Akhir Kisah: Rasa yang Berbeda
Nando mengira ia bisa langsung menggantikan posisi Daniel dengan Kevin. Namun, cinta ternyata punya caranya sendiri untuk menghukum. Setiap kali Nando menutup mata, aroma parfum sandalwood milik Daniel seolah masih tertinggal di bantalnya. Bayangan Daniel yang sedang tertawa sambil mengaduk pasta di dapurnya terus membayangi.
Kevin sangat amat berbeda dengan Daniel. Kevin, sosok pria yang liar, penuh gairah, dan hanya menginginkan kesenangan sesaat. Pertemuan mereka di sebuah hotel melati berlangsung panas, namun setelahnya, Nando merasa semakin hampa. Saat Kevin tertidur, Nando menatap langit-langit kamar yang kusam, menyadari bahwa ia baru saja menukar emas dengan abu.
Satu bulan setelah perpisahan itu, Nando memberanikan diri menemui Daniel di kafe tempat mereka pertama kali bertemu. Ia ingin meminta maaf, atau setidaknya melihat Daniel untuk terakhir kalinya sebelum ia benar-benar gila.
Daniel datang, namun bukan Daniel yang dulu. Matanya yang hangat kini tampak dingin dan terjaga, seakan binar cinta di matanya sudah sirna.
"Aku nggak bisa tidur, Dan. Setiap malam aku kepikiran kamu," Nando memulai dengan suara serak. Tangannya gemetar di atas meja, mencoba meraih tangan Daniel, namun Daniel menarik tangannya menjauh.
"Kamu pikir aku bisa tidur nyenyak setelah tahu aku dikhianati setiap hari selama dua bulan ini?" jawab Daniel datar. "Aku sudah membuang semua barang yang mengingatkanku sama kamu, Nan. Aku sarankan kamu lakukan hal yang sama."
"Tapi aku sayang kamu! Kenapa kamu nggak bisa kasih aku satu kesempatan lagi? Aku janji bakal hapus semua aplikasi itu!" seru Nando, mengabaikan tatapan pengunjung kafe lainnya.
Daniel menatapnya dengan rasa iba yang menyakitkan. "Masalahnya bukan di aplikasinya, Nando. Masalahnya ada di dalam dirimu. Kamu punya lubang besar di hatimu yang nggak akan pernah bisa dipenuhi oleh satu orang. Kamu selalu butuh cadangan. Kamu takut kalau orang itu pergi, kamu nggak punya siapa-siapa lagi. Tapi ironisnya, ketakutanmu itu yang justru membuat semua orang pergi."
Nando terdiam. Kata-kata Daniel seperti pisau yang membedah isi kepalanya.
"Selamat tinggal, Nando. Tolong, jangan cari aku lagi."
Daniel berdiri dan melangkah keluar dari kafe itu tanpa menoleh lagi. Nando hanya bisa menatap punggung Daniel yang semakin menjauh. Dan itu pertama kalinya Nando merasakan rasa sakit yang teramat sakit akibat tidak bisa berpaling dari Daniel.
Berbulan-bulan kemudian, Nando mengalami depresi ringan. Meski tetap menjalankan pekerjaannya, tapi hidupnya terasa hampa, ia mencoba setia pada kenangannya bersama Daniel. Semenjak kejadian di kafe itu, ia benar-benar menghapus semua aplikasi kencannya. Ia ingin membuktikan bahwa ia bisa setia, meski sosok Daniel sudah tidak lagi bisa ia peluk dalam nyata.
Namun, kesetiaan dalam kesendirian itu membuatnya merasa tidak berharga. Suara-suara di kepalanya mulai berbisik: "Kamu tidak bisa hidup sendirian, kamu butuh orang lain, lupakan Daniel"
Hingga suatu malam, di bawah pengaruh sisa alkohol, pertahanannya runtuh. Nando mengunduh kembali aplikasi itu.
Dan tak disangka, ia bertemu dengan Kevin, lagi. Namun, alih-alih swipe kiri, kali ini Nando berpikir untuk memulai mencoba hubungan baru dengan orang yang bebas seperti Kevin. Kebiasaannya untuk chatting dengan pria lain tidak akan dianggap masalah besar, pikirnya.
Di suatu malam, setelah mereka berhubungan intim dengan sangat intens di apartemen Kevin yang berantakan. "Kita coba jalanin yang serius, ya?" ajaknya dengan suara jantan yang tiba-tiba keluar dari mulutnya seraya mereka berpelukan.
Nando yang kaget, karena itu yang ingin ia ungkapkan kepada Kevin sudah didahuluinya pun langsung mengangguk. "Iya, Kevin. Aku mau."
Tapi, benih pengkhianatan itu sudah mendarah daging. Saat Kevin sedang mandi, Nando yang baru saja merasa lepas, kembali merasakan dorongan itu. Ia membuka aplikasi kencan, dan jarinya secara otomatis menggeser layar.
Dan tiba-tiba, muncul sosok pria dengan profil misterius bernama Adrian.
Nando merasa ada sesuatu yang berbeda dari Adrian, pun dengan perasaan yang tidak pernah muncul sebelumnya. Tanpa sadar, Nando mulai mengetik pesan untuk Adrian, tepat di saat air shower masih terdengar dari kamar mandi tempat Kevin berada.
Nando merasa mencintai Kevin, dan ia pun merasa masih belum bisa melupakan Daniel. Namun, di saat yang sama, ia mulai ada ketertarikan pada Adrian.
BACA JUGA
Post a Comment