Akhir Kisah: Awal Pengkhianatan

Nando, sosok pria yang kesehariannya tidak lepas dari layar ponselnya. Cahaya biru yang terpancar menjadi satu-satunya sumber kehidupan di apartemennya yang temaram. Di riuh kota yang tak pernah tidur, Nando adalah salah satu dari ribuan jiwa yang menggantungkan nasib asmaranya pada sebuah algoritma. 

Jempolnya bergerak dengan ritme yang dinamis. Swipe kiri. Swipe kiri. Swipe kanan. 

Kata orang, Nando termasuk pria yang tampan dengan pembawaan yang tenang. Namun, di balik ketenangannya, ia masih sendirian tanpa pasangan, tampak begitu kontras dengan teman seusianya yang menginjak kepala tiga. Dan ia haus akan validasi, haus akan perasaan diinginkan, meskipun ia sendiri tidak tahu kapan rasa haus itu akan terpuaskan. 

"Looking for serious relationship," tulisnya di kolom bio. Sebuah ironi, karena setiap kali ia merasa serius, jempolnya tetap tidak bisa berhenti menggeser layar untuk mencari cadangan. 

Malam itu, sebuah match muncul. Daniel. 

Profil Daniel terlihat hangat. Foto-fotonya menunjukkan seorang pria dengan senyum lebar yang tulus, mengenakan kemeja flanel di sebuah kafe. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk berpindah dari aplikasi ke ruang percakapan yang lebih pribadi. 

Percakapan dimulai dengan basa-basi tentang kopi, lalu berlanjut ke selera musik, hingga akhirnya menyentuh luka-luka lama yang seharusnya tidak diceritakan kepada orang asing dalam waktu dua jam. Tapi bagi Nando, intensitas adalah segalanya. Ia ingin merasa klik secepat mungkin, atau tidak sama sekali. 

"Aku merasa kita sudah kenal lama, Nando," tulis Daniel di layar. 

Nando tersenyum kecil, namun jarinya secara refleks menutup chat Daniel sejenak, hanya untuk mengecek apakah ada notifikasi baru dari pria lain di aplikasi kencan. Kosong. Ia kembali ke Daniel. 

"Mungkin kita memang pernah bertemu di kehidupan sebelumnya, Dan," balas Nando. 

Seminggu kemudian, mereka memutuskan untuk bertemu. Sebuah bar kecil di sudut kota yang remang-remang menjadi saksi. Saat Daniel berjalan masuk, Nando merasakan debaran yang sudah lama tidak ia rasakan. Daniel lebih tampan dari fotonya; ada aura ketenangan yang membuat Nando merasa, untuk sesaat, ia ingin berhenti mencari. 

Mereka minum, mereka tertawa, dan mereka bersentuhan. Dimulai dari lutut yang saling beradu di bawah meja, hingga tangan Daniel yang memberanikan diri menggenggam jemari Nando. 

"Kamu nyata, ya?" bisik Daniel, matanya menatap dalam ke netra Nando. 

"Sangat nyata," jawab Nando, meskipun di dalam kepalanya, ia sudah mulai membayangkan bagaimana rasanya jika Daniel menciumnya. 

Tak lama, Nando membawa Daniel ke apartemennya. Suasana di dalam lift terasa begitu menyesakkan oleh gairah yang tertahan. Begitu pintu apartemen tertutup, tidak ada lagi kata-kata. Nando mendorong Daniel ke dinding, menciumnya dengan rasa lapar yang hampir terlihat menyedihkan. Daniel membalasnya dengan kelembutan, seolah mencoba menenangkan badai di dalam diri Nando. 

Di atas ranjang yang sprei-nya selalu rapi karena jarang ada yang menempati, Nando menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Daniel. Setiap sentuhan, ciuman, jilatan yang mereka lakukan bagai permulaan ikrar untuk saling memiliki. 

Malam itu, di bawah selimut yang berantakan, Daniel memeluk Nando dari belakang. "Aku ingin ini jadi yang terakhir buat aku, Nando. Aku nggak mau cari-cari lagi," gumam Daniel hampir tertidur. 

Nando terdiam. Ia merasakan kehangatan tubuh Daniel, sebuah kenyamanan yang seharusnya cukup bagi siapa pun. Namun, saat Daniel sudah terlelap dengan napas yang teratur, tangan Nando merayap ke bawah bantal. 

Nando mengambil ponselnya. 

Di bawah temaram cahaya layar ponselnya, dengan kekasih barunya yang masih memeluknya erat, Nando membuka kembali aplikasi kencan itu. Hanya untuk melihat-lihat dan memastikan tidak ada yang terlewat, pikirnya. Ia merasa mencintai Daniel dengan sungguh. Tapi di saat yang sama, rasa takut akan kehilangan pilihan membuatnya tidak bisa berhenti. 

Satu notifikasi masuk dari seorang pria bernama Kevin. 

Nando melirik Daniel yang tertidur pulas, lalu jempolnya mulai mengetik balasan untuk Kevin. Sebuah pengkhianatan kecil pun dimulai, tepat di saat cinta sejatinya mungkin baru saja dimulai. 

