Paranoia: Balas Dendam Sang Calon Bayi

Di bawah pancuran air panas, Aris memutar krannya hingga batas maksimal, membuat uap air yang putih itu memenuhi seluruh ruang kamar mandinya yang sempit. Ia hanya terdiam berdiri, menikmati sisa-sisa dopamin yang masih mengendap di bawah pengaruh otaknya akibat aktivitas yang biasa ia lakukan. 

Aris baru saja selesai mengocok penisnya secara brutal menggunakan sabun mandi yang sudah ia lubangi sedemikian rupa, sehingga penisnya dapat dengan mudah keluar masuk di lubangnya. Cairan sperma yang putih dan kental itu perlahan meleleh dari ujung lubang penisnya, menetes satu per satu menuju lantai keramik kamar mandinya.

Aktivitas itu selalu Aris lakukan hari demi hari. Awalnya, ia hanya ingin menenggelamkan ingatan masa lalunya yang kelam. Namun, hal itu justru membuatnya menjadi pecandu, seakan ia tidak bisa hidup jika tidak mengocok penisnya. 

Di sela-sela sesi mandinya kali ini, Aris tiba-tiba melihat bayangan ayahnya yang mabuk sedang menyabetkan ikat pinggang ke tubuhnya di antara uap air panas itu. Emosinya seketika meluap ketika ia sedang menatap spermanya yang perlahan mengalir ke arah lubang pembuangan. Aris seolah menolak dengan keras untuk mewariskan genetik penderitaannya itu ke pada siapa pun. Ia tidak ingin sperma-spermanya itu menjadi manusia yang hidupnya sama dengannya. 

Aris langsung kembali mengocok penisnya dengan sangat brutal, lebih brutal dari biasanya. Segala alat yang ada di situ ia gunakan untuk membantunya mengeluarkan cairan putih kental itu. Seolah ia ingin menghabiskan semua yang ia punya, tanpa sisa.

Napas Aris tersengal-sengal di tengah kabut uap yang semakin tebal dan menyesakkan dada. Seluruh sperma yang baru saja dikeluarkan itu kini berkumpul di bibir lubang pembuangan, tertahan oleh jaring-jaring rambut yang sudah lama menyumbat saluran airnya. 

Aris segera meraih botol pembersih lantai di pojok kamar mandi dengan tangannya yang masih gemetar hebat. Ia lalu membuka paksa tutup botol itu menggunakan giginya, hingga plastik pengaman botol itu hancur berantakan di lantai.

Cairan asam klorida yang sangat pekat itu diguyurkan Aris tepat ke atas tumpukan spermanya.

"Cesss!" 

Suara desisan itu langsung memenuhi ruangan kamar mandi yang sempit itu, seiring dengan munculnya gelembung-gelembung kecokelatan yang berbau sangat tajam. Protein di dalam sperma itu perlahan hancur terbakar oleh bahan kimia, sementara Aris terus menatap pemandangan tersebut dengan mata yang melotot lebar. Aroma amis yang menyengat segera berganti dengan bau kimia yang menusuk hidung Aris, hingga membuat paru-parunya terasa terbakar. Ia lalu tersenyum, seakan merasakan kepuasan saat melihat setiap bibit manusia itu leleh dan lenyap ditelan kegelapan pipa pembuangan.

Tiba-tiba, peler Aris mendadak diserang oleh sensasi panas, yang perlahan menjadi rasa gatal yang tidak tertahankan. Ia terus menggaruk pelernya, tapi rasa gatal itu tetap tidak hilang. Garukannya itu membuat luka pada pelernya.

Aris terus menggaruk kulit pelernya yang basah hingga kuku-kukunya dipenuhi oleh darah dan serpihan kulit yang sudah mati. Rasa gatal yang menyiksa itu berubah menjadi perih yang luar biasa pedih, saat kucuran air panas itu menyentuh lukanya yang terbuka di permukaan kulitnya. Aris merasakan biji di dalam pelernya sedang menggeliat seperti mau meledak keluar dari wadahnya. 

Saat melihat lukanya semakin melebar, Aris langsung mengambil silet cukur yang ada di atas rak sabun dengan tangannya yang masih berlumur darah. Ia lalu mematahkan gagang plastik silet itu, hingga tersisa mata silet logam yang sangat tipis dan tajam. Tanpa ragu, ia lalu menyayat luka yang sudah terbuka dengan logam silet itu.

"Srak! Srak! Srak!" 

Bunyi sayatan itu terdengar sangat gurih di telinga Aris, hingga membuat gairahnya semakin membara. Penisnya kembali menegang, garukan semakin kencang, membabi buta. Darah merah segar bercampur sperma langsung menyembur keluar, diiringi erangan Aris dengan suara serak yang terdengar sangat menjijikkan. 

