Melihat Dunia Resolusi Tinggi
Selama bertahun-tahun, dunia di mata saya hanyalah kumpulan warna yang pudar dan garis yang buram. Angka -11.5 menjadi belenggu yang membuat saya ketergantungan penuh pada lensa kacamata tebal, hanya demi untuk mengenali wajah orang di depan. Namun, sebuah keputusan besar saya ambil, keputusan untuk melihat dunia dengan cerah, tanpa ada penghalang di depan mata. Satu-satunya jalan yang ada adalah dengan prosedur operasi lasik; ritual "penebusan" hasil dari mengumpulkan keping rupiah dengan sabar.
Namun, kenyataan tak seindah iklan yang menjanjikan "penglihatan instan". Pasca-operasi, mata saya tidak langsung menyuguhkan visual dengan resolusi tinggi. Sebaliknya, saya harus melewati masa-masa pemulihan yang menuntut kesabaran. Selama berbulan-bulan, pandangan saya masih fluktuatif, terkadang terang, terkadang buram. Ada masa di mana saya harus rutin meneteskan obat mata dan menjaga diri dari debu, seolah-olah mata ini adalah permata yang sangat rapuh.
Setelah berbulan-bulan menunggu dengan sabar, barulah dunia benar-benar terbuka lebar. Ketajaman itu datang secara bertahap hingga akhirnya mencapai puncaknya pengelihatan. Kini, saya akhirnya bisa melihat detail daun, garis-garis bangunan, hingga ekspresi orang di kejauhan dengan ketajaman yang sempat hilang sebelumnya.
Meski begitu, teknologi manusia tetap ada batasnya. Pasca-pemulihan, sebuah masalah muncul: ada silinder yang cukup besar, padahal sebelumnya mata saya sama sekali tidak memilikinya. Dunia memang menjadi tajam, namun ada sedikit distorsi yang kini menemani setiap mata memandang. Bayangan yang sedikit bergeser menjadi pengingat bahwa kesempurnaan mutlak itu memang sulit didapat.
Namun, apakah saya menyesal? Sama sekali tidak.
Saya tetap bersyukur. Dibandingkan dengan keterbatasan sebelumnya, gangguan silinder ini hanyalah sebuah aral yang mencoba menghalang jalan. Kini, setelah membuka mata, saya bisa langsung melihat dunia tanpa harus meraba mencari kacamata.
Lasik mata ini telah menjadi saksi, bagaimana hasil kerja keras saya mampu mengubah cara dalam memandang dunia. Kini, dengan mata "mahal" ini, saya siap menatap masa depan yang lebih cerah, menembus kabut-kabut ketidakpastian yang mungkin masih ada di depan sana.
BACA JUGA
Post a Comment