Paranoia: Misteri Bakso Beranak

Aroma uap kaldu itu terasa berbeda, tidak seperti biasanya yang mampu mengundang lapar. Aromanya amis yang mengendap di pangkal tenggorokan, seperti bau karat besi yang dipanaskan. 

Warung "Bakso Beranak Abadi" yang terletak di ujung gang buntu itu selalu berkabut, bahkan di siang bolong. Pak Kromo, sang pemilik, hanya melayani satu pelanggan setiap malam Jumat Kliwon. Malam ini, giliranku yang mendapatkan perlakuan spesial, karena langsung dilayaninya. 

Pak Kromo meletakkan sebuah mangkuk porselen besar yang retak seribu. Di dalamnya, sebongkah bakso sebesar kepala bayi berenang dalam kuah keruh berminyak. Permukaannya pucat, berkerut, dan anehnya... berdenyut. 

"Silakan, Mas. Dibelah selagi hangat," bisik Pak Kromo. Suaranya kering, seperti gesekan amplas pada kayu lapis. 

Aku memegang pisau karat yang disediakan. Saat ujung besi menyentuh kulit bakso yang kenyal, terdengar suara mengi halus, seperti tarikan napas pendek yang tertahan. Begitu kulitnya terbelah, cairan merah kental memuncrat ke pipiku—terasa panas, terlalu panas untuk sekadar saus sambal. 

Isi di dalam bakso beranaknya bukanlah telur puyuh atau bakso kecil-kecil biasa. Dari balik rekahan daging itu, merangkak keluar gumpalan-gumpalan kecil yang menyerupai jemari manusia yang belum sempurna. 

Kejadian aneh berikutnya mulai menyerangku. Sebuah mata kecil tak berkelopak muncul dari balik urat bakso, berkedip menatapku dengan pupil yang melebar ketakutan. Disusul suara tangisan parau mulai terdengar dari dalam mangkuk, seiring dengan uap yang membentuk siluet wajah-wajah yang memohon ampun. Dan aku merasakan sesuatu menendang-nendang dari dalam perutku sendiri, meskipun aku belum menelan satu gigitan pun. 

"Kenapa tidak dimakan?" tanya Pak Kromo yang kini berdiri tepat di belakangku. 

Aku bisa merasakan napasnya yang berbau formalin. 

"Bakso ini tidak akan berhenti 'beranak' sampai ia menemukan rahim yang baru. Dan malam ini, perutmu terlihat sangat luas," bisik Pak Kromo. 

Aku menunduk ketakutan. Saat ku melihat bayanganku di kuah bakso, aku terperanjat kaget karena wajahku ternyata telah berubah. Kulitku mulai menjadi abu-abu pucat, bertekstur seperti adonan daging yang digiling kasar. Di bawah meja, kakiku terasa menyatu dengan lantai, berubah menjadi akar-akar daging yang merambat mencari nutrisi. 

Bakso di depanku meledak pelan. Puluhan janin bakso berwarna merah dan licin tumpah ruah di atas meja, menggeliat-geliat mencari celah untuk masuk ke dalam mulutku yang mengangga dan tak bisa tertutup meski sudah kupaksa. 

"Ini resep keluarga, Mas," gumam Pak Kromo sambil mengasah pisaunya. "Keluarga yang tidak pernah mati, hanya terus digiling dan dilahirkan kembali." 

Aku terbangun? Tidak. Aku masih ada di sana. Hanya saja, sekarang aku tidak lagi duduk di kursi itu. Aku berada di dalam wadah kaca besar berisi es, menunggu hari esok ketika Pak Kromo akan menggilingku menjadi adonan bulat yang baru. 

Keesokan harinya, lonceng kecil di atas pintu berdenting. Bunyinya garing, membelah kesunyian gang buntu yang seolah menyedot seluruh suara dari peradaban. 

