibat kekejaman yang biadab. 

"Keparat... apa yang telah kau lakukan padanya?!" desis Airi dengan nada suara yang bergetar hebat menahan ledakan emosi. 

Lylia yang masih berdiri telanjang bulat langsung mendecih ludah ke lantai semen. Wajah imutnya mengkerut sinis, menatap meremehkan ke arah wanita yang baru datang mengacaukan selnya. 

"Oh, jadi kau pelacur yang datang untuk menjemput anjing ini?" ejek Lylia sambil berkacak pinggang dengan angkuh. "Sayang sekali, mainan ini sudah menjadi milikku sepenuhnya. Tubuh dan kontolnya adalah budak pemuas nafsuku!" 

Mendengar ucapan menjijikkan dari mulut Lylia, hawa membunuh yang sangat pekat seketika meluap dari tubuh Airi. Energi spiritual putih di sekitar tubuhnya bergolak liar bagai badai, menekan atmosfer di dalam sel bawah tanah hingga terasa sangat berat dan menyesakkan napas. 

"Mulut kotormu harus dibungkam, bocah iblis!" teriak Airi murka. 

Dengan satu hentakan tangan Airi, sebuah gelombang energi murni melesat cepat menghantam tubuh telanjang Lylia. 

Brak! 

"Ahkk!" Lylia menjerit kencang saat tubuh mungilnya terpental ke belakang, menghantam dinding batu sel dengan keras sebelum akhirnya tersungkur di lantai semen yang kotor. Belati dan jarum beracun miliknya terlepas dari genggaman, terlempar jauh ke sudut ruangan. 

Airi tidak memedulikan Lylia yang sedang meringis kesakitan menahan hantaman energinya. Wanita itu langsung berlari mendekati Rein, lalu berlutut di samping tubuh kekar yang sudah tidak berdaya tersebut. Airi melepas jubah luar putihnya yang panjang, lalu menyelimuti tubuh telanjang Rein dengan lembut untuk menutupi permukaannya yang penuh luka. 

Jemari tangan Airi yang gemetar perlahan menyentuh pipi Rein yang dingin dan dipenuhi bekas sayatan darah kering. 

"Bertahanlah, demi aku... kumohon bangun..." bisik Airi parau dengan suara yang pecah oleh tangisan. Rein mencoba menggerakkan bibirnya yang pecah-pecah. Kesadarannya yang sempat memutih kini merayap kembali berkat kehangatan energi spiritual yang mengalir masuk ke dalam tubuhnya. Dengan sisa tenaga yang hampir habis, pria itu membuka matanya yang cekung, menatap asing ke arah wanita cantik yang menangis di hadapannya. 

"Sia... pa... kau...?" erang Rein teramat lemah dengan suara parau yang nyaris tidak terdengar. Tatapan matanya kosong, sama sekali tidak mengenali sosok Airi.

Mendengar pertanyaan lirih dari mulut Rein, dada Airi terasa bagai dihantam gada besi. Rasa perih yang luar biasa menyengat ulu hatinya saat menyadari bahwa paras indahnya saat ini sama sekali tidak membangkitkan kenangan apa pun di kepala pria itu. Rein benar-benar menatap dirinya sebagai sosok wanita tak dikenal yang belum pernah ditemuinya seumur hidup. 

"Ini aku... istrimu! Aku datang untuk membawamu keluar dari neraka ini," bisik Airi dengan suara yang bergetar menahan tangis. 

Tangan halusnya bergerak cepat mengalirkan sisa energi spiritual murni ke atas dada bidang Rein, berusaha menetralkan sisa racun kimia dan obat perangsang yang terus memaksa jantung pria itu berdetak abnormal. 

Di sudut ruangan, Lylia yang terkapar telanjang bulat merangkak bangun dengan bertumpu pada sikunya. Debu sel mengotori kulit mulusnya, dan sudut bibirnya meneteskan darah segar akibat hantaman energi Airi. Bukannya gentar, bocah pimpinan mafia itu justru meludahi lantai semen dan tertawa melengking, geli melihat keputusasaan Airi. 

"Hahaha! Percuma kau menangis sampai berdarah, Pelacur!" seru Lylia sambil menyeringai beringas, memamerkan deretan giginya yang rapi. "Anjing itu tidak akan pernah mengenali wajahmu! Dia tidak kenal siapa kau! Dia cuma tahu cara memuaskan lobang memekku sampai mampus! Sini, lihat memekku yang masih basah karena kontolnya!" 

"Tutup mulutmu, iblis cilik!" bentak Airi tanpa menoleh, fokusnya tetap tertuju pada denyut nadi Rein yang kian melemah. 

Di bawah dekapan jubah putih Airi, suhu tubuh Rein yang semula sedingin es perlahan mulai menghangat. Pengaruh obat bius yang memaksa penis besarnya menegang kencang berangsur-angsur surut, membuat kejantanannya melunak seiring mengalirnya hawa murni penawar racun dari telapak tangan Airi. 

Rein melenguh parah, memuntahkan sisa cairan lambung bercampur darah kental dari sela-sela giginya. Matanya yang cekung bergerak goyah, memandang hampa ke arah paras asing Airi yang terus mendekap dirinya. 

