Paranoia: Balas Dendam Sang Calon Bayi
Uap putih tebal bergulung-gulung memenuhi ruang kamar mandi berukuran dua kali dua meter itu. Di bawah pancuran, Aris memutar tuas keran kuningan ke arah kiri hingga mentok. Air yang keluar berubah menjadi sangat panas, memancarkan uap yang langsung memburamkan cermin di dinding dan membuat dinding keramik murahan di sekelilingnya berkeringat.
Aris berdiri bergeming di tengah kepungan asap air. Napasnya berat, memburu, sementara dadanya naik turun dengan tidak beraturan. Di dalam kepalanya, sisa-sisa letupan dopamin pasca-orgasme masih terasa kental, menyisakan rasa kantuk sekaligus hampa yang luar biasa.
Di tangan kanannya, sebuah botol sabun cair plastik berwarna hijau yang sudah kosong melorot jatuh ke lantai keramik. Botol itu tidak lagi utuh. Bagian tengahnya sengaja dipotong dan dilubangi, menyisakan robekan plastik yang kasar dan tajam di pinggirannya—wadah buatan yang baru saja ia gunakan secara brutal sebagai alat pemuas nafsunya.
"Hah... hah... hah..."
Erangan pelan keluar dari mulut Aris yang kering. Matanya yang merah menatap ke arah bawah, ke arah selangkangannya sendiri. Di ujung lubang penisnya yang tampak membengkak dan memerah karena gesekan kasar yang dipaksakan, cairan sperma yang putih dan kental perlahan-lahan meleleh. Cairan itu menggantung sejenak, sebelum akhirnya menetes satu demi satu, jatuh menimpa genangan air sabun di sela-sela jarinya kaki.
Aktivitas gila ini sudah menjadi jadwal harian yang mengikat hidupnya. Setiap kali bayangan-bayangan kelam dari masa lalunya mulai merayap naik ke permukaan sadar, Aris akan mengunci diri di kamar mandi ini, melampiaskan seluruh frustrasinya pada tubuhnya sendiri hingga lemas. Baginya, rasa nikmat sesaat dari orgasme adalah satu-satunya obat bius yang bisa membungkam suara-suara berisik di kepalanya. Namun kini, obat bius itu telah berubah menjadi candu yang menggerogoti kewarasannya.
Saat air panas terus mengguyur kepalanya, pandangan Aris mendadak buram. Di antara kepulan uap panas yang melayang di depan matanya, siluet ruangan itu seolah berubah.
Plak!
Suara khayalan dari sabetan kulit yang menghantam daging terdengar begitu nyata di telinganya. Di sudut ruangan, di balik kabut putih, Aris seolah melihat bayangan hitam bertubuh besar—ayahnya. Bayangan itu berdiri sempoyongan, bau alkohol murahan seakan tercium di udara, dengan tangan kanan yang memegang ikat pinggang kulit bergesper besi yang siap diayunkan kembali ke tubuh Aris kecil yang meringkuk di pojok kamar.
"Anak sialan! Gara-gara kamu hidupku hancur!" bentakan kasar sang ayah menggema di dalam batok kepala Aris, bercampur dengan suara gemercik air pancuran.
"Enggak... bajingan..." desis Aris. Gigi-giginya bergemertak hingga rahangnya mengeras.
Kemarahan yang terpendam bertahun-tahun mendadak meluap, membakar seluruh kesadarannya. Ia menunduk, menatap tetesan spermanya sendiri yang mulai hanyut terbakar air panas menuju lubang pembuangan. Muncul sebuah pikiran benci yang amat sangat dari dalam dadanya. Ia memandang cairan mani itu dengan tatapan penuh jijik. Ia menolak keras untuk meneruskan garis keturunan dari darah daging seorang monster. Ia bersumpah tidak akan membiarkan sperma-sperma itu tumbuh menjadi manusia, menjadi anak yang harus merasakan penderitaan yang sama seperti yang ia alami.
"Kalian semua harus mati di sini... mati di selokan!" umpat Aris dengan suara parau yang penuh dendam.
Dengan kemarahan yang memuncak, Aris kembali meraih penisnya yang bahkan belum sempat melunak sepenuhnya. Tanpa menggunakan pelicin, ia mencengkeram batangnya dengan kasar dan mulai mengocoknya kembali dengan gerakan yang jauh lebih brutal dari sebelumnya. Kulit penisnya yang mulai lecet dipaksa bergerak naik turun dengan cepat. Rasa perih mulai menjalar, namun Aris justru mengerang semakin keras, meluapkan seluruh rasa sakit dan kebenciannya ke dalam gerakan tangannya yang membabi buta.
