REIN: Pencarian
Lampu-lampu lampion di sepanjang koridor Istana Utara bergoyang ditiup angin malam yang membawa aroma dingin dari pegunungan salju. Kamar pengantin kerajaan sudah dihias dengan kelambu sutra merah yang sangat indah serta dupa wangi yang terus mengepulkan asapnya.
Segala persiapan untuk upacara penobatan agung sudah mencapai tahap akhir. Putri Su Hua berdiri di depan jendela besar kamar itu, merapikan gaun sutra miliknya dengan jemari yang sedikit bergetar. Hatinya gelisah tanpa alasan yang jelas. Firasat buruk merambat di balik tulang rusuknya, seolah-olah ada kekuatan gelap yang akan merenggut kebahagiaan yang baru saja ia genggam.
Fajar seharusnya membawa kabar kemenangan, akan tetapi yang datang justru keheningan yang mencekam. Saat para pelayan istana masuk untuk menyiapkan perlengkapan mandi sang calon raja, ruangan itusudah kosong total. Tidak ada tanda pertarungan, bahkan bekas langkah kaki yang mencurigakan pun tidak ada. Xiao Lin tiba-tiba menghilang, lenyap begitu saja.
Su Hua berdiri mematung di tengah kamar itu. Seakan kehilangan poros grafitasiny saat mengetahui Xiao Lin hilang tanpa sempat berpamitan. Air mata jatuh dalam kesunyian tanpa ada isak tangis yang terdengar. Para pejabat istana mulai menyebarkan desas-desus tentang pengkhianatan, akan tetapi Su Hua tetap percaya bahwa suaminya ditarik oleh takdir yang sangat asing.
Tekad yang membara membuat Su Hua melangkah menuju ruang rahasia di bawah fondasi istana yang paling tua. Di tempat itu tersimpan Pusaka Cermin Langit, sebuah artefak kuno yang mampu merobek tirai antar dunia yang berbeda. Benda ini adalah gerbang menuju ketiadaan yang sangat berbahaya.
Su Hua merapal mantra terlarang dengan penuh konsentrasi. Dirinya menyayat telapak tangannya sendiri, membiarkan darah sucinya mengalir ke atas permukaan cermin yang sangat dingin. Sebuah lingkaran cahaya putih muncul dengan suara dengungan yang sangat nyaring sekaligus menyakitkan. Tanpa keraguan sedikit pun, Su Hua melangkah masuk guna mencari separuh jiwanya yang hilang.
Pengembaraan itu memberikan siksaan yang sangat berat bagi jiwa serta batin Su Hua. Dirinya melintasi kepedihan yang sangat dalam. Su Hua sempat terdampar di sebuah dunia yang dipenuhi oleh lautan api yang sangat panas. Di wilayah itu, oksigen terasa sangat tipis serta mencekik kerongkongannya. Gumpalan lava terus menggelegak di bawah kakinya. Su Hua terus berlari menghindari hantaman meteor yang jatuh dari langit yang berwarna merah darah. Raga wanita itu mulai melemah, akan tetapi ia tetap memaksa dirinya untuk bertahan. Dirinya berpindah lagi ke sebuah dimensi yang tertutup oleh es abadi. Angin kutub yang tajam menyayat jubah sutranya hingga tubuh Su Hua menggigil hebat. Su Hua terus memanggil nama Xiao Lin dalam setiap hela napasnya yang membeku.
Ratusan dimensi dunia sudah ia lewati dengan berbagai aral rintangan yang berbeda di setiap wilayah dunia itu.
Hingga pada akhirnya, Su Hua tiba di sebuah dimensi yang dipenuhi oleh struktur baja yang tingginya menyentuh awan. Bangunan-bangunan di tempat itu sangat besar, seolah-olah ingin menelan langit. Langit di wilayah ini tidak berwarna biru cerah seperti di Kerajaan Utara, akan tetapi kelabu pekat yang dipenuhi asap. Cahaya neon yang berwarna-warni mendominasi pemandangan mata di setiap sudut jalanan. Kereta-kereta besi berlari dengan kecepatan tinggi di atas jalanan aspal yang sangat keras. Su Hua bersembunyi di balik bayangan gang yang gelap agar keberadaannya tidak menarik perhatian penduduk setempat.
Selama menyusuri dunia yang sangat asing ini, Su Hua menyadari bahwa identitasnya sebagai seorang putri kerajaan tidak akan berguna. Dirinya mengganti penampilannya dengan pakaian lebih modern yang ia ambil dari tumpukan sampah di gang itu agar bisa membaur. Di dunia yang keras ini, orang-orang mengenalnya dengan nama Airi. Nama Airi menjadi jubah penyamarannya saat ia menelusuri lorong-lorong beton yang dingin untuk mencari informasi tentang suaminya.
Sebagai Airi, dirinya harus belajar memahami teknologi serta cara hidup manusia di dunia itu. Dirinya sering menghabiskan waktu di tempat-tempat umum, mendengarkan percakapan orang asing, serta memperhatikan layar-layar digital yang tersebar di seluruh kota.
Langkah Airi terhenti saat dirinya melihat sebuah layar yang berukuran sangat besar tertempel di dinding gedung pencakar langit. Tampilan pada layar itu seketika menghentikan detak jantungnya. Layar itu menampilkan rekaman video yang sedang menjadi pusat perhatian dunia. Rekaman itu memperlihatkan aksi pembunuhan yang sangat keji terhadap seorang pria bernama Zata di dalam sebuah ruang kontrol perbankan. Airi terpaku di tempatnya berdiri. Sosok pria yang melakukan pembunuhan itu mengenakan pakaian jas hitam yang sangat rapi. Pria itu dipanggil dengan nama Rein oleh orang-orang di sekitarnya.
Meskipun penampilannya sudah berubah, Airi mengenali aura kegelapan yang pekat itu. Sorot matanya yang tajam bak predator yang kelaparan merupakan ciri khas milik suaminya. Airi menyadari bahwa pria yang berdiri gagah di sana adalah Xiao Lin. Suaminya tidak menghilang untuk mati, akan tetapi terlahir kembali menjadi sosok yang dingin di dunia ini. Airi memejamkan mata, mencoba merasakan denyut kehidupan melalui kekuatan spiritualnya. Dirinya merasakan sebuah titik terang yang sangat lemah di sebuah wilayah gurun yang sangat gersang serta jauh dari hiruk-pikuk kota besar ini.
Airi merasakan bahwa Xiao Lin sedang berada dalam bahaya yang sangat besar. Sisa-sisa energi spiritual suaminya memancarkan rasa sakit yang sangat luar biasa, seolah-olah jiwanya sedang diperas habis oleh penderitaan. Kemarahan yang meluap membakar dada Airi.
Airi kembali merobek dimensi untuk menuju koordinat itu dengan sisa kekuatan yang ia miliki. Dirinya bersumpah tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh raga suaminya lagi. Janji yang terikat di antara dimensi memberikan kekuatan tambahan pada tubuhnya yang terlihat lelah. Perjalanan ribuan dimensi itu akhirnya membawa Airi tepat di depan pintu penjara bawah tanah milik Lylia.
BACA JUGA
Post a Comment