Paranoia: Balasan Dendam Sang Calon Bayi

Aris berdiri di bawah pancuran air panas. Uap putih memenuhi ruangan sempit itu sampai cermin di atas wastafel buram total. Aris baru saja ejakulasi. Cairan putih kental itu menempel di lantai keramik yang dingin. Aliran air perlahan membawanya menuju lubang pembuangan. 

Aris menatap cairan itu dengan kebencian mendalam. Cairan yang berisi jutaan nyawa yang sedang menggeliat minta kehidupan. Bagai aborsi masal yang sengaja dilakukan untuk mencegah terulangnya masa lalu yang kelam. 

Aris berlutut di lantai kamar mandi yang basah. Sperma itu tersangkut di pinggiran lubang pembuangan bersama rambut dan buih-buih sabunnya. Aris merasa sangat jijik. Aris mengambil botol pembersih porselen berbahan asam keras di pojok kamar mandi. 

Aris menuangkan cairan kimia itu langsung ke arah spermanya. 

Cesss! 

Suara desisan tajam muncul. Asam itu memakan protein sel di sana. Lendir putih itu pun melepuh, berubah menjadi gelembung kecokelatan, dan kemudian hancur dalam hitungan detik. Aris mendekatkan wajahnya ke lantai. Aris menghirup aroma amis yang terbakar bahan kimia. Aris menikmati teriakan imajiner dari jutaan calon bayi yang dibantainya. 

Sensasi panas menyerang selangkangan Aris secara tiba-tiba. Aris merasa sel-sel yang tersisa di dalam testisnya sedang mengamuk. Jutaan calon bayi itu seolah mencakar-cakar dinding saluran spermanya. Mereka marah karena saudara mereka dibunuh dengan kejinya. 

Aris memegang kantung zakarnya dengan tangan gemetar. Tubuh Aris seperti pabrik terkutuk yang harus segera ditutup. Aris ingin berhenti memproduksi kematian setiap malam. 

Aris meraih silet cukur di rak sabun. Aris mematahkan gagang plastiknya agar hanya tersisa mata silet yang tipis dan tajam. Tanpa ragu, Aris menyayat kulit skrotumnya sendiri. 

Srak! 

Kulit tipis itu terbelah lebar. Darah merah segar muncrat dan bercampur dengan air pancuran. Aliran air di lantai berubah menjadi merah pekat. Aris mengerang parau di tengah uap panas. Aris memasukkan jari-jarinya ke dalam luka yang menganga. Aris merobek jaringan daging di dalamnya untuk mencari sumber bencana itu. 

Aris menarik paksa kelenjar testisnya keluar sampai urat-urat sarafnya menegang dan putus. Bunyi krek yang basah terdengar saat Aris memotong saluran sperma dengan silet. Aris melemparkan gumpalan daging merah yang masih berdenyut itu ke lantai. Daging itu mendarat tepat di bawah guyuran air panas dan sisa cairan pembersih porselen. 

Aris masih belum merasa puas. Aris mengambil botol pembersih itu lagi. Aris menuangkan cairan asam itu langsung ke dalam luka robek di tubuhnya. 

Suara desisan kali ini jauh lebih keras. Daging segar Aris melepuh seketika. Kulitnya menghitam dan mengelupas seperti kertas terbakar. Asap putih mengepul dari luka itu. Aroma daging manusia yang terbakar kimia memenuhi ruangan. Aris berteriak histeris sampai urat lehernya menonjol keluar. Aris jatuh tersungkur. Tubuhnya kejang-kejang di bawah siraman air yang kini seluruhnya berwarna merah darah. 

Aris tewas dalam kondisi hancur. Tubuhnya kaku di pojok kamar mandi dengan luka yang masih mengeluarkan asap kimia. Kini, pabrik manusia di dalam tubuhnya sudah tutup selamanya. 
BACA JUGA