REIN: Pertolongan
Lylia tertegun kaku saat melihat lingkaran cahaya tersebut membesar secara mendadak di sudut gelap penjara bawah tanahnya. Sesosok wanita cantik melangkah keluar dari pusat cahaya yang beraroma melati segar. Wanita itu adalah Airi, yang telah menempuh perjalanan ribuan dimensi guna melacak keberadaan suaminya yang hilang.
Tatapan mata Airi memancarkan amarah yang sangat besar saat melihat Rein dalam belenggu rantai tidak berdaya. Airi tidak memberikan kesempatan bagi Lylia untuk bereaksi. Dengan satu lambaian tangan yang penuh tenaga, Airi melontarkan gelombang energi spiritual yang sangat kuat. Tubuh Lylia terhempas sangat keras ke dinding penjara yang dingin sampai wanita keji itu pingsan seketika.
Airi segera melangkah cepat menghampiri raga Rein yang masih terbelenggu oleh rantai besi yang menyiksa. Melalui satu hentakan energi spiritual yang dahsyat, Airi menghancurkan belenggu itu hingga berkeping-keping. Raga Rein yang lemas terjatuh dan segera ditangkap oleh pelukan hangat Airi.
Saat Airi memegang tubuh Rein, ia tidak melihat tanda kehidupan darinya, detak jantungnya hampa tanpa suara. Dengan penuh kepanikan, Airi meletakkan telapak tangannya tepat di atas dada Rein yang sudah mendingin. Sebuah kehangatan yang sangat akrab mengalir dari jemari Airi, merasuk jauh ke dalam rongga dada suaminya guna memanggil kembali detak jantung yang sudah berhenti. Airi menangis tersedu-sedu saat merasakan denyut nadi suaminya mulai berdenyut kembali secara perlahan. Ia meratapi penderitaan hebat yang harus dialami Rein di dunia yang sangat kejam ini.
Tanpa membuang waktu lebih lama, Airi merapal mantra pemindah ruang dimensi yang sangat rumit guna membawa mereka keluar dari kegelapan penjara untuk kembali ke Istana Utara. Cahaya putih perlahan menghilangkan mereka dari tempat itu. Dalam sekejap, aroma besi serta darah menghilang, berganti dengan aroma dupa cendana yang sangat menenangkan di dalam kamar tidur mewah Istana Utara. Kehadiran mereka di sana segera memicu kepanikan sekaligus kelegaan bagi para pengawal serta tabib yang sudah sangat lama menantikan kepulangan mereka.
Di dalam istana ini, Airi kembali menggunakan identitas aslinya sebagai Putri Su Hua. Dirinya segera memerintahkan para tabib terbaik kerajaan untuk memberikan perawatan yang paling intensif bagi Rein, yang kini kembali menjadi Xiao Lin.
Selama berminggu-minggu, Xiao Lin terbaring tidak sadarkan diri di atas ranjang sutra yang sangat empuk. Putri Su Hua menjaga suaminya setiap hari tanpa pernah beranjak dari sisi tempat tidur sedikit pun. Putri Su Hua membersihkan setiap luka terbuka di sekujur tubuh Xiao Lin menggunakan ramuan obat langka dari puncak gunung salju agar jaringan kulit suaminya segera menyatu kembali.
Pemulihan raga Xiao Lin berjalan secara perlahan seiring dengan berlalunya waktu yang penuh dengan kecemasan mendalam. Otot dada serta lengannya yang sempat menyusut drastis mulai mengeras serta berisi kembali seiring dengan pulihnya aliran darah. Garis-garis luka di sekujur tubuhnya mulai menutup, menyisakan bekas yang menceritakan betapa beratnya siksaan yang telah ia lalui.
Suatu pagi, sinar mentari menyusup masuk melalui celah ukiran naga pada jendela besar istana, menyentuh lembut kelopak mata Xiao Lin yang masih terpejam erat. Ia merasakan tarikan napasnya terasa jauh lebih ringan dibandingkan hari-hari sebelumnya.
Kesadaran Xiao Lin mulai merangkak naik dari dasar kegelapan maut yang sunyi serta dingin. Ia merasakan permukaan sprei sutra yang sangat halus bersentuhan dengan raganya. Pikirannya masih dipenuhi oleh bayangan di dunia sebelumnya. Gejolak batin merambat di dalam kepalanya, menciptakan kebingungan yang sangat hebat mengenai di mana posisi dirinya sekarang.
Kelopak mata Xiao Lin pun akhirnya terbuka secara perlahan, menatap langit-langit kamar yang penuh dengan ukiran naga emas yang sudah sangat lama tidak pria tersebut lihat.
BACA JUGA
Post a Comment