Hari-hari setelah malam itu terasa seperti mimpi yang menjadi nyata. Daniel sangat perhatian, mapan, dan tidak ragu menunjukkan kasih sayangnya di depan umum, sosok yang selama ini dicari Nando. Daniel sering mengirimkan sarapan ke kantor Nando, atau sekadar meninggalkan pesan suara sebelum tidur yang isinya hanya, "Aku bersyukur memilikimu, Nan." 

Namun, bagi Nando, ketulusan Daniel justru menjadi pemicu kecemasan yang aneh. Semakin Daniel memberinya cinta, semakin Nando merasa tercekik oleh keharusan untuk setia. 

Di jam makan siang, saat Daniel mengirimkan foto makan siangnya, Nando justru sedang asyik membalas pesan dari pria-pria asing di aplikasi kencan. Ia merasa bisa mengendalikan segalanya. Ia merasa mencintai Daniel dengan seluruh hatinya, sementara chat dengan orang lain hanyalah permainan kata-kata tanpa makna. 

"Itu cuma hiburan, nggak lebih," bisik Nando pada cermin di toilet kantornya, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tidak sedang menghancurkan apa yang sudah ia miliki. 

Suatu malam, dua bulan setelah mereka resmi berpacaran, Daniel memasak makan malam istimewa di apartemen Nando. Aroma pasta aglio olio memenuhi ruangan. Daniel tampak begitu bahagia, ia bahkan sudah membawa beberapa helai pakaiannya untuk diletakkan di lemari Nando—sebuah langkah besar menuju komitmen yang lebih serius. 

"Nan, coba deh liat video lucu ini," ujar Daniel sambil meraih ponsel Nando yang tergeletak di atas meja makan, berniat menunjukkan sesuatu yang tadi ia bahas. 

Jantung Nando seolah berhenti berdetak. "Dan, tunggu—" 

Terlambat. Saat Daniel menyalakan layar, sebuah notifikasi muncul di bagian atas layar. 

[ Kevin: Seksi banget foto kamu yang tadi. Jadi pengen ketemu lagi... ] 

Hening seketika menyergap ruangan itu. Suara gemericik air di dapur tiba-tiba terdengar seperti ledakan di telinga Nando. Daniel terpaku, matanya menatap tajam ke arah layar, lalu beralih ke wajah Nando yang memucat. 

"Siapa Kevin?" suara Daniel rendah, bergetar menahan sesuatu yang lebih sakit dari sekadar kemarahan. 

"Dia... dia cuma teman lama, Dan. Serius. Itu cuma becandaan cowok," Nando mencoba meraih ponselnya, tapi Daniel menjauhkan tangannya. 

"Becandaan cowok? Pengen ketemu lagi?" Daniel tertawa getir, tawa yang terdengar seperti pecahan kaca. "Kamu bilang kamu udah hapus semua aplikasi itu, Nan. Kamu bilang aku satu-satunya." 

"Aku memang sayang kamu, Dan! Aku cinta kamu!" seru Nando, dan ia tulus mengatakannya. Air mata mulai menggenang di matanya. "Itu cuma chat. Aku nggak pernah ketemu dia, aku nggak pernah ngapa-ngapain sama dia. Cuma kamu satu-satunya yang aku sentuh." 

Daniel menatap Nando dengan tatapan yang menghancurkan. "Bagi kamu, selingkuh itu harus pakai badan dulu? Buat aku, Nando, setiap kali kamu bagi perhatian kamu ke orang lain di saat kamu punya aku, itu sudah cukup untuk membunuh rasa percaya aku." 

Daniel meletakkan ponsel itu di atas meja dengan kasar. Ia diam dan mulai mengemasi pakaian yang baru saja ia masukkan ke lemari Nando beberapa jam yang lalu. 

"Dan, tolong... jangan pergi. Aku bisa jelasin, aku bisa berubah," Nando berlutut, memeluk pinggang Daniel dari belakang, terisak di sana. Ia benar-benar merasa hancur dan tidak mau kehilangan Daniel. 

Namun, Daniel melepaskan pelukan itu dengan dingin. "Kamu nggak cinta sama aku, Nan. Kamu cuma cinta sama perhatian biar nggak kesepian. Dan aku nggak bisa jadi salah satu dari mereka."

Pintu apartemen tertutup dengan dentuman yang memekakkan telinga Nando. Ia tersungkur di lantai, menelan pil pahit pertama dari kebodohannya sendiri. Ia menangis sejadi-jadinya, merasa dunianya runtuh. 

Malam itu, ia kehilangan Daniel. Pria yang sebenarnya bisa menjadi pelabuhan terakhirnya. 

Dua jam kemudian, dalam isak tangis yang belum reda dan rasa kesepian yang menusuk tulang, Nando meraih kembali ponselnya. Dengan jari gemetar, ia membuka aplikasi kencan itu lagi. Ia butuh seseorang—siapa saja—untuk menghapus rasa sakit ini. 

Ia melihat profil Kevin. 

"Hai, Kevin. Kamu lagi apa?" ketik Nando.
BACA JUGA