"Mati kalian, asu! Mati!" Aris mengerang hancur.
Tangan kirinya bergetar hebat saat meraih botol plastik tebal berwarna hitam di pojok lantai. Itu cairan pembersih toilet berwujud asam klorida pekat. Tanpa membuang waktu, Aris mendekatkan botol itu ke mulutnya. Gigi gerahamnya mencengkeram kuat bagian tutup.
Kretak!
Plastik segel pengaman itu pecah berantakan di lantai keramik. Aris melubangi ujung botol dengan sisa tenaganya, lalu mengarahkan corongnya tepat ke atas tumpukan sperma kental yang tertahan jaring-jaring rambut di lubang pembuangan.
"Cessssss!"
Suara desisan tajam langsung menguasai ruangan sempit itu. Seketika, gumpalan sperma putih yang tadinya pekat mulai bergelembung, melepuh, dan berubah warna menjadi cokelat tua yang menjijikkan. Asam klorida itu membakar habis lapisan protein mani. Bau amis yang menguar di udara mendadak kalah telak oleh uap kimia beracun yang menyengat hidung.
"Uhuk! Uhuk! Ahahaha!" Aris terbatuk hebat, parunya terasa ditusuk jarum, tetapi seulas senyum sinting justru mengembang di bibirnya. Matanya yang melotot lebar merekam jelas bagaimana jutaan bakal manusia itu meleleh, hancur, dan terseret perlahan masuk ke dalam kegelapan pipa pembuangan.
Namun, kepuasan itu hanya bertahan beberapa detik.
Sisa cairan asam yang memercik dari lantai tiba-tiba mengenai kulit skrotumnya. Sensasi terbakar yang awalnya samar dengan cepat berubah menjadi rasa gatal yang luar biasa hebat, seolah ada jutaan semut api yang sedang mengunyah kantong pelernya dari dalam.
"Ahhh! Bangsat, gatal! Gatal sekali!" Aris mengerang, mulai menggaruk selangkangannya dengan kasar.
Kuku-kukunya yang tajam mencakar kulit skrotum yang basah oleh air panas. Rasa gatal itu tidak kunjung reda, justru semakin menggila memicu gairah masokis di dalam dirinya. Garukan itu berubah menjadi cabikan.
Sreeet! Sreeet!
Kulit pembungkus testisnya mulai mengelupas, robek di beberapa bagian. Kuku-kuku jari tangannya kini dipenuhi gumpalan darah merah segar dan serpihan daging mati yang memutih akibat air panas. Ketika kucuran air dari pancuran mengenai luka terbuka tersebut, rasa perih yang teramat sangat menusuk hingga ke saraf terdalam. Di dalam kantong yang robek itu, Aris bisa merasakan sepasang biji pelernya bergerak-gerak kasar, menggeliat seperti binatang yang tersiksa dan ingin menjebol dinding pembungkusnya.
"Ahhh, berdarah... kotor... genetik sialan!" pekik Aris di sela erangan menahan sakit.
Melihat luka di skrotumnya semakin menganga dan memperlihatkan jaringan daging merah di dalamnya, Aris justru merasa tertantang. Ia mendongak, menatap rak sabun gantung di atasnya. Di sana terletak sebuah alat cukur murah berwarna biru. Dengan tangan yang berlumuran darah, ia menyambar alat itu.
Krek!
Aris mematahkan gagang plastiknya menggunakan dua tangan, membiarkan silet logam yang tipis dan sangat tajam terjatuh ke telapak tangannya. Tanpa berpikir panjang, Aris menempelkan mata pisau itu langsung ke atas luka robek di pelernya.
Srak! Srak! Srak!
Suara silet yang mengiris daging terdengar begitu renyah di telinga Aris. Setiap sayatan memancarkan sensasi aneh yang justru membuat penisnya kembali menegang keras. Ereksinya bangkit di tengah kepungan darah. Garukannya semakin membabi buta, berbaur dengan irisan silet yang memotong urat-urat kecil di selangkangannya.
"Ughhh! Hah... hah... lebih dalam! Mati kamu, ayah bajingan!" teriak Aris dengan suara serak yang memuakkan, sementara darah segar mulai menyembur, bercampur dengan sisa mani terakhir yang dipaksakan keluar dari ujung penisnya.
Silet tipis itu berlumuran cairan merah kental. Aris melemparkan bilah logam tersebut ke lantai, lalu beralih memandangi gagang alat cukur plastik biru yang sudah patah di genggamannya. Ujung patahan itu menyisakan sudut yang runcing, tajam, dan tidak rata.
