Cerpen Cak Kirun: Menu Sakti Sang Ahli Gizi
Pagi itu, Cak Kirun mampir ke dapur sekolah karena mencium aroma yang sangat misterius, perpaduan bau tumis kangkung dan ban yang terbakar. Di sana, Cak Kirun bertemu dengan seorang pemuda yang memakai seragam baru, lengkap dengan emblem "Ahli Gizi Utama".
"Wah, hebat sampeyan, Mas! Masih muda sudah jadi Ahli Gizi, ASN pula," puji Cak Kirun sambil melihat pemuda itu kebingungan membedakan jahe dan lengkuas.
Si pemuda membusungkan dada. "Iya, Cak. Ini program percepatan. Saya baru lulus SMA tahun ini, langsung direkrut jadi ASN untuk jadi tenaga Ahli Gizi Utama program ini."
Cak Kirun manggut-manggut. "Wow, sakti bener! Jadi ahli gizi tanpa perlu kuliah lama, cukup ikut pelatihan ala-ala, langsung paham berbagai bentuk gizi dan takarannya?"
"Ah, Cak Kirun ini nggak paham. Yang penting kan semangatnya!" jawab si pemuda sambil menuangkan seember air ke dalam kuali yang isinya cuma tiga potong daging ayam untuk 100an siswa sesekolahan.
Cak Kirun mendekat, melihat isi kuali itu dengan teliti. "Mas, ini judul menunya apa? Sup Aroma Ayam?"
"Ini Sup Ayam Sehat, Cak! Anggarannya memang buat ayam satu ekor per sepuluh anak, tapi setelah melewati 'filter' di kantor pusat, kantor cabang, sampai koordinator lapangan, ayamnya melakukan diet ketat. Jadi yang sampai ke sini tinggal aromanya saja. Tapi tenang, gizinya sudah saya 'doa'-kan supaya tetap tinggi," jawab si pemuda tanpa dosa.
Tiba-tiba, seorang guru tua honorer lewat sambil menenteng sepeda bututnya. Wajahnya lesu, kantong matanya hitam karena baru saja selesai mengoreksi tugas sambil narik ojek semalaman.
Cak Kirun memanggil guru itu. "Pak Guru, sini! Lihat ini, ada rekan sejawat baru!"
"Iya, Run," sahut guru tua itu dengan senyuman pahit.
Cak Kirun tersenyum kecut, melihat kenyataan yang sungguh memilukan bagi guru tua honorer. Pengabdian puluhan tahun hingga berbagai sertifikat kompetensi dilakukan, tapi tetap saja status ASN hingga tunjungan tak kunjung didapatkan. Seolah berbanding terbalik dengan yang dialami pemuda ahli gizi itu. Tak lama, Cak Kirun menepuk bahu Pak Guru, lalu berbalik ke arah si Ahli Gizi.
"Mas, tahu nggak bedanya guru ini sama sampeyan?" tanya Cak Kirun.
"Apa, Cak? Seragamnya?" jawab si pemuda polos.
"Bukan," sahut Cak Kirun renyah. "Bedanya, Pak Guru ini bertugas bikin anak-anak 'pinter' meskipun perutnya lapar. Sedangkan sampeyan bertugas bikin anak-anak 'kenyang' pakai menu yang gizinya masih diragukan, padahal yang kenyang beneran cuma dompet orang-orang yang motong anggaran program."
Cak Kirun lalu mengambil sepotong tempe yang sangat kecil di meja dapur. "Ibaratnya begini, Mas. Program ini kayak orang mau bangun gedung mewah tapi pakai tukang yang nggak pernah pegang plesteran. Hasilnya? Gedungnya nggak jadi, anggarannya habis buat bayar seragam tukangnya saja. Kasihan anak-anak ini, dikasih makan siang gratis tapi isi gizinya tidak pernah pasti, sementara yang ngajar mereka setiap hari malah dibiarkan."
Cak Kirun mengajak guru tua itu pergi. "Ayo, Pak Guru. Mending kita makan di warung sebelah. Biar murah, yang penting ada gizinya."
Post a Comment