Seorang wanita muda masuk dengan jas hujan transparan yang masih basah. Namanya Sarah. Ia hanya ingin berteduh saat hujan lebat sedang melanda kota. Namun aroma kaldu yang merayap di udara segera membelenggu akal sehatnya. Ia tidak tahu bahwa di balik tirai lusuh yang memisahkan dapur, aku sedang menyaksikan segalanya. 

Aku kini bukan lagi manusia. Aku adalah gumpalan massa merah yang berdenyut di dalam toples kaca di atas meja persiapan Pak Kromo. Mataku—satu-satunya bagian yang tersisa dari identitas lamaku—mengambang di permukaan cairan berformalin, menatap Sarah dengan ngeri. 

"Pesan satu, Kek. Yang paling spesial," ujar Sarah pelan. Suaranya bergetar, entah karena dingin hujan atau karena instingnya sedang menjeritkan peringatan yang ia abaikan. 

Pak Kromo hanya mengangguk. Ia kemudian mengambil sebilah pisau besar yang matanya sudah legam oleh noda darah kering dan menatap ke arah toples tempatku berada. 

Pak Kromo merogoh toples itu. Tangan tuanya yang kasar mencengkeram tubuhku. Rasa sakitnya luar biasa—seperti setiap saraf ditarik keluar secara bersamaan. Ia meletakkanku di atas talenan kayu yang sudah cekung karena ribuan kali hantaman. 

Ia membelah gumpalan dagingku menjadi dua bagian. Aku ingin menjerit, tapi mulutku hanyalah celah sempit yang mengeluarkan gelembung udara amis. 

Ia kemudian memasukkan potongan-potongan kecil—mungkin itu potongan telinga atau jemari dari pelanggan sebelum aku—ke dalam rongga tubuhku. "Isiannya harus segar," gumamnya. 

Dengan gerakan cekatan, ia membulatkanku kembali. Tangannya yang dingin memilin dagingku, membentuk bola sempurna yang berisi rahasia busuk. 

"Bakso Beranak Spesial, Neng. Dimakan selagi 'hidup'," kata Pak Kromo sambil menyajikan mangkuk itu di depan Sarah. 

Sarah mengambil sendok. Ia membelah permukaan bakso itu—permukaan yang adalah kulitku, wajahku, tubuhku. Saat sendoknya menusuk masuk, air mata yang menjadi minyak kaldu meleleh keluar dari rekahan daging tersebut. 

Sarah menyuapkan potongan pertama. Begitu daging itu menyentuh lidahnya, aku bisa merasakan koneksi instan. Aku mulai merayap di tenggorokannya. Aku bukan sedang dimakan; aku sedang menyerbu. 

"Rasanya... seperti pernah kenal," bisik Sarah. Matanya mulai berair. Urat-urat di lehernya mulai menonjol, bergerak-gerak seperti ada ribuan cacing yang sedang berpesta di balik kulitnya. 

Pak Kromo tersenyum, menampilkan deretan gigi kuningnya. "Tentu saja. Sebentar lagi, kalian akan benar-benar menjadi satu keluarga." 

Di bawah meja, Sarah tidak menyadari bahwa bayangannya di lantai mulai terlepas. Bayangannya membentuk sosokku yang dulu, yang kini perlahan berdiri dan mengambil alih jas hujannya, sementara Sarah sendiri mulai menyusut, memucat, dan menjadi bulat sempurna di atas mangkuknya sendiri. 

Aku melangkah keluar dari warung "Bakso Beranak Abadi" menggunakan kaki Sarah. Rasanya ganjil. Tulang-tulangnya terlalu rapuh untuk beban kesadaranku, dan sendi-sendinya berderit setiap kali aku memijak aspal gang yang basah oleh hujan. 

Di dalam perutku—atau perut Sarah—sesuatu masih menggeliat. Ternyata, itu adalah sisa-sisa diriku yang baru saja ia telan, berusaha mencerna inangnya dari dalam. 