"Arghhh... hah... hah... bangsat! Sakit sekali!"
Aris melenguh panjang, air liurnya menetes bersanding dengan uap air yang semakin memekat. Pikirannya menggelap, disetir oleh rasa sakit yang memicu adrenalin ke titik tertinggi. Dengan tangan kiri yang gemetar, ia mengarahkan ujung tajam gagang plastik itu tepat ke lubang saluran kencing di ujung penisnya yang sedang tegang sempurna.
"Ssshhhaaaahhh!"
Aris menggeram keras saat mendorong paksa plastik runcing itu masuk ke dalam lubang penisnya.
Khreeek...
Suara robekan halus terdengar dari dalam saluran kencingnya. Batang plastik itu merobek paksa jaringan lunak di dalam sana, menembus saluran uretra, hingga akhirnya ujung plastiknya mencuat keluar menerobos kulit luar batang penis, tepat di sela-sela luka robek bekas garukan kuku sebelumnya. Blood babi mengguyur paha dan kakinya, mengalir deras ke lantai kamar mandi. Rasa perih yang amat jahanam meledak di setiap jengkel saraf selangkangannya, dihantam lagi oleh kucuran air pancuran yang membakar daging terkelupas itu. Uap putih yang memenuhi ruangan kini mulai terkontaminasi, perlahan berubah warna menjadi kemerahan yang pekat dan berbau anyir besi.
"Ahhh! Khhh... mampus! Hancur sekalian!" jerit Aris penuh kepuasan gila.
Saat pandangannya mulai berkunang-kunang akibat kehilangan banyak darah, sebuah pergerakan di dekat kakinya menarik perhatian Aris. Matanya mendadak terbelalak lebar.
Di sekitar bibir jaring saluran pembuangan, sisa-sisa sperma yang tadi diguyur asam klorida tidak sepenuhnya mati. Gumpalan cairan yang sebagian telah melepuh dan berwarna kecokelatan itu mendadak menggeliat. Cairan kental itu bergerak berlawanan arah jarum jam, melawan arus air, meminum darah segar Aris yang mengalir ke sana.
Begitu menyerap darah segar sang pencipta, gumpalan mani itu mendadak membesar. Warnanya berubah menjadi merah pekat berdenyut. Mereka bergerak merayap di atas permukaan keramik yang licin, seolah memiliki ribuan kaki mikroskopis yang bergerak serentak.
"Ukh? Bangsat... apa-apaan ini?!" Aris mencoba melangkah mundur, tetapi telapak kakinya seperti terpaku pada lantai.
Lantai kamar mandi terasa bergetar hebat di bawah pijakannya. Ribuan massa sperma mutan berbentuk lendir pekat itu mulai merayap naik, membungkus pergelangan kaki Aris. Dingin, kental, sekaligus panas membakar. Tanpa bisa dicegah, cairan merah itu mulai memaksa masuk menembus pori-pori kulit kakinya. Pori-pori kulit Aris dipaksa membuka lebar secara kasar, merobek lubang-lubang kecil di sepanjang betisnya.
"Arghhhhh! Keluar kalian! Keluar dari kulitku, bajingan! Khhh!"
Teriakan Aris meledak bergaung di dalam ruangan berukuran dua kali dua meter itu. Ia mencoba memukul-mukul kakinya, mencakar lendir-lendir yang mulai masuk ke dalam dagingnya, tetapi tangannya luar biasa kaku. Ruangan kedap suara yang sengaja ia bangun dengan lapisan busa tebal di balik dinding agar tetangga apartemen tidak mendengar suara rintihannya kini berbalik menjadi kurungan maut. Tidak akan ada yang mendengar jeritannya, tidak akan ada pertolongan datang.
Di bawah lapisan kulit kakinya, Aris bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri: tonjolan-tonjolan kecil seukuran ulat bergerak cepat, merambat naik ke arah atas. Mereka merobek dan mengunyah jaringan otot serta pembuluh darah dari dalam, menuju satu titik tujuan tunggal: kantong skrotum tempat mereka diciptakan.
Cairan merah kental yang berisi ribuan benih mutan itu bergerak beringas di bawah permukaan kulit selangkangan. Aris bisa melihat jalinan urat di sekitar paha dalamnya berdenyut kasar, melebar, memerah tua, mengantarkan gumpalan lendir itu kembali menuju ke tempat asalnya.
"Ngguhaaaah! Sakit, bajingan! Sakit!"