Tubuh Aris melemas, tapi pikirannya semakin gelap. Ia mengambil gagang alat cukur yang sudah ia patahkan tadi, langsung ia menusuk lubang penisnya hingga menembus keluar di antara luka garukannya yang sudah menganga. Aris merasakan sakit yang sangat hebat meledak di setiap saraf saat alat itu merobek jaringan saluran kencingnya. Air yang mengucur dari pancuran terus menyirami lukanya yang sudah mengangah itu. Uap yang tadinya putih kini berubah menjadi kemerahan akibat percampuran air panas dengan darah. 

Mata Aris terbelalak, saat ia melihat pemandangan yang aneh di sekitar saluran pembuangan. Sisa-sisa sperma yang masih hidup dan beberapa sudah berubah menjadi kecoklatan itu tiba-tiba bergerak menuju ke arahnya. Mereka perlahan membesar, berubah menjadi kemerahan akibat meminum darah yang sekaligus menjadi jalur pergerakannya.

Lantai kamar mandi bergetar hebat akibat gerakan spontan yang dilakukan oleh Aris akibat ribuan sperma yang masih berbentuk cairan kental itu merayap menaiki kakinya. Mereka mulai menembus pori-pori kulitnya, membuat lubang pori itu perlahan membuka lebar.

"Arghhhh..." teriakan Aris semakin kencang, membuat suaranya mengisi seluruh ruangan itu. Namun sayangnya, ia tidak bisa meminta tolong, akibat ruangan kedap yang sudah ia rancang sedemikian rupa. Ditambah ia tidak bisa bergerak akibat gempuran dari sperma-sperma itu. 

Sperma itu terus masuk ke dalam, mencari sumber penciptaannya. Mereka terus merambat dengan liar, di bawah lapisan kulitnya. Mata Aris melotot dengan lebar, seperti ditarik paksa hingga tidak bisa menutup. Ia melihat tonjolan-tonjolan kecil yang bergerak naik menuju ke arah selangkangannya. Rasa sakit yang teramat dirasakan Aris akibat gerakan sperma itu seperti menyayat semua jaringan yang dilewatinya.

Saat sudah mencapai kantong peler Aris, ribuan sperma itu langsung berkumpul membajiri tempat itu. Mereka merangsek masuk tanpa henti, membuat biji pelernya mengembung perlahan, hingga membesar. 

Saat biji pelernya sudah mencapai ukuran kepala manusia. Tiba-tiba.

"Duar..."

Biji aris meledak akibat tekanan yang terlalu besar dari dalam. Suara ledakannya begitu keras, bahkan suara teriakannya teredam olehnya. Bahkan, kaca di kamar mandi itu pecah, sebelum ia jatuh di lantai.

Seketika uap air yang tadinya kemerahan, berubah menjadi merah pekat. Darah Aris tercecar ke mana-mana. 

Tidak sampai di situ, ribuan sperma tadi langsung merangsek naik ke arah saluran pernapasan Aris yang sedang terengah-engah itu. Mereka langsung menyumbat habis tenggorokan Aris, membuat pria itu tidak bisa bernapas. Dengan sigap, dalam keadaan tidak bisa bergerak. Aris langsung mengambil pisau tajam yang ada di laci samping tempatnya duduk menggunakan tangan kiri, dengan sisa kekuatannya.

Tanpa ragu, aris langsung menggorok lehernya sendiri.

"Krak! Krak! Krak!"

Bunyi itu keluar disertai dengan aliran darah yang perlahan mengucur di tubuhnya. Seketika, rasa sakit yang ia rasakan perlahan menghilang, disertai dengan nyawanya, di bawah kucuran air panas kamar mandinya. Tanpa teriakan, benar-benar tenang, dengan ekspresi muka ketakutan yang begitu menjijikan.

***

Tiga bulan berlalu. Aris yang sudah tidak ada kabar sama sekali, memaksa teman-temanya untuk mendobrak pintu kamar apartemennya. Namun, betapa terbelalak mata mereka saat mereka membuka pintu kamar mandi. Air panas mengucur di atas tulang-belulang tanpa pembungkus apapun, meski hanya sehelai kulit. Noda merah darah yang menempel di berbagai tempat.

Seluruh tubuh Aris luruh oleh siraman air panas yang teramat panas. Menyisakan tulang belulang yang warnanya putih cerah itu. Bahkan, teman-teman mereka yang melihat kejadian itu sempat tidak percaya jika itu adalah Aris. Namun, sebuah rekaman dari ponselnya yang tidak dikunci itu memperlihatkan setiap detik kejadian yang mencekam itu.

Memuat daftar chapter...
[X]