Akhir Kisah: Pertemuan yang Menyakitkan

Meski Nando merasa kehidupannya kini telah sempurna, mempunyai Kevin dan juga Adrian. Namun,  akhir-akhir ini ia sering melamun gelisah, matanya selalu melirik ke arah ponsel, dan ia menjadi sangat protektif terhadap privasinya. 

Suatu sore di hari Jumat, Nando sedang berada di apartemen Adrian. Mereka baru saja menyelesaikan makan malam romantis yang tenang. Adrian sedang menunjukkan sketsa taman yang sedang ia kerjakan, sementara Nando bersandar di bahunya, menghirup aroma maskulin yang menenangkan dari leher Adrian. 

Tiba-tiba, ponsel Nando yang tergeletak di meja kayu jati itu bergetar hebat. Sebuah panggilan video masuk. 

[ Nama di layar: Kevin (My Wild One) ]

Darah Nando seolah berhenti mengalir. Ia lupa mengganti nama kontak Kevin menjadi sesuatu yang lebih aman. Adrian melirik layar itu sebelum Nando sempat meraihnya. 

"Siapa itu, Nan? My Wild One?" tanya Adrian dengan nada tenang, namun ada kilat rasa ingin tahu di matanya. 

Nando menyambar ponsel itu dengan gerakan yang terlalu cepat. "Oh, ini... ini sepupuku dari luar kota. Dia memang agak gila, suka panggil diri sendiri begitu. Aku angkat sebentar ya di balkon." 

Nando melangkah ke balkon dengan jantung yang berdegup kencang. Ia menolak panggilan video itu dan mengirim pesan singkat kepada Kevin, "Lagi rapat penting, Sayang. Nanti aku telepon balik." 

Saat ia kembali ke dalam, Adrian masih berdiri di tempat yang sama, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Sepupumu sering menelepon video di malam Sabtu?" 

"Iya, dia memang agak manja. Maaf ya, Ian," jawab Nando sambil mencoba tersenyum semanis mungkin. Ia mendekati Adrian, melingkarkan lengannya di leher pria itu, mencoba mengalihkan perhatian dengan ciuman yang beruntun. 

Adrian membalas ciuman itu, tapi Nando bisa merasakan ada sesuatu yang tertahan. Ada jarak yang tiba-tiba tercipta di antara mereka malam itu. 

Beberapa hari kemudian, sebuah pameran seni besar diadakan di pusat kota. Iironisnya, baik Kevin maupun Adrian sama-sama ingin pergi ke sana. 

Kevin ingin pergi karena ada sahabatnya yang memamerkan karya instalasi, sedangkan Adrian pergi karena ia memang pecinta seni sejati. Nando terjebak. Ia sudah berjanji pada Kevin untuk menemaninya di jam 7 malam, tapi Adrian juga memintanya datang di waktu yang hampir bersamaan. 

Akhirnya, Nando membuat rencana gila. Ia akan datang bersama Kevin, lalu membuat alasan untuk ke toilet atau bertemu klien untuk menemui Adrian sebentar di sisi lain galeri. Ia merasa dengan kecerdikannya, bisa melakukan kucing-kucingan di ruang publik. 

Malam itu, galeri penuh sesak. Kevin tampil kasual dengan jaket kulit, merangkul pinggang Nando dengan posesif. "Kamu cantik banget malam ini, Nan," bisik Kevin sambil mencium pelipisnya di depan banyak orang. Nando merasa bangga, sekaligus ketakutan. 

Saat Kevin sedang asyik mengobrol dengan temannya di dekat instalasi lampu, Nando berbisik, "Sayang, aku ke toilet sebentar ya. Perutku agak nggak enak." 

"Oke, jangan lama-lama ya," jawab Kevin sambil mengedipkan mata. 

Nando setengah berlari menuju lorong seni kontemporer, tempat Adrian berjanji untuk menunggu. Di sana, Adrian berdiri dengan setelan jas abu-abu yang sangat elegan. Saat melihat Nando, wajah Adrian cerah. 

"Kamu datang, Nan. Aku pikir kamu bakal telat," Adrian menyambutnya dengan pelukan hangat. 

Saat Adrian menunduk untuk mencium bibir Nando di balik salah satu sekat lukisan besar, Nando memejamkan mata, mencoba menikmati momen itu meski jiwanya berteriak karena rasa bersalah. 

Saat acara mau selesai, Nando mengira Kevin masih bersama teman-temannya masih terjebak di dalam obrolan mereka. Akhirnya ia dengan santainya menuju pintu keluar bersama Adrian. Namun, tepat di lobi utama yang luas, Kevin berdiri di dekat meja registrasi, sedang mencari-cari seseorang. 

Mata Kevin menyapu ruangan, dan seketika itu juga, matanya bertemu dengan mata Nando. 

Kevin terpaku. Pandangannya turun ke bawah, melihat bagaimana tangan Nando sedang digenggam erat oleh Adrian. 

Nando membeku. Dunia seolah melambat. Ia tidak bisa menarik tangannya dari Adrian tanpa terlihat mencurigakan, tapi ia juga tidak bisa berpura-pura tidak melihat Kevin. 

Kevin berjalan mendekat dengan langkah yang berat dan wajah yang memerah padam. Adrian, yang merasakan perubahan aura di sekitarnya, ikut menoleh. 

"Nando?" suara Kevin bergetar antara amarah dan ketidakpercayaan. "Sakit perut... apa cari-cari?" 

Adrian mengernyitkan dahi, menatap Kevin lalu menatap Nando. "Nan, siapa dia?" 

Di tengah keramaian galeri yang mewah, di hadapan dua pria yang ia cintai dengan cara yang salah, Nando menyadari bahwa ia baru saja kehilangan segalanya. Topengnya jatuh, dan yang tersisa hanyalah seorang lelaki kesepian yang terlalu takut untuk memilih salah satu. 

"Aku... aku bisa jelasin," rintih Nando, kata-kata yang sama yang dulu ia ucapkan pada Daniel. 
BACA JUGA