Aris melenguh, melintirkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri di bawah kucuran air panas yang terus menyiksa daging terkelupasnya. Kedua tangannya yang bersimbah darah mencoba menjambak rambutnya sendiri, berusaha mendistribusikan rasa sakit yang kini terpusat di selangkangan.
Lendir-lendir sperma yang berhasil menembus pori-pori kulit itu kini merangsek masuk ke dalam kantong skrotum. Skrotum yang tadi sudah robek dan tersayat silet mendadak membengkak dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Cairan sperma mutan itu membanjiri ruang di dalam kantong peler, mendesak sepasang biji testis Aris hingga terjepit hebat.
Sreeet... krek...
Kulit skrotum yang tersisa meregang ekstrem. Warnanya berubah dari merah darah menjadi merah keunguan, lalu menipis hingga menjadi transparan. Aris bisa melihat siluet bulat di dalam pelernya yang terus membesar, mendorong batas elastisitas kulit manusia. Ukurannya berubah cepat dari sebesar bola tenis, melonjak seukuran buah melon, hingga akhirnya membengkak menyamai ukuran kepala manusia dewasa.
"Uhuk! Uh... kepalaku mau pecah! Arghhh!" Aris menjerit luluh. Tekanan dari dalam kantong pelernya begitu dahsyat, menarik urat-urat saraf yang terhubung langsung ke tulang belakang dan pangkal kepalanya.
DUAR!
Suara ledakan basah yang luar biasa keras mengguncang kubikal sempit itu. Kantong peler Aris hancur berkeping-keping karena tidak mampu lagi menahan tekanan massa dari dalam. Serpihan daging skrotum, jaringan pembuluh darah, dan pecahan dua biji pelernya mencuat berhamburan ke segala arah. Kekuatan ledakan itu begitu dahsyat hingga menghantam cermin gantung di dinding kamar mandi, menyisakan retakan besar sebelum kacanya pecah dan berjatuhan ke lantai keramik. Suara hancurnya cermin bahkan tenggelam oleh gelegar ledakan kedagingan tersebut.
Uap air yang memenuhi ruangan seketika berubah warna dari merah jambu samar menjadi merah pekat yang pekat dan pengap. Darah Aris muncrat, mengotori dinding, menyiram langit-langit, dan membuat air yang mengalir di lantai berubah menjadi sungai merah yang kental.
Aris terjerembap, jatuh terduduk di atas lantai yang licin oleh darahnya sendiri. Tubuhnya gemetar dalam syok hipovolemik, napasnya tersengal-sengal, memburu oksigen di tengah kabut yang menyesakkan dada. Namun, penderitaannya belum selesai.
Ribuan sisa lendir sperma yang muncrat akibat ledakan tadi mendarat tepat di wajahnya. Cairan merah kental itu merayap cepat, memanfaatkan celah mulut Aris yang sedang terbuka lebar untuk meraup udara. Mereka merangsek naik, menyelinap masuk melewati bibir, membanjiri lidah, dan langsung meluncur turun ke dalam saluran pernapasan.
"Glekh... uhkh... khhh..."
Aris tersedak hebat. Suaranya mendadak hilang, tercekat di pangkal tenggorokan. Gumpalan lendir amis itu menyumbat total jalan napasnya, mengembang di dalam laring dan trakea. Aris mencoba memuntahkannya, tetapi cairan itu justru mencengkeram dinding tenggorokannya dari dalam, menutup akses oksigen sepenuhnya. Dadanya naik turun dengan liar, kejang karena paru-parunya mulai kehabisan udara.
Dalam kondisi lumpuh, dikepung rasa sakit yang menjalar dari selangkangannya yang kini hancur bolong, Aris memutar bola matanya ke arah kiri. Di sela-sela lantai di samping tempatnya terduduk, ada sebuah laci plastik kecil tempat ia menyimpan peralatan mandi cadangan yang sedikit terbuka. Di dalam laci itu, sebilah pisau dapur bergagang hitam yang biasa ia gunakan untuk memotong botol sabun tampak berkilat tertimpa cahaya lampu.
Dengan sisa tenaga di tangan kirinya yang sudah dingin, Aris merangkak pelan, menyeret tubuh bawahnya yang hancur, lalu mencengkeram gagang pisau tersebut.
Bilah pisau dapur di tangan kiri Aris terasa dingin, sangat kontras dengan hawa panas yang membakar ruangan. Lendir kemerahan di dalam tenggorokannya semakin menyumbat, merayap naik, meluap keluar dari sela bibirnya yang bergetar. Oksigen habis. Pandangan mata Aris mulai kabur, menyisakan keremangan merah akibat uap air yang bercampur semburan darah dari selangkangannya yang kini hancur total.
