REIN: Kekalahan (Bagian 4)

Kegelapan di dalam penjara bawah tanah terasa semakin pekat seiring dengan napas Rein yang semakin pendek. Rein masih tergantung pada rantai besi yang dingin. Sendi bahunya terasa seolah-olah akan lepas dari engselnya. Luka bekas cambukan pada punggung Rein sudah mulai mengeluarkan aroma busuk yang sangat menyengat. Cairan nanah bercampur darah mengalir lambat, membasahi lantai batu yang lembap. Raga sekel pria itu bergetar hebat akibat demam tinggi yang menyerang seluruh sistem sarafnya. Rein sudah tidak sanggup lagi mengangkat kepalanya yang terasa sangat berat.

Pintu baja berderit terbuka, membiarkan sedikit cahaya masuk ke dalam ruangan yang penuh dengan penderitaan itu. Lylia melangkah masuk dengan gaun sutra hitam yang sangat tipis. Di tangan kanan Lylia, terdapat sebuah kotak kecil berisi jarum-jarum perak yang dialiri tegangan listrik rendah. Ia mendekati Rein dengan senyum yang sangat keji. Lylia mencengkeram dagu Rein secara kasar, memaksa pria itu menatap mata Lylia yang dingin.

"Kau masih hidup tenyata," desis Lylia sambil menusukkan satu jarum perak tepat ke otot dada Rein yang penuh luka.

Rein menjerit tertahan akibat tusukan jarum itu memberikan kejutan listrik yang membakar saraf di bawah kulitnya. Lylia terus menusukkan jarum-jarum itu ke berbagai titik sensitif di raga sekel Rein. Ia  ingin Rein merasakan setiap inci rasa sakit sebelum jantungnya berhenti berdetak. Keringat dingin bercampur darah mengucur deras dari dahi Rein yang kesadarannya mulai terseret ke dalam lubang hitam yang tak berujung. Rein menyadari bahwa ajalnya sudah berada di depan mata.

Lylia melepaskan gaunnya, membiarkan raga atletisnya yang indah terpampang di depan Rein. Lylia menarik celana Rein hingga raga pria itu benar-benar telanjang. Penis Rein yang besar terlihat sangat layu serta penuh dengan luka gigitan. Lylia menggunakan ramuan khusus yang ia oleskan pada kejantanan Rein. Cairan itu memberikan sensasi panas yang sangat menyakitkan sekaligus memaksa penis Rein untuk menegang kembali secara paksa. Lylia memposisikan dirinya di depan Rein yang masih terbelenggu. ia memaksa kejantanan Rein yang panas untuk masuk ke dalam kemaluannya melalui satu sentakan yang sangat liar.

Suara benturan panggul Lylia dengan perut Rein bergema di seluruh penjuru penjara. Lylia bergerak dengan ritme yang sangat cepat dan kasar. Rein merasakan organ vitalnya diperas habis dalam kondisi raga yang sudah hampir mati ini. Setiap dorongan pinggul Lylia membuat luka di punggung Rein kembali terbuka lebar. Lylia mencakar otot bahu Rein yang lebar, meninggalkan bekas luka baru yang sangat dalam. Rein merintih dalam keputusasaan. Ia merasa kehidupannya telah hancur.

"Zata pasti tersenyum melihatmu menjadi sampah seperti ini," ucap Lylia sambil mempercepat gerakan pinggulnya.

Rein merasakan jantungnya mulai berdetak tidak beraturan. Sensasi dingin mulai menjalar dari ujung jari kaki hingga ke dadanya. Rein sudah tidak bisa lagi merasakan penisnya yang masih dihajar oleh Lylia. Pandangan mata Rein mulai memutih secara perlahan. Suara tawa Lylia terdengar sangat jauh serta teredam. Rein merasa raga sekelnya sudah tidak memiliki beban lagi. Rein berada di ambang batas antara kenyataan dan ketiadaan.

Tepat saat Lylia mencapai puncak kepuasannya serta menarik diri, Rein mengeluarkan sisa spermanya yang sangat encer bercampur darah. Rein terkulai lemas dengan kepala yang terkulai ke depan. Detak jantung Rein berhenti selama beberapa detik. Lylia menatap raga Rein dengan tatapan bosan, mengira bahwa mainannya sudah benar-benar mati. Lylia berbalik untuk mengambil pakaiannya kembali.

Di tengah kesunyian maut itu, sebuah percikan cahaya putih yang sangat kecil muncul di sudut gelap ruangan. Percikan cahaya itu memancar dengan aroma melati yang sangat segar, kontras dengan bau busuk di dalam penjara. Rein yang sudah tidak bernyawa merasakan jiwanya disentuh oleh kehangatan yang sangat familiar. Sebuah robekan dimensi mulai terbuka secara perlahan, memancarkan aura yang melampaui logika dunia ini. Sesosok bayangan putih mulai terlihat dari balik cahaya itu, bersiap untuk melangkah keluar tepat sebelum Lylia menyadari ada yang salah di dalam penjara bawah tanahnya.
BACA JUGA