Cerpen Cak Kirun: Menu Sakti Sang Ahli Gizi
Halaman sekolah nampak lebih sibuk dari biasanya. Sebuah truk boks berhenti tepat di depan koridor, menurunkan ratusan kotak nasi yang baunya memenuhi udara. Cak Kirun yang sedang mampir untuk menemui Pak Darmo, guru honorer senior di sana, berhenti sejenak melihat beberapa orang berseragam rapi yang sedang sibuk memegang papan klip.
Cak Kirun mendekati seorang pemuda yang sedang sibuk mengecek segel salah satu kotak makan yang baru turun dari truk. Bajunya terlihat sangat baru, lengkap dengan lencana yang mengkilap di dadanya.
"Sibuk bener, Mas. Petugas baru ya?" tanya Cak Kirun sambil menyandarkan badannya di tiang koridor.
Pemuda itu menoleh, wajahnya nampak agak lelah karena harus mengawasi bongkar muat. "Iya, Pak. Saya petugas program makan siang yang baru. Lagi memastikan semua porsinya sesuai laporan buat dikirim ke pusat sore nanti."
"Hebat, statusnya sudah pegawai pusat ya?" tanya Cak Kirun lagi sambil basa-basi.
"Alhamdulillah, Pak. Saya juga kaget, lewat jalur penugasan khusus ini ternyata langsung dapet SK pegawai tetap. Prosesnya sangat cepat, nggak perlu nunggu bertahun-tahun seperti tes biasanya," jawab pemuda itu dengan nada yang lebih ke arah heran pada nasibnya sendiri.
Cak Kirun manggut-manggut sambil mengintip salah satu kotak yang terbuka. Isinya penuh nasi, namun potongan lauknya nampak sangat minimalis. "Wah, sakti bener. Berarti Mas ini dulu kuliahnya di jurusan gizi yang paling top ya?"
Si pemuda tersenyum canggung. "Sebenarnya saya sarjana peternakan, Pak. Namun karena pemerintah lagi butuh banyak tenaga buat program ini, semua jurusan boleh daftar jadi tenaga ahli gizi. Katanya yang penting sudah ikut pelatihan kilat sebulan, sudah dianggap paham standar nutrisi buat anak sekolah."
Cak Kirun terdiam, matanya menatap ratusan kotak yang berbaris rapi di lantai koridor. "Oalah, kebijakan pemerintah sekarang memang luar biasa. Orang peternakan disuruh ngurusin gizi anak-anak. Apa mungkin pemerintah nganggep pertumbuhan anak sekolah itu sama kayak pertumbuhan ternak, asalkan dikasih pakan yang penting kenyang?"
Pemuda itu nampak kebingungan mau menjawab apa. Ia hanya diam sambil pura-pura sibuk mencatat kembali jumlah kotak nasi yang turun dari truk boks itu. Saat itu, Pak Darmo lewat sambil memikul tumpukan buku yang berat. Pak Darmo sudah belasan tahun mengabdi di sekolah itu, namun statusnya tetap honorer dengan gaji yang sering kali dibayar terlambat.
Cak Kirun memanggil guru tua itu. "Pak Darmo, sini sebentar! Lihat, ada tenaga ahli baru yang dikirim negara buat ngurusin perut anak didik sampeyan."
Pak Darmo menoleh sambil mengusap keringat di dahinya. "Iya, Run," sahutnya pelan, lalu ia beralih menatap pemuda itu dengan senyuman tulus. "Semoga programnya lancar ya, Mas."
Cak Kirun menepuk bahu Pak Darmo, lalu menoleh ke truk boks yang masih menurunkan muatan. "Aneh benar ya Pak Darmo? Pemerintah kita ini bisa menciptakan keajaiban dalam semalam. Mereka sanggup mengubah sarjana apa saja jadi ahli gizi dari pusat lewat jalur penugasan khusus. Namun buat mengurus status sampeyan yang sudah ngajar beneran sampai lumutan, pemerintah mendadak jadi pelupa dan bilang anggarannya belum tersedia."
Cak Kirun menunjuk lencana mentereng milik pemuda tadi tanpa nada benci. "Aturan sekarang memang lucu. Pemerintah lebih berani kasih jaminan masa tua buat program yang isinya cuma kotak nasi, daripada kasih kesejahteraan buat guru yang ngurusin otak anak bangsa. Kayaknya bagi penguasa, perut anak-anak ini lebih gampang dipoles buat laporan daripada masa depan mereka yang harus dididik dengan sabar. Program ini seolah dipaksakan supaya kelihatan bekerja, padahal di baliknya ada ketidakadilan yang luar biasa buat pendidikan."
Cak Kirun mengajak Pak Darmo menjauh dari truk boks itu. "Ayo Pak Darmo, kita ke kantin belakang saja. Mending kita cari kopi sendiri, paling tidak rasanya nyata, nggak penuh kepura-puraan seperti sistem ahli gizi dadakan yang dipaksakan pemerintah ini."
Di belakang mereka, pemuda berseragam itu kembali sibuk memotret tumpukan nasi kotak untuk laporan.
Post a Comment