Aku menyusuri jalanan kota yang mulai sepi. Lampu merkuri jalanan membuat kulit Sarah terlihat seperti porselen retak. Aku mencoba tersenyum pada seorang penjaga toko kelontong, namun otot wajah Sarah tidak sinkron; sudut bibir kirinya terangkat terlalu tinggi hingga menyentuh cuping hidungnya, sementara matanya tetap melotot kaku. 

"Mbak? Mbak baik-baik saja?" tanya penjaga toko itu, wajahnya pucat melihatku. 

Aku ingin menjawab, tapi yang keluar dari mulut Sarah bukan suara manusia., melainkan suara splat—seperti daging basah yang dijatuhkan ke lantai—diikuti aroma kaldu yang sangat pekat. Setetes cairan kental berwarna merah marun jatuh dari lubang telingaku. 

Aku tiba di apartemen Sarah. Kunci-kunci di tanganku terasa seperti benda purbakala yang sulit untuk dipahami. Di dalam, foto-foto Sarah memenuhi dinding ruangan. Foto dia tertawa, foto dia bersama orang tuanya. Aku menyentuh salah satu foto itu, dan noda minyak amis tertinggal di atas bingkainya. 

Tiba-tiba, perutku bergejolak hebat. Tepat pukul 02.00, kulit perut Sarah mulai meregang hingga transparan. Aku bisa melihat siluet bola-bola kecil yang berputar-putar di dalamnya. Tak berselang lama, Sarah—atau apa yang tersisa darinya di dalam sini—mulai memberontak ingin keluar. Dan setengah jam kemudian, terdengar suara krek yang keras. Tulang rusuk Sarah patah dari dalam, mencuat keluar seperti taring-taring putih yang menembus baju jas hujan yang masih ia kenakan. 

Aku berdiri di depan cermin kamar mandi. Wajah Sarah mulai melepuh, mengeluarkan uap panas berbau bawang putih dan daging busuk. Dari lubang-lubang pori-porinya yang membesar, muncul tunas-tunas daging berbentuk bulat sempurna. 

Dan ternyata, aku tidak sedang menjadi Sarah. Aku hanyalah media tanam. 

Satu per satu, bakso-bakso kecil itu "lahir" dari pori-pori kulitnya, jatuh ke lantai kamar mandi dengan suara plop yang menjijikkan. Mereka membalbal, menggelinding, dan mencari lubang pembuangan air untuk menyebar ke pipa-pipa kota. 

Di cermin, aku melihat Pak Kromo berdiri di belakang bayanganku sedang memegang mangkuk porselen kosong—padahal ia tak ada di sana.

"Siklusnya tidak boleh putus, Mas," bisiknya menembus ruang dan waktu. "Besok, seluruh kota akan merasa lapar. Dan mereka semua akan mencari warungku," lanjutnya. 

Aku melihat sendiri. Jari-jariku telah rontok, berganti menjadi barisan bakso kecil yang berdenyut seirama dengan detak jantungku yang kian melambat. Kini, aku telah menjadi bahan baku yang tak akan pernah habis. 

Besok pagi, orang-orang akan menemukan apartemen ini kosong, menyisakan bau kaldu yang gurih memuakkan, dan ribuan jejak lendir kecil yang mengarah ke saluran air kota. 

Pagi telah tiba, matahari terbit dengan warna kuning pucat, serupa lemak sapi yang membeku di permukaan kuah dingin. Kali ini, kota tidak lagi terbangun oleh kicau burung, tapi oleh suara keroncongan perut massal yang bergema dari setiap tembok di kota. 

Rasa lapar itu datang seperti wabah. Tidak seperti lapar biasa yang bisa diredam dengan roti atau nasi, apalagi gorengan. Rasa lapar yang spesifik—keinginan untuk mengunyah sesuatu yang kenyal, hangat, dan berurat. Saluran air kota di bawah jalan raya telah terkontaminasi ribuan "anak bakso" yang lahir dari pori-pori kulit Sarah. Mereka tidak mati tenggelam; mereka justru menyerap limbah, membengkak, dan berlipat ganda. 

