REIN: Pertolongan
Lylia tertegun kaku melihat mencium aroma melati yang segar. Ia lalu bergegas menuju sumber aroma itu, yang ternyata ada di ruangan tempat Rein berada. Sesampainya di sana, Lylia melihat percikan cahaya yang menerangi seluruh ruangan itu tepat di sudut ruang itu. Tidak lama, sesosok wanita cantik melangkah keluar. Wanita itu Airi.
Airi tanpa sadar langsung meneteskan air mata, saat melihat Xiao Lin, yang di dunia ini dikenal dengan Rein lemas tidak berdaya, dengan belenggu yang mengikatnya. Amarahnya, kian memuncak, saat ia melihat Lylia, yang ada di ambang pintung. Airi langsung melambaikan tangan penuh tenaga dan mengarahkan ke arah Lylia. Seketika, kekuatan energi spiritual Airi membuat wanita itu terhempas ke dinding berbatu di belakangnya. Lylia yang tidak mempunyai kekuatan spirtual layaknya Airi, langsung pingsan seketika.
Airi melangkah cepat menghampiri tubuh Rein yang masih terbelenggu rantai besi. Lewat satu hentakan energi spiritual dahsyat, Airi menghancurkan belenggu itu hingga berkeping-keping. Tubuh Rein itu pun langsung terjatuh ke dalam pelukan hangat Airi.
Saat Airi memegang tubuh Rein, ia tidak melihat tanda kehidupan. Ia panik, lalu meletakkan telapak tangan tepat di atas dada Rein disertai dengan rapalan mantra terlarang. Cahaya kuning keemasan tiba-tiba keluar dari telapak tangan Airi, lalu perlahan menghilang diserap oleh tubuh Rein. Mantra yang ia gunakan itu punya risiko kematian jika tidak berhasil, sebuah mantra untuk memanggil kembali jiwa yang hilang.
Tiba-tiba, Airi menangis tersedu, saat merasakan nadi Rein mulai berdenyut kembali secara perlahan. Tanpa membuang waktu lebih lama, ia lalu merapalkan mantra perpindahan dimensi untuk menuju Istana Utara. Dalam sekejab, percikan cahaya menghilangkan mereka dari tempat itu.
Kilatan cahaya putih muncul secara mendadak di tengah aula doa Istana Utara. Suara dengungan energi memecah keheningan malam di tempat itu. Para penjaga aula yang sedang berpatroli terkejut melihat kemunculan Putri Su Hua dengan seorang pria telanjang yang penuh luka. Mereka segera mendekat saat melihat mereka.
"Cepat panggil tabib istana!" perintah Putri Su Hua dengan suara bergetar kepada penjaga itu.
Para pelayan berlarian masuk ke aula. Mereka membantu Putri Su Hua membawa tubuh pria itu menuju kamar tidur utama kerajaan. Aroma busuk yang menyengat memenuhi ruangan itu. Putri Su Hua lalu memerintahkan seluruh tabib untuk memberikan perawatan terbaiknya demi menyelamatkan Xiao Lin.
Selama berminggu-minggu, Xiao Lin terbaring tidak sadarkan diri di atas kamar tidur utama. Putri Su Hua selalu menjaga suaminya setiap hari tanpa beranjak darinya. Putri Su Hua selalu membersihkan setiap luka terbuka di sekujur tubuh suaminya uty menggunakan ramuan obat langka dari puncak gunung salju agar jaringan kulit suaminya cepat menyatu kembali. Pemulihan tubuh Xiao Lin berjalan secara perlahan. Garis-garis luka di sekujur tubuhnya mulai menutup.
Suatu pagi, sinar mentari menyusup masuk, menyentuh lembut kelopak mata Xiao Lin yang terpejam erat. Ia merasakan tarikan napasnya terasa jauh lebih ringan. Kesadarannya merangkak naik dari dasar kegelapan yang sunyi. Ia mulai merasakan permukaan sprei sutra yang halus itu bersentuhan dengan tubuhnya. Pikirannya yang dipenuhi oleh bayangan dari dunia sebelumnya; gejolak batin yang merambat di dalam kepala; membuatnya merasakan sebuah kebingungan.
Perlahan, kelopak mata Xiao Lin mulai terbuka. Ia menatap langit-langit kamar yang dipenuhi oleh ukiran naga emas yang sudah lama tidak ia lihat.
Post a Comment