"Ahhh... ugh..." Rein mengerang rendah saat rasa sakit di sekujur badannya kembali terasa akibat pengaruh obat yang mulai luntur. Pria itu menatap Airi dengan pandangan kabur. "Siapa... pun kau... kumohon bunuh aku sekarang... akhiri ini... tubuhku perih semua..." ratap Rein dengan suara yang terputus-putus. Mentalnya sudah terlalu hancur; kematian menjadi jalan keluar terakhir yang diinginkannya. 

"Tidak, kau harus tetap hidup!" tegas Airi, mempertebal dinding pelindung spiritual di sekitar tubuh mereka. 

Melihat tawanannya hendak direbut, Lylia langsung merayap cepat mengambil sebuah peluit perak kecil yang tergeletak di dekat tumpukan gaun emasnya. Dirinya meniup peluit itu dengan kencang hingga mengeluarkan suara melengking yang memekakkan telinga, menggema ke seluruh lorong bawah tanah. 

"Oline! Pengawal! Seret semua pasukan ke sini! Kepung sel ini dan cincang pelacur penyusup ini sampai menjadi makanan anjing!" teriak Lylia beringas dengan urat leher yang menegang tebal. 

Hanya dalam hitungan detik, keheningan malam bawah tanah hancur total. Suara derap langkah kaki dari puluhan sepatu bot berat bergemuruh hebat, bergetar merayap dari ujung lorong batu menuju sel tempat mereka berada. 

"Nona Lylia! Kami datang!" terdengar teriakan lantang Oline dari ujung lorong, disusul suara kokangan senjata api yang menggema nyaring. Pasukan bersenjata lengkap milik jaringan bawah tanah Lylia bergerak serentak untuk mengunci seluruh jalan keluar.

Mendengar teriakan lantang Oline yang menggema bersamaan dengan derap langkah puluhan sepatu bot berat, Airi segera membalikkan badannya. Sepasang mata indahnya berkilat tajam, menatap ke arah Lylia yang masih merangkak di dekat tumpukan gaun emasnya setelah meniup peluit perak tersebut. 

Airi melangkah maju satu kali, lalu melambaikan tangannya penuh tenaga ke arah Lylia. Gelombang energi spiritual putih yang sangat tebal melesat cepat, membelah udara kosong di dalam ruangan. 

Brak! 

Seketika, kekuatan energi spiritual Airi membuat tubuh polos pimpinan mafia itu terhempas kencang ke dinding berbatu di belakangnya. Hantaman tersebut begitu telak hingga membuat Lylia tidak mampu mengeluarkan erangan sedikit pun. Lylia, yang sama sekali tidak mempunyai kekuatan spiritual layaknya Airi, langsung pingsan seketika. Raga mungilnya yang polos merosot jatuh, terkapar tidak berdaya di atas lantai semen yang kotor. 

Airi mengabaikan Lylia yang sudah tidak sadarkan diri itu. Dirinya bergerak secepat kilat menghampiri tubuh Rein yang tergeletak lemas di dekatnya. Dengan satu hentakan energi murni dari ujung jemarinya, Airi menghancurkan sisa belenggu rantai yang sempat mengikat pria itu hingga hancur berkeping-keping. 

Prank! 

Tubuh kekar Rein langsung terjatuh sepenuhnya masuk ke dalam pelukan hangat Airi. Namun, saat telapak tangan Airi menyentuh dada pria itu, gerakan jantungnya terasa berhenti berdegup. Tidak ada embusan napas di sela bibirnya yang pecah-pecah. Airi tidak melihat adanya tanda kehidupan yang tersisa dari tubuh suaminya. 

"Tidak... tidak! Jangan tinggalkan aku, Xiao Lin!" jerit Airi dengan suara yang pecah oleh tangisan panik. 

Airi segera meletakkan telapak tangannya tepat di atas dada Rein disertai dengan rapalan mantra terlarang. Dirinya memejamkan mata, memusatkan seluruh daya batinnya untuk membalikkan takdir kematian yang sudah berada di depan mata. 

Cahaya kuning keemasan tiba-tiba keluar dari telapak tangan Airi, memancar terang benderang menerangi seluruh ruangan sel yang pengap, lalu perlahan menghilang diserap oleh tubuh Rein. Mantra kuno yang ia gunakan itu punya risiko kematian bagi penggunanya jika tidak berhasil, sebuah mantra terlarang untuk memanggil kembali jiwa yang baru saja hilang dari raga. 

Airi menangis tersedu, memeluk kepala Rein dengan erat di dadanya sembari terus mengalirkan hawa murni. Suara kokangan senjata api dari pasukan Oline di luar lorong semakin memekakkan telinga, menandakan bahwa waktu mereka sudah habis. 

Deg! 

Tiba-tiba, Airi merasakan getaran kecil di bawah telapak tangannya. Nadi Rein mulai berdenyut kembali secara perlahan, membawa kembali binar hangat di permukaan kulitnya yang semula sedingin es. Jiwa suaminya berhasil ditarik kembali dari kegelapan. 

"Di dalam sini! Tembak jalang itu!" teriak Oline yang mendadak muncul di ambang pintu sel bersama belasan pengawal bersenjata lengkap. 

Tanpa membuang waktu lebih lama untuk meladeni terjangan peluru mereka, Airi langsung merapalkan mantra perpindahan dimensi untuk menuju Istana Utara. Dalam sekejap, percikan cahaya putih yang benderang membungkus rapat tubuh mereka, menghilangkan Airi dan Rein dari tempat itu secara misterius, meninggalkan Oline dan pasukannya yang berteriak murka menatap sel yang kosong melompong.

Memuat daftar chapter...
[X]