Tepat pukul 07.00, air yang keluar dari keran di kafetaria kantor berubah menjadi keruh dan kental. Di tempat lain, terdengar pula jeritan seorang pria yang sedang mandi saat bola-bola daging kecil mulai keluar dari kepala pancuran, memantul di atas keramik kamar mandi sebelum merayap masuk ke dalam mulutnya yang terbuka karena terkejut. Puncaknya, aroma kaldu "Abadi" mulai keluar dari lubang-lubang ventilasi AC di seluruh gedung pencakar langit tetap pukul 10:54. 

Orang-orang mulai kehilangan akal sehat. Di jalanan, mereka tidak lagi saling menyapa, melainkan saling mengendus leher satu sama lain. Mereka melihat satu sama lain bukan sebagai manusia, melainkan sebagai gumpalan daging yang potensial untuk digiling. 

Aku—atau sisa-sisa kesadaran yang terperangkap dalam inang Sarah yang kini hancur—merangkak menuju jendela. Di bawah sana, pemandangannya sungguh mengerikan. 

Seorang ibu di taman kota terlihat sedang menyuapi anaknya. Namun, yang ia suapkan bukanlah makanan, melainkan jari tangannya sendiri yang telah membengkak bulat menyerupai bakso. Sang anak mengunyahnya dengan lahap, matanya putih tanpa pupil, mulutnya berlumuran cairan merah yang bukan lagi darah, melainkan saus kental yang keluar dari pembuluh darahnya. 

Tidak hanya itu. Di bangku taman sebelahnya, seorang pria dengan jas kerja sedang membaca koran. Namun, koran itu bukan terbuat dari kertas, melainkan dari lembaran kulit kering yang terkelupas dari punggungnya sendiri. Setiap kali ia membalik halaman, terdengar suara sret-sret yang memuakkan, dan dari bawah jasnya, muncul uap berbau karamel hangus. Pria itu sesekali menjilati jemarinya yang berlumuran tinta darah. 

Di dekat air mancur yang kini menyemburkan cairan nanah kental ke udara, sepasang kekasih terlihat berpelukan. Namun, mereka tidak berpelukan secara romantis. Tubuh mereka telah menyatu menjadi satu gumpalan daging yang berdenyut, dengan lengan dan kaki yang tumbuh acak dari massa tersebut. Mereka saling mengikis kulit wajah masing-masing menggunakan deretan gigi yang tumbuh di ujung jari mereka, lalu menelan potongan-potongan daging itu dengan tatapan mata yang kosong. Dari celah-celah daging yang menyatu, keluar bisikan-bisikan cinta yang diiringi suara krek tulang yang terus-menerus. 

***

Warung Pak Kromo kini tidak lagi sepi. Antrean manusia mengular panjang, mereka bergerak kaku, menyeret kaki yang mulai membulat di bagian sendi. 

Pak Kromo berdiri di depan pintu, memakai jubah yang terbuat dari jalinan usus dan urat manusia. Ia memegang palu besar untuk menghancurkan tulang-tulang pelanggan yang datang, mengubah mereka menjadi adonan halus hanya dalam hitungan detik. 

"Selamat datang di keluarga besar, Anak-anakku," seru Pak Kromo ke arah langit yang mulai menggelap. 

***

Tiba-tiba, tubuh Sarah yang aku tempati meledak sepenuhnya. Aku tidak mati, tapi hancur menjadi ribuan partikel daging yang beterbangan di udara. Setiap partikel membawa secercah kesadaranku, setiap partikel masuk ke dalam paru-paru orang-orang yang sedang bernapas di kota itu. 

Kini, aku tidak hanya satu. Setiap gigitan yang mereka kunyah; rasa gurih yang tertinggal di lidah mereka; rasa sakit di perut mereka sebelum mereka akhirnya "melahirkan" kembali. Itu semua, "Aku".