"Ngghhh... ukhhh..."
Aris menempelkan mata pisau yang bergerigi itu langsung ke kulit lehernya, tepat di bawah jakun. Menggunakan sisa tenaga terakhir, ia menarik pisau itu dengan satu sentakan brutal.
Krak! Krak! Krak!
Bunyi gesekan mata pisau memotong pipa tenggorokan dan otot leher terdengar menggema di dalam kubikal kedap suara tersebut. Darah segar menyembur deras, memancar menghantam keramik dinding. Udara yang terperangkap di parunya mendesis keluar lewat lubang sayatan baru di leher, menghasilkan suara gelembung darah yang pecah. Rasa sakit jahanam yang menyiksa seluruh tubuhnya perlahan meredup, tergantikan oleh rasa dingin yang menjalar ke ujung jari. Nyawanya lepas begitu saja di bawah guyuran pancuran air panas. Aris mati bersandar pada dinding kamar mandi, menyisakan wajah dengan mata melotot dan mulut menganga penuh ketakutan yang menjijikkan.
***
Tiga bulan kemudian. Koridor lantai empat apartemen itu tercium bau busuk yang luar biasa pekat, menembus celah pintu nomor 404. Tiga orang berdiri di depan pintu dengan wajah pucat sambil menutup hidung mereka menggunakan kain.
"Gila, bau apaan ini? Satpam mana sih? Lama banget!" umpat Rian, salah satu teman dekat Aris, sambil terbatuk.
"Sabar, Yan. Ini kuncinya lagi dicoba," sahut Dani, badannya gemetar ketakutan melihat lalat hijau mulai beterbangan di sekitar kusen pintu.
Klik.
Pintu apartemen terbuka. Bau busuk bangkai langsung menyengat indra penciuman mereka. Ruang tengah tampak berantakan, berdebu tebal. Langkah kaki mereka tertuju pada satu titik: pintu kamar mandi yang tertutup rapat, dengan suara gemercik pancuran air yang masih menyala di dalam. Rian menendang pintu itu hingga terbuka lebar.
"Astaga! Demi Tuhan! Apa-apaan ini?!" teriak satpam yang ikut masuk, langsung muntah di lantai koridor.
Dani dan Rian mematung dengan mata terbelalak lebar, wajah mereka mendadak pucat pasi.
Kamar mandi itu dipenuhi noda merah kehitaman yang mengering di seluruh dinding dan langit-langit. Di bawah kucuran air yang teramat panas, sesosok kerangka manusia terduduk kaku. Siraman air mendidih selama tiga bulan penuh telah melumat habis seluruh daging, otot, dan lemak. Tidak ada sehelai kulit pun yang tersisa. Yang tertinggal hanyalah tumpukan tulang-belulang berwarna putih cerah yang bersih dari sisa daging, tenggelam di antara genangan air yang terus mengalir ke lubang pembuangan.
"Ini... ini Aris? Nggak mungkin, Yan! Nggak mungkin!" teringis Dani dengan suara bergetar hebat, air matanya menetes karena ngeri.
Di sudut lantai yang kering dekat pintu, sebuah ponsel pintar tergeletak dalam kondisi tersambung ke kabel pengisi daya yang masih berfungsi. Layarnya menyala, memperlihatkan aplikasi perekam video yang tidak terkunci. Rian, dengan tangan gemetar, meraih ponsel itu dan menekan tombol putar pada berkas video terakhir yang tersimpan tiga bulan lalu.
Layar ponsel langsung menampilkan wajah Aris yang sedang mendongak, merintih di bawah pancuran air panas. Suara erangan gila, desisan cairan asam klorida yang menghancurkan sperma, suara silet yang menyayat daging skrotum (Srak! Srak! Srak!), hingga bunyi ledakan dahsyat yang menghancurkan biji pelernya terdengar sangat jelas dari pengeras suara ponsel.
"Arghhhh! Keluar kalian! Keluar dari kulitku, bajingan! Khhh!" suara Aris di dalam rekaman video itu berteriak histeris, disusul adegan mengerikan saat ia menggorok lehernya sendiri hingga tewas.
Dani langsung merosot terduduk di lantai, menutup telinganya rapat-rapat, tidak sanggup lagi mendengar suara rekaman kematian Aris yang begitu mencekam dan tidak masuk akal.
Post a Comment