Kota itu kini telah menjadi sebuah mangkuk raksasa, dan Pak Kromo sedang menyiapkan sendoknya. 

***

Beberapa waktu berlalu, persediaan daging di kota itu menipis lebih cepat dari yang diperkirakan. Saat semua orang telah menjadi bulatan bakso yang telah dimakan, tidak ada lagi yang tersisa untuk dikonsumsi selain kekosongan yang lapar. 

Pak Kromo berdiri di tengah warungnya yang kini sunyi. Tidak ada lagi antrean manusia kaku di depan pintu. Yang tersisa hanyalah tumpukan tulang yang telah bersih dikerik dan aroma kaldu yang mulai basi. Untuk pertama kalinya dalam keabadian, perut Pak Kromo sendiri berbunyi—suara geraman yang lebih mirip raungan binatang buas dari dasar sumur. 

Pak Kromo menatap tangannya yang keriput. Ia sadar, sebagai sang Maestro, ia tidak boleh membiarkan resepnya punah. Jika dunia adalah mangkuk yang kosong, maka ia harus menjadi bumbunya. 

Pak Kromo mengambil penggiling daging manual yang bautnya sudah berkarat. Ia meletakkan kakinya sendiri ke dalam corong mesin. Suara tulang yang hancur beradu dengan besi terdengar merdu di telinganya. Krak. Sret. Plop. Daging kakinya keluar dari lubang-lubang kecil penggiling sebagai untaian mi merah yang kenyal. Ia tidak berteriak. Ia justru tertawa, sebuah tawa kering yang mengeluarkan uap panas dari kerongkongannya. Setiap inci tubuhnya yang digiling terasa seperti sebuah pencapaian seni yang agung. 

Setelah kaki dan tangannya habis, Pak Kromo menyisakan kepalanya yang diletakkan di atas meja persiapan. Dengan sisa-sisa tenaga dari otot leher yang masih berdenyut, ia memicu mesin penggiling otomatis yang telah ia modifikasi. 

Tubuh tanpa anggota geraknya masuk ke dalam kuali besar berisi air mendidih. Di sana, ia memproses dirinya sendiri. Lemak perutnya menjadi minyak, sumsum tulang belakangnya menjadi kaldu, dan jantungnya yang masih berdetak menjadi bakso beranak yang paling besar—yang paling sempurna. 

Tiba-tiba, seluruh "anak bakso" yang tersebar di pipa-pipa kota, yang berada di dalam perut penduduk yang telah mati, mulai bergerak kembali. Mereka merasakan panggilan sang Maestro. 

Mereka merayap kembali ke gang buntu, masuk ke dalam warung, dan melompat ke dalam kuali besar tempat Pak Kromo mendidih. Ribuan, jutaan bakso menyatu, menggumpal, dan membengkak. 

Warung "Bakso Beranak Abadi" Pak Kromo sudah tidak kuat menahan tekanannya. Tembok-temboknya retak. Atapnya terangkat. Dari reruntuhan warung itu, muncul sebuah entitas daging raksasa setinggi gedung pencakar langit. Sebuah bola daging raksasa dengan jutaan mata manusia yang berkedip di permukaannya—salah satunya adalah mataku. 

Entitas itu kini telah menjadi kota tanpa bangunan dan jalanan. Yang ada hanyalah massa daging yang berdenyut, menutupi permukaan bumi seperti selimut amis yang hangat. 

Bumi telah menjadi satu bakso besar yang melayang di ruang angkasa, menunggu "pelanggan" dari galaksi lain untuk datang dan membelahnya. Dan di dalamnya, kami semua masih di sana, berenang dalam kaldu abadi, mengunyah dan dikunyah dalam siklus tanpa akhir. 

"Selamat makan," bisik jutaan suara secara serentak, bergema hingga ke bintang-bintang yang jauh.